Surya Paloh, Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, secara diplomatis berujar dwitunggal Yudhoyono-Jusuf Kalla tidak boleh pecah, dan harus terus berjalan harmonis hingga pemerintahan berakhir pada tahun 2009.
Posisi Partai Golkar sebagai peraih kursi terbesar di parlemen, memberi partai yang berkuasa pada era Orde Baru itu posisi tawar yang lebih besar dibanding partai lain. Lebih-lebih setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Umum, Golkar menjadi sangat strategis untuk mengamankan roda pemerintahan.
Namun kendati berfungsi mengamankan, rasanya Golkar tak bisa mendikte pemerintahan walaupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berasal dari partai dengan dukungan suara yang tak begitu signifikan sebab dia dipilih rakyat secara langsung. Maka, tak mengherankan apabila sistem ketatanegaraan kita saat ini seolah sedang mengalami semacam gejala anomali: Presidensial bukan, Parlementer juga bukan.
Polemik di sekitar pendirian Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Reformasi (UKP3R) membuktikan gejala itu. Golkar yang santun, bisa tiba-tiba tampil menjadi kelompok penekan yang dengan blak-blakan menggebrak, mengancam, serta mengajukan sejumlah besar tuntutan perubahan bertendensi kepentingan akan kekuasaan.
Untunglah ada Surya Paloh, Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar yang dengan hati dingin namun tegas berani bersikap berbeda dengan sesama kolega di DPP Partai Golkar. Ia mengatakan, dwitunggal Yudhoyono-Jusuf Kalla tidak boleh pecah, keduanya harus tetap bersatu. Kepada pers, usai bertemu Kalla di Istana Wapres Kamis (2/11), atau tak lama setelah polemik UKP3R berkecamuk, Surya mengharapkan hubungan antara Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla harus terus berjalan harmonis hingga pemerintahan berakhir pada tahun 2009.
“SBY-JK adalah dwitunggal yang dipilih langsung oleh rakyat. Perpecahan di antara mereka bukan hanya merugikan Partai Golkar, tapi juga bangsa ini. Jika Presiden dan Wapres sampai mengalami disharmonisasi, yang dirugikan bukan orang-orang dekat Presiden maupun Wapres saja, melainkan rakyat secara keseluruhan,” kata tokoh kelahiran Kutaraja, Aceh 16 Juli 1951 sebagaimana ditulis harian Suara Karya (3/11).
Surya Paloh mengakui adalah hak prerogatif Presiden untuk melahirkan kebijakan, termasuk mendirikan UKP3R sekalipun. Tetapi, Surya yang besar di Serbelawan, Simalungun, Sumatera Utara ini, menuturkan, keharmonisan Presiden dengan Wapres juga sangat perlu dijaga.
Pemilik nama lengkap Surya Dharma Paloh ini berhasil memainkan perannya sebagai penasihat partai, sekaligus solutor atas kebuntuan politik. Nasihatnya begitu dingin sehingga menyejukkan kader yang jauh-jauh hari sebelum Rapimnas II Partai Golkar 1316 November 2006 sudah menyiapkan pernyataan sikap politik untuk mencabut dukungan kepada pemerintahan. Terlebih-lebih daerah seperti Lampung, yang ngebet betul untuk segera menaikkan ketuanya sebagai gubernur. Atau Yogyakarta yang belum merasakan sedikitpun manfaat mendukung pemerintah. Demikian pula Sulawesi Tenggara, ketuanya malah sedang dinonaktifkan sebagai gubernur.
Tetapi Surya Paloh, anak seorang perwira polisi ini, rupanya bisa pula berubah sikap dari lunak menjadi terlihat begitu beringas tatkala berbicara di hadapan internal partai. Sebagai Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar, ketika tiba gilirannya berpidato dalam Rapimnas, Senin (13/11), Surya mengatakan keinginan kader partai untuk mencabut dukungan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya gertak sambal jika tidak direalisasikan. Dan gertak sambal itu justru merugikan citra partai.
Dalam pandangan Surya, apabila Partai Golkar konsekuen dan kompak, luasnya pernyataan mencabut dukungan kepada pemerintah berarti harus juga meminta Ketua Umum mundur dari jabatan sebagai Wapres. Menurutnya, pernyataan menarik dukungan jika tidak dilaksanakan justru menjadi gerakan gertak sambal. Hal itu tidak akan membawa citra positif bagi partai yang sudah banyak pengalaman dalam kancah perjalanan politik bangsa.
