Sejak dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat 1 Februari 2005 Jenderal Djoko Santoso aktif membersihkan rumahnya sendiri. Banyak yang mendukung tetapi banyak pula yang curiga.
Embargo senjata cukup lama dikenakan Amerika terhadap Indonesia. Di tengah-tengah operasi militer melawan separatis GAM di Aceh, terpiculah pembengkakan permintaan senjata. Lalu lewat pendekatan person to person senjata-senjata dibeli di pasar gelap dan didatangkan secara tak lazim sejak tahun 2002.
Untuk kebutuhan darurat agaknya cara diam-diam ini dibenarkan demi menjaga kepentingan nasional, dan untuk mengimbangi gerakan GAM yang saat jeda kemanusiaan mendapat pasokan senjata dari pasar gelap di Thailand Selatan dan diselundupkan melalui pintu perlintasan antar negara yang tak berpenjaga.
Berbeda dengan senjata GAM, senjata-senjata yang dibeli secara mudah dan cash and carry di pasar gelap masuk melalui pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno-Hatta. Dalam perjalanannya kemudian senjata-senjata berada dalam kekuasaan orang-orang tertentu tanpa melewati register resmi.
Sebuah surat dari Direktur Peralatan Mabes TNI Angkatan Darat, tertanggal 14 Februari 2006, pernah beredar luas di kalangan anggota DPR RI, isinya; pernyataan tentang adanya senjata yang tak dilengkapi administrasi. Sinyalemen tersebut menemukan momentum untuk didalami setelah kematian mendadak Brigadir Jenderal TNI Koesmayadi, Wakil Asisten Logistik KSAD, pada Minggu (25/6).
Di salah satu rumah kediamannya, Perumahan Pantai Marina, Jalan Pangandaran V Nomor 15, kawasan Ancol, Jakarta Utara, Puspom TNI AD menemukan 145 pucuk senjata dari berbagai jenis berikut 28.985 butir amunisi, granat tangan dan 26 teropong. Jenis senjata itu di antaranya SS-1 (senapan serbu buatan PT Pindad), AK, MP-5 (senjata yang biasa digunakan pasukan khusus), dan M-16 (senapan serbu buatan AS).
Adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Djoko Santoso yang membeberkan langsung temuan Puspom TNI AD tersebut dalam sebuah konferensi pers, yang digelar secara khusus pada Kamis (29/6) malam.
Langkah Djoko sepertinya berada di luar tradisi militer. Ini, menjadi sebuah kemajuan luar biasa bagi TNI dimana persoalan berat mulai diselesaikan secara terbuka dan transparan dengan melibatkan opini publik.
“Ini suatu kemajuan,” kata mantan Wakil KSAD Letnan Jenderal Purnawirawan Suryadi. “TNI Angkatan Darat sudah bisa mengikuti transparansi,” tulis majalah Tempo, mengutip pernyataan Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat itu.
Institusi TNI biasanya menutup rapat-rapat aneka persoalan internal untuk selanjutnya diproses secara internal. Tetapi dengan pembeberan ini Djoko berminggu-minggu pasti menjadi pembuat berita di media massa.
Dalam kasus-kasus internal selama ini biasanya persoalan diselesaikan dulu di dalam tubuh TNI, baru diumumkan ke luar. Maka menjadi sebuah perkembangan baru apabila pengungkapan kasus temuan senjata kali ini bisa memberikan hasil akhir yang memuaskan masyarakat luas.
Membesarnya isu temuan senjata, lalu muncul dukungan berbagai kalangan agar militer Indonesia dapat semakin solid dan membersihkan diri, adalah kekuatan baru bagi pria kelahiran Solo, 8 September 1952 ini untuk melakukan konsolidasi internal. Sebab di luaran masih berserakan 546 pucuk senjata tak beregister, termasuk 180 yang sudah ditemukan.
Memang, Djoko Santoso saat berbicara di DPR Senin (10/7), dengan ringan hanya menyebut kemungkinan Koesmayadi sebagai seorang kolektor berat senjata, mengingat jumlah pucuk dan butir amunisinya yang tergolong tak biasa dimiliki seseorang.
“Jika dilihat dari banyaknya jenis senjata, 115 jenis, menunjukkan yang bersangkutan adalah kolektor berat,” ujar Djoko, yang pernah bertugas di arena konflik Maluku selaku Pangdam XVI/Pattimura dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) Maluku 2002-2003.
Jenderal Perfeksionis
KSAD Djoko Santoso merupakan sosok militer reformis. Dia sendiri yang pertama kali membuka kasus temuan senjata ke publik, lalu berjanji akan transparan mengusut terus hingga tuntas. Djoko juga berjanji akan mengumumkan siapa-siapa yang terlibat termasuk petinggi berpangkat jenderal sekalipun, jika memang terbukti terlibat.
Djoko memiliki keinginan kuat untuk membersihkan institusi militer dari faksi-faksi yang bisa mencairkan keutuhan TNI.
Dari pengungkapan cepat kasus temuan senjata di rumah Brigjen Koesmayadi, serta jawaban dan pernyataan Djoko di depan anggota Komisi I DPR Senin (10/7), menunjukkan KSAD agaknya masih memiliki sasaran lain.
Sebab, tuturnya, pengadaan sejumlah senjata api untuk satuan-satuan TNI AD yang melibatkan Wakil Asisten Logistik (Waaslog) KSAD almarhum Brigjen TNI Koesmayadi, itu sesungguhnya adalah sah dan dilengkapi dokumen pendukung (SP2).
