Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Utama TSJ-Megapolitan: Solusi Atasi Banjir
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

TSJ-Megapolitan: Solusi Atasi Banjir

E-mail Print PDF
Article Index
TSJ-Megapolitan: Solusi Atasi Banjir
Ketika Manusia Menyebabkan Luka
Faktor-faktor Penyebab Bencana
Bencana, Pengungsi dan Wabah Penyakit
BNPB untuk Antisipasi Bencana
Bencana Meluas Sampai Jauh
All Pages

Jakarta Ibu Kota Negara Terus Dilanda Banjir

Jakarta butuh langkah revolusioner untuk mengatasi masalah banjir. Sebab terbukti, setiap langkah tambal sulam tak cukup ampuh menyelesaikan masalah. Demikian pula wilayah pulau Jawa lainnya, yang juga tak henti-hentinya dilanda bencana banjir dan tanah longsor, butuh lebih banyak pendirian “Hutan Kota” supaya setiap kota mampu bertahan terhadap berbagai hempasan.

Setelah sebagian besar wilayah timur dan tengah pulau Jawa sejak pengujung 2007 hingga awal 2008 nyaris tenggelam akibat dilanda bencana banjir dan tanah longsor, dengan mengakibatkan berbagai kerugian materiil dan immaterioil yang tak ternilai, kejadian terbaru datang lagi. Sejak Jumat 1 Februari, giliran wilayah barat seperti Banten dan DKI Jakarta terkepung banjir akibat guyuran hujan berintensitas tinggi.

Jakarta terlihat lumpuh total, persis sama dengan kejadian pada tanggal dan bulan yang sama setahun yang lalu, tatkala banjir bandang melanda nyaris seluruh Jakarta. Bedanya, kali ini tak ada banjir kiriman dari Bogor. Apabila hancurnya Jakarta setahun lalu berhasil melahirkan gagasan Tirta Sangga Jaya (TSJ) dari salah seorang anak bangsa Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, banjir pada masa ini sudah seharusnya dimaknai lebih mendalam dengan adanya langkah pasti penanganan banjir.

Kendati sehari-hari bermukim di desa terpencil di Indrayamayu, Jawa Barat, AS Panji Gumilang seorang pemangku pendidikan sekaligus pengelola Kampus Al-Zaytun mempopulerkan Tirta Sangga Jaya sebagai sebuah ide tentang bagaimana membangun kanal raksasa yang mampu menyangga Ibu Kota Negara dari ancaman bahaya banjir.

Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi salah satu pintu masuk utama Jakarta kali ini turut mengalami kelumpuhan total selama berjam-jam, membuat susah semua penumpang yang akan berangkat maupun yang baru tiba.

Bandara selama tiga hari penuh menjadi sulit diakses. Penumpang yang akan terbang tak akan pernah bisa tiba di bandara sebab terjebak kemacetan luar biasa. Sementara mereka yang baru tiba tak pernah bisa menuju rumah kediaman masing-masing karena ketiadaan transportasi umum. Kalaupun ada tarifnya sangat tinggi nyaris di luar akal sehat.

Banjir yang rutin melanda Jakarta bukanlah persoalan sepele. Sebab dampaknya dirasakan oleh semua orang. Seperti banjir yang mengepung Jakarta sejak Kamis (31/1) malam hingga Jumat (1/1) rakyat kecil hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut merasakan, yaitu tatkala iring-iringan mobil Presiden melintasi Jalan MH Thamrin yang kebanjiran.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur DKI Jakarta memantau kondisi Jakarta dari Monitor

Dalam perjalanan usai meninjau Pasar Baru Karawang, Presiden harus berganti kendaraan dari mobil sedan Mercedes Benz seri SL600 bernopol B1905BS, dengan kendaraan jenis SUV yang lebih tinggi yang biasa digunakan untuk mengangkut anggota Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).

Banjir membuat semua jalan protokol di Ibukota Negara lumpuh total. Banyak kendaraan terjebak dalam kemacetan. Bus Transjakarta koridor II (Pulogadung-Harmoni) dan III (Kalideres-Harmoni) total berhenti beroperasi. Sebanyak 237 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terganggu dengan alasan beragam. Seperti, landasan pacu terendam air setinggi 50 cm, cuaca buruk mengakibatkan jarak pandang hanya 300 meter, dari kondisi normal minimal 600. Atau, alasan penumpang tak sampai-sampai ke bandara sebab terjebak macet di jalanan.

