Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Terdepan Foke Melenggang Adang Dikeroyok
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Foke Melenggang Adang Dikeroyok

E-mail Print PDF

Sudah hampir bisa dipastikan, Pilkada Jakarta akan berlangsung sengit, karena hanya dua Cagub bertarung untuk memperebutkan kursi Gubernur DKISudah hampir bisa dipastikan, Pilkada Jakarta akan berlangsung sengit, karena hanya dua Cagub bertarung untuk memperebutkan kursi Gubernur DKI. Kemungkinan munculnya Cagub alternatif dari koalisi PAN, PKB dan PBR, menipis.

Perahu Koalisi Jakarta (KJ) mengantar Fauzi Bowo, wakil gubernur DKI Jakarta, ke seberang. Foke, panggilan akrab Fauzi, menyapu bersih partai besar dan kecil yang berdomisili di Ibukota, kecuali PKS (18 kursi), PAN (7 kursi), PKB (4 kursi) dan PBR (1 kursi). Lima besar Parpol DKI—PD (16 kursi), PDIP (11 kursi), PPP (7 kursi), Golkar (7 kursi) dan PDS (4 kursi)—berkoalisi menghadang Cagub PKS, Adang Daradjatun, pensiunan Komisaris Besar Polisi, mantan Wakil Kepala Polri.

Foke seolah terbang di atas awan, memandang ke bawah dengan dada membusung. Sebab dukungan luar biasa tersebut mengantar dirinya hanya setapak lagi menuju kursi gubernur yang diincarnya sejak muculnya paradigma “putera daerah (Betawi)” untuk memimpin Jakarta. Cucu pahlawan Betawi, Muhammad Husni Thamrin, ini tak pelak lagi tinggal menghitung hari.

Dukungan tumpah ruah ke Foke, kata sebuah sumber, lantaran Pilkada kabupaten Bekasi dimenangkan oleh pasangan Cabup dan Cawabub yang diusung PKS. Sedangkan Kota Depok sudah lebih awal dipimpin oleh walikota PKS. Inilah yang membuat PDIP dan Partai Demokrat secara mendadak mengubah haluan yang tadinya bertolak belakang—merapat sama-sama mendukung Foke. Sedangkan Golkar, PPP dan PDS sudah lebih awal membidik Foke.

Andaikan semua pendukung 15 Parpol itu memilih Foke, maka dia tinggal melenggang saja ke kursi gubernur. Tetapi ini kan politik, “siapa menyangka bola itu lonjong.” Jadwal Pilkada DKI Jakarta: pendaftaran calon, Mei, kampanye Juli, pencobloson 8 Agustus, pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Oktober.

Seorang pemuka masyarakat Betawi yang tak mau disebut namanya, mengatakan bahwa pada masyarakat Betawi, Foke tidak berakar. Tokoh Betawi yang sudah teruji, katanya, hanyalah Dr. Bem Benyamin, putera mendiang artis serba bisa, Benyamin Suaeb, dari isteri pertama. Bem memenangkan perebutan kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk daerah pemilihan DKI Jakarta. Dia bahkan mengisyarakatkan situasi kacau (chaos) bisa meledak bilamana aspirasi masyarakat Betawi memasang Bem sebagai Cawagub—diabaikan oleh Cagub yang ada. Masyarakat Betawi diperkirakan mewakili 30% warga Jakarta yang berasal dari berbagai suku dan ras.

Sedangkan Adang yang didukung PKS juga punya keunggulan tersendiri. Pensiunan perwira tinggi Polri ini, didukung oleh partai yang sekitar 2,8 juta anggotanya sangat patuh pada perintah yang datang dari atas. Untuk menggelar “kampanye dari pintu ke pintu” PKS sudah mendidik dan menyiapkan 20.000 kader yang sangat patuh pada perintah partai.

Boleh juga Adang mengharapkan dukungan dari keluarga besar dan pensiunan Polri. Adang adalah pria Sunda kelahiran Bogor, 13 Mei 1949. Dia diboyong ke Jakarta oleh ayahnya yang berprofesi jaksa, ketika berusia 6 bulan. Bagi warga Sunda dan keluarga besar Polri di Jakarta, mendudukkan Adang di kursi gubernur merupakan sebuah kebanggaan.

Juga, Adang dan PKS bisa saja menerima bola muntah dari PAN, PKB dan PBR bilamana mereka ini gagal mengusung Agum Gumelar atau Sarwono Kusumaatmadja yang terjungkal dari Cagub PD dan PDIP. Pemuka Betawi itu mengatakan Adang bisa memetik buah kemenangan bilamana menggandeng Bem.

Faisal Basri yang terpental dari pencalonan gubernur, mengatakan posisi Adang dan PKS yang dikeroyok, justru berpotensi mengundang simpati warga. Itu jika melihat sejarah Megawati dan Presiden Susilo. “Saya melihat posisi Adang di sini teraniaya,” kata Faisal seperti dikutip harian Indo Pos. Prediksi ini sudah disampaikan Faisal kepada Megawati sehari sebelum PDIP mengumumkan dukungannya kepada Foke.

Kubu Adang terus menggelar berbagai usaha untuk memenangkan hati warga ibukota. Sebagai Ketua Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI), dia menggelar donor darah sukarela di PT Krakatau Steel. PDDI punya target 4 juta pendonor dan sekarang baru mengumpulkan 1,2 juta pendonor.

Pansus DPR berjanji, RUU DKI Jakarta dianggap jadi acuan penting dalam penyelenggaraan Pilkada DKI, diundangkan sebelum Pilkada, 8 Agustus. Ketua Pansus RUU DKI Effendy Simbolon mengatakan pelaksanaan Pilkada DKI harus menunggu selesainya RUU tersebut. Pasal penting berkaitan dengan Pilkada: Cagub-Cawagub terpilih harus memperoleh suara minimum 50% plus satu agar menjadi Gubernur-Wakil Gubernur DKI.

Ade Supriyatna, Ketua Golkar wilayah DKI mengatakan tidak ada larangan bagi PAN untuk menarik dukungan. Sebagai penggagas, Golkar menyadari rontoknya koalisi tersebut. Sekarang pun keempat partai besar pendukung Foke berebut untuk mengajukan Cawagub pilihan mereka. Golkar mengajukan nama Mayjen TNI (Pur) Djasri Marin sebagai Cawagub. Djasri belum tentu diterima oleh PPP, PD dan PDIP. PD sudah menjaring para Cawagub; Prabowo Soemirman, Biem Benyamin, Rano Karno, Djasri Marin dan Ferrial Sofyan. Sedangkan PDIP cenderung mengajukan Puan Maharani, puteri pasangan Megawati-Taufik Kiemas. Sedangkan PPP menunggu hasil Musyawarah Kerja Wilayah.

Kalangan akademisi menilai dukungan KJ yang mengarus ke Foke sebagai langkah mundur di dalam berdemokrasi. Parpol lebih mengutamakan tujuan jangka pendek dengan menetapkan strategi “sewa perahu.” Namun Foke boleh saja bermimpi bahwa dengan dukungan lima partai besar—PD, PDIP, PPP, Golkar dan PDS—dia bisa meraih lebih dari 60% suara warga DKI. Tetapi dengan catatan: kelima Parpol tersebut mampu mendikte para pendukung mereka untuk memilih Foke.

Namun Direktur Pilkada FISIP Universitas Indonesia, Lili Romli meragukan kemampuan Foke untuk meraih kepercayaan warga Jakarta. Soalnya, KJ dianggapnya hanya strategi sewa menyewa “perahu” untuk menyebrang ke arena Pilkada. SH (Berita Indonesia 34)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com