Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Tokoh Andreas A. Yewangoe: Sosok Sederhana Pelayan Gereja
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Andreas A. Yewangoe: Sosok Sederhana Pelayan Gereja

E-mail Print PDF

Andreas A. YewangoeIa memang layak dipercaya memimpin PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia). Selain ‘jam terbangnya’ yang sudah tinggi dalam memimpin organisasi keagamaan,  Andreas Anangguru Yewangoe adalah sosok pemimpin yang tulus, sederhana dan concern dengan
masalah-masalah perdamaian dan solidaritas sosial. Obsesinya  hanya satu, ia ingin menjadikan gereja agar berguna bagi orang lain.

 

Ditemui di kantornya, bilangan Salemba Jakarta Pusat, pendeta ini tengah asyik menulis  sesuatu  di buku catatan di     ruang kerjanya. Menurut beberapa staf kantor PGI, Yewanggoe memang produktif menulis. Selain menjadi penulis tetap pada harian Suara Pembaharuan, ia juga rajin menulis artikel di media massa lain, bahkan menerbitkan buku.

Nama lengkapnya, Pdt. Dr. Andreas Anangguru Yewangoe. Tapi ia lebih dikenal dengan panggilan pendeta Yewangoe. Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) periode 2004-2009 ini punya obsesi menjadikan gereja berguna bagi orang lain. Tidak hanya pelayan bagi jemaat sendiri tetapi juga pelayan bagi orang di luar komunitas Kristen. Dia bertekad mewujudkan keyakinan itu melalui cita-cita PGI yang dipimpinnya yakni Keesaaan Gereja di Indonesia yang dimplementasikan dalam ‘keesaan in action’ (aksi bersama).

Menurut doktor teologia dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda (1987) dengan disertasi, “Theologia Crucis in Asia”, itu istilah ‘keesaan in action’ adalah keesaan yang terwujud dalam perbuatan, dan bermakna bahwa gereja-gereja mesti sungguh-sungguh peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan di Indonesia, yang diistilahkan gereja bagi orang lain.

Gereja bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Manusia bagi orang lain menurut kepercayaan Kristiani, justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diri-Nya. Dengan pemikiran demikian, “Gereja harus melakukan hal yang sama,” ucapnya kepada Berita Indonesia.

Gereja mestinya juga memberitakan hal-hal yang membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup sehari-hari. Itu berarti, gereja harus peduli pada masalah-masalah sosial.

Menurutnya, menolong bukan hanya karena belas kasihan, bukan hanya karena mau menjalankan tugas-tugas sosial, tetapi karena Allah memihak kepada mereka yang menderita, bahkan Allah sendiri rela menderita dengan turun sebagai manusia melalui Yesus Kristus. Maka menurutnya, gereja harus kembali kepada hakikatnya. “Gereja-gereja harus berpihak kepada mereka yang menderita,” cetus pendeta kelahiran Mamboru, Sumba Barat, 31 Maret 1945 itu.

Ia menyadari untuk mencapai cita-cita itu bukan sesuatu yang mudah. Apalagi gereja-gereja yang ada di Indonesia memiliki corak dan ciri khasnya sendiri. Perbedaan pada bentuk organisasi, tata cara ibadah, bahkan perbedaan pemahaman teologia terhadap subyek tertentu bisa menjadi jurang pemisah satu sama lain. Apalagi akhir-akhir ini banyak gereja yang ‘terpaksa’ ditutup. Namun demikian, bapak dua anak ini tetap optimis cita-citanya bakal terwujud, cepat atau lambat.

Sekolah Pendeta
Bagi orang dekatnya, Yewangoe punya tempat tersendiri di hati mereka. Bagi orang yang belum mengenalnya, ia sering dicap sangat pendiam dan terkesan angkuh. Padahal ia tidak bermaksud angkuh dan semacamnya. Diakuinya, komentar itu mungkin muncul karena karakternya yang serius dan bicara seperlunya.

Istrinya, Petronella Lejloh (baca- Leyloh) punya kesan tersendiri. Ia menilai Yewangoe pribadi yang tegas, yang selalu mengerjakan pekerjaannya sampai selesai, tanpa menunda. Namun, pada dasarnya, ia orang yang terbuka, membiasakan berdiskusi di rumah, dan memberi kebebasan kepada keluarga untuk berpendapat. Ia bahkan gelisah kalau tidak ada yang mengkritiknya.

Sejak usia 7 bulan, Yewangoe sudah diasuh oleh orang tua angkatnya yakni Pdt SM Yewangoe (ayah), seorang pendeta di kampungnya dan Leda Kaka (ibu). Ia menjadi anak angkat bukan karena tidak mempunyai orang tua lagi namun karena ayah angkatnya, saudara ayahnya sendiri, ini tidak mempunyai anak. Ada kebiasaan di Sumba bahwa anak dari saudara bisa diangkat. Orang tua kandungnya Lakimbaba (ayah) dan Kuba Yowi (ibu) juga sangat menyayanginya.

Kehidupan keluarga ayah angkatnya terbilang sangat sederhana. Di samping sebagai pendeta, ayah angkatnya juga seorang petani sebab gaji seorang pendeta sangatlah kecil. Meski hidup dalam kesederhanaan, cinta kasih antara Yewangoe dan keluarganya terjalin erat. Yewangoe menjalani hidup seperti orang desa kebanyakan. Karena akrab dengan kehidupan seorang pendeta, terlintas dalam hatinya untuk menjadi pendeta. Bahkan, ayah angkatnya sangat mendorong. Di benak Yewangoe muda, satu-satunya cara agar bisa menjadi pendeta adalah dengan mengikuti sekolah pendeta. Saat itu, ia sama sekali tidak mengerti apa itu belajar teologia dan segala hal yang berkaitan dengan itu.

