Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Terdepan Habibie Mengusik Macan Tidur

Habibie Mengusik Macan Tidur

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 

Buku yang disadur B.J. Habibie dari catatan hariannya ketika menjabat presiden, bikin heboh. Muncul polemik dan kontroversi. Tetapi buku itu laris terjual. Buku yang disadur B.J. Habibie dari catatan hariannya ketika menjabat presiden, bikin hebohMasa’ bodo,” kata mantan Presiden Prof. Bacharuddin Jusuf Habibie mengulas kembali dialog panasnya dengan Letjen (Pur) Prabowo Subianto semasa menjabat Pangkostrad. Mimiknya yang lucu dan kerdip bola matanya bagai dakocan, menawan para audien, membuat mereka tertawa hampir sepanjang program Kick Andy di tayangan Metro TV, pekan lalu. Buku yang diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris itu habis di pasaran tidak lama setelah diluncurkan (21/9).

Di dalam buku setebal 549 halaman, berjudul Detik-detik Menentukan: Perjalanan Panjang Menuju Demokrasi, Habibie mengurai kembali dialognya dalam bahasa Inggris dengan Prabowo di Wisma Negara, Jum’at petang (22/5-98). “Ini penghinaan. Anda memecat saya sebagai Panglima Kostrad?” tanya Prabowo.

Jawab Habibie: “Bukan dipecat, tetapi diganti.” Lanjut Prabowo: “Mengapa? Saya justru ingin mengamankan presiden.” Habibie menukas: “Itu tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggungjawab kepada Panglima ABRI, bukan tugasmu…”

“Presiden macam apa Anda ini?” lanjut Prabowo. “Masa’ bodo,” tukas Habibie dalam logat Betawi. Prabowo masih penasaran, mengatakan dengan nada agak tinggi: “Atas nama ayah dan mertua, saya hanya minta waktu tiga bulan untuk tetap memimpin Kostrad.” “Tidak. Sebelum matahari terbenam nanti, semua pasukan Kostrad sudah harus diserahkan kepada panglima baru,” tegas Habibie waktu itu.
Kata Habibie, pembicaraan mereka terhenti ketika staf khususnya, Letjen (Pur) Sintong Panjaitan menerobos masuk, sembari menukas: “Jenderal, Bapak Presiden sudah tidak punya waktu lagi, harap tinggalkan ruangan….”

Habibie tampil di layar Metro TV tanpa beban, berkumis tipis disemir hitam, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan kopiah hitam yang dipasang agak miring. Pada usia 70 tahun, pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan ini, tampak masih segar dan fit. Habibie mengungkapkan bahwa Prabowo membawa surat Jenderal Besar (mendiang) A.H. Nasution. Surat itu meminta Habibie mengangkat Pangab Jenderal Wiranto untuk mengisi posisi wakil presiden yang kosong, Jenderal Subagyo HS sebagai Pangab ABRI dan Prabowo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Prabowo menemui Habibie tidak lama setelah menerima surat mutasi. Habibie menyetujui penarikan Prabowo dari jabatan Pangkostrad hanya sehari setelah dilantik sebagai presiden menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri (21/5-98). Alasan Habibie mengganti Prabowo karena mendapat laporan dari Pangab Jenderal Wiranto tentang adanya gerakan pasukan Kostrad di lingkungan Istana yang dicurigainya sebagai upaya kudeta.

Penulis saat itu—senja hari Jum’at—menyaksikan penarikan anggota pasukan Kostrad dan Kopassus yang ditempatkan berhari-hari di lantai bawah tanah (basement) tiga gedung Sekretariat Negara, dipindahkan ke puluhan truk yang diparkir di pinggir jalan di depan kompleks Setneg. Saat itu keluar perintah: “Orang-orang tidak dikenal yang memasuki lingkungan istana dengan gerakan yang mencurigakan akan ditembak di tempat.”

