Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Tokoh Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MA: Selami Rahasia Al-Qur’an
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MA: Selami Rahasia Al-Qur’an

E-mail Print PDF

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur periode tahun 2000-2005, yang kini aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat MUI Pusat, ini dikenal sebagai salah seorang pakar ilmu bidang Tafsir dan Ulumul Al-Qur’an paling terkemuka di Indonesia.

Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MAProfessor Doktor Haji Muhammad Roem Rowi, MA yang berkepribadian ulet adalah seorang Doktor Ilmu Tafsir lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 1989. Di kalangan ulama Indonesia, khususnya seluruh Jawa Timur, Rowi yang lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor (1967) ini mempunyai identitas khusus sebagai ilmuwan muslim yang tak pernah kenal menyerah dalam menyelami rahasia Ilahi, berikut sistematika Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Roem Rowi, Direktur Imarah Masjid Agung Al-Akbar, Surabaya kelahiran Ponorogo 3 Oktober 1947 ini, memang memiliki kekhasan disiplin ilmu. Tak mengherankan apabila Rowi mempunyai pandangan-pandangan yang terbuka, dan selalu baru mengenai kemanusiaan yang bersumber dari ke-Ilahian Tuhan. Misalnya, bagaimana ia sangat setuju, bahkan memuji sekali visi dan misi pondok pesantren Al-Zaytun yang mengusung  motto sebagai Pusat Pendidikan Terpadu dan Pusat Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian.

Kekagumannya akan pondok pesantren pimpinan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang itu, semakin berbuah bahkan memunculkan rasa terkejut manakala mengetahui bahwa motto itu rupanya bukanlah sekadar sebuah semboyan kosong belaka.  Sebab, ternyata, pendirian salah sebuah gedung universitas Al-Zaytun, itu peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang pendeta dari kalangan Kristen. Rowi Ketua Dewan Syariah di Lembaga Manajemen Infaq, Jawa Timur ini menyebut peristiwa luar biasa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya dimana pun.

Rowi menyaksikan sendiri bagaimana bibit-bibit kehidupan yang toleran, demokratis, dan damai semuanya sudah dibungkus dan diajarkan di kawasan Al-Zaytun, padahal banyak ilmuwan dan kalangan agama masih saja mengkhawatirkan bakal terjadi benturan peradaban antara Timur dengan Barat, antara Islam dengan Kristen, antara Islam dengan Nasionalis, dan antara Islam dengan etnis Tionghoa Indonesia. Semua kekhawatiran rasanya mustahil terjadi manakala motto Al-Zaytun dipegang teguh pula oleh lembaga-lembaga pendidikan lain, baik itu Islam, Kristen dan sebagainya.

Sekadar untuk menepis rasa kaget, saat berkunjung ke Pondol Pesantren Al-Zaytun, di Indramayu tahun 2005 itu, Roem Rowi kemudian berujar kepada Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang. Ia meminta agar Al-Zaytun juga mengundang secara resmi kalangan ulama untuk mengunjungi Pondok. Permintaan ini dia sampaikan untuk mengimbangi kebiasaan Al-Zaytun, yang selalu pula mengundang artis-artis seniman ibukota untuk menghibur ke para santri di Pondok tatkala berlangsung perayaan hari-hari besar keagamaan seperti peringatan tahun baru hijriyah 1 Muharram.

Aplikasikan dalam Hidup
Dalam kehidupan sehari-hari Roem Rowi selalu tak lepas dalam mengaplikasikan ilmu tafsir yang sudah dia selami selama ini.

Kesimpulan yang ia peroleh dari Ilmu Tafsir rupanya sangat cocok sekali dengan hakekat kemanusiaan, yang harus menjunjung tinggi budaya toleransi dan perdamaian. Hasil tafsiran itu terbukti sangat paralel dengan tuntutan akan aplikasi hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehari-hari yang harus toleran dan damai.

Roem Rowi, pengajar pada Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya sangat memahami bagaimana Tuhan Allah membuat segalanya plural. Sampai-sampai ia mengatakan, “Kita sangat heterogen, baik dari aspek ras, agama maupun budaya. Zaman Rasul juga begitu. Kita ada kesepakatan dalam Pancasila. Orang Islam setuju, dan diulas jalan tengah. Lalu semuanya menerima itu. Karena sudah menjadi komitmen bersama, kita berkewajiban memenuhinya,” ujar Roem Rowi, yang menikah dengan Nurul Fatimah dan dikaruniai lima orang anak yakni  Andrie Anis Rahman, Denny Wahyudi, Ahmad Fanny Rabbany, Ahmad Robby Tawabbi, dan M. Aly Fikry.

