Dikenal pandai membangun jaringan, begitu Departemen Kelautan dan Perikanan dibentuk ia langsung ditunjuk menjadi Irjen (1999-2006). Lalu menjadi Pejabat Gubernur Aceh. Doktor lulusan IPB Bogor (2004) seangkatan Presiden SBY ini kemudian diangkat menjadi Dirut Bulog. Ia berobsesi besar melakukan apa yang tak pernah dilakukan pendahulunya.
Setelah vakum beberapa lama usai menyerahkan tongkat kepemimpinan baru di Bumi Serambi Mekkah kepada gubernur terpilih Irwandi Yusuf, 8 Februari 2007, Mustafa lalu diangkat menjadi Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Bulog.
Ia pegawai negeri sipil (PNS) yang meraih puncak karir tertinggi sebagai pejabat eselon satu, terakhir menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), sebelum kemudian ditugaskan menjadi Pejabat Gubernur Aceh.
Di Bulog, nama Mustafa Abubakar muncul begitu saja untuk menggantikan Widjanarko Puspoyo yang sedang tersangkut kasus hukum. Kepastian terjadi penggantian kepemimpinan tertinggi Bulog diperoleh setelah Kejaksaan Agung menahan Widjan, ditahan Selasa (20/3) di Lapas Cipinang, Jakarta.
Dalam waktu singkat, berhembus kabar nama Mustafa mantan konsultan Bank Dunia (1979-1989) ini sangat dijagokan untuk naik pada rapat umum pemegang saham (RUPS), berlangsung Rabu (21/3), bersamaan dengan penggantian seluruh anggota Dewan Pengawas. Ia dijagokan oleh Partai Golkar pimpinan Jusuf Kalla, yang juga Wakil Presiden RI.
Ketua Partai Golkar, Burhanuddin Napitupulu, misalnya, menyebut Mustafa yang alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu pantas memimpin Bulog. “Beliau sudah teruji sebagai pemimpin Aceh,” ujar Burnap, sapaan akrab Napitupulu kepada Koran Tempo. Jusuf Kalla lebih lagi dalam menilai Mustafa. Ia menyebut Mustafa memiliki kompetensi, pengalaman, dan bisa bekerjasama dengan pemerintah.
Sementara itu Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Setia Mangunsong, salah seorang koleganya di DKP, menyebut Mustafa merupakan pejabat yang pandai membangun jaringan kerja secara luas. Sebagai Irjen DKP, misalnya, kata Setia, Mustafa terpilih sebagai Ketua Kelompok Inspektur Jenderal departemen-departemen. Bahkan, sebagai insan kelautan perikanan, Mustafa pernah pula duduk sebagai Ketua Masyarakat Perikanan Indonesia. Selama mahasiswa pun (tamat S-1 1977, S-2 2002) pria yang pernah menjadi Ketua Umum Taman Iskandar Muda (TIM) di Jakarta, ini dikenal sebagai aktivis mahasiswa.
Bersamaan dengannya, dilantik pula Dewan Direksi dan Dewan Pengawas baru Perum Bulog. Dewan Direksi selengkapnya terdiri Mustafa Abubakar (Direktur Utama), Bambang B Prasetyo (Direktur Operasional), Saean Ahmadi (Direktur Keuangan), dan Agus Syaifullah (Direktur SDM dan Umum). Dewan Pengawas terdiri Sulatin Umar (sehari-hari Staf Khusus Departemen Dalam Negeri) sebagai ketua, dibantu empat anggota yakni Bayu Krisnamurti (deputi di Kementerian Koordinator Perekonomian), Ardiansyah Parman (deputi di Departemen Perdagangan), Kaman Nainggolan (Kepala Badan Ketahanan Pangan, Deptan), dan A. Pandu Djajanto (Staf Ahli Kementerian Negara BUMN).
Berobsesi Besar
Mustafa naik saat Bulog sedang disorot tajam sebagai sarang korupsi. Banyak petinggi Bulog harus mendekam di balik jeruji besi karena kasus korupsi, dan sebanyak itu pula tokoh lain yang juga pernah terjerambab karena “bermain api” dengan Bulog. Nama-nama mereka sangat dikenal masyarakat sebab ramai diistilahkan sebagai Buloggate.
Bulog memutar uang tahunan dalam jumlah cukup besar tetapi rawan sekali untuk bisa dimainkan. Berbagai kelompok kepentingan selalu berusaha untuk menempatkan orang-orangnya sebagai petinggi di sini.
Tapi Mustafa dengan tegas menyebut dirinya tak ingin tersandung batu yang sama dua kali. Usai dilantik, kepada pers ayah tiga orang anak ini berujar, secara internal moral karyawan dan staf Bulog sedang turun. Situasi itu masih diperparah oleh beratnya beban eksternal.
“Kami ingin segera melanjutkan kepemimpinan yang efektif dengan memanfaatkan seluruh potensi sumberdaya yang ada dalam jajaran Bulog dan mengarahkan karyawan untuk bekerja keras. Memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada masyarakat,” ujar pria kelahiran Pidie, Aceh, 15 Oktober 1949 ini.
Doktor program studi pembangunan kelautan perikanan dari IPB Bogor ini berjanji akan menciptakan kepemipinan yang baru untuk memberikan kesejukan.
Ia akan memecahkan masalah secara tenang, melihat masalah secara komprehensif, kemudian bekerja sekeras-kerasnya menyelesaikan masalah berat. Ia juga berjanji akan memperbaiki kinerja Perum Bulog dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan benar (good corporate governance).
Ke dalam, menurutnya, harus ada manajemen yang sehat, bersih, dan juga efektif. Ke depan, agaknya Mustafa hanya akan mengarahkan haluan hidup di Bulog. Sebab ia punya obsesi besar di sini, yang selama ini jarang dimiliki petinggi Bulog sebelumnya, yakni sesedikit mungkin melakukan impor beras, tetapi sebanyak mungkin mengandalkan produksi beras dalam negeri. “Impor adalah pelengkap dari kebutuhan dalam yang tidak cukup,” ujarnya. HT (Berita Indonesia 35)
| < Prev | Next > |
|---|



