Majalah Berita Indonesia

Thursday, Sep 02nd

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Tokoh Emirsyah Satar: Di Kursi Panas

Emirsyah Satar: Di Kursi Panas

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Sebelum pesawat Garuda Indonesia tergelincir, lalu terbakar dan menelan korban jiwa 21 orang meninggal dunia, di Yogyakarta Rabu (7/3), kursi dirut yang diduduki Emirsyah Satar sesungguhnya sudah terasa mulai pengap dan panas.

Emirsyah SatarMajalah Trust menyebutkan Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) ingin mendongkel jajaran direksi dan komisaris Garuda. “Direktur Utama dinilai tak mampu membawa perubahan di Garuda,” tulis lead majalah berita ekonomi dan bisnis itu.

Sama seperti desain klasik yang terjadi di Jamsostek dan Telkom, gerilya mendongkel Emir berlangsung sistematis. Kali ini bermula dari sebuah surat yang mengatasnamakan Sekarga dan Asosiasi Pilot Garuda (APG), kepada Menteri BUMN Sugiharto, berisi permohonan untuk menyelenggarakan RUPS Luar Biasa. Agendanya, disebutkan Tommy Tampatty, Juru Bicara Sekarga, mengganti direksi dan komisaris termasuk dirut Garuda.

Emir, tentu tak terlalu hirau dengan bunyi surat biasa semacam itu. Ia tak bersedia memberikan komentar, kecuali mempersilahkan untuk mewawancarai salah seorang bawahannya, Pujobroto, Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia.

Setajam apapun isi surat Sekarga-APG, Emir tak mau tahu. Walau, misalnya, surat itu memuat alasan meminta direksi mundur karena Garuda terus-terusan mengalami kerugian usaha selama tiga tahun berturut-turut. Tahun 2004 Garuda mengalami kerugian 65,7 juta dollar AS, tahun 2005 rugi 72 juta dollar AS, dan tahun 2006 rugi 52,3 juta dollar AS. Di sini Tommy tak melihat ada perubahan untuk mendorong posisi laba usaha dari negatif ke positif.

Atau alasan lain, pencapaian kinerja perusahaan susah diukur karena RUPS untuk mengesahkan rencana kerja dan anggaran perusahaan 2006 tidak dilaksanakan. Bahkan RUPS untuk pertangungjawaban direksi sejak tahun 2003 tak pernah dilaksanakan. Ekuitas perusahaan terus menurun, dari Rp 2,2 triliun tahun 2003 menjadi Rp 686 miliar per November 2006. Padahal, kewajiban perusahaan meningkat dari Rp 6,1 triliun pada tahun 2003, menjadi Rp 7,5 triliun November 2006. Tahun 2005 Garuda sudah tak bisa membayar kewajiban kepada pemberi utang, ada penurunan kas akhir bulan, dan ada penurunan jumlah penumpang.

Tetapi, “Itu semua cuma (keinginan) segelintir orang,” kata Pujo membela bosnya. Ia memberi contoh, jumlah utang warisan Garuda perlahan-lahan berkurang, saat ini tinggal 70 juta dollar AS. Garuda akan membuka kembali delapan rute penerbangan luar negeri. Dan, kata dia, Emirsyah merupakan CEO Garuda yang memiliki kemampuan managemen dan organisatoris yang lebih andal ketimbang pendahulu-pendahulunya.

“Wajar kalau ada satu dua karyawan yang tidak suka dengan kehadiran Pak Emir,” kata Pujobroto. “Mereka itu mungkin punya hubungan dengan mantan-mantan Dirut Garuda sebelumnya.”
Said Didu, Sekretaris Menneg BUMN sudah memegang surat Sekarga-APG, serta sedang mempelajari bukti-bukti yang disodorkan. Tetapi Said juga memperoleh laporan dari direksi Garuda, soal ketidakharmonisan hubungan antara direksi dan karyawan yang, seperti Pujo katakan, mungkin ada sangkut paut dengan direksi sebelumnya. Hingga Garuda tergelincir di Kota Gudeg Yogya kursi Emir masih aman. HT (Berita Indonesia 34)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_14_75.jpg
Dipecat (dikorbankan) walau merasa bukan dia yang salah, dalam kasus kriminalisasi pimpinan KPK dan Bank Century, Komjen Pol. Drs. Susno
utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.

Visi Berita

visi_43.jpg
Separatisme, keinginan untuk memisahkan diri (bercerai) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih menjadi
visi_62.jpg
Dunia sangat terkesima dengan kemenangan Barack Obama yang terpilih menjadi presiden ke-44 AS dan akan dilantik 20

Lentera

lentera_6_73.jpg
Syaykh Al-Zaytun mengatakan, bahwa untuk memahami ajaran agama, akal budi harus diasah. Dan untuk memahami makna firman
lentera_8_61.jpg
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang menegaskan bahwa nilai-nilai dasar negara Indonesia (Pancasila), sepenuhnya
Share/Save/Bookmark