Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Terdepan Banjir Ujian Akhir Sutiyoso
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Banjir Ujian Akhir Sutiyoso

E-mail Print PDF

Gubernur Sutiyoso berpacu dengan waktu. Banyak pekerjaan rumah yang ia tinggalkan untuk penggantinya. Banjir Kanal Timur dan jaringan transportasi masih seperempat jalan. Sampah, penyakit diare dan DBD, mencoreng kening calon kota megapolitan JakartaGubernur Sutiyoso berpacu dengan waktu. Banyak pekerjaan rumah yang ia tinggalkan untuk penggantinya. Banjir Kanal Timur dan jaringan transportasi masih seperempat jalan. Sampah, penyakit diare dan DBD, mencoreng kening calon kota megapolitan Jakarta.

Ibarat musim panas setahun yang disiram hujan sehari, begitulah peribahasa yang berlaku untuk Sutiyoso. Banjir dahsyat yang melanda hampir 60 persen wilayah Jakarta, awal Februari, seakan menghapus semua jerih payah dan karir yang dibangunnya selama 10 tahun. Sutiyoso, mungkin, tak menyangka, banjir akan menghapus jejak suksesnya yang dijadikan modal untuk melangkah lebih jauh dalam karir politiknya. Padahal masa jabatannya akan berakhir dalam hitungan bulan.

Banjir telah membawa “malapetaka”, bukan hanya untuk karir politik Sutiyoso, tetapi juga buat sebagian besar warga Jakarta. Banjir merusak puluhan ribu rumah, gedung sekolah, toko dan fasilitas umum. Ratusan ribu warga jatuh miskin, sebagian masih merana di tenda-tenda pengungsian.

Banjir juga menyisakan lumpur, air kotor dan sampah yang masih berserakan di banyak tempat. Bagi warga miskin, banjir telah mengundang berbagai penyakit, seperti leptospirosis, demam berdarah dengue dan diare. Dua jenis penyakit terakhir menyerang ribuan warga, terutama anak-anak, sehingga rumah sakit umum daerah - Budhi Asih, Tarakan dan Koja - dibanjiri pasien. Ribuan pasien memenuhi kamar dan lorong RSUD.

Merespon kedua penyakit ini, Sutiyoso bereaksi cepat dan tangkas menyatakannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). Konsekuensinya, seluruh proses pengobatannya dilakukan secara cuma-cuma. Artinya, para pasien dibebaskan dari biaya-biaya UGD, tes darah, obat, pelayanan dokter, perawat dan kamar. Sebab semuanya dikompensasi oleh pemerintah DKI Jakarta lewat APBD.

Namun aparat RSUD BA memungut biaya pada keluarga pasien DBD. Padahal menurut ketentuan, bilamana hasil tes darah pasien positif DBD, ia seharusnya dibebaskan dari semua biaya. Pasien yang masuk ke RSUD BA Kamis (15/2), harus membayar biaya pendaftaran, UGD dan tes darah. Pada hari berikutnya, orangtuanya harus membeli cairan infus dan obat serta membayar ongkos tes darah dua kali sehari. Hari kelima (Senin, 19/2), pasien tersebut diperbolehkan pulang. Orang tuanya harus membayar biaya perawatan dan biaya-biaya lainnya, meskipun diberi sedikit keringanan. Mungkin pembayaran seperti ini juga dikenakan kepada pasien-pasien lainnya. Pascabanjir awal Februari, RSUD BA menampung ribuan pasien DBD dan diare.

Penyakit pasca banjir masih mengganas. RSUD Tarakan, Jakarta Barat, sampai 18 Februari, merawat 400 pasien diare, kebanyakan bayi. Sampai 21 Februari, para pasien yang dirawat RSUD tersebut, sebanyak 11 pasien meninggal; enam kasus DBD, empat kasus diare dan satu kasus leptospirosis. Sedangkan sampai 11 Februari, di Jakarta terdata 3.066 pasien DBD, meninggal 10 orang.

Sampah
Gunungan sampah yang ditinggalkan banjir masih berserakan di banyak tempat, seperti Kalibata, Kampung Melayu, Bukit Duri, Tanah Abang dan Muara Angke. Pemerintah DKI yang harus membersihkan timbunan sampah warga, juga mendapat sampah kiriman air bah Kali Ciliwung yang pekat dengan lumpur. Sampah-sampah ini sudah membusuk dan menyebarkan bau tak sedap.

Satgas Banjir DKI, membuang sampah-sampah itu di Jalan Alternatif Jonggol, Desa Jonggol, Kabupaten Bogor, lebih kurang 150 kilometer selatan Jakarta. Warga setempat protes, karena tumpukan sampah menyebarkan bau busuk. Minggu malam (19/2) lalu, Satgas Banjir DKI mengambilnya kembali.

Sampah-sampah itu dibersihkan dengan satu alat berat, diangkut ke TPA Bantargebang, Bekasi, dengan lima truk sampah. Pemda DKI membayar sewa kepada Pemda Bekasi, dihitung per truk sampah.

Masalah sampah membuat Sutiyoso pusing tujuh keliling. TPA Bojong Gede, Bogor, yang dibangun Sutiyoso untuk memproses sampah-sampah yang dihasilkan warganya, sampai saat ini masih ditutup lantaran protes dari masyarakat setempat.

Kampanye
Tak ayal lagi, para pengungsi korban banjir, saat ini dibanjiri kampanye, terselubung atau terbuka, yang datang dari petinggi negara, pimpinan partai politik atau calon gubernur DKI Jakarta. Padahal pada puncak prahara banjir, para korban harus bergulat sendiri untuk menghadapi amukan banjir.

Para elit itu rajin mengunjungi para korban banjir sembari membawa bingkisan. Ada juga calon gubernur yang membawa serta artis untuk menghibur para pengungsi, menyumbang Sembako dan pengobatan gratis.

Rombongan Taufik Kiemas, suami mantan Presiden Megawati, lain lagi caranya. Memimpin bakti sosial PDIP, Taufik membawa serta beras untuk dijual murah kepada para korban banjir, seharga Rp 3.000, hanya 5 kilogram setiap keluarga. Sedangkan harga beras operasi pasar Bulog Rp 3.700/kg. Selain menjual beras murah, PDIP tersebut juga melakukan pengasapan, pengobatan dan penyulingan air bersih secara cuma-cuma.

Lain lagi cara yang ditempuh oleh istri Wakil Presiden Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan rombongannya. Mereka mengunjungi para pasien penyakit pascabanjir di RSUD Jakarta. Bingkisan yang mereka bawa untuk para pasien DBD dan diare berupa pakaian dan selimut.

Rehabibilitasi
Pemerintah pusat lewat Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum menganggarkan dana Rp 240 miliar untuk memperbaiki jalan dan jembatan di Jakarta yang rusak akibat banjir. Anggaran tersebut, menurut Dirjen Bina Marga Hendrianto Notosoegondo, hanya untuk membiayai program rehabilitasi jangka pendek. Selain itu, pemerintah mempercepat pembangunan BKT, menormalisasi 14 sungai di Jakarta, renovasi pintu air dan penataan 133 situ.

Banjir telah menyadarkan Sutiyoso yang segera meninggalkan kursi gubernurnya, bahwa ia mewariskan Jakarta yang rapuh, terutama menyangkut ancaman banjir dan kesemrawutan lalulintas. Selama 10 tahun menjabat, Sutiyoso malah menyisakan setumpuk pekerjaan rumah bagi penggantinya. SH (Berita Indonesia 33)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com