Majalah Berita Indonesia

Tuesday, Sep 07th

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Terdepan Puasa dan Transformasi Diri

Puasa dan Transformasi Diri

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Keikhlasan dan kekhusyukan bisa membawa kita pada transformasi diri yang berkelanjutan dan menjadikan kita pribadi yang bertakwaDalam konteks keindonesiaan, transformasi diri dan sinkronisasi antara kehidupan agama dan perilaku sehari-hari sudah menjadi suatu keharusan.

Coba Anda jejakkan kaki ke mal-mal mewah di Jakarta selama bulan puasa ini. Apa yang Anda lihat dan rasakan? Coba Anda luangkan waktu sejenak mengamati suasana perkantoran dan angkutan kota yang berlalu lalang tiada henti? Apa yang berubah dari hari-hari sebelumnya? Alangkah indahnya, bila manusia-manusia baik kaya atau miskin yang kita temui di jalan, lorong gang dan perkantoran mengambil sikap hati merendah, berserah, jauh dari kesombongan dan maksud jahat.

Berbagai renungan di bulan Ramadan berseliweran setiap jam. Dai-dai kondang membawakan dakwah-dakwah segar di hadapan pemirsa. Satu tema yang menonjol adalah ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus. Kita juga dituntut mampu mengendalikan diri sehingga ketika bulan puasa berakhir, kita mengalami proses pencerahan pikir dan pencahayaan hati dalam wujud self-restrain (pengendalian diri) dalam menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup sehari-hari. Sebuah transformasi diri yang menjadi momentum untuk transformasi yang berkelanjutan. Sensitif terhadap penderitaan sesama, cinta damai dan toleran, tidak korup, tidak berbuat kejahatan, dan memiliki etos untuk selalu berorientasi pada perbaikan.

Tampaknya mudah dan ‘indah’ bila menjalankan ibadah dalam suasana yang serba berkecukupan. Namun, ujian sebenarnya, dalam agama apapun, justru ketika kita tetap bertakwa dan beribadah kepada-Nya kala kita didera musibah dan kesulitan hidup. Harian Kompas dengan cermat menelusuri bagaimana kehidupan saudara-saudara kita di Padang dan Bengkulu menjalankan ibadah puasa mereka. Gempa dahsyat berskala 7,9 SR yang mengguncang tanah Bengkulu, Rabu (12/9), memorak-porandakan “ritual” tahunan makan sahur bersama, yang memang sudah menjadi tradisi bagi banyak keluarga. Salah satunya keluarga Bapak Syamsul Bachri (65). Wajah ayah empat anak dan kakek dua cucu ini kelihatan lelah dan pucat. “Mari, kita sahur sama-sama, Pak…! Tapi, yang ada cuma ini. Mi instan yang kuahnya sudah kering dan nasi putih yang sudah dingin. Sekadar memenuhi sunah bersahur, jadi tak perlu kenyang,” kata Syamsul sembari menyodorkan piring kosong kepada Kompas, Kamis (13/9) dini hari, sekitar pukul 03.15.

Selain Syamsul, ribuan warga Kota Bengkulu terpaksa melewati sahur pertama di tempat yang sebelumnya tidak mereka bayangkan. Lihatlah apa yang dialami Sayuti (42), Lurah Anggut Atas, Kota Bengkulu, yang makan sahur di trotoar bersama 60-an warga lain. Nasib paling tragis justru dialami Mawi (45), seorang petani yang tinggal di RT VII Kuala Lempuing. Ayah dua anak ini tidak saja sahur di pengungsian, tetapi juga harus rela kehilangan anaknya, Febrianto (16), yang tewas tertimpa dinding kamar mandi.

Suasana yang kontras berbeda bisa kita lihat di kalangan elit (elite) di Jakarta. Acara buka puasa bersama berlangsung ‘meriah’ dan ‘ramai’. Berbagai tempat makan di sudut-sudut kota Jakarta berlomba-lomba menawarkan paket berbuka yang lengkap namun ‘hemat’. Mal dan pusat perbelanjaan dihiasi dengan sempurna sehingga suasana bulan Ramadan semakin kental. Operator-operator seluler berlomba-lomba menangkap peluang bisnis dengan menjadi sponsor dalam berbagai acara. Mereka ‘mengklaim’ sudah menambah kapasitas bandwidth dan jaringan layanan pesan singkat (sms) hingga 300 persen untuk menjamin kualitas pelayanan kepada para pelanggannya. Tidak ketinggalan pula semarak acara buka bersama di kalangan DPR dan DPD. Sederetan mobil-mobil dinas dan mobil mewah berdatangan di acara buka puasa bersama DPD yang dilakukan di rumah dinas Ketua DPD Ginadjar Kartasasmita di Gang Widya Chandra V dan buka puasa bersama DPR, yang dilakukan di rumah dinas Ketua DPR Agung Laksono di Gang Widya Chandra III.

