Majalah Berita Indonesia

Thursday, Sep 09th

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Home
Click on the slide!

Feodalisme Hambat Pemberantasan Korupsi

Edisi Cetak | Berita Utama

Kultur feodalisme yang masih kuat menghambat upaya pemberantasan korupsi dan demokratisasi serta melemahkan peran lembaga-lembaga independen.

Click on the slide!

Ketika Guru Ikut Demo

Edisi Cetak | Khas

Menjalani profesi guru di negeri ini masih menjadi dilema. Di satu sisi dituntut lebih profesional, tapi di sisi lain, kejelasan status dan kesejahteraannya kurang diperhatikan. Guru pun terpaksa turun ke jalan meminta perhatian pemerintah.

Click on the slide!

Indonesia Cerdas dan Kuat: Al-Zaytun Sumber Inspirasi

Edisi Cetak | Lentera

Indonesia Cerdas dan Kuat menjadi tema pokok dari rangkaian tulisan ‘Al-Zaytun Sumber Inspirasi’ dalam seri berikut ini. Tema ini ditinjau dalam beberapa aspek, baik geografis, SDA dan SDM (demografi dan pendidikan) maupun ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan.

Click on the slide!

Ayo Kerja Setiap Hari

Edisi Cetak | Humaniora

Program Aksi Semangat Indonesia mengajak masyarakat untuk lebih produktif dalam bekerja dan berkarya.

Click on the slide!

Tidak Semua Benar

Edisi Cetak | Kesehatan

Tidak semua kelebihan makanan organik itu benar adanya.

Click on the slide!

'Bob Marley' Pulang Kandang

Edisi Cetak | Buku

Dari dunia cetak, lalu menuju dunia digital, kemudian kembali ke dunia cetak.

Frontpage Slideshow (version 2.0.0) - Copyright © 2006-2008 by JoomlaWorks

Visi Berita Feodalisme Akar Masalah Korupsi masih menjadi permasalahan paling mendasar di Indonesia sekarang ini. Be


Berita Utama Ironi Lembaga Independen Sulit dipercaya bahwa kini berbagai cara feodalistik masih dilakukan untuk mengh


Khas Ketika Guru Ikut Demo Menjalani profesi guru di negeri ini masih menjadi dilema. Di satu sisi dituntut


Terdepan Banyak yang Tidak Bermutu Meski hampir 300 orang mendaftar sebagai calon ketua KPK, namun cuma sedikit nam




Nasional Apa yang Salah Maraknya kekerasan berkelompok diperkirakan akibat lemahnya penegakan hukum dan


Politik DPR Minta Duit Lagi Bukan DPR namanya kalau tidak buat berita kontroversial. Setelah usul tentang pe


Hukum Tatkala Kepala Berlumuran Noda Kasus suap di Indonesia benar-benar sudah berada di titik nadir. Hakim yang dipe


Ekonomi Pengutang Terbesar Sepanjang Sejarah Ada predikat baru untuk pemerintahan saat ini, yakni pengutang terbesar sepanjan


Mancanegara ‘Penjara’ Gaza Mulai Dibuka Pasca tragedi “Gaza Freedom Flotilla” dan tekanan dari dunia internasional y


Iptek Teknologi 3D Hidupkan Tontonan Teknologi 3D akan merasuki rumah-rumah di seluruh dunia. Dimulai dengan sajian t




Media Kekuatan Baru dari Dunia Maya Gencarnya dukungan media dan berbagai kalangan di dunia maya kepada KPK terbukti




Humaniora Ayo Kerja Setiap Hari Program Aksi Semangat Indonesia mengajak masyarakat untuk lebih produktif dalam


Buku 'Bob Marley' Pulang Kandang Dari dunia cetak, lalu menuju dunia digital, kemudian kembali ke dunia cetak.


Hiburan India yang Lain Atas nama luka dunia, beginilah cara lain India memaknai sebuah tragedi.


Budaya Eksis di Era Globalisasi Generasi muda Batak Jabodetabek (Nabaja) bertekad mengawal dan mempertahankan id




Lingkungan Pilih Hutan Kota Atau Beton? Berkaitan dengan isu pemanasan global (global warming), pembangunan gedung beton


Lintas Tajuk Investasi atau Utang Baru? Indonesia masih butuh uluran tangan negara-negara lain untuk mendanai pembanguna


Lintas Media Lampu Hijau Geliat Ekonomi Lokomotif ekonomi nasional diharapkan bergerak tahun 2007. Tetapi jangan sampai


Hankam Kerjasama Dua Angkatan Laut TNI AL dengan Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy/RAN), akan terus me










Publik Menuju Bandara Berkelas Dunia Satu lagi akses internasional akan terbuka dari pintu gerbang wilayah barat deng


Metropolitan Mendobrak Jalan, Membangun Kendala Jangan salahkan badai yang datang, ucap pepatah. Jika hujan dan banjir, siapkan




Obituari Dendy Hendrias Selamat Pulang Sobat Redaktur Senior yang merangkap tugas sebagai ilustrator dan karikaturis Majalah


Opini Demokrasi ‘Penggembala Sapi’ Era demokrasi telah berjalan sejak delapan tahun silam. Namun perjalanan bangsa

Perlu Upaya Kuat

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah menyerah untuk mengukir dan meraih prestasiCapaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah menyerah. Demikian halnya kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini, di tengah banyaknya persoalan yang demikian kusut, lahir sebuah mimpi “harus bisa lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022 serta Piala Konfederasi 2021.”

