Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Tokoh Kontributor Pemikiran Islam Modern
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Kontributor Pemikiran Islam Modern

E-mail Print PDF

Prof Dr Harun Nasution (1919-1998) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (FISIP UIN) Syarif Hidayatullah menganugerahkan penghargaan kepada tiga pemikir Islam yakni almarhum Harun Nasution, almarhum Cendekiawan Nurcholish Madjid, dan Fachry Ali yang dinilai telah menjadi peletak dasar dan memberikan kontribusi pemikiran Islam modern dalam pendekatan ilmu-ilmu sosial dan studi keagamaan, khususnya di kalangan perguruan tinggi di Indonesia.

 

Penghargaan itu diserahkan Menteri Agama Suryadharma Ali, didampingi Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat dan Dekan FISIP UIN Jakarta Bahtiar Effendy di Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan 14 Desember 2009. Menurut Menag Suryadharma Ali, ketiga tokoh tersebut mewakili tiga generasi garis keislaman Indonesia.

Prof Dr Harun Nasution (1919-1998)
Pelopor Pemikir Rasional Islam Indonesia
Almarhum Harun Nasution dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 September 1919. Ia dikenal sebagai seorang filsuf dan pemikir Islam Indonesia. Semasa hidupnya ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN (sekarang UIN) Jakarta periode 1973-1984. Harun adalah pelopor perluasan cakrawala pemikiran dan pemahaman keagamaan yang bertumpu pada rasionalisme yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, ia selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia berpikir secara rasional.

Sebagai tokoh yang berpikiran luwes, ia pernah mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antar agama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga. Sebagai seorang yang selalu memiliki pemikiran terbuka, seperti yang dituturkan Rektor UIN Komaruddin Hidayat, Harun mendorong mahasiswanya untuk tak takut berekspresi dan berijihad berdasarkan argumen mereka Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005)asalkan tetap memegang rukun iman dan rukun Islam. Harun juga telah melakukan deradikalisasi dengan membuka ruang penafsiran lebih lanjut atas ajaran Islam berdasarkan kebutuhan masa dan perubahan zaman. Atas dasar pemikiran seperti itu, Dekan FISIP UIN Bahtiar Effendy pun berpendapat bahwa Harun layak mendapat penghargaan karena sikapnya yang rasionalis.

Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005)
Peletak Dasar Teologi Politik Islam Kontemporer
Almarhum Nurcholish Madjid lahir 17 Maret 1939 di Jombang, Jawa Timur. Nurcholish atau yang sering dipanggil dengan Cak Nur, pernah populer dengan slogannya “Islam yes, partai Islam no”, sebuah gagasan yang menjadi kontroversial di saat sebagian masyarakat Islam sedang ramai mendirikan partai bernafaskan Islam. Hingga masa reformasi dan setelahnya, ia tetap konsisten dengan slogan tersebut meskipun peluang untuk membuka partai berlabelkan Islam sangat terbuka. Cak Nur adalah salah satu penggagas pluralisme. Walaupun sepenuhnya belum dapat diterima masyarakat Islam Indonesia, namun sebagai seorang cendekiawan pemikir Islam dan budayawan yang meletakkan konsep desakralisasi dan sekularisasi untuk memudahkan memahami Islam dalam kerangka struktur sosial budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Indonesia, langkah itu telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemerosotan dan ancaman disintegrasi bangsa. Ia meletakkan dasar-dasar teologi politik Islam kontemporer dengan mengaitkannya terhadap keadaan umat Islam di Indonesia. Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra menyebut, Nurcholish juga memiliki prinsip, “sekularisasi yes, sekularisme no”, yang mengajak umat Islam mengembalikan hal-hal yang bersifat keduniawian pada tempatnya.

Dr Fachry Ali, MADr Fachry Ali, MA
Pahami Islam dan Politik dengan Pendekatan Ilmu Sosial
Fachry Ali dikenal sebagai pengamat politik dari LIPI yang juga menjadi dosen di UIN. Pria kelahiran tahun 1954 ini dinilai berperan besar dalam memperkenalkan ilmu sosial di lingkungan IAIN Jakarta pada era 1980-an. Fachry dinilai mampu menginspirasi mahasiswa UIN untuk mengenal seluk beluk teori sosial politik dan menjadikan mahasiswa UIN akrab dengan teori politik dan penelitian empiris. Menurut Bahtiar Effendy, Fachry Ali berjasa dalam mengaitkan Islam dan politik dengan menggunakan sudut pandang pemikiran ilmu sosial. Baik Nurcholish dan Fachry, sama-sama mengaplikasikan ilmu-ilmu sosial dalam melihat berbagai peristiwa menyangkut posisi sosial, keagamaan, dan politik umat Islam di Indonesia. Ini menunjukkan, pentingnya ilmu sosial dalam memahami soal sosial keagamaan dan politik Islam. Sehingga dalam konteks tersebut, menurut Ketua Partai Persatuan Pembangunan yang juga menteri Agama RI Suryadharma Ali, Fachry Ali menempati posisi yang diperhitungkan sebagai salah satu aktor penting yang kini sedang berproses menuju puncak ketokohan intelektualitas tradisi keilmuan modern. (Berita Indonesia 73)

 

 


