Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Tokoh Mayjen tni Syaiful rizal, Psc, S.IP: Komandan Yang Hobi Latihan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mayjen tni Syaiful rizal, Psc, S.IP: Komandan Yang Hobi Latihan

E-mail Print PDF

Mayjen tni Syaiful rizalSaat pertamakali menjabat sebagai Danton-1/2/11 Grup 1 Komando Pasukan Khusus
(Kopassus) Syaiful Rizal sudah yakin bahwa ia bakal mengawali karier militernya di korps baret merah ini. Untuk itu, tugas demi tugas, latihan demi latihan dilaksanakannya sebaik mungkin. Sebagai pasukan khusus, yang identik dengan pasukan pilihan, ia ingin Kopassus memiliki kemampuan setara dengan pasukan khusus di dunia. Kini, sebagaiKomandan hanya satu misinya, latihan, latihan dan latihan. “Sebab bagi saya, latihan identik dengan tugas,” ujarnya.

Jenderal yang lahir di Lahat, 2 Juni 1952 ini meyakini bahwa bagi seorang prajurit, latihan identik dengantugas. Sehingga betapa pun beratnya, latihan tetap harus dilaksanakan dengan baik.

“Profesionalisme, hanya bisa diwujudkan dengan disiplin latihan. Dan kalau kita menyadari bahwa latihan itu tugas yang harus diselesaikan, maka saat kita berlatih tidak merasa berat hati ,” katanya.

Semangat latihan hingga mahir itu pula yang kini sedang diupayakan untuk terus ditingkatkan. Bahkan ia punya obsesi, Kopassus memiliki kemampuan setara dengan pasukan khusus di dunia. Maka, ketika terpilih sebagai Danjen Kopassus, budaya latihan terus dikembangkannya. Ia terus berupaya membuka jalan bekerjasama dengan pasukan khusus negara lain agar pasukannya bisa latihan bersama.

Yang kini sedang ia lakukan adalah menggalang latihan bersama dengan SAS Australia, untuk menanggulangi teroris. Kemudian pihaknya juga pernah latihan bersama dengan SAS Inggris. Bekerjasama dengan pasukan militer negara lain, diakui Syaiful bukan sesuatu yang mudah. “Perlu kepercayaan dan kemahiran juga,” katanya.

Pebruari lalu, Syaiful berhasil membawa pasukannya  latihan bersama dengan Australia. Bukan itu saja, kini ia tengah berusaha meminta persetujuan panglima TNI agar pasukannya bisa latihan bersama dengan pasukan khusus antiteror AS. Ia ingin, dengan latihan bersama itu, pasukannya  bisa mengambil ilmu dan pelajaran dari pengalaman mereka.

Selalu Dalam Ketegangan
Disiplin keras dalam latihan yang selalu ditanamkan kepada para prajurit itulah, maka sebagai komandan ia dikenal sebagai komandan yang hobi latihan. Tapi memang suami dari Triana Dian P ini mengakui bahwa dulu hari-harinya penuh dengan latihan. Padahal latihannya sebagai pasukan khusus, selalu penuh ketegangan.

Syaiful mengisahkan, pernah mengalami latihan yang paling menegangkan, yang hingga kini tak pernah terlupakan. Sekitar 1988,  ia latihan gabungan terjun  payung di Ciletuk Sukabumi Selatan. Saat itu malam hari dan cuaca buruk, hingga disekeliling pegunungan tertutup kabut. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu, kemudian ada warning, jika pintu pesawat dek tidak dibuka, berarti terjun dibatalkan.

Setelah pesawat berputar-putar pintu dek tidak segera dibuka, padahal dibawah sudah ada perintah untuk segera terjun. “Akhirnya kami terjun dengan blind jump tidak ada tanda-tanda di bawah. Saya tidak bisa lihat kondisi sekeliling, semua betul-betul gelap,” katanya. Baru kali itu Syaiful merasa takut, padahal itu bukan latihan pertama kalinya.

Kecemasannya semakin memburu ketika radio yang dibungkus bersama plastic light juga tidak menyala. Padahal plastic lightnya sudah ia patahkan, terus ia dorong, kemudian ia melompat mengikuti, sesuai teori yang dipelajarinya. Tapi, tetap ia tidak melihat apa-apa. Hingga akhirnya,… gedebug…! badannya sudah menyentuh tanah dan terguling-guling beberapa meter hingga hampir masuk sungai.

