Habibie memiliki gejolak batin yang sangat kuat untuk bisa berdamai dengan mantan mentor politiknya, Pak Harto. Media curhatnya adalah buku berisi catatan harian.
Banyak sebutan manis pernah disandangkan media massa kepada Bacharuddin Jusuf Habibie. Ia memang tipe manusia sangat langka yang dipuja dan dipuji sebagai idola karena kecerdasannya. Tetapi tak kurang banyak pula yang tak setuju kepadanya, termasuk Pak Harto.
Semua gelar terkait erat dengan kiprah “Rudy” Habibie, kelahiran Parepare 25 Juni 1936 yang malang-melintang di berbagai segi kehidupan. Ia adalah ahli konstruksi pesawat terbang, peraih gelar doktor Ingenieur dari Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat pada tahun 1965.
Sinar Harapan, misalnya. Sebelum dibredel, harian ini pernah menyebut Habibie sebagai “Lambang Abad ke-21”, terkait dengan beragamnya jabatan penting yang dipegang. Sebuah majalah terbitan AS, Christian Science Monitor bahkan menjuluki Habibie sebagai “Lambang Progresivitas Islam”. Walau mengaku orang rasional, menjalankan ibadat keagamaan tetaplah sangat penting bagi diri Habibie. Jauh sebelum ditunjuk menjadi Ketua Umum ICMI, bersama istri dokter Hasri Ainun Besari, kedua anak, Ilham serta Tareq pada tahun 1984 Habibie sudah menjalankan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.
Majalah Teknologi terbitan Jakarta, malah menyebut Habibie sebagai “Manusia Multidimensional”. Sebutan ini sangat disukai Habibie, terlebih munculnya tak lama setelah menerima medali penghargaan “Theodore van Karman”, sesuatu yang sangat bergengsi di lingkungan internasional tempat berhimpun para pakar konstruksi pesawat terbang.
Ya, Habibie memang dikenal pula sebagai “Mr Crack” karena kemumpunian dia menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Pada usia 21 tahun Habibie sudah meraih gelar insinyur mesin dan konstruksi pesawat terbang. Saat itu ia membuat skripsi mengenai aeronotika, dan lulus sebagai orang luar Jerman pertama setelah Perang Dunia II.
Habibie kemudian melanjutkan kuliah atas biaya sendiri hingga berhasil meraih gelar Diploma Ingenieur, Jurusan Konstruksi Pesawat Terbang di Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule, Aachen pada tahun 1960. Dari kampus yang sama, pada tahun 1965 Habibie meraih gelar doktor pada usia masih sangat muda, 29 tahun, dengan mengusung disertasi berjudul “Hypersonic Genetic Heatic Thermoelasticity in Hypersonic Spreed”.
Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, orang mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie. Habibie memegang banyak hak paten atas temuan di bidang konstruksi pesawat terbang, yang menjamin hidupnya rutin memperoleh uang royalti.
Pada disiplin ekonomi makro malah pernah dikenal sebutan Habibienomics, yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Habibie selalu penuh semangat. Jiwanya terus bergelora. Bersamaan itu batinnya bergejolak pula sebegitu rupa. Begitu meraih doktor, sejumlah jabatan penting dipercayakan perusahaan-perusahaan Jerman kepadanya. Seperti, menjadi asisten riset pada Technische Hocheschule A(TH) Aachen, Jerman. Di sini ia sempat menghasilkan desain kapal selam dalam (deep sea), gerbong kereta api, dan ruangan bersuhu dan bertekanan tinggi dari bagian reaktor atom untuk Atom Center Julich.
Ketika diangkat menjadi wakil presiden direktur Messerschimtt Bolkow-Blohm (MBB) Jerman, Habibie mendesain beberapa jenis pesawat terbang dan proyek-proyek satelit dan rudal.
Habibie akhirnya dipanggil pulang ke Indonesia, pertama-tama didudukkan sebagai penasihat Dirut Pertamina tahun 1974. Tak lama, hanya berselang empat tahun ia kemudian didudukkan sebagai pembantu presiden, menjabat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) merangkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Bersamaan itu Habibie mulai membangun sejumlah industri strategis, jumlahnya belasan, semua bergabung dalam BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis), sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai. Salah satu yang melegenda, sesungguhnya demikianlah adanya, adalah bagaimana Habibie membesarkan PT (Persero) Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, kini PT Dirgantara Indonesia atau DI).