Prabowo, dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia (28/9), menyangkal merencanakan kudeta seperti yang diungkap Habbie di dalam bukunya. Tetapi dia membenarkan membawa surat Nasution. “Wajar kalau ada posisi yang kosong itu diisi,” kata Prabowo. Prabowo seakan menyesali pertemuan selama 10 jam dengan Habibie di Jerman, karena pertemuan itu menjadi tak berarti dengan munculnya buku tersebut. Jum’at malam, Prabowo menyerahkan jabatannya kepada Letjen Johny Lumintang, Asisten Operasi Panglima ABRI. Lantas esok paginya, pelantikan Mayjen Djamari Chaniago, eks Panglima Kodam Siliwangi, menjadi Panglima Kostrad. Komentar Prabowo, yang lazim dilakukan di jajaran TNI, serah terima jabatan membutuhkan waktu untuk menyusun laporan pelaksanaan tugas.

Sangkalan Prabowo dibenarkan oleh Letjen (Pur) Syafrie Syamsuddin yang saat itu menjabat Panglima V Jaya. Kata Syafrie, kalau Prabowo melakukan kudeta, “saya yang akan menembak dia.” Syafrie lebih percaya bahwa penggantian Prabowo karena alasan politik, sebab posisinya sebagai menantu Pak Harto akan menyulitkan Habibie bilamana dia menjabat pos strategis di TNI. Alasan ini memang lebih masuk.

Buku yang kata Habibie ditulis berdasarkan catatan hariannya, mengulas banyak hal semasa pemerintahannya. Wajahnya berubah sedih ketika ditanya soal hubungannya yang tidak harmonis lagi Pak Harto menyusul pergantian kekuasaan tersebut. Habibie menjawab pertanyaan Andy F. Noya, pemandu acara tersebut, mengatakan dia merasa sangat terhina karena dicuekin oleh mentornya, Pak Harto. Kata Habibie, dia mengejar Pak Harto dari Istana ke Jalan Cendana, dan permintaannya untuk bertemu ditolak oleh Pak Harto. Padahal Habibie sudah melakukan berbagai cara untuk memperbaiki hubungannya dengan bapak angkatnya tersebut.

Soal renggangnya hubungan mereka yang telah terjalin selama 56 tahun, kata Habibie, yang tahu pasti Pak Harto. Habibie yang selalu berusaha menemuinya hanya mendapat jawaban: “Sudahlah itu merugikan.”

Pak Harto, pada suatu kesempatan bertemu (tahun 2000), menjawab pertanyaan penulis tentang hubungannya dengan Pak Habibie, mengatakan: “Saya sama sekali tidak menyangka, seseorang yang sangat dekat dengan saya, tega menghianati saya.”

Seteru antara Habibie dan Prabowo muncul kembali ke permukaan setelah peluncuran buku tersebut. Prabowo mengancam Habibie: “Bila Pak Habibie tidak mau meralat, saya akan tulis buku dengan versi saya dan biar masyarakat yang menilai mana yang benar, mana yang ngawur.” Sebaliknya, Habibie menegaskan: “Saya sudah jawab semua. Jadi saya tidak menganggap perlu diadakan pertemuan. Saya kan nggak ada masalah dengan Prabowo.”

Tetapi semua yang ditulis Habibie di dalam bukunya menjadi catatan sejarah buat generasi sekarang dan yang akan datang. SH (Berita Indonesia 23)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_21.jpg
Di pertengahan jalan pemerintahan SBY-JK, Golkar mengembangkan wacana untuk menilai kembali dukungannya. Banyak alasan kenapa Golkar
utama_1_43.jpg
Tiga rentetan peristiwa politik terbaru yang terjadi di Ambon, Papua, dan Aceh, sangat mustahil untuk tidak dimaknai sebagai upaya

Visi Berita

visi_1_66.jpg
Di tengah suasana relatif damai saat penyelenggaraan Pemilu Legislatif 9 April 2009 lalu,rupanya terjadi kemunduran
visi_29.jpg
Menunggu arus balik investasi asing, ibarat pameo petani yang mengharapkan jatuhnya hujan di musim panas.

Lentera

lentera_11_62.jpg
Keberhasilan tim ASSA tidak hanya milik para pesepeda namun juga milik tim-tim pendukung yang perannya sangat
lentera_5_17.jpg
Bangsa yang arif akan memilih jalan perbaikan pendidikan secara mutlak bagi bangsanya. Sebab bangsa yang terdidik pasti
Share/Save/Bookmark