Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Utama Indonesia 2008
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Indonesia 2008

E-mail Print PDF
Article Index
Indonesia 2008
Suhu Politik Akan Memanas
Tahun Penentuan SBY-JK
Hukum Yang Masih Terlihat Kumuh
Terdepan Membersihkan Sarang Penyamun
2008 Tahun Wisata
All Pages

Dua agenda utama Ekonomi 2008Kenaikan harga minyak, krisis keuangan global, dan dampak pemanasan global, ditambah kemungkinan ketidakserasian antara yang makro dan mikro yang kemudian tercermin pada dinamika politik domestik, menjadi tantangan besar yang harus dihadapi perekonomian Indonesia 2008.

Ada dua agenda utama perekonomian yang harus dituntaskan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) sebelum memasuki kontes politik pada Pemilu 2009, mengatasi masalah pengangguran dan mengurangi jumlah penduduk miskin. Artinya, kedua pemimpin harus berusaha keras menggerakkan sektor riil untuk menyerap tenaga kerja, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat agar terangkat dari kubangan kemiskinan.

Cara instan menempuhnya adalah dengan menebarkan sejumlah besar anggaran kesejahteraan, atau membagi-bagikan uang secara tunai kepada penduduk miskin. Tetapi cara ini diyakini tak akan pernah menyentuh substansi permasalahan yang sesungguhnya.

Karenanya, tahun 2008 merupakan batu ujian kenegarawanan SBY dan JK, apakah sungguh-sungguh berpihak pada rakyat atau hanya mengejar popularitas semata.

Kemiskinan selalu menjadi polemik dalam mengukur kinerja perekonomian pemerintahan, apalagi baru-baru ini terjadi ‘perseteruan’ hangat antara Presiden SBY dengan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto. Wiranto dalam sebuah iklan mengutip data Bank Dunia, yang menyebutkan jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 49,5 persen jika diukur pendapatan perkapita dua dollar AS per hari.

Sedangkan SBY mengacu kepada data terbaru BPS yang terang-terangan menunjukkan kecenderungan pengurangan jumlah penduduk miskin. Pada Februari 2006 jumlah pengangguran mencapai 10,45 persen, Februari 2007 turun menjadi 9,75 persen.

Lembaga kajian ekonomi Indef turut mencatat jumlah orang miskin yang terus menurun dari tahun ke tahun. Apabila pada tahun 1976 jumlah orang miskin mencapai 54,2 juta jiwa, atau 40,08 persen dari jumlah penduduk, maka 10 tahun kemudian pada tahun 1987 turun drastis menjadi 30 juta jiwa atau 17,42 persen. Kemudian pada tahun 1996 sebelum krisis multidimensi melanda tinggal 22,5 juta jiwa atau 11,3 persen.

Pada masa krisis di tahun 1998, BPS mencatat jumlah orang miskin mencapai 79,8 juta jiwa, yang secara bertahap sempat turun pada tahun 2003-2005. Malapetaka kenaikan harga BBM lebih dari 100 persen pada 1 Oktober 2005 kembali menaikkan jumlah orang miskin menjadi 39,30 juta jiwa pada Maret 2006, atau 17,75 persen, padahal pada Februari 2005 hanya 35,1 juta jiwa. Pada tahun 2007 jumlah orang miskin kembali mulai menurun ke angka 37,17 juta jiwa.

Pemerintah merespon persoalan kemiskinan dengan beragam program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama tahun anggaran 2007 misalnya, jumlah dana yang dialokasikan untuk penanganan kemiskinan mencapai Rp 51 triliun, pada tahun 2008 naik menjadi 65,5 triliun. Jika saja program penanganan kemiskinan diperuntukkan untuk menciptakan lapangan kerja baru, dan membangun infrastruktur pembangunan, bukan mustahil jumlah orang miskin akan menurun secara drastis.

Respon lain adalah rencana pemerintahan SBY-JK mengeluarkan dana sebesar Rp 100 triliun dari APBN 2008 untuk membangun berbagai fasilitas umum seperti jalan dan pelabuhan. Dana sebesar itu diperoleh dari hasil pemotongan subsidi BBM pada tahun 2005. Selain itu direncanakan pula melanjutkan program membangun pembangkit tenaga listrik sebesar 10.000 megawat berbahan bakar batubara.