Karena alasan kehidupan yang demokratis pula Roem Rowi menyebut orang Islam tidak boleh memaksa non-muslim masuk agama Islam. Jangankan kepada orang lain, anak sendiri pun tidak boleh dipaksa.

Kehidupan Indonesia yang sangat heterogen baik dari aspek ras, agama, maupun budaya, yang sama persis dengan zaman Rasul, membuat  diambillah kesepakatan antara Islam dengan Pancasila. Orang Islam menyatakan setuju, sepakat negara Islam tidak mungkin, diambillah jalan tengah, lalu semua menerima Pancasila.

“Karena sudah menjadi komitmen bersama, kita berkewajiban memenuhinya,” kata Rowi lagi, yang juga mengajar di sejumlah program pasca sarjana lain seperti Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga hingga di UMY.

Dengan demikian, urai Rowi, selama rakyat belum menghendaki bentuk lain, maka janji terhadap komitmen Pancasila harus kita penuhi. Tetapi apabila pada suatu saat, misalnya, ada perubahan, ternyata mereka menginginkan negara Islam, ya tidak masalah, sebab itu sudah kehendak rakyat.

“Demokrasi ya seperti itu. Orang Islam tidak boleh memaksa  non-muslim masuk agama Islam. Jangankan orang lain, anak sendiri pun tidak boleh dipaksa,” kata Rowi sambil menyitir sebuah peristiwa di jaman Rasul, terjadi di Madinah. Di situ seorang bapak memaksa kedua anaknya masuk Islam. Tetapi turun firman Tuhan, tidak ada paksaan di dalam beragama. Walau anak saja tidak boleh dipaksa karena agama tujuannya memberi ketenteraman dan kebahagiaan terutama bathin kepada manusia.

Sedangkan sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah menghasilkan ketenteraman bathin. Bahkan, yang terjadi kemunafikan. Sebab, secara fisik bisa saja dipaksa  tetapi hati tidak bisa dipaksa. Tujuan tidak tercapai tetapi kemunafikan merajalela. Agama adalah pilihan, tidak bisa dipaksa. Karena itu setiap hasil pilihan harus ditanggung sendiri.

“Jadi silakan pilih. Kalau memilih pilihan Allah, risikonya pada Allah. Jadi yang namanya kebebasan seperti itu. Di Indonesia harus seperti itu,” kata Rowi.
Karena manusia diberi kebebasan untuk memilih berarti pilihan selalu tersedia lebih dari satu, paling tidak dua. Dan memang, menurut Roem Rowi berdasarkan hasil ilmu Tafsir disimpulkan, ini tertuang dalam kitab Al-Qur’an, Allah membuat segala sesuatunya plural, majemuk, berjodoh-jodohan atau berpasang-pasangan.

Malahan, prinsip Tuhan membuat berpasang-pasangan sesungguhnya bukan hanya berlaku bagi kehidupan manusia. Tetapi juga bagi binatang dan mahluk lainnya. “Yang tunggal itu hanya Allah, yang esa hanya Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh memaksa. Kalau ada keinginan membentuk negara Islam di Indonesia, ini perlu dipelajari. Secara konstitusional bisakah kita mengajak rakyat,” urai Rowi.

Rowi menilai kebanyakan umat masih memposisikan ajaran agama sebagai ilmu, bukan perilaku. Padahal, semestinya, ajaran agama menyatu dengan ilmu. Sehingga hidup pun menjadi bisa dikendalikan oleh ajaran agama.

Banyak ilmuwan barat yang ahli tentang ke-Islam-an tetapi tidak beragama Islam. Di sini berbeda. Banyak orang yang mengaku orang Islam, tahu ajarannya, tahu hukumnya tetapi tujuannya untuk hidup berdampingan secara damai dan toleran dengan siapa saja tidak diwujudkan.

Moralitas
Sebagai pakar ilmu bidang Tafsir dan Ulumul Al-Qur’an paling terkemuka di Indonesia, Roem Rowi menyebut Al-Qur’an secara riil baru turun dan diterima Rasulullah 15 abad yang lalu. Tetapi nilai, hikmah, dan mutiaranya telah hadir jauh sebelum itu, yaitu bersamaan dengan kehadiran manusia pertama di planet bumi.
Roem Rowi mendasarkan alasannya, bahwa kehadiran Al-Qur’an semata-mata karena manusia, untuk manusia, dan hanya menggarap manusia. Manusia adalah segala-galanya bagi Al-Qur’an. Kehadiran Al-Qur’an  pasti akan berimplikasi global dan total.

Kemudian secara etimologi maupun terminologi, Al-Qur’an adalah himpunan dan capita selecta, himpunan hikmah dan mutiara kebenaran ajaran yang pernah diturunkan oleh Al Khalik kepada setiap Nabi dan Rasul.