Setelah lulus sekolah menengah atas, ia lalu melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta. Masa studi di STT Jakarta tidaklah mudah karena setiap mahasiswa harus melalui berbagai ujian yang cukup berat terutama ujian bahasa Yunani dan Ibrani yang menjadi momok bagi mereka. Apalagi bagi Yewangoe sebagai mahasiswa yang berasal dari kampung. Bukan saja masalah pelajarannya yang membuatnya shock, tapi juga masalah budaya dan lingkungan yang dianggapnya serbabaru.

Berkat usaha keras, ia berhasil lulus. Perjalanan sebagai pendeta dilaluinya tahap demi tahap. Pengetahuan dan pendalamannya tentang teologia semakin terasah secara baik.  Selain sebagai dosen, lalu rektor ia juga berkesempatan melanjutkan studi hingga meraih doktor di Vrije Universiteit, Belanda. Sejak Desember 2004, ia terpilih sebagai Ketua Umum PGI periode 2004-2009.

Selain mengajar, membaca buku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Biasanya, sesudah membaca sebuah buku, ia membagi apa yang telah dibacanya itu kepada sang istri.

Makna Natal Yang Sederhana
Tahun ini menjadi tahun yang ‘pahit’ bagi bangsa ini. Rakyat Indonesia, tak terkecuali, apa pun suku, ras dan agamanya, merasakan kepahitan ini.  Peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada bangsa ini bukan saja memilukan hati, menguras tenaga dan air mata tapi juga menguji kekuatan iman.

Bencana tsunami di Aceh, aksi terorisme, bermunculannya berbagai penyakit seperti busung lapar, flu burung, demam berdarah, antraks yang memakan puluhan jiwa. Belum lagi akibat bencana dan kondisi alam yang tidak menentu,  kekurangan pangan pun melanda beberapa daerah. Kenaikan BBM yang berdampak naiknya harga, daya beli masyarakat menurun, kemiskinan, pengangguran. Ujian itu belum berhenti, bagi umat Kristiani masih ada ‘bencana’ yang menguji iman. Banyak gereja ditutup karena alasan SKB 2 Menteri yang dijadikan alat justifikasi.

Ini semua bisa menimbulkan keputusasaan. Perasaan tidak jelas, makin sulitnya kehidupan, diskriminasi ras dan etnis yang semakin terlihat. Jika hal ini tidak segera diselesaikan, maka bangsa ini akan semakin terpuruk. Di tengah tekanan dan cobaan ini, perayaan Natal 25 Desember 2005, berada pada masa prihatin.

Berlatar belakang itulah, PGI yang dipimpinnya bersama dengan KWI mengambil tema Natal 2005: “Janganlah Takut Sebab Aku Menyertai Engkau…”  Tema yang diambil itu menurut Yewangoe memiliki makna yang dalam sehubungan dengan peristiwa demi peristiwa yang dialami bangsa akhir-akhir ini. “Makna itu bukan saja dalam, tapi juga membawa pesan solidaritas yang tinggi, kesederhanaan dan pengharapan,” ujarnya.

Namun Yewangoe juga mengaku sedih, karena perayaan natal kini sudah hampir kehilangan maknanya. Natal yang dirayakan dengan simbol-simbol banyak dilakukan di mal-mal dan hotel-hotel bintang lima, yang bernuansa konsumerisme.

“Saya bukannya bangga, malah sedih melihat hal ini. Natal bukan hura-hura dan berpesta fora, tapi makna natal adalah solidaritas alam,” tegasnya. Ia sangat menyayangkan perayaan natal yang seolah-olah tanpa penantian (advent) akan pengharapan adanya solidaritas alam tersebut. “Tanpa advent, natal hanya sebuah pesta saja,” lanjutnya.

Untuk itu, Yewangoe menghimbau, terutama pada umat Kristiani, untuk merayakan natal karena menurutnya, masa advent itu penting. Kemudian dia mengingatkan, umat Kristiani jangan sampai terjebak pada semangat konsumtif saat merayakan natal.

“Biarlah mal-mal berlomba-loba menarik konsumen dengan simbol-simbol natal, tapi jangan sampai terjebak,” ingatnya. Yang lebih penting lagi, sambung Yewangoe, perayaan natal hendaknya dipakai sebagai perayaan keluarga. Sebab dalam keluarga itulah terjadi penghayatan yang dalam. “Ini jauh lebih efektif daripada berpesta besar-besaran dalam merayakan natal,” lanjut laki-laki yang menikah dengan Petronella Lejloh, dan dikaruniai dua orang anak, Yudhistira Gresko Umbu Turu Bunosoru dan Anna Theodore ini. Bahkan sebagai umat Kristiani yang tidak suka simbol-simbol, keluarga Yewangoe merayakan natal tanpa pohon natal. Inilah sikap sederhana seorang pelayan gereja. AD,TI (Berita Indonesia 07)


Biodata:
Nama            :Andreas Anangguru Yewangoe
Tmp. Lahir     :    Mamboru, Sumba Barat, NTT
Tgl. Lahir       :    31 Maret 1945
Agama           :    Kristen
Jabatan         :    Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Pendidikan      :
-     Lulusan STT Jakarta (1969).
-     Doktoral dari Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda, pada 1987   dengan disertasi, “Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia”, kemudian diterbitkan BPK Gunung Mulia menjadi buku dengan judul “Theologia Crucis di Asia”, dan tahun 2005 memasuki tahun cetakan keempat.
Kegiatan Lainnya :
-     Dosen tamu di Theologische Universiteit Kampen, 1995
-     Menyampaikan makalah di Seminar International Reformed Theological Institutions di Leiden (1999), Princeton, USA (2001)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com