Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Wawancara Perlunya Spesialisasi Penanganan Bencana
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Perlunya Spesialisasi Penanganan Bencana

E-mail Print PDF

Pariatmono: Pakar Gempa (Asisten Deputi Urusan Analisis Kebutuhan IPTEK Kementerian Ristek)Pariatmono: Pakar Gempa (Asisten Deputi Urusan Analisis Kebutuhan IPTEK Kementerian Ristek)

Bencana alam gempa bumi datang secara beruntun melanda wilayah Indonesia. Indonesia memang berada di wilayah yang rawan gempa. Perhatian pemerintah terkuras dalam upaya penanggulangan korban bencana gempa dan tsunami. Dana relokasi yang disediakan pemerintah pun terus membengkak guna membangun kembali daerah yang terkena musibah. Pemerintah juga terus berupaya meningkatkan penerangan dan sosialisasi early warning system untuk gempa dan tsunami.

Pakar gempa yang juga Asisten Deputi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Pariatmono, menjelaskan kepada M. Subhan, wartawan Berita Indonesia, seputar persoalan gempa dan penanggulangannya. Berikut petikannya :

 

Gempa dan tsunami terus mengguncang negeri ini. Sesungguhnya bagaimana potensi gempa dan struktur bumi yang mengelilingi Indonesia?Meski dengan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, gempa itu tidak bisa diramal kapan terjadinya. Yang bisa kita ketahui adalah berupa perkiraan dan itupun masih dalam taraf kemungkinan adanya gempa. Titiknya di sini atau di sana. Hanya sebatas itu. Itupun ada satu atau dua kali yang tidak tepat dari prediksi. Namun yang lolos dari pantauan itu tampaknya tidak begitu merusak.

Kalau kita sadar bahwa kita hidup di daerah rawan gempa dan penuh dengan ancaman bahaya gempa, maka yang paling pertama harus kita tahu adalah bagaimana karakteristik gempa itu sesungguhnya. Apa yang harus kita lakukan pada saat gempa, dan itu pada akhirnya akan menumbuhkan suatu sikap kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa. Dan kesiapsiagaan itulah yang mencegah hilangnya nyawa manusia akibat gempa. Itu yang harus kita gaungkan terus. Misalnya bagaimana kita membangun rumah yang tahan gempa, apa yang harus dilakukan pada saat gempa dan lain sebagainya.

Sesungguhnya patahan lempeng yang mana yang paling membahayakan sehingga kemudian menimbulkan tsunami?
Tanah yang kita injak ini keras, yang disebut dengan kerak bumi. Kerak bumi itu sampai ke bawah samudra. Tetapi sebetulnya di bawah lapisan kerak bumi itu ada yang lebih cair. Nah jadilah kerak bumi itu rapuh. Kerak bumi sebetulnya tidak satu dan ada banyak. Tapi tiga diantara kerak bumi itu bertemunya di Indonesia. Ada yang Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

Sesungguhnya lempeng bumi selalu bergerak, tetapi suatu saat pergerakan itu tidak bisa dilakukan. Mereka saling mengunci antara lempeng yang satu dengan lempeng yang lain. Sehingga mereka tidak bisa bergerak. Lalu akan terjadi pengumpulan energi. Dan suatu saat energinya akan lepas. Dan saat lepas itulah yang disebut dengan gempa. Dan itu terjadi di daerah pinggiran-pinggiran lempeng bumi.

Daerah-daerah di Indonesia yang rawan dan menjadi titik gempa itu di sekitar mana saja?
Titik lempeng Indo-Australia itu berada sejak dari pantai barat Sumatera mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, selatan Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur terus ke Bali, Nusa Tenggara bagian selatan terus naik ke atas, nah satu blok atau satu lempeng itu pinggirannya di Indo-Australia. Ada lagi lempeng lain yaitu lempeng Eurasia, dia ini masuknya di Sulawesi Utara, terus ke bawah sebelah timur Sulawesi kemudian ke kiri sedikit. Kemudian, Nusa Tenggara itu di samping lempeng selatan juga kena dengan lempeng utara. Lalu ada yang namanya Pacific Plate, ini meliputi daerah utara dari Papua, terus ke Halmahera dan sebagainya. Jadi ketiga lempeng ini ketemu di Indonesia dan Pulau Buru pertengahan ketiganya.