Al-Qur’an diturunkan untuk menuntun dan membimbing umat manusia menuju suatu tujuan yang akan mampu mempertahankan harkat dan martabatnya yang teramat mulia lagi berkualitas, membahagiakan, mensejahterakan, serta menyelamatkan manusia dari hal-hal yang menyesatkan. Dengan Al-Qur’an setiap muslim mampu membuat dirinya lebih bernilai, daripada ribuan atau jutaan orang manusia lain asal siap mendapatkan sentuhan-sentuhan Al-Qur’an dalam segala aspek kehidupannya.

Penyelami Rahasia Al-Qur’an
Kendati sudah malang melintang sebagai ahli tafsir terkemuka, hingga dijuluki situs Tokoh Indonesia sebagai “Penyelami Rahasia Al-Qur’an”, Roem Rowi suatu ketika pernah seolah sedang diuji salah seorang mahasiswanya.

Dalam perkuliahan, mahasiswa itu menyatakan pendapatnya, bahwa Al-Qur’an sudah bukan lagi kitab suci, karena isinya tidak sistematis, dan di dalamnya banyak sekali pengulangan misalnya tentang Nabi Adam dan Iblis di surat Al Baqarah.

Roem Rowi mulanya menanggapinya dengan mengajukan pertanyaan enteng, “Apakah Anda sudah sarapan.” Si mahasiswa sempat tersentak kaget, tak mengira ditanya demikian dan bingung apa hubungannya antara sistematika Al-Qur’an dengan sarapan pagi, tapi dijawab saja oleh mahasiswa, “Sudah, Pak”. Rowi lalu melanjutkan, mengatakan, “Baiklah, mulai hari ini dan seterusnya jangan mengulang lagi sarapan Anda.” “Lho, kenapa, Pak,” tanya si mahasiswa.

“Anda kan tidak setuju dengan pengulangan Al-Qur’an,” kata Rowi. “Anda bilang Al-Qur’an itu tidak sistematis. Sistematis itu artinya mengikuti salah satu sistem. Kalau menurut Anda sistematik itu adalah bab satu, dua, tiga dan seterusnya, lalu kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka. Kalau sistematikanya Al-Qur’an harus begitu, berarti Anda meminta Allah SWT belajar sama Anda,” kata Roem Rowi yang pernah menitikkan air mata tatkala berada di dalam Ka’bah. Mahasiwa itupun tak lagi melanjutkan argumentasi.

Roem Rowi pernah memiliki kesempatan berada di Ka’bah secara unik sebab peristiwa sejenis ini teramat sangat langka bagi manusia biasa. Biasanya memasuki Ka’bah hanya bisa dilakukan oleh kepala negara, presiden dan tamu-tamu Kerajaan Saudi Arabia.

Pada suatu ketika Roem Rowi terpilih mewakili Asia Tenggara menjadi hakim MTQ Internasional di Mekkah, tahun 1993. Sebagai anggota Tim ia diberi kesempatan masuk ke Ka’bah. Ia tak menyangkanya sama sekali sebab tak pernah diumumkan sebelumnya.

Di dalam Ka’bah Rowi tak melihat apa-apa. Gelap, yang ada hanya barang-barang peninggalan Zaman Nabi Muhammad  SAW. Seperti pedang emas peninggalan zaman kerajaan Islam, dan tiang penyangga dari kayu yang usianya leboih dari 1.000 tahun, atau sejak era sahabat Nabi.

“Ketika berada di dalam Ka’bah perasaan saya biasa saja. Tetapi karena kesempatan itu di luar dugaan saya, tanpa terasa saya menangis,” kata Rowi. TI/HT (Berita Indonesia 23)


Biodata:
Nama :  Prof. Dr. HM Roem Rowi, MA
Lahir : Ponorogo, 3 Oktober 1947
Agama : Islam
Jabatan : Guru Besar IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Istri : Nurul Fatimah

Pendidikan:

  • S1 Universitas Islam Madinah (1971)
  • S2 Universitas Al-Azhar, Kairo (1973)
  • S3 Universitas Al-Azhar, Kairo (1989)

Karya Ilmiah:
1. M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya
2. Surat Yasin, Tafsir, Rahasia dan Hikmahnya
3. Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir Al-Azhar
4. Al-Qur’an, Manusia, dan Moralkitas
5. Spektrum Al-Qur’an
6. Sejarah Sosial Rukun Islam
7. Menafsir Ulum A-Qur’an
8. Ragam Tafsir Al-Qur’an
9. Beberapa Artikel dalam beberapa jurnal terakreditasi

Alamat:
Jalan Wisma PaGesangan VII/7 Surabaya, Jawa Tmur
Telp. (031) 829.0377


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com