Penyakit di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat rupanya kambuh lagi. Di sana telah lama berlangsung aksi kekerasan secara sistematis yang ironisnya ditutupi oleh orang dalam.
Fisik setiap mahasiswa IPDN dalam penampilannya di muka umum selalu terlihat gagah dan sehat.Masa depan akan berkarir menjadi pejabat pemerintahan dalam negeri terpancar dari sunggingan senyum manis mereka, terlebih apabila sedang pulang kampung ke daerah asal pengirimnya.
Namun siapa nyana, tanpa sebab dan alasan yang jelas, hampir saban tahun ada saja diantara mereka yang meninggal dunia secara tiba-tiba. Jagat nasional kembali tersentak manakala mengetahui aksi brutalisme yang dicoba untuk ditutupi kembali menelan korban, praja Cliff Muntu.
Misteri kematian Cliff Muntu semakin terkuak setelah seorang lektor IPDN bernama Inu Kencana Syafiie dengan berani mengungkapkan kenyataan sebenarnya.
Sesungguhnya hal yang sama sudah pernah dilakukan oleh Inu pada tahun 2003 lalu, terkait dengan kematian Wahyu Hidayat. Saat itu ia menyuarakan kesaksian, yang didorong nurani seorang guru pamong untuk mengubah pola pendidikan IPDN supaya lebih humanis, dengan mengungkap kekerasan-kekerasan yang terjadi di kampus pencetak calon pamong praja itu.
Karena masih tak bergaung, kesaksian itu kemudian dituangkannya menjadi produk akademis, dalam disertasi ilmiah untuk meraih gelar doktor yang diberinya judul, “Pengawasan Kinerja STPDN terhadap Masyarakat Kabupaten Sumedang”.
Inu menulis, selama tahun 1990-2005 sudah 35 orang praja yang tewas akibat aksi kekerasan. Di kampus juga terdapat fenomena seks bebas, aborsi di lingkungan asrama, hingga penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Data kasus kekerasan, arogansi praja, dan penyiksaan yang rutin dilakukan oleh setiap senior kepada juniornya, itu terdokumentasikan secara apik dalam foto-foto, sampai ke rekaman kamera televisi.
Tetapi semua pihak kecuali Inu tetap saja diam membisu, hingga kasus yang sama terulang kembali dan meneteskan air mata duka bagi keluarga korban.
Ada persamaan risiko yang diterima pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat 15 Juni 1952, ini di kedua peristiwa yang hanya berselang tiga tahun. Pada tahun 2003 suami dari Indah Praseyati ini menerima ancaman pembunuhan lewat pesan singkat SMS, sampai-sampai Mabes Polri turun tangan untuk mengusut siapa pengancamnya.
Kali ini tahun 2007 ancamannya lebih hebat lagi. Selain diintimidasi lewat SMS, yang salah satu bunyinya menyebutkan, “Guruku sayang, kenapa kau tega memfitnah kami?”, Inu juga diberi sanksi larangan mengajar sementara dari pihak Rektorat dan dari Depdagri. Inu kemudian diperiksa oleh tim investigasi Depdagri. Bahkan, pada 5 April, dari ruang kuliah ia sempat diusir oleh temannya sesama pengajar saat hendak mengajarkan mata kuliah Ilmu Pemerintahan.
Inu ayah tiga orang anak Raka Manggala, Nagara Belagama, dan Periskha Bunda tetap tak gentar dan terus bersikukuh membeberkan ke publik berbagai perilaku menyimpang di kampus IPDN. Ia terbuka saja dan blak-blakan meladeni permintaan wawancara dari setiap wartawan.
Dengan tak kenal rasa takut, Inu memanfaatkan dukungan media untuk menentang arus kampus yang mayoritas sudah tak bersuara. Ia juga bersedia menjambangi kumpulan para politisi di DPR untuk bersuara membuka tabir gelap yang lama tertutupi di IPDN.
Berakhirkah kekerasan di IPDN setelah Inu bersuara? Belum tentu, kecuali bila lembaga pendidikan beraroma kekerasan ini ditutup selama-lamanya. HT (Berita Indonesia 37)
Biodata:
Nama : Inu Kencana Syafiie
Lahir : Payakumbuh, 14 Juni 1952
Agama : Islam
Jabatan : Lektor Kepala IPDN
Isteri : Indah Prasetyati
Anak : -Raka Manggala
-Nagara Belagama
-Periskha Bunda
Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (1972-tidak tamat)
Akademi Ilmu Administrasi dan Akuntansi Jayapura (1975-tidak tamat)
Akademi Pmerintahan Dalam Negeri Jayapura (1976-1979)
Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta (1985-1987)
Program Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada (lulus 1990)
Program Doktor Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran (sampai sekarang) r Disertasi berjudul: Pengawasan Kinerja STPDN terhadap Masyarakat Kabupaten Sumedang.
Buku:
Filsafat Kehidupan, Filsafat Pemerintahan, serta Ilmu Pemerintahan dan Al-Qur’an.
| < Prev | Next > |
|---|