Kalau gempa itu melanda lempeng selatan atau sebaliknya, apakah akan berpengaruh pada lempeng yang lain. Karena saat ini bila terjadi gempa hampir seluruh daerah ikut panik.

Ini persoalan yang besar. Sampai saat ini belum diketahui apakah masing-masing punya hubungan. Seperti halnya apa hubungan lempeng ini dengan Gunung Merapi. Itu sama. Nah, sampai saat ini, teknologi dan ilmu pengetahuan belum berhasil menemukan kaitannya. Memang ada hipotesa-hipotesa, tapi sampai saat ini belum ada bukti konkritnya. Penelitian sudah dilakukan tapi belum dapat dipastikan adanya hubungan atau kaitan satu sama lainnya.

Contoh Yogya, kenapa kok Merapinya nggak meletus malah gempa. Dan memang keduanya beda. Jadi sulit untuk menentukannya. Seperti juga ketika terjadi gempa di Yogya, ada yang bilang ada garis di langit. Saya tidak mengatakan tidak ada hubungannya, tetapi sejauh ini antara gempa dan kejadian atmosfir itu belum berhasil ditemukan keterkaitan satu sama lain.

Ini sebuah tantangan bukan saja bagi ilmuwan Indonesia tetapi juga para ilmuwan dunia. Penelitian sudah ada tapi belum sampai ke situ sehingga belum ada titik terangnya. Kalau itu bisa, wah itu sangat bagus sekali dan bisa menyelamatkan nyawa manusia.

Dalam hal peringatan dini gempa yang akan diikuti tsunami. Sebenarnya berapa lama waktu yang diperlukan, serta alat apa yang paling efektif untuk penyebarluasan informasi bahwa tsunami akan segera menyusul gempa?
Sebenarnya Indonesia itu berada dalam posisi yang kurang beruntung. Karena lempengan pembangkit gempanya berada di Indonesia. Kita di Indonesia memang tidak punya banyak waktu antara gempa hingga terjadinya tsunami. Ini yang agak menyulitkan kita. Dalam kondisi seperti itu boleh kita tergantung kepada peralatan, seperti alat pendeteksi gempa. Tapi jangan dilupakan kesiapan masyarakat. Karena berapapun canggihnya peralatan, kalau masyarakat tidak siap akan sia-sia. Ditambah lagi kita tidak punya waktu yang agak lama.

Contohnya, di Pulau Simeulue ketika gempa Aceh itu, hanya tujuh orang yang tewas. Itu karena masyarakatnya sejak zaman dulu sudah terbiasa dan bisa membaca situasi alamnya. Mereka tidak punya alat canggih tapi begitu merasakan gempa, mereka segera membaca tanda-tanda alam bahwa akan terjadi tsunami dan segera menyelamatkan diri. Ini kita namakan kearifan lokal. Kekurangan peralatan yang dimiliki, harus kita kombinasikan dengan kearifan lokal itu untuk mengurangi korban akibat gempa dan tsunami. Dalam kasus Merapi, kita punya Mbah Marijan, meski itu kontroversial. Tapi itu adalah salah satu kearifan lokal. Nah bagaimana metode itu bisa dimasukkan dalam peringatan dini dan jangan mengandalkan pada peralatan.

Peringatan dini yang disarankan Ristek dalam masalah ini seperti apa?
Peringatan dini tidak bisa dilakukan oleh satu orang atau satu instansi. Dan Ristek hanya mengkoordinasikannya dengan instansi terkait. Bahkan tidak bisa dilakukan oleh satu negara. India, Srilanka dan lain sebagainya itu sangat bergantung pada peringatan dini kita. Karena mereka punya waktu 2-3 jam pasca gempa baru akan terjadi tsunami. Sementara kita hanya punya waktu 10-30 menit setelah gempa, karena pusat gempanya ada di kita. Artinya sistem peringatan tidak bisa dibatasi. Fungsi dari kantor ini adalah hanya berusaha untuk mengkoordinasikan dan mensosialisasikan sehingga bisa mengurangi korban jiwa.

Sebetulnya, saya ingin katakan bagaimana sih penanganan yang paling efektif agar pengurangan jumlah korban itu bisa berhasil. Jawabannya cuma satu yaitu meningkatkan kesejahteraan. Semakin tinggi kesejahteraan seseorang maka semakin sadar dia akan keselamatan dirinya. Tapi jalan menuju ke arah itu sangat panjang. Dan ini adalah permasalahan bangsa ini.