“Dewan Penasihat mau, sekali kita mengancam, harap kita laksanakan dengan segala konsekuensinya. Kalau kita keluarkan ancaman cabut dukungan, ya, kita cabut betul dukungan itu. Kalau tidak, hati-hati, ini hanya akan bawa bumerang,” kata Surya Paloh, sebagaimana dikutip harian Media Indonesia, Selasa (14/11).
Surya Paloh juga risau, sebab pada satu sisi mengancam cabut dukungan, tapi di sisi lain kader Golkar begitu haus akan kekuasaan. Para kader meminta-minta perlu perombakan bahkan meminta tambahan kursi di kabinet. “Apa yang terjadi dengan partai ini? Hal seperti ini tidak positif bagi kita,” kata pendiri dan pemilik stasiun televisi berita MetroTV dan harian Media Indonesia serta sejumlah besar perusahaan ini.
Polemik di antara Presiden-Wapres dan orang-orang di belakangnya tentang UKP3R telah mereda. Sejumlah kompromi berhasil ditemukan. Seperti, memberikan batasan yang jelas akan peran dan fungsi UKP3R. Tetapi, di bawah permukaan ditemukan pula kompromi dalam bentuk lain.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikabarkan akan melanjutkan reshufle kabinet jilid dua. Yudhoyono akan memberikan kursi yang lebih banyak kepada kader Golkar. Bahkan, Golkar sudah menyerahkan 14 nama untuk diangkat sebagai menteri baru.
‘Gertak Sambal’
Surya Paloh menjadi solutor atas kebuntuan politik antara Presiden-Wapres. Secara simpatik ia melakukan pendekatan yang elegan baik kepada Yudhoyono maupun Kalla. Sebagai Ketua Dewan Penasihat, kedudukannya memang tak lagi sekuat era Golkar lama ketika masih bernama Ketua Dewan Pembina, yang selalu dijabat oleh Pak Harto. Berbeda dengan Yudhoyono, yang kini di lingkungan Partai Demokrat duduk kuat justru sebagai Ketua Dewan Pembina persis mirip dengan Golkar lama.
Keberhasilan Surya sebagai solutor sekaligus mengingatkan kader-kader partai untuk tak sekadar melakukan gertak sambal, bisa menjadi modal baginya untuk kembali menjadi calon presiden tahun 2009 melalui Konvensi. Itu, kalau konvensi masih diberlakukan sebagaimana pada tahun 2004 lalu.
Sebagai penggagas konvensi tentu Surya berkepentingan untuk meneruskan tradisi baik ini, untuk juga memberi ruang kepada anggota dewan penasihat lain untuk maju seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto, atau Wiranto dan Akbar Tandjung. Bahkan, tak tertutup kemungkinan, bila tiba masanya Surya dapat memutuskan untuk berpasangan dengan Yudhoyono, Kalla, atau Agung Laksono.
Surya Paloh sudah sejak mudanya tampil sebagai kader Golkar. Pada tahun 1971 dalam usia masih relatif sangat muda, 17 tahun, suami dari Rosita Barack ini adalah calon anggota DPRD II Medan dari Golkar. Pada usia 25 tahun ia sudah terpilih sebagai anggota MPR RI periode tahun 1972-1982, dan periode 1982-1987.
Selain dekat dengan Kalla secara organisasi, Surya secara pribadi berhubungan sangat dekat dengan Yudhoyono. Sejumlah media yang dipimpin publisher pembawa suara masa depan ini, diantaranya Media Indonesia dan Metro TV begitu luasnya memberitakan kiprah dan kampanye Yudhoyono menjelang dan selama Pilpres 2004. Sejumlah acara politik Yudhoyono disiarkan langsung oleh MetroTV. Bahkan, Surya turut hadir dalam beberapa tayangan demi memberikan dukungan politik dan moral.
Memang, dalam perjalanan karir politik dan bisnisnya selama ini, putus hubungan dengan penguasa seolah keniscayaan bagi Surya. Biasanya ia tak bisa jauh-jauh dari pusat kekuasaan. Kalau perlu Surya melakukan gerakan gertak sambal.