Bukan hanya latihan penuh risiko, tapi juga ketat. Baik latihan Komando, Raider, tali temali dan lain-lain harus dilakukan sebaik dan semaksimal mungkin. Karena itu, Syaiful selalu berpesan pada anak buahnya untuk bersikap pasrah kala menghadapi latihan-latihan berat. “Anggap saja memang ini yang harus saya lakukan. Apalagi kalau sedang latihan komando. Kalau ada Perwira atau Bintara dan Tamtama yang kerjanya gondok saja, maka biasanya tidak akan lulus. Harus berpikir positif dan ikhlas saat latihan. Karena dibutuhkan prajurit yang sehat fisik maupun mentalnya,” lanjut laki-laki yang hobi menyanyi sambil main gitar ini.

Cita-Cita Jadi Tentara
Menjadi tentara memang sudah cita-citanya sejak kecil. Ia terkesan dengan sikap, perilaku dan penampilan sang ayah yang serba teratur. “Bangun pagi kami mendengar terompet. Saya lihat ayah sudah rapi, sudah makan pagi. Jam enam sudah siap berangkat ke kantor. Selain itu kehidupan bertetangga yang cukup baik dan rasa persaudaraannya cukup dekat sekali. Itu yang saya lihat dan saya suka kehidupan seperti itu. Saya lihat ayah naik jeep dengan pakaian militernya, saya bangga sekali,” ujarnya. Padahal ia tidak tahu, sang ayah bersiap pergi mempertaruhkan nyawa.

Kehidupan ‘menyenangkan’ seperti itulah yang ia bayangkan jika nanti menjadi tentara.  Kendati kesan mendalam seorang tentara yang pernah ia lihat pada sosok sang ayah, tidak lama dinikmatinya. Karena sang ayah tak berumur panjang. Beliau meninggal ketika Syaiful di bangku kelas 6 sekolah dasar.

Namun demikian, cita-citanya tak pernah kandas. Jenjang demi jenjang pendidikan benar-benar dipersiapkannya. Ia menseriusi kegiatan olah raga, karena ingin mempersiapkan fisik. Ia rajin berlatih lari, push up, voli dan bela diri. Tak sulit bagi anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini mewujudkan keinginannya masuk AKABRI, karena sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia selalu mendapat rangking pertama.

Persiapan fisik yang sudah dilakukan sejak sekolah menengah itu tidaklah sia-sia. Persiapan itu menunjang keberhasilannya masuk AKABRI. Buahnya, saat tes fisik, ia mengaku melewatinya dengan lancar. Apalagi rumahnya di komplek tentara yang berdekatan dengan markas batalyon infanteri di Lahat. Ia sudah banyak mengenal para anggota batalyon itu. Ia bahkan berteman dengan mereka. “Saya dianggap sebagai adik saja, sehingga perwira-perwira muda itu banyak memberi dorongan semangat dan nasehat pada saya,” ucapnya bersyukur.

Diasuh Tangan Kuat Ibu
Sepeninggalan sang ayah,  hanya ibu yang menjadi tumpuannya. “Ibu saya adalah wanita yang cukup kuat. Dialah yang berjuang keras untuk menghidupi kami setelah ayah saya meninggal. Kami ada sepuluh bersaudara dan saya anak nomor tiga. Dua kakak saya perempuan dan laki-laki tinggal bersama paman di Jakarta setelah ayah meninggal. Jadi waktu itu, sayalah anak paling tua karena dua kakak saya sudah tinggal di Jakarta. Sayalah yang harus memimpin adik-adik.  Hidup tentu semakin susah, kadang hanya bisa makan sekali sehari,” kenangnya.

Untuk menghidupi delapan anak, dengan uang pensiun dari sang suami saja tentu tidak cukup. Syaiful menyaksikan, bagaimana sang ibu berupaya melakukan banyak hal untuk terus menjalankan hidup bersama anak-anaknya. “Dulu ada tanah peninggalan ayah, tapi  lama-lama juga habis dijual,” katanya. Sang ibu lalu berbisnis menjual barang-barang keperluan rumah tangga, emas atau barang lain, dari rumah ke rumah. “Ibu saya begitu tabah menghadapi hidup, tetapi waktunya banyak tersita untuk mencari nafkah,” kenang Syaiful.

