Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Wawancara Widjanarko Puspoyo (Dirut Perum Bulog): “Seharusnya Petani Lebih Diuntungkan”
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Widjanarko Puspoyo (Dirut Perum Bulog): “Seharusnya Petani Lebih Diuntungkan”

E-mail Print PDF

Widjanarko Puspoyo Sebagai ‘komandan’ sebuah lembaga penjaga ketahanan pangan nasional,tugas Widjanarko Puspoyo, tidaklah ringan. Apalagi lembaganya ini sejak dulu sudah dicap sebagai sarang korupsi, kolusi bagi kelompok politik yang berkuasa pada waktu itu. Di masa lalu, Bulog sebagai lumbung padi dan lumbung uang sering dibuat tidak berdaya oleh permainan penguasa untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka.

Padahal beras dan gula masih menjadi komoditi strategis sekaligus politis. Karena itu pemerintah berkepentingan menjaga keamanan ketersediaan beras nasional dengan harga terjangkau. Beras Raskin misalnya, dijadikan sebagai program perlindungan sosial yang ditujukan kepada rakyat miskin. Begitu juga sebagai penyangga stok pangan nasional, Bulog harus mempunyai cadangan optimal minimal 1 juta ton beras untuk mengantisipasi keadaan darurat.

Oleh karena itu, bagaimana pun caranya, Bulog harus selalu menjaga ketersediaan beras. Namun, lembaga yang kini berubah menjadi Perum ini, kini sedang berada di ‘persimpangan’.  Ketika impor beras menjadi pilihan untuk memenuhi stok pangan yang saat ini dinilai sedang dalam masa rawan, Bulog lagi-lagi menuai kritik, tidak memihak kaum petani.

Padahal menurut Widjanarko, kebijakan impor tidak akan dilakukan jika stok beras nasional dinilai cukup. Sementara itu, Widjan beranggapan bahwa kondisi pangan sudah dalam kondisi rawan. Maka mau tak mau impor beras harus tetap dilakukan untuk memenuhi ketersediaan itu.

Sebagai orang yang cukup tahu mengenai seluk-beluk Bulog, Widjanarko Puspoyo tetap berharap di tahun-tahun mendatang Bulog dapat lebih banyak menyerap beras dari dalam negeri. Untuk itu, pihaknya kini sedang memotori Program Kemitraan  BUMN dengan petani. Program ini sebagai upaya Bulog bersinergi dengan delapan BUMN untuk terus membangun industri pertanian. Karena sektor pertanian diharapkan akan menjadi prioritas utama bagi perbaikan ekonomi nasional. Berikut petikan wawancaranya:

Tampaknya Anda yakin bahwa kebijakan impor beras tidak mempengaruhi petani?
Ya, impor beras tidak akan mempengaruhi petani. Tapi, yang berpengaruh adalah para tengkulak atau pedagang beras. Sebab, ketika keputusan ijin impor beras diputuskan, saat itu sudah memasuki musim paceklik. Artinya, beras sudah di tangan tengkulak alias pedagang beras. Nah, impor ini tidak merugikan petani karena petani sudah tidak punya beras lagi, karena memasuki musim paceklik. Beras itu sudah ada di tangan pedagang artinya yang ketakutan dan ribut sekarang ini adalah pedagang. Sedangkan petani sudah selesai menjual gabahnya. Tapi, mestinya petani justru  diuntungkan karena pemerintah sudah menetapkan harga dasar pembelian. The real price di pasar lebih tinggi dari harga pasaran. Jadi seharusnya petani lebih diuntungkan.

Anda menggunakan data BPS, yang menyimpulkan defisit beras sebesar 680 ribu ton bakal terjadi pada 2005. Sedangkan sebaliknya, Departemen Pertanian mengatakan kita surplus 1,6 juta ton, sehingga merasa tidak perlu impor. Bagaimana menurut Anda?
Sebaiknya, kita tidak mempersoalkan surplus atau defisit, melainkan mempersoalkan stok dan harga. Karena itu harus dibedakan, jangan mengkonflikkan antara surplus kemudian tidak boleh impor atau jika defisit maka itu harus impor. Bulog tidak pernah mengajukan impor. Bulog hanya memperlihatkan potret kondisi pangan yang menurut kriteria sudah dalam kondisi rawan. Jika pemerintah memutuskan tidak melakukan impor beras maka Bulog tidak akan melakukannya. Stok hingga akhir Desember 2005, sebesar 960.000 ton dan sudah termasuk stok pangan pemerintah yang sebesar 350.000 ton. Setelah itu Perum Bulog menargetkan akan menyerap beras petani sebanyak 2 juta ton pada 2006. Kami akan berusaha habis-habisan melakukan pembelian beras dari dalam negeri dan akan membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas beras yang baik.