Surya pernah membuktikan efektifnya aksi gertak sambal ini. Dalam buku biografinya, “Editorial Kehidupan Surya Paloh”, yang diterbitkan menyongsong seperempat abad usia Surya (16 Juli 1951-16 Juli 2001), ia bercerita bagaimana perusahaan katering PT Indocater miliknya yang dibeli di tahun 1979, pada suatu ketika di tahun 1980 kalah tender menyuplai makanan ke PT Pupuk Kaltim (PKT).
Majalah Tokoh Indonesia menulis ulang kisah itu. Untuk memperjuangkan proses tender yang fair, Surya harus menggebrak James Simanjuntak Direktur Utama PT PKT. Karena alasan kalah adalah tidak mempunyai jaminan modal yang memadai untuk mengikuti tender, Surya lalu bergegas menghadap Direktur Utama Bank Budi Daya (BBD), Omar Abdalla, untuk memperoleh bid bond atau jaminan tender senilai Rp 500 juta.
Surya terpaksa harus menghadap Omar sebab permintaan serupa dua hari sebelumnya telah ditolak oleh BBD Cabang Cikini. Sebabnya, Indocater dianggap tidak kapabel menangani proyek PKT tersebut. Begitu bid bond diperoleh, Surya lalu mengirimi James sebuah karangan bunga mawar raksasa tak kurang setinggi 1,5 meter, sambil ditempeli sepenggal kalimat berkop surat Anggota MPR RI. Isi tulisannya, “Bung James Simanjuntak, Semoga Sukses. Merdeka.”
Namanya juga gertak sambal. Sang direksi tadi akhirnya kecut hati juga. James kemudian melakukan tender ulang dan memenangkan Indocater, salah satu mesin uang Surya ketika itu.
Walau suka melakukan gertak sambal, Surya tetaplah realistis. Ia mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Golkar 2004, dengan mengusung isu “Restorasi Nasional”, sebagai pintu masuk untuk intens terjun ke area politik secara terbuka. Ia tak sepenuhnya berambisi untuk harus menang, kendati sudah merogoh kocek yang tak sedikit. Yang pasti, ia memiliki kesempatan menggagas ide perbaikan bangsa dengan menawarkan restorasi nasional secara menyeluruh.
Demikian pula tatkala hendak menghadapi Munas Partai Golkar di Bali, Desember 2004. Surya mengumumkan akan maju sebagai kandidat ketua umum untuk berhadapan langsung dengan Akbar Tandjung. Jusuf Kalla yang sudah terpilih sebagai Wapres, justru digandengnya sebagai calon Ketua Dewan Penasihat.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Surya melakukan manuver yang mengejutkan. Berbicara kepada pers, ia mengaku merasa tak sanggup bersaing dengan Akbar. Maka cara terbaik menghadapi Akbar adalah mengubah komposisi, Kalla maju sebagai calon Ketua Umum dan Surya di Dewan Penasihat.
Langkah ini berbuah manis. Kubu Akbar berhasil ditekuk. Peta politik nasional berubah seketika. Termasuk berubahnya sistem ketatanegaraan kita, mengalami semacam gejala anomali.
Surya berhasil membuktikan kelihaian membangun konglomerasi politik, simetris dengan sepak-terjangnya mendirikan konglomerasi bisnis yang sudah menggurita.
Apabila Surya terbiasa melakukan aksi gertak sambal di lingkungan bisnis, di lingkungan politik diingatkannya supaya jangan main-main dengan aksi ini. Sekali melontarkan gertak sambal maka harus konsekuen dan kompak untuk melaksanakannya, termasuk meminta ketua umum partai turun dari jabatan Wapres.
Surya Paloh “Pembawa Suara Masa Depan”, terlihat lebih maju melangkah dibanding kader-kader partai lain. Kendati di lingkungan internal Golkar muncul faksi-faksi yang berbeda pandangan secara tajam, sebagai Ketua Dewan Penasihat ia bisa mengakomodasinya sehingga tak sampai terdengar keluar. Ia sudah memiliki modal yang semakin cukup menuju pertarungan 2009. HT (Berita Indonesia 26)
| < Prev | Next > |
|---|



