Meski kehadirannya masih dinilai kontroversial, lembaga-lembaga survei yang bermunculan di Indonesia sedikit banyak telah memberikan warna dalam dunia politik di Tanah Air.
Kenyataan ini membuat situasi politik semakin tidak pasti. Kini sulit untuk memprediksi siapa yang akan menang dan kalah. Calon dari partai besar pun bisa kalah. Situasi ketidakpastian dalam dunia politik ini membuat orang mulai mencari pegangan baru untuk memahami sebab musabab kemenangan dan kekalahan seseorang dalam Pemilu yang dipilih langsung.
Lembaga-lembaga survei kemudian bermunculan menyodorkan pegangan baru sekaligus mengurangi ketidakpastian tersebut. Lembaga survei tersebut bermacam-macam. Bahkan ada yang berfungsi ganda, selain menjadi pengumpul jajak pendapat, juga menjadi konsultan politik. Fungsi ganda inilah yang kemudian dicurigai akan menimbulkan konflik interes. Lembaga survei menjadi tidak netral dan hasil surveinya ‘disetel’ sesuai pesanan.
Di tengah mencuatnya kecurigaan tersebut, harus diakui pula kalau lembaga-lembaga ini telah banyak mengantarkan berbagai calon kepala daerah untuk menjadi gubernur bahkan menjadi presiden. Sedikit banyak lembaga-lembaga ini telah memberikan warna dalam dunia politik di Tanah Air. Topik seputar politik menjadi hangat dibicarakan ketika lembaga-lembaga ini memaparkan analisisnya. Bahkan tak jarang sejumlah televisi swasta menjadikan mereka sebagai narasumber untuk membahas isu politik yang sedang hangat diperbincangkan.
Kehadiran lembaga-lembaga survei ini semakin terasa dalam pemilu legislatif 2009 ini. Dengan metode perhitungan cepat (quick count), mereka menyajikan informasi dan prediksi perolehan suara partai-partai peserta pemilu. Setidaknya masyarakat, parpol, dan caleg bisa segera mendapatkan gambaran hasil pemilu legislatif 2009. Kehadiran lembaga-lembaga ini semakin terasa manfaatnya tatkala Pusat Tabulasi Nasional Pemilu yang ditangani Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak bisa diharapkan karena sedang menghadapi masalah pengumpulan suara. Hingga hari ke-10, misalnya, jumlah suara yang masuk ke TNP baru 12.966.754 atau sekitar 7,5 persen dari 171.265.442 pemilih.
Melihat dari pengalaman pilkada-pilkada yang sebelumnya, hasil lembaga-lembaga survei itu, dibandingkan dengan data KPU hampir memiliki persamaan. Ini berarti, lembaga-lembaga ini bisa dijadikan sebagai pembanding untuk mengambil keputusan.
Beberapa lembaga survei yang melakukan hitung cepat pada pemilu kali ini antara lain: Lembaga Survei Indonesia, Lembaga Survei Nasional, Lingkaran Survei Indonesia, CIRUS Surveyors Group, dan Indo Barometer. Kelima lembaga survei ini bergerak dengan ciri khasnya masing-masing berkat kiprah arsitek atau pendirinya.
Mari kita mulai dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Lembaga ini dipimpin oleh Denny Januar Aly, Phd, yang lahir di Palembang 4 Januari 1963. Direktur Eksekutif sekaligus pendiri LSI ini merupakan salah satu figur penting di bidang survei politik di Indonesia sekaligus ikut memelopori tradisi quick count di setiap perhelatan pesta demokrasi di Tanah Air.
Kontrak pertama lembaga yang didirikannya sejak 2004 ini dijalin dengan Golkar pada Februari 2005 untuk menangani pilkada di 9 provinsi dan 100 kabupaten di Indonesia dalam satu musim 2005-2008. Saat itu, Denny masih sempat juga menangani sejumlah pilkada lain di tempat yang berbeda. Khusus pemilihan gubernur, dia berhasil memenangkan calonnya di 15 dari 33 provinsi. Lembaga yang ia pimpin ini jugalah yang telah menghantarkan Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilihan presiden 2004 menduduki kursi RI 1. Dan untuk pemilu kali ini dia dipercaya untuk menjadi konsultan politik PDI Perjuangan.
Ketua umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia ) periode 2007-2010 ini berpendapat, biaya untuk konsultan politik kepala daerah di luar pulau Jawa biasanya lebih mahal dibanding dengan di pulau Jawa. Di samping itu, semakin tidak populer seorang calon, makin besar pula dana yang harus disiapkan.
Selain mengurusi LSI, peraih doktor ilmu politik dari Ohio State University (2001) dan master kebijakan publik dari Pittsburgh University (1995), ini juga dikenal sebagai kolumnis yang sangat produktif di berbagai surat kabar nasional dan analis politik di sejumlah stasiun radio dan televisi.
Lembaga lain yang juga melakukan perhitungan cepat pada pemilu 2009 adalah Indo Barometer yang dipimpin Muhammad Qodari kelahiran 15 Oktober 1973. Sebelumnya, Qodari adalah peneliti muda dan menjadi peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI).
