Indonesia sebuah negeri yang berada di jalur gempa dan gunung api. Merupakan bagian dari Cincin Api (Ring of Fire) Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik. Itu berarti bahwa kita (Indonesia) hidup di atas Cincin Api.
Sebuah gambaran betapa penduduk Indonesia sangat rawan ancaman bencana alam gunung berapi dan gempa. Bahkan, akibat seringnya terjadi bencana alam, terutama dalam lima tahun terakhir, Indonesia dijuluki sebagai negeri seribu bencana.
Belum lagi duka akibat bencana gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe (Negara) Aceh Darussalam, 26 Desember 2004 berkekuatan 9,3 skala Richter, yang menewaskan ratusan ribu jiwa pulih, diikuti berbagai bencana gempa dan alam lainnya hingga satu bulan terakhir. Bencana gempa Jawa Barat, bencana banjir bandang di Mandailing Natal, bencana gempa di Sumatera Barat dan disusul gempa di Jambi. Diperkirakan, gempa di Sumatera Barat, 30 September 2009 berkekuatan 7,6 SR, menewaskan lebih 1.000 jiwa, bahkan ada beberapa desa yang tertimbun diterjang tanah longsor dan hilang ditelan bumi.
Namun, sangat ironis, kendati sudah berulangkali terjadi bencana alam, tidak terlihat adanya kesiapsiagaan kita untuk menghadapinya. Kita terlihat selalu gagap, panik dan bingung, tak tahu apa yang seharusnya dilakukan jika terjadi bencana gempa bumi atau bencana alam lainnya. Bukan hanya penduduk, bahkan pemerintah dan para ahli pun terkesan selalu gagap, baik dalam memberi peringatan dini maupun dalam penanganannya, termasuk proses evakuasi dan penyaluran bantuan kepada korban.
Sejenak kita toleh ke belakang, ketika tsunami meluluh-lantakkan Aceh. Bukan hanya penduduk yang gagap. Pemerintah dan para ahli kegempaan justru lebih gagap. Tidak terdengar adanya peringatan dini dari pemerintah apalagi dari para ahli. Baru setelah terjadi tsunami, para ahli bertalu-talu memaparkan keahliannya tentang gempa yang menimbulkan tsunami. Dimana keahlian mereka sebelum tsunami terjadi?
Memang, gempa sebuah rahasia alam, rahasia Illahi, belum bisa diprediksi oleh manusia kapan terjadi. Tetapi apakah gempa akan menimbulkan tsunami sudah bisa diprediksi, setidaknya peringatan dini (early warning) sudah bisa segera disebar. Inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah dan para ahli termasuk media televisi, radio dan online, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh.
Namun sesudah kepedihan di Aceh, tampaknya kita juga tidak mau belajar. Warga masyarakat, bahkan pemerintah sepertinya tidak banyak memahami apa yang seharusnya dilakukan jika gempa bumi terjadi. Sebagai penghuni negeri (bumi) yang rawan dengan gempa bumi, kita tidak memiliki kesiagaan penanganan yang memadai. Sangat berbeda dengan Jepang, yang sudah akrab dengan gempa bumi, memiliki tenaga terlatih, peralatan canggih, dan penduduk yang siaga.
Barangkali inilah saatnya, kita memulihkan kesadaran sangat pentingnya belajar tentang bencana alam, gempa tektonik atau vulkanik, banjir bandang, badai topan dan lain sebagainya. Khususnya tentang gempa dimana negeri kita berada di jalur gempa dan gunung api, Cincin Api Pasifik. Selain belajar secara ilmiah (sains dan teknologi) kita juga perlu kembali belajar dari kearifan lokal tentang berbagai bencana alam, termasuk gempa.
Kita harus mengakui bahwa kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang, sudah sangat banyak kita tinggalkan. Seandainya, kearifan lokal tidak kita tinggalkan, kemungkinan jatuhnya korban dapat diminimalisir. Apalagi bila kearifan lokal dipadukan dengan sains, ilmu-ilmu alam, kebumian dan teknologi yang berkaitan dengannya, tentu saja kita akan lebih siap-siaga.
Memang, di tengah semakin kurangnya minat belajar dari alam, patut kita syukuri bahwa sejak 11 November 2008 Indonesia sudah mengoperasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami yang dikenal sebagai Ina TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), bantuan lima negara donor, Jerman, Cina, Jepang, Amerika dan Prancis, yang memiliki kemampuan menciptakan alert (peringatan) 5 menit sebelum tsunami datang.
Apalagi bila hal ini dipadukan dengan kearifan lokal. Sangat banyak cerita kearifan lokal (local wisdom) untuk mengantisipasi berbagai bencana. Seperti di berbagai daerah pinggir pantai dan gunung berapi, penduduk setempat selalu memerhatikan tingkah laku binatang. Seperti di Pulau Simeulue, Aceh, ibu-ibu selalu menyanyikan lagu untuk anak-anaknya tentang bagaimana menyelamatkan diri bila pasang (tsunami) menerjang. Terbukti, ketika tsunami 2004, penduduk Pulau Simeulue, yang berada paling dekat dengan pusat gempa, justru korban lebih minim.
Lebih daripada itu, inilah saatnya di sekolah-sekolah, sejak dini, seharusnya diajarkan ilmu yang berkaitan langsung dengan kemungkinan terjadinya bencana alam, seperti ilmu alam, geologi dan kehutanan, serta apa yang seharusnya dilakukan jika bencana alam terjadi. Sehingga kita yang hidup di atas permukaan Cincin Api dapat mengakrabi berbagai peristiwa alam (rahasia alam) dengan tingkat kesiagaan dan keselamatan yang lebih tinggi. Redaksi (Berita Indonesia 71)
| < Prev | Next > |
|---|