Sama seperti banjir dan tanah longsor di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang terjadi sebelumnya, banjir Jakarta selama dua hari mengakibatkan tiga korban meninggal dunia, dan 60.617 jiwa tinggal dalam pengungsian. Jakarta Pusat, yang sebelum ini tak pernah kebanjiran, apalagi ada warganya yang mengungsi, kali ini merelakan setidaknya 10.000 jiwa warganya harus hidup dalam pengungsian.

Solusi Belum Diputuskan
Jakarta yang sudah sekian bulan berada di tangan para “ahlinya” kembali mengalami banjir karena para pengambil keputusan, hingga saat ini masih saja belum memutuskan apa langkah penanganan yang komprehensif sebagai solusi total pencegahan banjir. Padahal, frekuensi maupun intensitas banjir sudah semakin meninggi dan tak taat musim.

Wapres Jusuf Kalla yang dengan sigap pada hari Minggu (3/2) meninjau Jakarta yang tergenang air, memberikan instruksi yang isinya kurang lebih sama dengan apa selama ini pernah didengar oleh masyarakat. Kalla, yang menaiki helikopter disertai Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan sejumlah menteri, meminta agar pembebasan tanah untuk proyek Kanal Banjir Timur (KBT) dipercepat.

Kepada Gubernur, Kalla menginstruksikan supaya segera memperbaiki aliran sungai dan mengoptimalkan muara untuk melintasi banjir. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto juga menawarkan solusi yang berjangka pendek saja. Yaitu menyiapkan pompa-pompa air untuk mengeringkan jalan tol. Djoko juga berjanji menaikkan permukaan jalan tol Sedyatmo yang menuju Bandara Soekarno-Hatta agar tidak gampang direndam banjir.
Kata Djoko, Maret ini Jasa Marga akan membangun jalan layang di sisi Tol Sedyatmo sepanjang tujuh kilometer, setiap jalur dibuat dua lajur, diperkirakan mulai beroperasi 2009. Tol layang akan melintasi penggal jalan yang selama ini terendam.

Berselang beberapa hari kemudian, Selasa (5/2), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan rapat terbatas di Balai Kota DKI Jakata, menelurkan keputusan solusi banjir Jakarta yang juga masih abu-abu. Dari rapat yang dihadiri para Menteri dan Gubernur, gagasan yang muncul hanya mengurangi beban Kanal Banjir Barat (KBB).

Caranya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyambung aliran Sungai Ciliwung dengan Kanal Banjir Timur untuk mengantisipasi banjir di Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban Kanal Banjir Barat yang selama ini dialiri air Sungai Ciliwung. “Kajian secepatnya diselesaikan,” ucap Fauzi Bowo.

Untuk masa depan Bandara, rapat yang dipimpin Presiden juga hanya menyepakati penanganan yang bersifat darurat saja. Yaitu, untuk mencegah banjir menutupi jalan tol ke Bandara, maka penanganannya harus dapat diatasi dalam tempo lima jam. Caranya, mengerahkan 15 pompa milik Pemprov DKI dan tujuh pompa Jasa Marga. “Objek vital harus tetap berfungsi dalam semua keadaan untuk menjaga kelangsungan ekonomi dan pemerintahan. Pompa-pompa itu membuang air sampai 3.000 liter per detik sehingga banjir dapat diatasi dalam lima jam,” kata Fauzi.
Rapat memutuskan pula, Pemerintah Pusat akan menangani banjir secara komprehensif dengan mengeruk semua sungai dan situ yang ada di Jakarta. Sedangkan Pemprov DKI akan memperbaiki jaringan drainase dalam kota untuk mengatasi banjir lokal.

Kombinasikan 
Semua gagasan tersebut terasa masih berjangka pendek, tambal sulam, dan belum menyelesaikan permasalahan secara keseluruhan. Padahal, pilihan yang paling revolusioner sekalipun sudah harus segera diambil oleh para pengambil kebijakan, demi melepaskan warga dari rasa takut ancaman bahaya banjir.

Peta pembangunan kanal di lingkar luar Jakarta untuk mengatasi banjir tahunan di ibukota

Kombinasi antara konsep megapolitan yang pernah digagas oleh Sutiyoso, tatkala masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, dengan gagasan Tirta Sangga Jaya (TSJ) yang dimimpikan oleh Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, merupakan pilihan yang paling memungkinkan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya saat ini.

Sedangkan di wilayah lainnya di pulau Jawa yang kerap maupun yang belum pernah dilanda banjir, satu lagi gagasan Syaykh Al-Zaytun yang sudah teruji kegunaannya di Indramayu yakni pendirian “Hutan Kota”, harus pula disegerakan pendiriannya.

