Salah seorang tokoh yang memiliki kepedulian mendalam akan kemajuan masa depan bangsa adalah Siswono Yudo Husodo. Ia memiliki segudang pengalaman membangun bangsa yang berorientasi kesejahteraan rakyat.
Pria kelahiran Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943 ini memiliki pengalaman sebagai pengusaha tangguh dan sukses sejak masa mudanya. Saat masih mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil di ITB Bandung ia berkiprah sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Selepas kuliah sambil berbisnis ia menjadi politisi yang memberinya kesempatan menuangkan gagasan politik mengenai negara kesejahteraan, di Gedung MPR RI Senayan sejak tahun 1982 hingga 2004.
Di meja birokrasi pada era Orde Baru ia dua kali menjabat menteri, yakni Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998).
Selama mendarmabaktikan diri di berbagai ladang pengabdian, termasuk sebagai tokoh pendidikan menjadi Ketua Yayasan Universitas Pancasila, Jakarta terbukti dan teruji ia selalu hidup bersih.
Ketika reformasi bergulir demi mewujudkan cita-cita negara kesejahteraan, sebagaimana diimpikan para pendiri bangsa sekaligus membuktikan kecintaan kepada negara agar memiliki kemandirian dalam segala hal, ia maju sebagai calon wakil presiden pada Pemilu Presiden 2004.
Suara yang diraih memang belum cukup untuk menjadi pemenang, berada setingkat di atas pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar. Tetapi suara pemilih yang bersimpati padanya cukup untuk membuktikan bahwa peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 11 Juni 2003 ini memang memiliki portofolio dalam peta percaturan politik nasional.
Ia membuktikan keulungan berpolitik tatkala berlangsung Munas Partai Golkar di Bali, Desember 2004. Di saat-saat genting ia bermanuver bersama Prabowo Subianto untuk mendukung calon ketua umum Jusuf Kalla. Hikmahnya, Siswonopun terpilih menjadi anggota dewan penasehat partai.
Terlalu Mencintai Rakyat
Siswono, penulis novel “Warga Baru (Kasus China di Indonesia)” mengharap duet kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bisa sukses.
Ia mengaku berdoa serta turut membantu suksesnya misi kedua pemimpin ini. Doa dan bantuan diberikan bukan karena mendukung duet SBY-JK, tetapi karena Siswono terlalu mencintai rakyat Indonesia. Ia tidak ingin Indonesia gagal dengan penderitaan ada pada diri rakyat sendiri.
“Kalau saya berdoa, dan berusaha, serta membantu pemerintahan SBY dan Jusuf Kalla sukses adalah demi kecintaan saya pada rakyat ini,” ujar peraih Bintang Mahaputra Adi Pradana dari Presiden Republik Indonesia tanggal 12 Agustus 1992, dan Tanda Penghargaan Gerakan Pramuka Lencana Melati dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tanggal 27 April 1998, kepada Haposan Tampubolon dari Berita Indonesia.
Apabila dalam tiga tahun ke depan kepemimpinan SBY-JK berkembang menjadi baik, produktif, membawa kemajuan, Siswono masih akan tetap mendukung pemerintahan yang sekarang. Tetapi apabila ternyata diragukan untuk membawa kemajuan, “Memang, kita harus mencari alternatif kepemimpinan baru di tahun 2009,” tandas komisaris di sejumlah badan usaha yang didirikannya ini.
Momentum 61 tahun Indonesia merdeka menurut penyuka buku bacaan manajemen, sejarah dan politik, ini adalah saat yang pas untuk introspeksi sejauh mana sudah terwujudkan konsepsi negara kesejahteraan sosial.
Indonesia telah mengalami banyak sekali kemajuan di berbagai bidang tetapi kalau menengok ke dunia luar, ternyata banyak sekali negara lain yang majunya jauh lebih cepat. Indonesia relatif menjadi tertinggal.
