Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Utama Kepak Maut,Virus Pilek
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Kepak Maut,Virus Pilek

E-mail Print PDF
Article Index
Kepak Maut,Virus Pilek
Mencari Asal Sang Pembawa
All Pages

Riska Hardianti: Akhirnya meninggal dunia.Depkes menetapkan seluruh wilayah Indonesia sebagai kejadian luar biasa (KLB) flu burung. Pemerintah masih bertindak setengah-setengah. Riska Hardianti (5) tak sempat memeluk boneka Dora yang diidam-idamkannya semenjak ia masuk rumah sakit 15 September lalu. Gadis kecil lucu kesayangan keluarga itu keburu menghembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Sulianti Saroso. Ya, mendengar nama rumah sakit ini semua orang pun mengerti apa yang menimpa si kecil malang itu. Riska diduga menjadi korban virus flu burung yang disebut juga H5N1 itu.

Riska adalah korban keenam dari tujuh kasus kematian akibat flu burung di Jakarta yang baru tercatat sementara ini. Kecemasan warga semakin meningkat dari hari ke hari. Apalagi Departemen Kesehatan sejak Senin, (19/9), menetapkan seluruh wilayah Indonesia sebagai kejadian luar biasa (KLB) flu burung.

Keputusan itu dikeluarkan Menteri Kesehatan menyusul ditemukannya 19 unggas yang diduga mengidap virus H5N1 di Kebun Binatang Ragunan. Untuk sementara, selama 21 hari, Kebun Binatang Ragunan ditutup untuk umum. Semua karyawannya yang diketahui selalu bekerja di dekat kandang-kandang unggas segera diperiksa.

Dampaknya sangat besar bagi berbagai segi kehidupan masyarakat. Selain ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat, perekonomian turut terganggu. Saat ini, penghasilan para pedagang ayam bahkan menurun sampai 70 persen.

Sejak kasus ini meledak Juli lalu (Ingat kasus kematian tiga anggota keluarga Iwan Siswara-Red), peternak unggas dan babi menderita kerugian materiil yang sangat besar. Ketika virus ditengarai bisa ditularkan ternak babi, ratusan babi pun dimusnahkan. Begitu pula kini pemusnahan unggas, terutama burung dan ayam, semakin sering dilakukan.

Saat ini, kasus flu burung bukan lagi dianggap sebagai wabah endemi, melainkan ‘pandemi.’ Pandemi adalah penyakit yang menginfeksi manusia di berbagai negara di dunia. Hal ini bahkan menjadi pembahasan World Health Organization (WHO) dalam sidangnya di Kaledonia Baru, (19/9).

Indonesia sendiri telah menyiapkan rencana darurat National Influenza Pandemic Preparadness Plan yang akan diajukan kepada dunia internasional untuk memberikan kontribusi sebagai persiapan menghadapi pandemi flu burung.

Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan I Nyoman Kandun, seperti dikutip harian Sinar Harapan, 23 September 2005, Pusat Kontrol Penyakit Menular (CDC) di Amerika Serikat akan membantu meningkatkan laboratorium dan kemampuan dokter agar bisa mendeteksi pasien flu burung sejak dini.

Belum siap
Kasus flu burung sebenarnya sudah terdeteksi sejak tahun 2003. Saat itu, merebaknya kematian unggas secara misterius di berbagai provinsi ditanggapi dengan ‘santai’ bahkan cenderung ditutup-tutupi pemerintah. Kendati di China kasus yang sama terjadi dan pemerintahnya sudah menyatakan adanya wabah flu burung. Baru pada Januari 2004, Departemen Kesehatan RI menyatakan secara terbuka wabah flu burung (avian influenza/AI). Kala itu, virus AI belum diketahui menginfeksi manusia.

Alasan pemerintah untuk tidak transparan ketika itu memang cukup masuk akal. Pemerintah khawatir masyarakat takut mengkonsumsi produk-produk unggas seperti daging dan telur, sehingga akan merugikan peternak.

Kenyataannya, hal itu terjadi saat ini. Banyak orang yang kini tak lagi mengkonsumsi daging unggas dan telurnya, membuat peternak ayam mengeluh omzetnya menurun drastis.

Banyak pihak lantas mempertanyakan kinerja pemerintah yang lamban dan tidak antisipatif dalam menanggulangi penyakit ini sampai sekarang, mengingat wabah tersebut sudah terjadi sejak 2003.

Kendala yang dihadapi pemerintah memang tidak sedikit, mulai dari aspek hukum, kurangnya sarana dan prasarana, terbatasnya jumlah petugas teknis dan sedikitnya jumlah dokter hewan yang ada. Selain itu, kendala kelembagaan ikut mempersulit penanganan flu burung. Saat ini, di daerah tidak ada perangkat dinas peternakan. Padahal keberadaannya sangat diperlukan untuk bekerjasama dengan Pemda.

Kasus flu burung di Indonesia telah memasuki Stadium 3 karena sudah menular ke manusia. Namun sampai saat ini, para ahli di Depkes belum menemukan indikasi penularan antar manusia.

Menyusul ditetapkan KLB secara nasional, kecemasan semakin merajalela di kalangan masyarakat. Penderita dan keluarga penderita bahkan seringkali dikucilkan warga sekitarnya yang khawatir ketularan.

Untuk menghindari perlakuan seperti itu, pihak rumah sakit dalam memberikan keterangan kini lebih berhati-hati dan seringkali menyamarkan nama orang-orang yang diduga (suspect) terinfeksi flu burung dengan inisialnya saja. RH (Berita Indonesia 04)


Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com