Kendati sangat ditentang oleh sejumlah kalangan khususnya ekonom, karena disangka menghabiskan biaya besar, atau dianggap belum saatnya, Habibie terus saja melangkah melanjutkan empat fase evolusi teknologi yang dipercepat. Di IPTN Habibie mengusung filosofi dasar “bermula dari akhir dan berakhir dari awal”.
Secara strategis Habibie memilih bermain di produksi pesawat terbang ukuran kecil, berbaling-baling pula, tak ingin frontal dengan raksasa industri pesawat terbang seperti Airbus, Boeing, atau McDonnel sebab pasti akan kalah. Akan tetapi, kejelian mengambil pangsa pasar pesawat jenis commuter berjarak tempuh pendek hingga menengah, atau kelas regional, ini mengkhawatirkan industri pesawat terbang besar lain.
Lewat IMF dititipkanlah pesan untuk mengkerdilkan IPTN dengan cara menghentikan subsidi. Sampai-sampai ketentuan itu tertuang dalam LoI-IMF, saat Habibie justru sedang siap-siapnya mendesain jenis pesawat terbang baru bermesin jet berkapasitas 130 orang penumpang, disebut N-2130.
Bukan Habibie namanya kalau tak kontroversial. Kendati sejak kedatangan ke Indonesia ia disokong penuh oleh kaum teknolog, baik yang tergabung dalam Persatuan Insinyur Indonesia (PII) maupun Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI), Habibie pada akhirnya memilih terlibat dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan duduk sebagai Ketua.
Gerbong kedua yang disiapkannya adalah orang-orang sedaerah, hingga Habibie yang getol menggelorakan peningkatan sumberdaya manusia, atau SDM, sempat diplesetkan orang menjadi Semua Dari Makassar (SDM).
PII dan PATI adalah adalah dua organisasi profesi keteknikan yang memobilisasi para teknolog dan teknokrat untuk mendukung program-program Habibie menjadikan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan. Kedua organisasi ini menyediakan rumah yang teduh dan nyaman bagi Habibie untuk memaparkan ide-ide pembangunan nasional.
Akan tetapi sebagaimana ketika pindah ke lain hati, dengan bersedia duduk sebagai Ketua Umum ICMI, sejarah seolah berulang kembali tatkala Habibie “harus” meninggalkan mentor politiknya Pak Harto di tahun 1998. Peristiwanya singkat sekali, saat terjadi berbagai gejolak sosial politik di tanah air. Eskalasinya semakin meningkat saat Pak Harto mengadakan kunjungan kenegaraan ke Mesir.
Sebagaimana sudah ditulis oleh berbagai media massa, termasuk yang tertuang dalam buku Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, berisi catatan harian BJ Habibie saat menjadi Presiden ke-3 RI, Pak Harto sesungguhnya sudah mempunyai agenda yang baik untuk Habibie. Untuk menyelesaikan gejolak sosial politik yang sudah dimulai tahun 1997, yang mencapai puncaknya dalam kerusuhan massal 13-14 Mei 1998, Pak Harto merencanakan akan mengundurkan diri secara baik-baik dan mendudukkan Habibie sebagai pengganti.
Tetapi, sebelum mundur, Pak Harto masih akan memenuhi dulu tuntutan reformasi dengan membentuk kabinet baru, sebagai pengganti Kabinet Pembangunan VII. Semua sudah diagendakan dengan rapi. Kepada Habibie sudah diperintahkan untuk siap-siap menghadiri acara pelantikan anggota kabinet baru.
Rencana agenda ini lalu dibawa oleh Habibie ke rumah diperlihatkan ke sejumlah menteri. Tetapi, para menteri yang sedang menjabat, dan rencananya masih akan didudukkan lagi untuk menjabat, jumlahnya belasan orang, sepakat menandatangani pernyataan untuk tak bersedia lagi duduk dalam kabinet karena mereka sudah mempunyai agenda lain.