Fadel Muhammad

Fadel Muhammad
Bebaskan Nelayan dari Segala Retribusi
Bukan Fadel Muhammad namanya kalau tidak punya ide brilian dan nekad menerapkannya. Menteri Perikanan dan Kelautan ini menerapkan peraturan baru yang menjadi kabar baik bagi para nelayan. Mulai dari 1 Januari 2010, semua nelayan di seluruh Indonesia dibebaskan dari segala macam bentuk pembayaran retribusi. Menurutnya, nelayan itu kelompok masyarakat paling miskin sehingga jangan dipungut berbagai retribusi. Sebelum resmi diberlakukan, peraturan ini mendapat tentangan dari seluruh gubernur dan bupati/wali kota. Mereka pun mengadu ke Presiden SBY gara-gara Fadel mengirimkan surat edaran kepada seluruh gubernur agar menghapuskan retribusi nelayan. Gubernur/bupati/wali kota merasa pendapatan asli daerah mereka Jusuf Kallaterancam hilang. Meski ditentang, Fadel cuek saja apalagi sudah mendapat dukungan dari Presiden SBY. Untuk menjawab kegusaran para pemimpin daerah itu, Fadel menyatakan akan mengganti pendapatan asli daerah yang hilang itu. Dengan catatan, kabupaten yang bisa meningkatkan produksi ikannya akan mendapat tambahan DAK (Dana Alokasi Khusus). Kabupaten yang menurun produksi ikannya akan dia potong DAK-nya.


Jusuf Kalla
Gantikan Mari’e Memimpin PMI
Setelah tidak aktif lagi di pemerintahan, Drs. Muhammad Jusuf Kalla kelahiran, 15 Mei 1942 Watampone, Sulawesi Selatan yang juga mantan Wakil Presiden RI 2004-2009 terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (2009-2014). Ia menggantikan mantan Menteri Keuangan Mari’e Muhammad yang telah dua periode menjabat sebagai ketua umum PMI.


Alwi ShahabAlwi Shahab
Terima Anugerah Budaya 2009
Dianggap berdedikasi terhadap kesejarahan dan budaya Betawi, wartawan senior Harian Umum Republika yang juga sejarahwan, Alwi Shahab memperoleh Anugerah Budaya 2009 dari Pemrov DKI Jakarta. Tulisannya yang terbit dua kali seminggu, Sabtu dan Minggu dalam rubrik Nostalgia dan Bandar Jakarta di harian tersebut selama 15 tahun telah terkumpul hingga lebih dari 1.000 kisah tentang Betawi tempo dulu. Dan dalam waktu dekat sejumlah penerbit akan mencetak hasil karyanya, yaitu Atlas Betawi Tempo Doeloe dan Jakarta Heritage Historical Building. Ia berharap, penghargaan yang diberikan pemprov bisa terus diberikan untuk memacu semangat para seniman dan budayawan Betawi. Ia juga menginginkan agar generasi muda mau mempelajari dan melestarikan budaya tersebut.


Arifin PanigoroArifin Panigoro
Ketua Umum PB PGI
Pendiri dan pemilik Medco Group Arifin Panigoro (65) terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) periode 2009-2013. Pria kelahiran Bandung 14 Maret 1945 yang pernah bergabung dengan PDI Perjuangan dan menjabat sebagai Ketua DPP PDI-P itu terpilih setelah memperoleh dukungan terbanyak pada pada Musyawarah Nasional PB PGI, 23 Desember 2009 di Jakarta. Ia mengumpulkan 109 suara dari total 207 suara yang diberikan dari unsur PB PGI demisioner: 25 pengurus daerah (pengda), 33 pengurus cabang (pengcab), serta 149 perkumpulan golf yang ada di Indonesia. Sementara dua kandidat lainnya Japto Soelistyo Soerjosoemarno (60) dan Jero Wacik (60) masing-masing hanya memperoleh 80 suara dan 16 suara.


Karen Agustiawan
Mimpi Tentang Pertamina
Karen Agustiawan, wanita pertama dalam sejarah menjadi orang nomor satu di Pertamina. Wanita kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 ini duduk sebagai Direktur Utama Pertamina, menggantikan Ari H Soemarno sejak 5 Februari 2009 lalu. Dalam dunia perminyakan, Karen sudah malang melintang di industri migas sejak lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1984. Di tengah persaingan bisnis migas di era globaliasasi ini, dalam usia PT Pertamina (Persero) yang ke 52, perusahaan Karen Agustiawan pelat merah ini terus berbenah diri guna mewujudkan impian Karen menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak kelas dunia. Untuk mewujudkan impian tersebut, Karen telah membuat langkah-langkah strategi awal, yakni dengan menjadi penguasa di negeri sendiri. Selain menjadi perusahaan migas nomor satu dalam negeri, ia menginginkan Pertamina dapat menjadi salah satu perusahaan yang dipandang sekaligus menjadi nomor satu di Asia Fasifik, bahkan di dunia. Ia mengatakan, dengan tidak mau membandingkan dengan Saudi Aramco (NOC/Network Operations Centre Arab Saudi) yang memiliki sumber daya melimpah, yang nyucuk di mana pun juga dapat minyak. Karen yang dinobatkan sebagai CEO Idaman sektor industri migas 2009 oleh salah satu majalah ekonomi nasional, ini mengatakan, agar dapat mewujudkan Pertamina menuju world class, Pertamina harus memiliki tiga hal, yakni Pertamina harus bisa sebagai Saudi Aramco untuk CBM (coal bed methane atau gas metana batubara) karena Indonesia memiliki CBM terbesar. Kedua, mengembangkan enhanced oil recovery - EOR, yakni pengembangan eksplorasi migas tahap lanjut, karena sumur-sumur minyak sudah banyak yang tua. Dan ketiga, memiliki eksplorasi laut dalam (expertise deep water). (Berita Indonesia 73)

 


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com