Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Wawancara Wawancara Syaykh AS Panji Gumilang: Tanamkan Terus Nilai-Nilai Dasar Negara
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Wawancara Syaykh AS Panji Gumilang: Tanamkan Terus Nilai-Nilai Dasar Negara

E-mail Print PDF

Syaykh Panji Gumilang Tokoh pembawa obor toleransi dan perdamaian: bahwa bernegara itu rujukannya Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar adalah didasari atau diilhami oleh nilai-nilai dasar. Hal ini harus terus disuarakan dan ditanamkan, tapi juga tidak harus merupakan doktrin kaku.Topik tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi tema wawancara TokohIndonesia.com dan Majalah Berita Indonesia dengan Syaykh Panji Gumilang. Tokoh pembawa obor toleransi dan perdamaian ini menegaskan bahwa bernegara itu rujukannya Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar adalah didasari atau diilhami oleh nilai-nilai dasar. Hal ini harus terus disuarakan dan ditanamkan, tapi juga tidak harus merupakan doktrin kaku.

Tanpa merujuk nilai dasar yang disepakati itu, kemungkinan negara ini terus goncang. Daripada kita goncang terus, ini harus disampaikan, dialog. Tidak bentuk indoktrinasi. “Ini dialog, nanti kesadaran dari olah pikir dan olah rasa tadi yang menimbulkan, oh ayo kita. Dan harus dari bawah,” jelas Syaykh Al-Zaytun. Berikut wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang.

Dalam beberapa kesempatan di forum resmi di atas mimbar maupun pembicaraan sehari-hari, Syaykh sering mengemukakan supaya dalam kehidupan bernegara itu selalu taat azas, terutama nilai-nilai dasar negara. Yang ingin kami tanya, kenapa koq Syaykh sampai berulang kali mengatakan dan menjelaskan itu?
Karena belum banyak yang mempertanyakan itu, maka jangan pernah berhenti. Kalau sudah banyak, kan nggak terjadi seperti yang sekarang ini. Jadi artinya belum, masyarakat kita ini masih harus bisa diberikan informasi ini. Dan itulah dialog namanya. Dan tempat dialog kita di Indonesia ini kan negara. Tempat yang paling bagus berdialog di Indonesia ya di negara kita ini.

Dalam hal ini, negara agak gagal ya?
Bagaimana?

Negara gagal memasyarakatkan nilai-nilai dasar itu?
Jangan katakan gagal. Harus bersama-sama kita. Yang punya negara itu kan kita, artinya warga negara inilah yang memiliki negara. Kemudian negara itu memberi batasan ‘kan, siapa warga negara itu? Warga negara itu adalah bangsa Indonesia yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama yang tidak terpecah.

Jadi bisa ditanya lagi, kenapa belum banyak warga negara ini yang memahami atau mempraktekkan nilai-nilai dasar itu?
Mestinya pendidikan dan pengajaran itu mengenalkan dulu kemanusiaan dan kewarganegaraan itu. Nanti mereka akan paham, bahwa bernegara itu rujukannya Undang-Undang Dasar. Nah, Undang-Undang Dasar ini adalah didasari atau diilhami oleh nilai-nilai dasar tadi. Ini dulu, tidak usah diterapkan kita ini turunan darimana. Masukkan yang riil. Yang riil, bangsa Indonesia itu hari ini, ini. Lepaskan turunan apapun. Tumbuh Undang-Undang Dasar ini karena punya dasar seperti ini. Itu ditanamkan terus, tapi juga tidak harus merupakan doktrin kaku. Terus seperti kita di sini menekankan, di tempat lain menekankan. Ujung-ujungnya kan kalau seluruh menekankan didengar seribu orang, terus ada sepuluh ribu yang menyampaikan hampir sama.

Tapi barangkali pernah ada kesalahan proses penyampaian?
Bukan kesalahan. Belum terbentuk proses seperti itu. Kalau kesalahan ‘kan bisa dibuat.

Kami pikir ada kesalahan?
Ya, kalau mungkin disimpulkan, ya silahkan saja buat kesimpulan.

Termasuk dan tahap apa, caranya itu ‘kan...?
Ya, itu simpulkanlah itu kalau gitu, haha. Kami sekarang kan begini, tanpa menyebut nama, apa-apa kita sampaikan gini.