Di bidang pendidikan, Malaysia dulu belajar dari Indonesia, sekarang mereka sudah memiliki sistem, sarana, dan mutu pendidikan yang jauh lebih baik. Bahkan lulusan beberapa sekolah menengah atasnya sudah bisa langsung diterima di universitas-universitas terpandang di Eropa maupun AS.
Tahun 1978 ekspor Indonesia sudah mencapai 4 miliar dollar AS, RRC baru 3 miliar dollar AS. Tahun 2005 ekspor Indonesia sudah meningkat menjadi 70 miliar dollar AS, tetapi ekspor RRC jauh melejit menjadi 700 miliar dollar AS.
Cadangan devisa pun, pada awal tahun 1970-an Indonesia-China hampir sama sekitar 3 miliar dollar AS. Sekarang Indonesia memiliki cadangan devisa 40 miliar dollar AS tetapi China sudah 800 miliar dollar AS lebih.
Di bidang olahraga tahun 1960-an Indonesia sangat terhormat di Asian Games sekarang merosot di nomor belasan. Di tingkat Asean, Indonesia biasa di nomor satu atau dua, terakhir sudah di nomor empat di bawah Malaysia dan Filipina. Di sepakbola, Jepang dan Australia puluhan tahun lalu kesulitan mengalahkan PSSI, hari ini mereka ikut final World Cup 2006 di Jerman tetapi Indonesia masih kesulitan di tingkat Asean.
Indonesia harus mempercepat kemajuan di seluruh aspek kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan meningkatkan peradaban. Tinggi rendah harkat dan martabat suatu bangsa diukur dari tinggi rendahnya kesejahteraan rakyat. Mengejar ketertinggalan, meraih kemajuan peradaban tidak cukup kerja keras. Tetapi harus terarah dan konsepsional.
Mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah mewujudkan cita-cita para pendiri republik. Mereka dahulu begitu susah menggerakkan rakyat untuk menyadari haknya untuk merdeka.
Karena sebelum kemerdekaan lebih dari 90 persen rakyat Indonesia buta huruf latin. Tingkat pendidikannya begitu rendah. Kemiskinannya begitu mendalam dan memiliki keterbelakangan yang begitu rupa. Demikian pula pendapatannya begitu rendah.
Hanya dengan ungkapan yang sederhana, populer dan mudah dipahami dalam suasana yang serba terbelakang para pemimpin politik mampu menyakinkan rakyat untuk mau merdeka.
Bung Karno di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengungkapkan negara merdeka sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrom kertoraharjo, loh subur kang sawoh dinanduk, ngurah kang sawoh diubuk, ingon-ingon sapi kebo, pitek iwen-iwen isok boleh pangan sore balikin kandang dewe-dewe.
Sebuah gambaran tentang kehidupan negara bangsa yang aman, tenteram, subur, makmur, tertib, tertata dengan rapih bahkan ternak pun hidupnya tertib.
Tetapi gambaran indah, yang mampu mengubah kekuatan rakyat menjadi kekuatan luar biasa untuk bertekad merdeka atau mati pada 61 tahun yang lalu, hingga kini masih belum terwujud.
Siswono memiliki contoh aktual betapa bentuk kehidupan rakyat yang hanya layak terjadi di jaman penjajahan, masih sering ditemukan saat ini.
Biaya kesehatan yang mahal berakibat banyak orang mati karena tidak mampu berobat; Biaya sekolah yang mahal berakibat banyak anak cerdas tidak mampu melanjutkan sekolah; Transportasi umum yang mahal membuat mudah menyaksikan penumpang kereta api jurusan Banten-Jakarta setiap hari naik di atas atap, hingga pernah ada atap kereta jebol yang hanya pantas terjadi di jaman revolusi.
Kita juga melakukan banyak kesembronoan yang berakibat fatal luar biasa, seperti kebakaran hutan di setiap musim kemarau, semburan lumpur di Sidoarjo karena ketidakpatuhan pada norma ketentuan teknis pelaksanaan pengeboran dan penggerusan pulau oleh orang yang tak bertanggungjawab.