Kita tidak ingin mengulas panjang lebar kata-kata bijak yang diulang kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Rumah Sehat, di Kompleks Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta (14/9). Ia menghimbau agar momentum bulan suci dipakai untuk meraih pahala yang sebanyak-banyaknya sehingga diharapkan antara si kaya dan si miskin tidak ada lagi jurang pemisah. Namun kenyataannya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin dalam.

Himbauan yang paling penting dan patut menjadi bahan renungan adalah, mengapa bulan puasa ini tidak dijadikan momentum untuk mensinkronkan kehidupan rohani dengan perilaku sehari-hari dari bangsa ini? Internalisasi nilai-nilai puasa mestinya mampu menjauhkan diri dari praktik-praktik mengumpulkan harta benda dengan cara yang tidak halal. Membuka mata hati (rohani) kita sehingga tidak ‘betah’ hidup dalam area abu-abu. Sebab, tujuan puasa sejatinya agar akhlak dan perbuatan bertambah mulia. Tidak hanya secara vertikal dalam kaitannya dengan Sang Pencipta, tapi juga secara horizontal dalam hubungan antarmanusia.

Dalam konteks keindonesiaan, transformasi diri dan sinkronisasi antara kehidupan agama dan perilaku sehari-hari sudah menjadi suatu keharusan. Krisis yang membuat bangsa ini terpuruk dan tertinggal dari bangsa-bangsa lain tidak lepas dari lemahnya penghayatan dan penerapan ketakwaan itu dalam perilaku sehari-hari. Kemiskinan dan nestapa terjadi di hampir seluruh pelosok negeri. Namun, korupsi, kolusi, dan konspirasi dilakukan tanpa peduli.

Oleh sebab itu, bila ibadah puasa itu berlalu begitu saja tanpa adanya transformasi diri, manusia-manusia Indonesia akan selalu ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Bangsa ini akan selamanya dikenal sebagai bangsa dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia dan selalu dipandang remeh oleh bangsa lain. Satu pertanyaan besar akan selalu mengemuka di benak orang yang beragama apalagi yang tidak beragama, “Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang religius dicap (akrab) dengan image negatif seperti korupsi, kolusi, teroris dan kaya tapi miskin? Karena itu, mari tanamkan dalam tekad kita, semoga puasa yang kita jalankan sepenuh keikhlasan dan kekhusyukan bisa membawa kita pada transformasi diri yang berkelanjutan dan menjadikan kita pribadi yang bertakwa baik dalam kehidupan agama maupun dalam perilaku sehari-hari. MLP (BI 47)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_41.jpg
Peristiwa Pasuruan telah mencuatkan kekhawatiran ke mana arah reformasi TNI. Pemberitaan meda massa Indonesia bahkan luar negeri sejak
visi_40.jpg
Korupsi di Indonesia sudah dianggap ‘membudaya’ dan semakin sistemik, berlangsung mulai dari tingkat tertinggi pemerintahan hingga

Visi Berita

visi_1_31.jpg
Padi bagi masyarakat pedesaan sangat identik dengan kecukupan atau kemiskinan. Sebab kepemilikan padi menjadi ukuran
visi_40.jpg
Dalam itu, seperti pemandangan umum Jakarta selama puluhan tahun, masyarakat terus dijejali dengan hingar bingar

Lentera

lentera_6_13.jpg
Di Indonesia kini tumbuh “peradaban” lama dalam kemasan baru: The end justifies the means. Dulu “peradaban” itu
lentera_7_70.jpg
Syaykh Al-Zaytun menegaskan, Bangsa Indonesia, dari seluruh lapisan generasi, mesti kembali kepada nilai-nilai
Share/Save/Bookmark