Indo Barometer dirintisnya tepat dua tahun yang lalu pada 2007. Keinginan dia mendirikan Indo Barometer untuk menyediakan banyak pilihan survei politik kepada masyarakat. Kecintaannya terhadap bidang survei telah dia tunjukkan sejak masih di bangku kuliah. Dia juga pernah terpilih menjadi ketua kelompok studi mahasiswa Eka Prasetya. Dari sekian banyak survei yang pernah dia lakukan semasa mahasiswa dia mengatakan, ada satu survei yang cukup lama ia kerjakan yakni survei evaluasi kirab remaja di Timor Timur (saat masih menjadi salah satu provinsi di Indonesia). Sehingga dua pertiga dari jumlah provinsi itu pernah dia kelilingi dan mengenal penduduk di sana.
Dengan latar belakang pendidikan bidang Political Behaviour (perilaku politik) dari University of Essex, Inggris (2003) dan sarjana Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia (1997), kompetensi Qodari sebagai peneliti politik tidak diragukan lagi. Dari pengakuannya, lembaganya sudah mengantarkan puluhan kepala daerah sukses dalam pilkada.
Lain lagi dengan kisah Saiful Mujani pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang lahir dari keluarga kiai di Serang, Banten, 8 Agustus 1962. Perjalanan studinya tergolong unik. Ia mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta yang dia kecap hanya 2 tahun sebab dia keluar dari sana. Ia sempat mendapat kecaman dari orang tua yang lebih menginginkannya masuk kuliah bidang umum. Rupanya dia lebih meminati kajian perbandingan agama dan dia melanjutkannya ke IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta, mendalami tasawuf dan filsafat.
Ketika dirinya mendapatkan beasiswa fullbright ke Amerika Serikat, awalnya Saiful lebih memilih sosiologi agama. Namun, hal itu menjadi urung karena seniornya Bachtiar Effendy yang baru lulus dari ilmu politik Ohio State University menyarankan dia masuk jurusan ilmu politik yang didominasi para profesor berbasis survei.
Setelah dia lulus dari Ohio, Saiful membentuk Lembaga Survei Indonesia (LSI). Bertepatan dengan pemilu 1999, Saiful menyiapkan proposal survei nasional yang lebih akademik. Dia pun mengajak gurunya, Bill Liddle yang mendapat sponsor dari National Science Foundation, sebuah lembaga bergengsi penopang riset milik pemerintah di Amerika. Dia pun merangkul Laboratorium Ilmu Politik Universitas Indonesia. Yang kemudian bergabung di sana, Eep Saefulloh Fatah dan Valina Singka.
Setelah Pemilu 1999 selesai, Saiful semakin ketagihan melakukan penelitian. Dengan menggandeng Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Jakarta, pada 2001 dan 2002, Saiful menggelar survei lagi dengan temanya kaitan Islam dan demokrasi. Survei ini menjadi basis disertasi doktornya dan menjadi disertasi terbaik. Sejak saat itu, namanya semakin diperhitungkan.
Sedangkan CIRUS Surveyors Group yang dipimpin oleh Adrinof A Channiago kelahiran Padang, 3 November 1962, terbilang baru di dunia survei politik Indonesia. Meski demikian, lembaga survei yang resmi didirikan pada November 2008 ini langsung mendapat kepercayaan dari salah satu tv swasta nasional. Dalam dunia penelitian survei, Adrinof termasuk salah satu dari sedikit peneliti yang memiliki pengalaman cukup panjang karena sudah mulai menangani pekerjaan sebagai Ketua Tim semenjak tahun 1993. Ia juga terlibat dalam persiapan survei perdana Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dibiayai oleh Japan Internation Coorporation Agency (JICA). Tidak mengherankan jika dalam Musyarawah Nasional (Munas) I Perhimpunan Survei Opini Publik (PERSEPI) pada akhir Januari 2009 lalu, ia terpilih sebagai Ketua Umum perhimpunan tersebut.
Terakhir, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Drs. Umar S. Bakry, MA lahir 7 April 1962. Mahasiswa program doktor (Ph.D) di University Sains Malaysia (USM) Penang ini cukup lama berkecimpung di dunia riset. Ia menjadi Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jayabaya selama 2 (dua) periode dan telah menjadi Peneliti di lembaga tersebut sejak 1989. Pernah pula menjadi Peneliti di Pusat Studi Demokrasi (PSD) bentukan Denny J.A. Sebelum itu ia sempat menjadi wartawan (Koordinator Reportase) di Majalah Warta Ekonomi. Saat berbagai pihak menggugat validitas kinerja lembaga survei di Indonesia, Sekjen Asosiasi Riset dan Opini Publik Indonesia (AROPI) ini malah mengakui kalau ada lembaga survei yang nakal. Menurutnya, ada lembaga survei yang menyampaikan ke publik tidak sesuai fakta, tapi sesuai permintaan klien. MLP,BHS (Berita Indonesia 66)
Pengusaha Riset
Denny Januar Aly, Phd
(4 Januari 1963)
Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
Muhammad Qodari
(15 Oktober 1973)
Direktur Indo Barometer
Andrinof A Channiago
(3 November 1962)
Direktur CIRUS Surveyors Group
Saiful Mujani
(8 Agustus 1962)
Direktur Lembaga Survei Indonesia
Umar S Bakry
(7 April 1962)
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional
| < Prev | Next > |
|---|