Lalu apa upaya Anda?
Kami memotori program kemitraan antara petani dengan BUMN-BUMN. Program kemitraan ini merupakan salah satu terobosan untuk memecahkan masalah yang selama ini dihadapi para petani. Dalam 10 tahun terakhir peningkatan produksi pangan hanya sebesar 0.5%, sementara pertumbuhan penduduk mencapai 2% dan konsumsi beras meningkat 0,9%. Akibatnya terjadi kesenjangan antara peningkatan produksi pangan khususnya beras dan peningkatan konsumsi masyarakat. Selain itu, persoalan lainnya adalah kualitas produksi petani yang masih rendah karena 30% petani yang menggunakan bibit unggul dan jumlah petani yang menggunakan pupuk berimbang tidak lebih dari 50%.

BUMN mana saja yang terlibat dalam program ini?
Yang terlibat dalam program kemitraan ini antara lain: Perum Bulog, PT. Petro Kimia Gresik, PT. Pupuk Kaltim, PT. Sang Hyang Seri, Bank Bukopin dan PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).

Bagaimana Teknisnya?
Setiap BUMN tersebut menjalankan perannya sendiri-sendiri. Bulog bertugas membeli gabah dari petani, PT. Petro Kimia dan PT. Pupuk Kaltim menyediakan pupuk, PT. Sang Hyang Seri menyediakan benih unggul dan pestisida. Sedangkan Bank Bukopin dan Askrindo memberi jaminan asuransi kredit.

Apakah pola kemitraan ini sudah dijalankan?
Panen pertama sudah dilakukan di Kabupaten Sindenreng, Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan dan akan dilanjutkan di sejumlah daerah seperti di Jawa barat, Jawa Tengah dan Propinsi NAD. Sampai saat ini tidak ada satu pun kreditnya macet.

Tampaknya Anda begitu prihatin dengan kondisi petani kita. Mengapa?
Petani kita sebagian besar adalah petani guram yang mengelola padi atau sawah. Petani guram saat ini sekitar 13,2 juta kepala keluarga (KK) dari 13,7 KK juta petani di Indonesia. Petani guram adalah petani yang luas lahannya kurang dari º ha. Maka lahan itu hanya cukup untuk menghidupi petani tersebut sebesar º saja dari kebutuhan hidupnya. Sedangkan 75% kehidupannya ditopang dengan bekerja bukan dari lahan mereka. Ini memang ironis sekali. Inilah kondisi petani kita yang seharusnya para pengambil kebijakan melihat fakta ini sebagai pijakan kebijakan pertanian. Dengan megenakan harga tinggi, belum tentu petani untung. Karena petani hanya menikmati produknya ketika panen dan sebagian lainnya dijual. Tapi tidak lama kemudian harus membeli beras dengan harga yang jauh lebih tinggi dari pada ketika petani menjual gabah.

Lalu bagaimana menurut Anda?
Bagi petani, justru yang lebih penting mereka bisa menjual gabah dengan harga setinggi-tingginya dan dia bisa membeli beras dengan serendah-rendahnya.Itu yang menguntungkan petani. Jadi selisih harga gabah dengan beras jangan terlalu tinggi. Karena hanya akan menguntungkan pedagang beras.

Yang diharapkan melalui program kemitraan ini?

Dengan program ini produksi padi diharapkan meningkat dari 4,5 ton per hektare menjadi 7-8 ton per hektare. Petani akan menghasilkan beras yang berkualitas dengan tingkat produktivitas cukup tinggi, sehingga diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi mitra. AD (Berita Indonesia 07)


Biodata
Nama : Widjanarko Puspoyo, MA
Lahir : Yogyakarta, 22 April 1949
Jabatan : Direktur Utama Perum Bulog (Badan Urusan Logistik)
Alamat Kantor : Jl. Gatot Soebroto No. 49 Jakarta
Tlp :  021- 5250267


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com