Nama keluarga Mallarangeng nampaknya semakin akrab di telinga masyarakat. Sebab, ada tiga Mallarangeng yang menjadi salah satu motor tim sukses SBY-Boediono. Mereka adalah Andi Alfian Mallarangeng, Rizal Mallarangeng, dan Zulkarnaen Mallarangeng.
Ketiganya merupakan putra mantan Wali Kota Parepare, Sulsel, Andi Mallarangeng dan Andi Asni Pattopoi. Andi Mallarangeng kelahiran Makassar, 14 Maret1963 adalah juru bicara kepresidenan sejak 20 Oktober 2004. Dia juga menjabat ketua departemen sumber daya manusia (SDM) DPP Partai Demokrat.
Sedangkan Zulkarnain atau akrab disapa Choel, adalah CEO Fox Indonesia, yang dikontrak Partai Demokrat dan SBY sebagai konsultan politik. Terakhir, Rizal Mallarangeng atau Celi. Doktor politik lulusan Ohio University, AS, itu adalah pendiri Fox Indonesia. Dia tiba-tiba muncul beberapa jam sebelum deklarasi pasangan SBY-Boediono. Direktur Eksekutif Freedom Institute itu pada Pemilu 2004 mendukung Megawati. Dan pada Pilpres 2009 dia sempat berkampanye sebagai calon presiden alternatif dengan trademark RM09.
Prabowo Subianto
Terpaksa Jadi Pengusaha
Calon wakil presiden Prabowo Subianto yang sekarang mempunyai aset lebih dari Rp 1,5 triliun mengaku menjadi pengusaha karena terpaksa. Dia mengaku terpaksa karena uang pensiunnya sebagai Letnan Jenderal pada 1998 hanya Rp 900 ribu.
“Uang pensiun sebesar itu sangat menyulitkan saya. Sekarang uang pensiun naik menjadi Rp 1,4 juta,” kata Prabowo pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia di Jakarta pertengahan Juni lalu.
Prabowo mengaku beruntung setelah keluar dari TNI langsung diajak adiknya Hashim Djojohadikusumo untuk terjun ke dunia usaha. Selama 11 tahun, Prabowo banyak belajar tentang praktik dagang di Indonesia yang sarat dengan penyimpangan. “Saya akhirnya belajar banyak. Rupanya praktik dagang itu banyak tipu-tipunya,” kata putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini. Dia mengaku prihatin dengan maraknya praktik bisnis semacam itu dan berusaha mengingatkan pemerintah yang tengah berkuasa.
Faisal Basri
Menangisi Boediono
Pengamat ekonomi Faisal Basri mengaku sempat meneteskan air mata, ketika cawapres Boediono dituding dengan sebutan neoliberalis. Dosen UI yang turut melahirkan PAN -meskipun akhirnya mengundurkan diri, tidak aktif lagi - ini tidak tahan, saat sahabatnya dicerca, didemo, disudutkan dengan label neolib. Hal itu disampaikan Faisal Basri saat peluncuran buku karya Boediono yang berjudul “Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?”, di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Matraman,Jak Pus, pertengahan Juni lalu.
Faisal mengatakan, paham neolib ini tidak diterapkan di Indonesia, tetapi unsur-unsur neolib ada di Indonesia.”Unsur neoliberalisme memang ada tapi jangan lantas di generalisasi semua itu pada satu rezim sehingga langsung disebut rezim neoliberalisme,” ujar Faisal dalam blognya.
Ia meminta masyarakat tidak tumbuh dalam kecurigaan berlebihan terhadap pemerintahan hanya karena ada unsur pasar bebas di dalamnya. Menurutnya justru membawa kesejahteraan bagi masyarakat adalah tugas pasar. “Tapi, pasar itu liar. Oleh karena itu, harus dikendalikan oleh pemerintah. Makin liar pasar, maka kendali pemerintah harus makin kuat,” katanya.
Harry Sasongko Titrotjondro
Pimpin Indosat
Harry Sasongko Titrotjondro resmi diangkat sebagai direktur utama PT Indosat Tbk (ISAT) menggantikan Johnny Swandi Sjam. Demikian hasil Rapat Umum Pemegang Saham yang digelar di Gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, pertengahan Juni lalu. Harry yang saat ini menjabat Country Manager GE Money Indonesia, akan bertugas di Indosat terhitung Agustus 2009.
Susunan direksi lainnya adalah Peter Kuncewicz, Steve Hobbs, Fadzri Sentosa, serta Kaizad Bomi Heerjee. Perampingan jumlah direksi Indosat dari sembilan orang menjadi enam sudah diprediksi sejumlah kalangan sebelumnya. Posisi direksi didominasi perwakilan dari Qtel selaku pemegang saham mayoritas (65 persen). Sedangkan pemerintah Indonesia (14,2 persen saham) cuma mendapat jatah satu direksi yaitu Fadzri Sentosa dan dua komisaris, Jarman serta Rionald Silaban.
Rencananya, Indosat akan memberikan deviden sebesar Rp 175,85 per lembar saham yang akan dibagikan pada 22 Juli mendatang.
| < Prev | Next > |
|---|



