Majalah Berita Indonesia

Thursday, Sep 02nd

Last update06:39:43 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Terdepan KH Abdurrahman Wahid: Warisan Perjuangannya Tetap Abadi

KH Abdurrahman Wahid: Warisan Perjuangannya Tetap Abadi

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 

KH Abdurrahman Wahid (1940-2009) pergi dan meninggalkan kita dengan warisan yang abadi.Gus Dur sudah pergi dan meninggalkan kita warisan yang abadi. Ia akan dikenang sebagai sosok yang memiliki semangat, konsistensi, keteguhan, dan keberanian dalam menegakkan kebebasan dan keadilan bagi seluruh anak bangsa tanpa memperhatikan ras, suku, agama dan afiliasi politik. Sudah sepantasnya pula lah ia digelari Pahlawan Nasional.

Di penghujung tahun 2009 yang lalu, Indonesia kehilangan lagi salah satu putra terbaiknya, KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ke-4 yang dipandang sebagai sosok guru bangsa. Ia meninggal pada pukul 18:45, 30 Desember 2009 di RSCM Jakarta setelah enam hari berjuang melawan penyakit komplikasi dalam tubuhnya. Ia kemudian dikebumikan di tanah kelahirannya Jombang, Jawa Timur. Ia meninggalkan istri tercinta Shinta Nuriyah dan empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah.

Selama masa hidupnya, Gus Dur dikenal sangat menghargai pluralisme, yang tidak pernah membedakan agama dan suku di bangsa ini. Ketika ia menjabat orang nomor satu di negeri ini (1999-2001), keberaniannya untuk melindungi kaum minoritas sangat terasa dan membekas di hati masyarakat Indonesia, terlebih kaum Tionghoa. Walau sebentar memerintah negeri ini, berkat Gus Dur lah Tahun Baru Imlek masuk sebagai hari libur nasional. Tak hanya itu, ia juga menetapkan agama Konghucu sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia yang sebelumnya merasa terkungkung di dalam menjalankan ibadahnya. Ia juga mengijinkan tampilnya kebudayaan Tiongkok tampil ke publik, seperti tarian Barongsai dan sebagainya.

Tak hanya itu, umat Nasrani juga merasa dekat dengan kiai ini. Ketika ia menjadi orang nomor satu di negeri ini, dalam perayaan Natal misalnya, ia memerintahkan Banser yang mayoritas beragama muslim untuk menjaga keamanan di malam Natal. Dan hal itu masih terus berlangsung hingga saat ini. Sebagai seorang Nahdliyin, Gus Dur tidak segan-segan untuk memasuki gereja yang merupakan tempat peribadatan umat Kristiani, sebab baginya dakwah dapat dilakukan di mana saja.

Sejatinya, pria kelahiran 4 Agustus 1940 ini dapat mengayomi rakyat dari berbagai lapisan masyarakat dan membuat nyaman bagi semua umat. Sehingga layaklah ia disebut sebagai bapak demokrasi. Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Rahmat MS kepada Indopos menggambarkan sosok kelahiran Jombang 69 tahun silam ini sebagai sosok yang memelopori antidiskriminasi. Ia mengatakan kelahiran PSMTI sendiri tidak lepas dari jasa Gus Dur. “Gus Dur betul-betul bapak demokrasi dan tokoh nasional yang pantas dijadikan pahlawan nasional,” katanya.

Gus Dur berani membela kepentingan orang lain yang ia yakini benar. Walau kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melakukan mobilitas yang tinggi, Gus Dur hingga akhir hayatnya tetap memperjuangkan nilai-nilai demokrasi yang dianutnya. Ketika pihak kepolisian menahan anggota KPK Bibit dan Chandra, ia merelakan dirinya sebagai jaminan untuk pembebasan mereka. Dan ia juga masih menyempatkan diri datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan, ketika ada salah satu gereja yang izinnya dicabut. Oleh sebab itulah, Ketua PGI Pendeta AA Yewangoe menganggap sosok Gus Dur sebagai tokoh bangsa yang tidak tergantikan yang sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Bangsa Indonesia merasa sangat kehilangan. Sebab Gus Dur telah mentransformasikan dirinya, sebagai warga NU ia sangat dekat dengan segala lapisan masyarakat. Pemikirannya yang humanis telah melintasi agama, etnis teritorial. Pemikiran-pemikirannya sarat dengan pengembangan kemajemukan dan penguatan demokrasi. Tak berlebihan jika kalangan minoritas menyebutnya sebagai tokoh perdamaian dan pahlawan minoritas.

Todung Mulya Lubis seperti dilansir oleh Kompas menuliskan,” Kita kehilangan sosok negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama, dan berbangsa. Gus Dur adalah pilar pluralisme dan benteng bangsa melawan fundamentalisme. Gus Dur adalah seorang demokrat sejati yang menghormati lawan politiknya.”
Menurut Masdar Mas’udi Ketua PBNU, sebagai ulama, Gus Dur sangat lengkap, multidimensi dan kemampuan yang dimilikinya jauh di atas rata-rata. Tapi Gus Dur juga orang yang mudah disalahpahami, karena banyak hal yang mungkin memang dia pada satu pihak terbuka, tapi dalam hal tertentu banyak hal yang dia ucapkan, tapi tidak bisa dipahami secara harfiah. Sehingga banyak orang yang salah paham. Bahkan orang dekatnya sekalipun tidak sepenuhnya dapat melakukan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia lakukan.

Sosok Gus Dur yang telah menjadi ikon NU dan menguasai berbagai hal ini baik di bidang politik, sosial, budaya, dan agama, terbilang sulit mencari penandingnya. Meski demikian, semangatnya untuk menegakkan keadilan tidak akan berhenti. Kita berharap akan ada lagi Gus Dur-Gus Dur baru yang siap mengawal pluralisme dan demokrasi di Indonesia, serta berani menjadi bemper bagi siapa saja termasuk kaum minoritas. HS,NIR (Berita Indonesia 73)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_14_75.jpg
Dipecat (dikorbankan) walau merasa bukan dia yang salah, dalam kasus kriminalisasi pimpinan KPK dan Bank Century, Komjen Pol. Drs. Susno
utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.

Visi Berita

visi_43.jpg
Separatisme, keinginan untuk memisahkan diri (bercerai) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih menjadi
visi_62.jpg
Dunia sangat terkesima dengan kemenangan Barack Obama yang terpilih menjadi presiden ke-44 AS dan akan dilantik 20

Lentera

lentera_6_73.jpg
Syaykh Al-Zaytun mengatakan, bahwa untuk memahami ajaran agama, akal budi harus diasah. Dan untuk memahami makna firman
lentera_8_61.jpg
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang menegaskan bahwa nilai-nilai dasar negara Indonesia (Pancasila), sepenuhnya
Share/Save/Bookmark