Konsep Megapolitan dahulu digagas Sutiyoso supaya setiap pemerintahan di wilayah sekitar Ibukota Negara yang terkait dengan masalah banjir bisa bersatu pandangan dalam menelurkan keputusan penting. Kesemua wilayah diintegrasikan dalam konsep ruang wilayah bernama Megapolitan. Sedangkan masalah pemerintahan, mereka masing-masing tetap berdiri otonom dan mengayomi warganya.

Gagasan Megapolitan sesungguhnya bagai gayung bersambut dengan “mimpi” Syaykh tentang Tirta Sangga Jaya. Sebab TSJ menginisiasi dibangunnya dua kanal raksasa di sisi timur dan barat Jakarta, untuk menyangga wilayah Ibukota Negara dari ancaman banjir. TSJ dalam konsepnya bermula dari pembangunan waduk raksasa di hulu, kira-kira terletak di wilayah antara Bogor dan Cibinong atau sekitar 60 kilometer dari Monas. Waduk raksasa dibangun untuk menampung setiap curahan air hujan di wilayah Bogor. Dari waduk, air dari Bogor lalu dialirkan ke dua kanal raksasa yang dibangun masing-masing selebar 100 meter, dan masing-masing sepanjang 120 kilometer.

Karena dimaksudkan untuk menyangga Ibukota Jakarta, kanal mengalir di sisi timur melintasi Karawang dan Bekasi, serta di sisi barat melintasi Tangerang. Muara masing-masing kanal bukan di Pantai Indah Kapuk (PIK), tetapi terpisah di Kabupaten Tangerang dan Bekasi. Keduanya di pantai utara pulau Jawa. Kedua kanal raksasa dibangun terhubung secara terintegrasi dengan ke-13 sungai yang mengaliri Jakarta. Sehingga, sebelum air sungai tiba di muara akhir, TSJ lebih dahulu mendinamisir aliran-aliran air di ke-13 sungai yang melintasi wilayah Jakarta. Air harus terlebih dahulu termanfaatkan sebelum tiba di muara.

Selama ini ke-13 sungai yang membelah Jakarta terbukti tak mampu menampung luapan air hujan Jakarta, apalagi bila ada tambahan kiriman air dalam jumlah besar dari Bogor. Tetapi apabila semua sungai yang mengaliri Jakarta, demikian pula sungai di Karawang, Bekasi, dan Tangerang diintegrasikan dengan kanal TSJ maka tinggi-rendah permukaan semua sungai dapat diatur sedemikian rupa sehingga air dapat termanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misal untuk keperluan transportasi air, wisata air, air baku air minum, irigasi teknis, penggelontoran sungai dan lain-lain. 
Dengan demikian, tatkala hujan deras Jakarta tak lagi harus kebanjiran. Dan ketika musim kemarau panjang tiba sumur-sumur warga tak perlu kekeringan. Demikian pula area persawahan di Kabupaten Karawang, Bekasi, dan Tangerang, tak akan pernah pula kekurangan pasokan air. TSJ akan mengatur semua keperluan air memanfaakan kecanggihan teknologi terbaru pengaturan permukaan air.

Dengan pengaturan permukaan air sungai, keinginan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto agar setiap jalan memiliki drainase yang baik, menjadi terakomodasi pula.

Waspada Hingga Maret
Jika di Ibu Kota Negara Syaykh Al-Zaytun menggagas Tirta Sangga Jaya, untuk semua kota di Indonesia Syaykh bukan hanya menggagas, tetapi sudah membuktikan berdirinya sebuah miniatur “Hutan Kota” yang memberikan keteduhan di Kampus Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Kampus Al-Zaytun yang rindang adalah “Hutan Kota” dimaksud.

Banjir di Manggarai Jakarta

Pada pertengahan tahun ini, dalam rangka mengisi kegiatan Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun (ASSA), Syaykh bersama segenap eksponen Al-Zaytun dan para penggiat olahraga yang bergabung di ASSA akan bersepeda keliling pulau Jawa. Di setiap kota yang disinggahi Syaykh akan menanam pohon sebagai cikal bakal pendirian “Hutan Kota” di kota yang bersangkutan.

Pendirian “Hutan Kota” yang dimaksud Syaykh adalah, menanami kota dengan aneka pohon yang kuat yang mampu berumur panjang seperti pohon jati, eboni, kayu api, dan lain-lain. “Hutan Kota” yang memadai di kala musim panas akan memberikan keteduhan bagi setiap orang untuk berlindung dari panas, serta menyediakan oksigen yang menyehatkan semua. Sedangkan di musim hujan “Hutan Kota” menjadi penyangga ancaman tanah longsor dan penyerap air hujan terbesar.