Hingga tahun 2011 ditargetkan pengeluaran anggaran untuk membangun fasilitas umum sebesar 22 miliar dollar AS.

Jika saja pendekatan mengurangi angka penduduk miskin adalah charity yang serba instan, maka, penurunan angka kemiskinan hanya akan bersifat semu saja. Sebab faktanya program-program anti kemiskinan yang selama ini diluncurkan pemerintah, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri), masih jauh dari ideal bagi pengurangan angka kemiskinan. Demikian pula program bantuan langsung tunai (BLT) dan program beras untuk rakyat miskin (Raskin).

Pengangguran Juga Sama
Mandeknya program pengurangan jumlah orang miskin paralel dengan jumlah pengangguran yang justru menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan selama tahun 2005-2006. Faktanya, jumlah pengangguran terbuka mencapai 10,8 juta jiwa, ditambah yang setengah menganggur (bekerja kurang dari 35 jam/minggu) sebesar 29,64 juta jiwa, sehingga total pengangguran di Indonesia secara aktual mencapai sekitar 40 juta jiwa, setara 40 persen dari jumlah angkatan kerja.

Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) A. Tony Prasentiono, mengakui, ketidakberhasilan pertumbuhan ekonomi menurunkan angka pengangguran bukan hanya terjadi di Indonesia. China menurutnya juga sulit menurunkan angka pengangguran yang mencapai 9,5 persen, atau sebanyak 60 juta jiwa dari jumlah angkatan kerja 650 juta jiwa.

Jumlah orang miskin terus bertambahBerbicara dalam seminar Prospek Ekonomi dan Politik Indonesia 2008 di Jakarta (13/11), Tony memastikan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 masih menggiurkan tetapi belum disertai prospek yang baik di sisi penyerapan tenaga kerja. Menurutnya, selama 2008 sektor perbankan yang berbasis modal yang sangat besar masih tumbuh masif.

Besarnya pengangguran sesungguhnya tak melulu disebabkan kenaikan BBM. Melainkan, turut pula disumbang oleh penurunan elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja. Misal, pada periode Februari 2005-Februari 2006 setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap 42.181 tenaga kerja. Padahal sebelumnya selama Agustus 2002-Agustus 2003 setiap pertumbuhan ekonomi satu persen mampu menyerap 252.634 tenaga kerja.

Kejadian baru-baru ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi justru lebih banyak disokong oleh sektor keuangan yang kurang memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Seperti diungkapkan Ahmad Erani Yustika dari Indef, ketika memaparkan Indef Outlook 2008 di Jakarta awal Desember, realisasi PMDN 2007 hanya menyumbang serapan tenaga kerja 80 ribuan, dan PMA 147 ribu, sehingga total PMDN-PMA hanya menyerap 227 ribu tenaga kerja baru. Padahal terdapat dua juta angkatan kerja baru yang masuk bursa tenaga kerja.

Karena itu, meskipun secara teoritis setiap pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen mampu menyerap tenaga kerja sebesar 300.000 orang, faktanya, pesatnya pertumbuhan tenaga kerja yang sebesar 2 juta orang pada tahun 2006 tak mampu diimbangi oleh serapan tenaga kerja yang sebesar 1,8 juta orang sebagai hasil pertumbuhan ekonomi 6 persen pada masa itu.

Melihat peta permasalahan, dapatlah disimpulkan, untuk menangani pengangguran maka pertumbuhan ekonomi haruslah dibuat selaras dengan pertumbuhan sektor riil. Tanpa melupakan sektor keuangan dengan penerapan kebijakan dan perlakuan yang ekstra hati-hati, pemerintah selama 2008 harus menggenjot investasi di sektor riil khususnya pertanian dan industri manufaktur. Keduanya memiliki relasi yang tinggi terhadap tenaga kerja, sifatnya tidak terlalu padat modal kecuali pada industri manufaktur yang berteknologi tinggi. Sayangnya, justru skenario inilah yang terkesan dihindari pemerintah, terbukti pertumbuhan ekonomi yang diraih tidak menyertakan penyerapan tenaga kerja.