Syaiful  kehilangan figur ayah, namun ia tak  putus asa. Walaupun tidak ada pengarahan secara khusus dari orang tua, ia tetap bertekad masuk tentara. Beruntung, sang ibu mendukungnya. “Saya hanya berpikir kehidupan yang sesuai dengan jiwa saya adalah kehidupan tentara,” kata pengagum tokoh militer Mac Arthur ini.

Syaiful benar-benar yakin dengan pilihannya itu. Maka ia sadar benar, apa yang harus dipersiapkan sebagai seorang abdi negara. Ia sadar bahwa tidak semua padi yang ditanam itu akan tumbuh semuanya dengan baik. Namun, ia terus berupaya, tidak sekedar memperbaiki fisik, tapi juga mentalnya dan psikisnya.  Kini, ia baru tahu bahwa pilihan kehidupan seorang perwira tidak mudah dilakukan. “AKABRI itu ada Trisakti Wiratama, di sana dilatih mental kita, IQ kita, intelektual dan fisik kita. Jadi secara umum manusia harus memiliki tiga unsur ini, fisik, psikisnya sehat dan mentalnya baik. Tiga unsur tadi atau Trisakti Wiratama ini sudah dimiliki orang, dia itu sudah pasti menjadi ‘orang’ kata pengagum Jenderal TNI. Nasution ini.

Barangkali  menjadi ‘orang’ seperti itulah yang ingin dicapai Syaiful. Menjalani hidup sebaik-baiknya, tanpa harus memberatkan atau membuat orang lain susah. Ia ingin menggenggam hidup yang sebenarnya, maka ia berprinsip “Hiduplah secara sederhana tetapi berpikirlah setinggi mungkin.” Karena kesederhanaan itu pula, maka sebagai komandan ia tidak terlalu protokoler. Rumahnya terbuka 24 jam, anak buahnya bebas meneleponnya kapan saja. Karena ia yakin, kalau seseorang menelepon tengah malam, tentu ada sesuatu yang penting.

Langkah ini tampaknya juga diiringi oleh sang istri. Sebagai ibu komandan, Ny. Triana Dian juga sangat welcome. Juga sama dengan sang suami, perempuan yang dipacari Syaiful sejak SMA di Palembang ini juga tidak terlalu formil. “Pokoknya, dia adalah istri yang baik buat saya,” puji Syaiful pada perempuan yang dinikahinya ketika ia berpangkat Letnan Satu. Namun bagaimana pun juga, keberhasilan yang kini dalam genggamannya menurut Syaiful adalah  anugerah dari Tuhan. Namun, ia juga menyadari bahwa itu semua tak lepas dari doa sang ibu dan nasehatnya untuk selalu melakukan hal yang terbaik. AD,SUB,SP,WE ( Berita Indonesia 11)***

Biodata
Nama    :Mayjen TNI Syaiful Rizal, Psc, S.IP
Jabatan    :Danjen Kopassus
Tgl lahir:Lahat, 2 Juni 1952
Agama    :Islam
Nama istri:Triana Dian P
Nama anak:Fatahilah Teriza, Satria Aderiva
Pendidikan:Akabri tahun 1975, Sussarcabif 1976, Susstafpur 1986,Seskoad 1990, Sesko KomperatifAustralia 1991, Lemhanas Australia (dssc)2001
Riwayat tugas: Ops Aceh 1978, Ops Seroja Tim-Tim 1979, Ops Seroja Tim-Tim 1987, Ops Seroja Tim-Tim 1990, Ops Aceh 1993
Riwayat Jabatan    :Danton 1/2/11 grup-1 1977, Pa ops den-11 grup-11980, Danki-112 grup-1 Kopassus 1981, Ps.kasi-2 grup-1 Kopassus 1985, Kasi-2 grup-1 Kopassus 1986, Kasi-1 grup-1Kopassus 1986, Danden-2yon-21 grup-2  1987, Pabanda Binsat sops 1988, Ps. Danyon-12 grup-1 1990, Danyon-12 grup-1 1990, Dansussandha grup-3/p.p 1992, Waasops Dankopassus 1993, Wadan grup-3/pusdik passus 1995, Dan grup-1 Kopassus 1995, Asops Kasdam-vi/tpr 1997, Danrem-073mkt dam-iv/dip 1999, Paban-v/milkam sintel TNI 2002, Wadanjen Kopassus 2002, Kasdam-vi/tpr 2003, Danjen Kopassus 2005


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com