Majalah Berita Indonesia

Friday, Mar 12th

Last update09:52:26 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Tokoh Sutiyoso: Menteri Megapolitan?

Sutiyoso: Menteri Megapolitan?

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

SutiyosoSutiyoso adalah satu-satunya gubernur yang paling dablek di seluruh Indonesia. Suasana kepemimpinannya begitu paradoksal. Ia lebih tertarik membenahi kawasan Megapolitan Ibukota Jakarta, daripada menjadi RI-1.

Berbagai visi, pandangan dan paradigma kepemimpinan Sutiyoso seringkali bertabrakan dengan keinginan banyak orang. Setiap kali menggagas ide baru selalu muncul perlawanan. Masih segar dalam ingatan bagaimana Sutiyoso menggodok pola transportasi makro (PTM), yang salah satu test case-nya adalah membangun jalur khusus prioritas bis atau busway.

 

Setelah membuktikan kesuksesan Jalur Koridor-I, siapapun menjadi tak lagi berkomentar miring atas kemacetan yang terjadi saat koridor-koridor lain dibangun. Padahal Sutiyoso masih menyimpan segudang ide pembenahan transportasi Jakarta, seperti membangun monorel, subway, transportasi air, jalan tol dalam kota, hingga yang bersifat regulasi berupa traffic restraint.

Sejumlah program Sutiyoso di lapangan terbukti sangat pro rakyat, walau tak selalu itu populis. Seperti membangun Banjir Kanal Timur (BKT) yang harus memindahkan banyak warga. Bila program BKT selesai dipastikan banjir yang rutin melanda Jakarta akan sedikit teratasi.

Atau, program memindahkan warga miskin dari bantaran sungai yang kotor hitam pekat seperti di Muara Angke, ke rumah susun misalnya, pada akhirnya berhasil meminimalisasi warga dari serangan penyakit.

Demikian pula Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK), awalnya didrop dana Rp 500 juta per kelurahan lalu naik menjadi Rp 1 miliar. Suatu ketika dana harus merosot menjadi Rp 176 juta sesuai ketentuan pemerintah pusat. Tetapi karena terbukti berhasil sebelumnya, PPMK akhirnya digulirkan kembali pada kisaran bantuan Rp 1 miliar per kelurahan.

Peruntukan PPMK 60% untuk pembinaan ekonomi kelurahan, seperti membantu usaha mikro dengan memberikan bantuan dana tanpa bunga sebesar Rp 1-5 juta. Lalu 20% untuk bina sosial, sisanya 20% untuk biaya pembangunan fisik seperti infrastruktur kelurahan.

Perbaikan kesehatan dan pendidikan masyarakat juga sangat diperhatikan Sutiyoso, sampai-sampai ia menolak asuransi Aseskin dari pemerintah pusat yang besarnya Rp 5 ribu per kepala setiap kali berobat. Sebab ia sudah mampu memberikan asuransi kesehatan bagi keluarga miskin sebesar Rp 10 ribu per kepala setiap kali berobat.

Jika konstitusi mensyaratkan 20% anggaran negara untuk biaya pendidikan, Sutiyoso melampauinya dengan menganggarkan 22% dari APBD DKI Jakarta untuk pendidikan. Tak heran jika setiap guru di Jakarta dijanjikan akan memperoleh penghasilan bulanan sebesar Rp 3,5 juta.

Suasana kepemimpinan Sutiyoso yang paradoksal, sangat pro rakyat tetapi sering didemo justru oleh rakyatnya sendiri, membuat hanya perusahaan rokok yang bisa memberikan apresiasi dengan memasang besar-besaran iklan di koran ucapan selamat kepada Sutiyoso yang menerima penghargaan ASEAN QUALITY AIR MANAGEMENT (AQM) AWARD 2006, pada Desember 2006 lalu.
Konon penghargaan diberikan atas prestasi Sutiyoso menjaga udara Jakarta tetap bersih, dengan menelurkan kebijakan busway berbahan bakar gas. Padahal dalam hal menjaga udara Jakarta tetap bersih, Sutiyoso sesungguhnya justru berhadapan langsung dengan perusahaan rokok. Sebab dialah yang menggagas lahirnya Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta tentang Larangan Merokok di Tempat-Tempat Umum.

Suasana kepemimpinan paradoksal terjadi karena Bang Yos, demikian ayah dua orang anak perempuan bernama Yessy Riana Dilliyanti dan Renny Yosnita Ariyanti ini biasa dipanggil, merupakan tipe pemimpin yang berani mengambil keputusan yang ‘pahit’ dan tak populis bahkan ditentang sebagian khalayak, tapi diyakininya benar dan strategis sebagai ‘obat’ terbaik mengatasi suatu masalah atau mencapai suatu tujuan.

Sutiyoso hanya bisa melampiaskan curahan hatinya saat berada di hadapan masyarakat biasa. Seperti saat berdialog langsung dengan masyarakat Kelurahan Sumur Batu, Jakarta Pusat November tahun lalu. Ia mengatakan di situ, ketika gubernur-gubernur sebelumnya berjalan mulus, seperti air gunung yang mengalir lancar ke laut, di eranya, malah ‘muka’ Sutiyoso terus-terusan ‘kecipratan air’. Maksudnya, didemo melulu.

“Gubernur sebelumnya tak pernah sekalipun didemo. Sampai-sampai, kalau dalam sehari tidak ada demo, saya malah tak bisa tidur, kok, nggak ada demo,” kata suami dari Setyorini ini. Tentang namanya diadukan ke polisi karena dituduh menebang pohon, saat melebarkan Jalan Thamrin, Sutiyoso menyarankan agar LSM itu mengurusi saja yang besar-besar seperti pembalakan hutan.

“Mau berbuat baik kok diprotes terus, untung saya punya hati empat,” kata Bang Yos, yang selalu tegar dan tak sedikitpun gentar menghadapi rongrongan. Pada kesempatan itu sejumlah bapak-bapak warga Sumur Batu lalu melontarkan usulan agar Bang Yos menjadi orang nomor satu sajalah di Indonesia ini.

Tetapi pria kelahiran Semarang 4 Desember 1944 ini malah melakukan wallpas. Dia balik bertanya kepada bapak-bapak lain yang duduk di sudut berbeda. “Wah, saya jadi miris nih. Kira-kira menurut Bapak dilihat dari situ, saya ini apa pantas memegang jabatan itu,” katanya retorik. “Kalau untuk menjadi Menteri Megapolitan, yah, daripada saya nganggur mudah-mudahan saya bisa, doakan saja,” katanya. HT (Berita Indonesia 29)

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

Berita Utama

utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin
Utama_1_62.jpg
Jutaan orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, bersukaria menyambut terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat

Visi Berita

visi_28.jpg
Predikat bangsa terkorup—tahun ini di urutan ke tujuh—masih melekat pada Indonesia. Tidak salah bila para
visi_18.jpg
June shock boleh juga satu saat menggeser hebohnya April mop. Tanggal 29 Juni lalu, para pemirsa benar-benar tersentak

Lentera

lentera_11_62.jpg
Keberhasilan tim ASSA tidak hanya milik para pesepeda namun juga milik tim-tim pendukung yang perannya sangat
lentera_7_70.jpg
Syaykh Al-Zaytun menegaskan, Bangsa Indonesia, dari seluruh lapisan generasi, mesti kembali kepada nilai-nilai
Share/Save/Bookmark