Jelas Djoko, terdapat dokumen pengiriman senjata sebanyak 23 kali dari 12 negara untuk memasukkan 623 pucuk senjata laras panjang dan 38 pucuk laras pendek, total 661 pucuk. Ketika dilakukan pengecekan ulang oleh Detasemen Intelijen Tempur, diketahuilah, dari 661 pucuk senjata yang dikirim hanya tercatat 524 atau terdapat selisih 137 pucuk.
“Kemungkinan ini masih di Kostrad, Kopassus, Papua, Aceh atau Batalyon Raider yang merupakan satuan dengan kemampuan khusus,” kata Djoko.
Persoalan temuan senjata di rumah Almarhum Brigjen Koesmayadi terus bergulir. Semua media sangat tertarik untuk menyisir proses pengusutan sebab baru kali inilah terjadi sebuah persoalan internal tersebar ke luar tubuh militer secara terbuka.
Majalah Tempo edisi 10-16 Juli, misalnya, menulis upaya “Bersih-Bersih Jenderal Djoko” membongkar kasus-kasus di TNI Angkatan Darat, telah membuat para seniornya gerah.
“Maunya apa Djoko ini?”, tulis Tempo, mengutip sungut-sungut seorang jenderal purnawirawan yang pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer.
Narasumber itu menyebut KSAD salah menangani masalah, sebab sebaiknya diselesaikan “baik-baik di kalangan internal”. “Kalau diumumkan seperti sekarang, TNI bisa pecah,” katanya, “karena ada yang merasa jadi sasaran tembak.”
Sesungguhnya itulah Jenderal Djoko Santoso, tak ingin membuat gebrakan diam-diam dan tertutup. Sejak diangkat menjadi KSAD Februari 2005 ia membuka berkas-berkas lama kontrak pengadaan kebutuhan Angkatan Darat. Semua transaksi di masa lalu dimintanya untuk diteliti.
Djoko ingin menjalankan terus program tertib administrasi, termasuk registrasi senjata seperti mengenai nomornya, satuannya, dan kapan pertamakali dipakai semua harus terdaftar.
Djoko mengumumkan sendiri berbagai temuan dugaan penyimpangan. Juni tahun lalu ia mencopot Mayor Jenderal A.D. Sikki dari jabatan Panglima Kodam V Brawijaya, Jawa Timur. Djoko juga membuka kasus penggelapan dana tabungan wajib perumahan prajurit, yang meraibkan uang Rp 129 miliar, yang diduga melibatkan sejumlah perwira tinggi diantaranya Mayor Jenderal Salim Mengga.
Mengga sampai-sampai gagal dilantik menjadi Pangdam Pattimura.
Masih banyak persoalan masa lalu Angkatan Darat yang belum terungkap. “Tapi sekarang tanggungjawab saya ambil alih, karena sayalah KSAD-nya,” kata Djoko Santoso, seperti ditulis Tempo.
Situs online para tokoh, TokohIndonesia.Com (alamat http//www.tokohindonesia.com/d/Djoko_Santoso) menggelari Djoko sebagai “Jenderal yang Perfeksionis”.
Dia jenderal yang kalem, low profile, bersahaja tapi tegas dan cenderung perfeksionis. Perwira intelijen yang kebapakan ini juga luwes dalam pergaulan sehari-hari. TokohIndonesia memperkirakan langkah Djoko selanjutnya mungkin akan menjabat Panglima TNI berikutnya.
Djoko Santoso dibesarkan di lingkungan intelijen negara yang secara karakter memang tidak boleh high profile. Apalagi di bidang tugas intelijen, dia kebanyakan menempati pos di direktorat dan intelijen strategis pertahanan luar negeri. Sehingga eksposenya sangat minim.
Nama alumni Seskoad (1990) ini mulai menonjol setelah menjabat Pangdam XVI/Pattimura & Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003, dan Pangdam Jaya Mei 2003-Oktober 2003.
Djoko agaknya masih akan memanfaatkan momentum kasus temuan senjata sebagai wallpass untuk memasuki area abu-abu yang selama ini terkesan tak tersentuh. Bersama Panglima TNI ia gencar membersihkan diri. HT (Berita Indonesia 18)
Biodata
Nama : Jend. TNI Djoko Santoso
Lahir : Solo, 8 September 1952
Jabatan : Kepala Staf TNI Angkatan Darat
Istri : Angky Retno Yudianti
Anak : 1. Andika Pandu
2. Ardya Pratiwi Setyawati
Pendidikan:
- Akabri (1975)
- Seskoad (1990)
- S1 FISIP (1994)
- S2 Manajemen (2000)
Riwayat Jabatan:
- Waassospol Kaster TNI (1998)
- Kasdam IV/Diponegoro (2000)
- Pangdivif 2 Kostrad (2001)
- Pangdam XVI/Pattimura & Pangkoopslihkam, 2002-2003
- Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mei 2003-Oktober 2003
- Wakil Kepala Staf TNI AD 2003-2005
- Kepala Staf TNI AD 2005
| < Prev | Next > |
|---|



mau nanya kalau buka toko obat harus pake apoteker apa ga? kalau toko obat kan jualnya obat2 yg b...
BWT''' TNI ,'''' MAJU TERUS TUNJUKKAN KEKUATANMU,,,,KMULAH PEMBELA NEGARA YANG SEBENARNYA...........
kinerja dulu and skill sklill tidak ada kok minta naik gaji jangan sampai menghabiskan duit negar...
Leonardo Da Vinci itu berasal dari mana sih ? ? ?
WOW!!! He's really a great human ever in this earth!!!