“Hutan Kota” menjadi payung penyelamat di segala musim. Sebab di musim hujan kota takkan kelimpasan air, dan di musim panas takkan kekurangan air. Pendirian “Hutan Kota” di semua wilayah kota dan daerah di Indonesia sangat diperlukan. Sebab kendati “musim” bencana banjir dan tanah longsor di wilayah timur dan tengah pulau Jawa sudah “hampir berakhir” pada pertengahan Januari, nyatanya, bencana sejenis masih saja terjadi beberapa waktu kemudian.

Hujan deras yang mengguyur Kota Solo, Jawa Tengah Selasa (5/2) menyebabkan beberapa daerah di Kota Bengawan Solo kembali dilanda banjir. Ratusan rumah di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pasar Kliwon, Kecamatan Jebres, dan Kecamatan Serengan, terendam air setinggi 50-120 sentimeter. Kawasan banjir terletak di dekat aliran anak Sungai Bengawan Solo.

Pada hari yang sana bencana longsor menimbun tujuh orang warga Desa Sidangwangi, Kecamatan Bantar Kawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Enam korban belum diketahui nasibnya, sedangkan satu korban dipastikan mengalami luka berat. Tiga rumah turut hancur, tiga rumah lainnya mengalami rusak berat. Banjir mempercepat kerusakan infrastruktur jalan. Belum lagi biaya-biaya sosial dan kerugian ekonomis yang dialami masing-masing warga korban banjir. Beberapa hari kemudian bencana terjadi di Jakarta, Bekasi Jepara, Jawa Tengah, dan sebelumnya di Situbondo, Jawa Timur.

Di Jakarta, hujan disertai angin kencang Sabtu (9/2) merubuhkan sejumlah rumah dan 21 pohon jalan tumbang. Di Bekasi hujan badai mengakibatkan kabel listrik tegangan menengah putus, hingga menyetrum delapan orang warga dan membuat empat di antaranya tewas seketika dengan kondisi mengenaskan sekujur tubuh hangus terbakar.

Pada hari yang sama di Jepara hujan angin yang terjadi Sabtu (9/2) mengakibatkan seorang bocah tewas tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya akibat sebuah pohon beringin tumbang. Kawasan tapal kuda Situbondo terlihat hancur disapu banjir bandang yang dahsyat mengakibatkan 15 orang warga meninggal dunia. Mereka tewas dan hilang terseret derasnya banjir yang begitu kuat. Sejumlah jembatan yang putus membuat Kota Situbondo semakin terisolasi. Ribuan rumah warga turut hanyut hingga rata dengan tanah. Demikian pula beberapa mobil ikut terseret banjir. 
Sejak Jumat (8/2) pukul 15.00 WIB hujan tiada henti melanda Situbondo, hingga akhirnya luapan air tak tertahankan lagi memasuki kota sekitar pukul 21.15. Sejak malam itu ribuan warga mulai histeris dan panik. Banyak terdengar jeritan takbir, ada banyak suara memanggil-manggil nama orang, isak tangis terdengar dimana-mana. Aliran listrik pun padam total.

Air bah yang datang dari hulu sungai di Pegunungan Raung, Bondowoso memorakporandakan semua yang dilaluinya. Lahan pertanian dan permukiman dibuat rata dengan tanah. Jembatan, jalan, dan prasarana umum lainnya di Situbondo turut berantakan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), lembaga paling dipercaya memprakirakan iklim dan cuaca, menyebutkan, peluang hujan lebat di Jakarta baru akan berakhir pada bulan Maret nanti, saat Ibu Kota memasuki fase akhir musim hujan.

Kukuh Ribudiyanto, Kepala Sub-Bidang Informasi BMG, mengatakan, pola hujan mendatang sebagian besar wilayah Jakarta dihajar banjir, hujan lebat berlangsung sejak dini hari sampai siang. Hujan yang akan datang lebih lebat, berdurasi singkat, tetapi disertai angin puting beliung. 
Wilayah lainnya di pulau Jawa? Sama saja. Karena itu, warga Jakarta dan Pulau Jawa perlu tetap waspada sepanjang Megapolitan, TSJ, dan “Hutan Kota” belum menjadi keputusan politik pemerintah. HT-BHS (BI 55) 



Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com