Dulu ada nilai-nilai P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Tapi mungkin prosesnya, kebijakan mendidiknya, bagaimana pandangan Syaykh?
Saya tidak menanggapi yang itu, tapi bahwa kita menyampaikan begini. Kita semua punya kewajiban untuk mengajak diri kita dan bangsa Indonesia meyakini Undang-Undang Dasar ini dan landasan daripada Undang-Undang Dasar, nilai-nilai yang menghargai dasar negara.

Apa pentingnya?
Ini wadah kita, Indonesia ini wadah kita. Baik wadah berdialog, wadah berkarya, wadah berbangsa.
Bahwa hidup ini tanpa nilai dasar yang disepakati itu, wadah tidak bisa…?
Bukan tidak bisa, kemungkinan terus goncang. Bukan berarti hilang, goncang terus. Daripada kita goncang terus, kan enak yang tenang. Ini harus disampaikan, inilah dialog.

Tidak bentuk doktrinasi?
Nggak! Kalau doktrinasi, itu kaku. Ini dialog, nanti kesadaran dari olah pikir dan olah rasa tadi yang menimbulkan, oh ayo kita. Dan harus dari bawah itu.

Ada yang salah dalam civic education di Indonesia?
Tidak salah, tapi penyampaiannya, kurikulumnya, mungkin tidak ditekankan. Kita di sini menekankan, daripada semua tidak ada yang menekankan, kan lebih baik ada satu yang menekankan.

Kalau di Amerika, sudah dibuat satu disiplin ilmu tersendiri. Bagaimana di Indonesia?
Harus dibuat.

Pendidikan kewarganegaraan sudah memenuhi syarat nggak?
Amerika itu ada lebihnya. Lebihnya apa? Aku orang Amerika dan bangga menjadi bangsa Amerika.
Walaupun dia baru kemarin menjadi warga negara Amerika ya?
Dan bangga, karena apa? Terus membaca apa itu visi negaranya dan misi Amerika. Kita juga harus begitu, harus kenal misi Indonesia kita. Dan diberi kebebasan bangsa ini untuk menelaah nilai-nilai dasarnya.

Apa tidak bisa melenceng?
Nggak, nggak akan melenceng. Yang namanya ketuhanan itu tidak akan melenceng, kemanusiaan tidak akan melenceng. Karena nilainya universal. Nggak bisa ditanya di sini, ya ditanya ke tempat lain, ini gimana seperti seharusnya begini?

Tetapi akhirnya akan kembali ke sini?
Akan kembali. Ada yang sudah mendalami lebih dalam, ada yang masih dangkal. Nah ini interdependensi dunia, masyarakat dunia. Sebab Indonesia tenteram, dunia pun sedikit punya andil tenteram. Nah, kalau dua negara tenteram, dunia ini agak tenteram. Terus kalau semua tenteram, dunia tentu tenteram. Jadi kita punya kepentingan untuk tenteram. Preambule UUD-nya kan begitu.

Tadi Syaykh sudah mengatakan tujuh ciri-ciri kader masa depan. Lalu, setelah santri-santri sudah terjun ke masyarakat, apa ada upaya untuk melihat mereka, paling tidak melihat apakah mereka masih tetap seperti yang dididik, sesudah dia di masyarakat?
Ya, kalau secara langsung, kita tidak harus lakukan itu. Tetapi secara tidak langsung, kita punya kewajiban artinya untuk terus mengajak, memberikan penyemangatlah. Menjadi penyemangat, untuk tetap konsisten kepada kredo yang dulu ditampilkan. Itu suatu keharusan, jangan sampai nanti, dari sini tetap berpegang pada kredo yang ada, tetapi kemudian setelah keluar, malah bertentangan.

Tapi kalau intinya itu toleran dan perdamaian, apapun yang ia lakukan dalam bentuknya dia punya bentuk forum sendiri, itu kita lepas. Intinya toleran. Toleran itu luas, perdamaian itu luas. Jadi kita tidak batasi toleran itu harus begini. Tidak! Damai itu harus begini! Karena semua orang itu punya ide toleran dan ide damai. Jadi asal itu terus dipegang, bukan kontrol yang begitu. Saling mengingatkan. Mungkin juga nanti alumni-alumni kita mengingatkan kita.

Yang jelas masih ada komunikasi?
Ya, harus ada.

BI/Marjuka-Hotsan-Crs (Berita Indonesia 72)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com