Tak biasanya Try Sutrisno bersuara lantang soal politik praktis. Sebab ia tergolong “Negarawan yang Berpendirian Teguh”. Tetapi mertua mantan KSAD Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu ini, harus ‘turun gunung” membeberkan fakta bahwa situasi kehidupan di semua bidang semakin memburuk. Ia peniup pertama peringatan dini.
Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, yang selepas menjabat Panglima ABRI 1988-1993 dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI periode 1987-1992 mendampingi Pak Harto, terlihat emosional tatkala berbicara kepada pers usai memaparkan evaluasi sekaligus peringatan dini tentang pemerintahan yang sekarang, kepada Ketua DPR RI Agung Laksono di Senayan, Jakarta Selasa (19/12) dalam sebuah pertemuan tertutup.
Try yang terbiasa kalem, penuh senyum bermakna, berbicara dalam intonasi yang selalu terkendali, badannyapun tegap merepresentasikan sikap tegasnya, saat itu memang lain dari biasanya.
Happy Bone Zulkarnaen, Anggota DPR dari Komisi Pertahanan yang turut mendampingi Agung memperjelas kesan yang ditampilkan Try. Bone menilai, kedatangan Try Sutrisno ke gedung parlemen itu tidak bisa dianggap remeh. “Kalau beliau sudah turun gunung, pasti masalahnya serius,” ujar Bone.
Kedatangan Try selaku Ketua Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR) memang mempunyai agenda tunggal: Mengingatkan pemerintah tentang memburuknya situasi di segala bidang.
Peringatan disampaikan setelah GKIR mengkaji secara mendalam dan jernih, bahwa penyebab keburukan situasi di semua bidang secara umum disebabkan oleh lemahnya kepemimpinan nasional.
Peringatan disampaikan memang dalam sebuah pertemuan tertutup. Tetapi pers dan masyarakat luas tahu, materi yang disampaikan Try adalah hasil dialog publik yang digelar GKIR di Jakarta pada 23 November 2006. Dan, ini yang menarik, hasil dialog publik itu menyimpulkan bahwa situasi nasional di semua bidang kehidupan kebangsaan Indonesia semakin terpuruk. Harapan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin tipis. Terjadi kontradiksi yang mencolok antara indikator ekonomi makro yang membaik, dengan indikator ekonomi mikro yang terus memburuk.
Dengan demikian kedatangan Try menemui Agung selaku Ketua DPR lantas dianggap sebagai institusionalisasi hasil dialog publik, dialog yang juga mewacanakan pencabutan mandat rakyat kepada Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Bila isunya sudah bergulir di parlemen maka hasil dialog bisa bereskalasi mengalami proses konstitusionalisasi. Picu inilah yang mengangkat nama Try yang dahulu dikenal “Jenderal Santri”, menjadi bahan pembicaraan dan penulisan di berbagai media massa.
Dalam pertemuan tertutup itu sempat muncul keinginan untuk mencabut mandat yang diberikan rakyat kepada SBY-JK. Tetapi dengan arif Try mendinginkan suasana. “Memang muncul suara yang menginginkan pencabutan mandat. Tetapi kita tidak menginginkan negara ini goncang terus. Tidak perlu turun-menurunkan pimpinan negara. Yang penting kita sempurnakan apa yang kurang saat ini,” ujar Try. “Ini warning awal dan jangan dianggap tidak berarti. Wajar jika pemerintahan yang sudah berjalan selama dua tahun ini dievaluasi. Bagaimanapun juga, masih banyak kelemahan yang harus diperbaiki.”
Nama Try menjadi tokoh yang berpeluang mendorong pencabutan mandat, mengingat mantan Pangdam Jaya ini memberikan pula komentarnya atas hasil Pilkada Aceh yang menghasilkan pemenang pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh.
Try dengan tegas meminta agar Irwandi dan seluruh masyarakat Aceh melepas atribut GAM. Jenderal Try bersama para purnawirawan TNI Angkatan Darat sebelumnya tak begitu mendukung poin-poin nota perjanjian damai Helsinki.
Mereka khawatir Aceh akan dianggap sebagai kerikil dalam sepatu, seperti Provinsi Timor Timur dahulu dalam pandangan Presiden Habibie sehingga harus dilepaskan daripada terus-terusan mengganggu. HT (Berita Indonesia 29)
Biodata
Nama : Try Sutrisno
Lahir : Surabaya, 15 November 1935
Agama : Islam
Menikah : Bandung, 5 Februari 1961
Isteri : Tuti Sutiawati (lahir, 3-4-1940)
Anak:
- Nora Tristiyana, 5-4-1962
- Taufik Dwi Cahyono, 9-8-1964
- Firman Santya Budi, 17-11-1965
- Nori Chandrawati, 31-3-1967
- Isfan Fajar Satrio, 7-2-1970
- Kunto Arief Wibowo, 15-3-1971
- Natalia Indrasari, 30-12-1974
Pendidikan Militer:
- Atekad, 1956- 1959
- Susjurpazikon/MOS, 1962
- Latsar Para, 1964
- Kupaltu, 1965
- MOS Amfibi, 1967
- Suslapa Zeni, 1968
- Seskoad, 1972
- Seskogab, 1977
Jabatan:
- Dilantik menjadi Letda CZI NRP. 18436, 1-10-1959
- Danton Zipur, 1959-1962
- Danton Zikon, 1962-1963
- Dankima Yonzikon-2, 1964
- Dankizi I/DTR, 1965-1867
- Kupaltu, 1965
- Wadan Denma Ditziad, 1967-1968
- Wadanyon Zipur 9/Para, 1968-1970
- Danyon Zipur 10/FIB, 1970-1971
- Karo Suad-2, 1972-1974
- ADC Presiden, 1974-1978
- Kasdam XVI/Udayana, 1978-1979
- Pangdam IV/Sriwijaya, 1979-1982
- Pangdam V/Jaya, 1982-1985
- Wakasad, 1985-1986
- Kasad, 1986-1988
- Pangab, 1988-1993
- Anggota MPR RI, 1983-1993
- Ketua Umum PBSI, 1985-1993
- Wakil Presiden RI, 1987-1992
- Ketua Umum DPP Pepabri, 1998-2002
- Ketua Umum Prima (Persahabatan RI-Malaysia), 2002-sekarang
| < Prev | Next > |
|---|



mau nanya kalau buka toko obat harus pake apoteker apa ga? kalau toko obat kan jualnya obat2 yg b...
BWT''' TNI ,'''' MAJU TERUS TUNJUKKAN KEKUATANMU,,,,KMULAH PEMBELA NEGARA YANG SEBENARNYA...........
kinerja dulu and skill sklill tidak ada kok minta naik gaji jangan sampai menghabiskan duit negar...
Leonardo Da Vinci itu berasal dari mana sih ? ? ?
WOW!!! He's really a great human ever in this earth!!!