Jumlah ideal seismograf yang harus kita miliki berapa?
Saat ini sudah ada 58 buah, dan pada akhir 2006 direncanakan akan mencapai 80 buah dan pada 2007 diharapkan mencapai 160 buah yang diperlukan, dalam artian untuk mendapatkan hasil kurang dari lima menit setelah gempa. Kalau sekarang, kita baru mendapatkan hasil sekitar 8 menit setelah terjadi gempa. Waktu gempa di Aceh, sekitar 30 menit.

Kira-kira harga satu unit seismograf itu berapa?
Kalau bicara soal harga, selain harga alat itu sendiri, juga masih ada banyak komponen lain yang membutuhkan anggaran. Katakanlah lahannya, biaya pembangunan, belum lagi perawatan dan tenaga ahlinya.

Sehingga cukup banyak biaya ikutan dari alat itu. Katakanlah alat ada. Tapi kita harus mencari dimana alat itu ditempatkan sehingga bisa berfungsi maksimal. Kalau tidak berfungsi maksimal tentu saja percuma. Artinya, disini perlu survei.

Konstruksinya pun harus benar agar dia dapat mengukur dengan benar. Kemudian bagaimana hasilnya itu segera sampai ke tangan kita atau kantor regional atau kantor pusat. Saya pikir bukan hanya masalah berapa mahal harga seismografnya, tapi juga membutuhkan SDM yang lain pula.

Hal lainnya adalah banyak orang yang terlibat dalam bencana ini. Masa orang yang terlibat itu tidak ada yang punya spesialisasi penanganan bencana?
Jadi anda berpikir perlu ada sebuah lembaga pendidikan dengan spesialisasi masalah itu?
Iya. Bolehlah yang menangani dari disiplin ilmu apa saja awalnya. Tapi perlu ada suatu pendidikan lanjutan yang spesialisasinya memfokuskan diri pada penanganan bencana. Bencana itu tidak hanya gempa, tapi juga banjir, kekeringan, asap dan kebakaran. Orang Bakornas itu belum tentu bisa menangani semuanya. Satu hal lagi banyak tujuan-tujuan tersembunyi di balik bantuan bencana itu. Ini harus ditangani secara baik dan benar. Artinya jangan salahkan bencana dan hanya meratap saja.

Anda melihat ada nuansa bisnis dan proyek setiap terjadi bencana?
Coba Anda lihat setiap terjadi bencana, bantuan luar begitu banyak. Mereka juga tentu punya tujuan selanjutnya. Buat mereka itu bisnis. Itu sudah ada yang membayar. Siapa yang membayar tentu pembayar pajak di negara mereka. Tapi itu baru pada tahap awalnya. Katakanlah perusahaan industrinya. Agenda tersembunyinya kan ada. Tapi begitu selesai, begitu banyak peralatan dan teknologi yang kita butuhkan.

Sementara kita belum punya industri sendiri di dalam negeri. Di sini pula muncul proyek pengadaan itu. Oleh karena itu, dalam jangka panjang bagaimana kita harus kuat dalam bidang industri sehingga kita punya industri dalam negeri meski harus melewati proses alih teknologi. Tidak mungkin kita harus membeli terus, tapi kita harus bisa menciptakan sendiri. Jangan hanya dilihat ujungnya bencana tapi lebih dari itu adalah agenda tersembunyi di belakangnya. Kita ini nggak sadar-sadar soalnya.

Untuk itu, sebenarnya apa yang saat ini harus segera diupayakan?
Menurut saya, kita harus punya Hari Penanganan Bencana Nasional. Pada hari itu, kita semua melakukan simulasi penanganan bencana. Kemudian kita rumuskan bagaimana membangun bangsa yang siap menghadapi bencana. Memang ada masalah implementasi dan pendidikan. Tapi ada masalah yang lebih besar lagi yaitu masalah kultur. Misalnya pada saat bencana, 100 rumah rusak, tapi sehari kemudian rumah yang rusak menjadi 200 rumah, itu kan masalah kultur. Ini harus ada semacam kurikulum yang benar menanamkan nilai-nilai kejujuran sejak dini terhadap generasi kita. SB,RH (Berita Indonesia 19)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com