Sebenarnya, saking kusutnya persoalan persepakbolaan Indonesia saat ini, pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sendiri mungkin bingung hendak membenahinya dari mana lebih dulu. Di tengah mandeknya pembangunan sarana dan prasarana sepakbola, pembibitan atau pengkaderan pemain yang profesonal juga tidak berkembang.

Kemudian, prestasi tim nasional maupun klub-klub nasional belum masuk hitungan di kancah regional, apalagi internasional. Sportivitas yang sangat dijunjung dalam semua cabang olahraga juga sangat rendah dalam persepakbolaan nasional. Kekerasan pemain kepada wasit atau antar pemain, apalagi antar suporter hampir selalu terjadi setiap kali ada pertandingan antar klub di Liga Indonesia.

Kecurangan wasit yang diduga telah menerima suap juga menambah kusutnya persoalan. Bahkan, kedudukan Ketua PSSI sendiri yang sejak lima tahun terakhir mengalami pro kontra, juga ikut memperkeruh masalah.

Di tengah carut-marutnya persoalan tersebut, di situ jugalah muncul keinginan bangsa ini untuk bisa ikut dalam pesta sepakbola terbesar sejagad, Piala Dunia tahun 2018. Keinginan itu tentu adalah suatu hal yang sangat mulia. Namun, mimpi atau keinginan yang indah belum tentu berakhir dengan indah. Agar berakhir dengan indah, mimpi tersebut harus diupayakan dengan segala daya upaya. Apalagi Indonesia dengan segala persoalan seperti disebutkan di atas, tentu adalah hal yang tidak mudah untuk memperbaikinya, apalagi waktunya relatif tidak lama lagi, yakni hanya delapan tahun lagi dari sekarang.

Indonesia juga sebenarnya ingin menjadi tuan rumah piala dunia. Namun keinginan itu ditolak oleh organisasi sepakbola dunia, FIFA. Sebagai ganti mimpi tersebut, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid kemudian melahirkan mimpi baru, yakni tim nasional harus bisa lolos ke Piala Dunia seperti disebutkan di atas.

Demi mewujudkan mimpi itu, PSSI telah menyiapkan beberapa langkah untuk mencari dan melatih pemain muda yang berbakat. Misalnya, untuk mencari bibit-bibit berbakat dari kalangan pelajar, baru-baru ini telah dibentuk sebuah liga antar pelajar yang dinamai dengan Liga Pendidikan. Kemudian, para calon pemain tim nasional juga akan dikirim berlatih ke Australia selama 10 tahun ke depan.

Kenapa harus ke Australia? Memang menjadi pertanyaan tersendiri. Banyak pihak meragukan kemampuan Australia menyiapkan mereka jadi pemain-pemain bertaraf internasional. Sebab, tim Australia sendiri masih tertatih-tatih dalam setiap putaran final Piala Dunia. Sebaliknya, banyak pihak berpendapat, semestinya PSSI memilih Brazil atau Argentina sebagai tempat latihan tim nasional, karena prestasi kedua negara tersebut sudah cukup berakar di Piala dunia.

Terlepas dari soal negara mana sesungguhnya yang paling baik sebagai tempat latihan tim nasional, kita yakin PSSI memilih Australia, pasti karena negara itu memiliki keunggulan tersendiri dibanding negara lainnya, dalam kaitannya sebagai tempat latihan tim nasional.
Walau PSSI belum menunjukkan prestasi gemilang selama ini, namun untuk mewujudkan mimpi bangsa itu tadi, kiranya seluruh lapisan masyarakat perlu memberi dukungan.

PSSI juga harus mengoreksi banyak hal. Pembinaan para pemain berbakat dan berpotensi misalnya, harus dilakukan secara konsisten, berkesinambungan dan melalui latihan serta turnamen dengan disiplin tinggi. Karena untuk mencari pemain berbakat, tidak mungkin bisa sekali jadi. Kemudian, pemilihan para pemain yang berpotensi itu harus dengan standar yang tinggi, tidak berdasarkan kolusi atau nepotisme. Semoga, dengan doa, upaya yang kuat dan tidak mudah menyerah, mimpi Indonesia lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022 serta Piala Konfederasi 2021, bisa terwujud. Redaksi. (Berita Indonesia 76)

Add comment


Security code
Refresh

Share/Save/Bookmark