Semua jauh dari gambaran masyarakat yang tertib. Kita juga menyaksikan infrastruktur hukum telah mengecewakan begitu banyak orang sebab hanya menjamah orang-orang yang lemah, tidak berani tegas terhadap tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan.
Amat menyedihkan cita-cita toto tentrom kertoraharjo, kehidupan negara bangsa yang serba tertata, masyarakatnya hidup tenteram merasa aman karena dilindungi oleh negara, tak bisa dirasakan warga.
Tinggalkan Era Bangsa Kuli
Syarat mutlak untuk mengejar ketertinggalan adalah mengukuhkan kemantapan integrasi nasional. Kata Siswono, integrasi nasional tercapai hanya apabila dalam negara tidak ada lagi gerakan separatisme, tidak ada benturan ideologis di antara warga, kalau terjadi friksi sosial, penyelesaiannya harus melalui jalan yang santun dan damai, serta harus terjadi suatu dinamika sosial yang menumbuhkan kekuatan sentripeta untuk semakin menyatukan negara bangsa.
Untuk mengejar ketertinggalan semua unsur jangan membuang-buang waktu dengan hal yang tidak perlu. Kelompok masyarakat seperti preman-preman berjubah, etnosentrisme yang berlebihan, harus membuang kondisi yang tidak memantapkan kita sebagai suatu bangsa.
Di tahun 1930-an Bung Karno mengatakan Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa. Sekarang kita sudah melepaskan diri dari kondisi itu karena di jaman itu kita memang diperkulikan oleh penjajah.
Kita harus memacu lebih cepat peningkatan kesejahteraan rakyat karena berdasarkan konstitusi, Indonesia didesain sebagai negara kesejahteraan, terbuktikan pada sila peri kemanusiaan dan sila keadilan sosial.
Demikian pula pada pasal-pasal konstitusi, kekayaan alam harus dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, setiap warga negara dijamin untuk memperoleh pekerjaan dan lapangan hidup yang layak, meyakinkan kita semua bahwa Indonesia adalah negara kesejahteraan.
“Tapi kita semua menyaksikan para penyelenggara negara dari waktu ke waktu semakin lupa bahwa Indonesia adalah negara kesejahteraan. Semoga peringatan 61 Tahun Indonesia Merdeka ini mengingatkan kita untuk melakukan introspeksi, dan mari bergerak maju mengejar ketertinggalan kita,” kata Siswono.
Siswono menyadari para penyelenggara negara saat ini kesulitan mewujudkan negara kesejahteraan karena keterbatasan pembiayaan. Negara betul-betul sudah terjerat hutang. Setiap tahun hampir 40% APBN dipakai membayar angsuran hutang dan bunga hutang, biaya pendidikan dituntut 20%, biaya rutin gaji pegawai dan lain-lain 30%, sisa 10% lagi dipakai untuk semua sektor.
Seru Siswono, perlu ada kesadaran umum Indonesia yang sudah masuk perangkap hutang untuk berani berhenti berhutang. Bersamaan itu, kue ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) harus diperbesar agar hutang semakin kecil. Ironisnya, setiap pemerintahan membuat hutang baru, menambah hutang semakin besar, sehingga hidup sudah gali lubang tutup lubang dengan lubang yang semakin dalam.
“Ini juga merupakan bagian dari kesadaran umum yang harus muncul di peringatan 61 tahun kemerdekaan ini,” tegas Siswono.HT (Berita Indonesia 20)
Biodata:
Nama : Dr. (HC). Ir. H. Siswono Yudo Husodo
Lahir : Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Agama : Islam
Orangtua : Ayah Dokter Soewondo, Ibu Istria Bintarti
Istri : Ratih Gondokusumo, SH
Anak : Mutiara, Savitri, Emeralda, Rubyeta, Pirousi
Pendidikan:
Tenik Sipil ITB Bandung
Alamat Rumah:
Jalan H. Abdul Majid No. 48, Cipete, Jakarta Selatan
| < Prev | Next > |
|---|