Pak Harto jelas tak suka. Dan karena yang memperlihatkan tanda tangan penolakan adalah Habibie, Pak Harto dengan segera mengubah rencana. Tanpa diberitahu sebelumnya kepada Habibie, Pak Harto tiba-tiba menyatakan pengunduran diri, dan meminta Ketua Mahkamah Agung untuk melantik Habibie sebagai presiden baru.
Kekesalan Pak Harto rupanya belum sampai di situ kepada Habibie. Sebab, MPR yang pada Maret 1997 mengangkat Soeharto menjadi Presiden, saat menggelar sidang istimewa salah satu ketetapannya adalah mengusut tindakan korupsi yang diduga dilakukan para pejabat, termasuk mantan Presiden Soeharto. Penyebutan nama dianggap Pak Harto sebagai sebuah keganjilan.
Keganjilan berikutnya kepada mantan didikannya ini adalah, Keputusan Presiden (Keppres) pertama yang ditandatangani Habibie selaku Presiden adalah, perintah pelaksanaan pemeriksaan dugaan korupsi terhadap mantan Presiden Soeharto.
Jadilah hingga kini, persahabatan secara pribadi, keluarga, bisnis, dan kenegaraan yang terjalin antara Pak Harto dengan Habibie selama puluhan tahun, putus di tengah jalan. Pak Harto seolah tak mau memaafkan Habibie dalam kesempatan silaturahmi berlebaran sekalipun.
Maka ketika Habibie meluncurkan catatan pribadi selama menjabat presiden, di situ sekaligus ia mencetuskan pula curahan hatinya kalau-kalau sangat ingin bertemu dengan Pak Harto. Habibie menyebut ia manusia biasa pula, yang selalu merasakan ada gejolak hati yang sangat kuat tatkala sedang berada di Jerman, atau di Jakarta, lalu mendengar Pak Harto jatuh sakit, mengalami pendarahan lambung, dioperasi, terbaring dirawat di rumah sakit, menikahkan cucu dan lain sebagainya tetapi tak pernah boleh dibesuk oleh Habibie.
Lewat bukunya yang baru berisi 70 persen catatan pribadi Habibie telah berpolemik dengan sejumlah orang, terutama mantan Pangkostrad Prabowo Subianto. Lewat bukunya muncul pula dugaan Habibie masih berkesempatan meraih kembali kursinya yang sempat hilang, pada Pemilu tahun 2009 nanti melalui gerbong sejumlah partai Islam, dan dengan memanfaatkan mesin politik utama ICMI dan SDM.
Habibie memang punya kans besar untuk meraih kembali kursi yang sempat hilang, hanya karena dahulu ia melepaskan sebuah kerikil kecil di sepatu yaitu provinsi Timor Timur. Demokratisasi adalah desain besar yang berhasil diletakkan Habibie di usia singkat kepemimpinannya.
Tetapi dapat bersua kembali dengan Pak Harto. Sebab menurut orang-orang dekatnya, Habibie bukanlah seorang brutus sebagaimana dituduhkan sejumlah orang. HT (Berita Indonesia 23)
Bioadata:
Nama : Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir : Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936
Agama : Islam
Jabatan : Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center
Ayah : Alwi Abdul Jalil Habibie,
Ibu : R.A. Tuti Marini Puspowardoyo
Istri : dr. Hasri Ainun Habibie
Menikah : 12 Mei 1962
Anak : 1. Ilham Akbar, 2. Thareq Kemal. Cucu : Empat orang
Pendidikan :
8 SMA, Bandung (1954)
8 Mendapat gelar ‘Diploma Ingenieur jurusan Konstruksi Pesawat Terbang Rheinisch-Westfaelische Technische, Aachen, Jerman Barat (1960)
8 Doktor Ingenieur dari Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat (1965)
Karya Tulis:
- Plastizitats-Reduktionsfaktor bei Stabilitutsproblemen, Hamburger, 1967
- Einfuhrun in die Finite Elementen Methode Ausgabe, Vortrage, 1968.
Alamat Rumah:
Jalan Patra Kuningan XIII No. 1 Jakarta Selatan
| < Prev | Next > |
|---|