Pengamat ekonomi Faisal H. Basri mengatakan prospek perekonomian Indonesia selama 2008 lebih banyak bergerak di luar pulau Jawa, mengingat pendorong utama pertumbuhan adalah sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Bersamaan itu harga-harga komoditas ketiga sektor sedang bagus-bagusnya di pasaran dunia, yang menimbulkan minat tinggi investor menaikkan investasi dan menggerakkan industri.

Bisnis di pulau Jawa tidak bisa diharapkan mengalami pertumbuhan secara signifikan, kecuali di sektor jasa modern yang relatif hanya menyerap sedikit tenaga kerja. Sektor transportasi dan komunikasi adalah primadona pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa.

Optimisme di Tahun 2008
Seberat apapun kendala yang menghadang, banyak pihak tetap menaruh harapan dan optimisme di tahun 2008. Kondisi pencapaian selama tahuh 2007 dijadikan sebagai alasan utama.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi, misalnya, mengklaim ada realisasi investasi senilai Rp 125,94 triliun atau sekitar 13,99 miliar dollar AS sejak Januari hingga Desember 2007. Pencapaian menurut Lutfi merupakan prestasi realisasi investasi tertinggi sejak UU Investasi disahkan tahun 1967.

Pemerintah perlu membuka lapangan pekerjaan lebih banyak untuk mengatasi pengangguran

Optimisme senada disampaikan oleh Miranda S. Goeltom, Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia. Ia mengungkapkan prediksi selama tahun 2008 akan ada investasi baru di Indonesia senilai Rp 1.165 triliun.

Tim peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI), dipimpin Dr. Latif Adam juga memaparkan hasil kajiannya tentang Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2008. Beberapa variabel yang diprediksinya adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, inflasi, harga minyak, SBI, pengangguran, kemiskinan, serta neraca perdagangan dan investasi.

Adam menyimpulkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 akan berada pada kisaran 6-6,5 persen, nilai tukar rupiah berkisar Rp 9.200-Rp 9.400 per 1 dollar AS, serta tingkat inflasi antara 6,3-8,4 persen. Menurut Adam, harga minyak berkisar 72-90 dollar AS per barrel, dan SBI 7,7-8,8 persen.

Hasil kajian LIPI sedikit berbeda dengan perkiraan yang disusun pemerintah. “Misalnya pertumbuhan ekonomi maksimal hanya akan mencapai 6,5 persen, lebih rendah dari yang ditargetkan pemerintah sebesar 6,8 persen,” ucap Adam. Ditegaskan Adam, peran pemerintah perlu digarisbawahi agar mampu menciptakan kebijakan ekonomi yang utuh dan harmonis serta sehat. Menurutnya, mengembangkan permintaan dalam negeri melalui penguatan sektor pertanian, percepatan investasi, dan lebih mengefektifkan sektor fiskal adalah beberapa alternatif yang bisa membantu tumbuhnya perekonomian.

Ahmad Erani Yustika dari Indef menyebutkan, ekonomi Indonesia 2008 secara umum boleh dikatakan fotokopi dari ekonomi tahun 2006. Ada beberapa yang bisa disebut perbaikan. Tetapi di sisi lain ada juga aspek-aspek yang justru menurun, sehingga perlu ditangani agar tidak menjadi ganjalan persoalan yang menumpuk pada tahun-tahun berikutnya.

Rekannya dari Indef, Muhamad Ikhsan Modjo mengatakan prospek ekonomi Indonesia 2008 pada dasarnya merupakan interplay antar empat faktor: ada satu momentum pertumbuhan yang sangat bagus, stabilitas makro inflasi terjaga, minat investasi sudah mulai naik, pertumbuhan ekonomi hampir sama dengan saat sebelum krisis, dan pada tahun 2007 pertumbuhan ekspor dipicu oleh ekspor barang-barang primer pertanian atau agroindustri.

Ikhsan Modjo menyebutkan tiga tantangan besar yang harus dihadapi perekonomian Indonesia 2008. Yaitu, kenaikan harga minyak, krisis keuangan global, dan dampak pemanasan global, ditambah kemungkinan ketidakserasian antara yang makro dan mikro yang kemudian tercermin pada dinamika politik domestik. HT (BI 53)



Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com