Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Terdepan Buntut Perjanjian Tampak Siring
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Buntut Perjanjian Tampak Siring

E-mail Print PDF

Kerja Sama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement - DCA) Indonesia-Singapura menimbulkan banyak kekhawatiran dan kecamanKelanjutan proses ratifikasi Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement - DCA) Indonesia-Singapura menimbulkan banyak kekhawatiran dan kecaman. Kehidupan perekonomian nelayan, penerbangan sipil, dan kedaulatan bangsa dipertaruhkan.

Pemerintah Indonesia sangat antusias dengan kesediaan Singapura menandatangani perjanjian ekstradisi. Sebab selama 20 tahun terakhir, Singapura selalu bergeming, menolak diikat dengan perjanjian seperti itu. Dengan disepakati dan ditandatanganinya DCA bersama dua perjanjian lain, kerja sama ekstradisi (extradition treaty), dan peraturan pelaksanaan area latihan militer (implementing arrangement military training area/IA MTA), 27 April lalu, pemerintah berharap bisa mendapat “uang untuk ruang” dari perjanjian ini.

Istilah “uang untuk ruang” ini muncul dari argumen pemerintah yang kerap dilontarkan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono dalam sejumlah kesempatan, “Indonesia mendapat kembali aset serta buron koruptor yang lari ke sana, sementara Singapura nantinya akan kita beri ruang untuk militer mereka berlatih, mengingat selama ini mereka memang memiliki keterbatasan soal itu.” Namun argumen Juwono ini malah diterjemahkan sebagai penggadaian wilayah kedaulatan RI.

Sejak semula, DCA sudah mendapat kecaman dari berbagai kalangan terutama yang wilayahnya akan dijadikan tempat latihan tempur. Selain mempertanyakan ‘kedaulatan’ Indonesia dimana Singapura bisa masuk dan membawa angkatan bersenjatanya ke wilayah teritorial Indonesia, perjanjian ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan perekonomian di wilayah yang dijadikan pusat latihan. Dalam DCA, Indonesia menyediakan sejumlah wilayahnya untuk dipakai angkatan bersenjata Singapura berlatih militer, baik bersama TNI, sendiri, maupun melibatkan negara ketiga. Kerja sama akan berlaku efektif selama 25 tahun, begitu diratifikasi kedua negara. Area latihan militer itu antara lain Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja di Sumatera Selatan, serta Area Alfa 1 dan 2, serta Area Bravo - ketiganya meliputi kawasan kepulauan dan perairan di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.

Masalah timbul khususnya di Area Bravo yang rencananya akan disediakan bagi Angkatan Laut dan Udara Singapura untuk berlatih militer, mulai dari manuver, tembakan peluru tajam, hingga penembakan peluru kendali yang dapat dilaksanakan empat kali dalam setahun. Pemerintah sulit memenuhi permintaan Singapura yang ingin berlatih selama 15 hari setiap bulan di sana. Selain karena frekuensinya yang menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono “terlalu berlebihan”, kegiatan masyarakat sekitar akan sangat terganggu.

Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan yang mengupas lebih jauh konsekuensi yang harus diterima bangsa Indonesia mulai dari kerusakan ekosistem laut akibat penggunaan rudal, peluru tajam, dan manuver kapal selam serta makin sempitnya areal tangkap ikan nelayan dan terganggunya jalur terbang bagi para penerbang sipil. Sebab perairan yang membentang luas dari Anambas, Midai, hingga Natuna merupakan kawasan para nelayan jaring apung dan pukat mencari ikan. Belum lagi, nyawa nelayan yang bisa direnggut sewaktu-waktu oleh peluru-peluru nyasar. Begitu pula dengan nasib para pilot sipil yang menjadikan Matak dan Natuna tujuan utama beberapa penerbangan perintis. Sebagai kabupaten baru, Natuna tengah menggeliat untuk berkembang. Jadwal penerbangan ke kawasan itu terus meningkat. Serpihan kecil saja dari peluru yang meledak dapat membahayakan pesawat.

Pemerintah memang mempunyai segudang alasan bahwa perjanjian dengan Singapura ini adalah suatu ‘keberhasilan’. Pemerintah merasa diuntungkan sebab dalam perjanjian ini disebutkan Singapura akan membangun, memulihkan, dan melengkapi beberapa fasilitas militer, seperti Air Combat Maneuvering Range (ACMR), Siabu Air Weapons Range (AWR), Puslatpur TNI AD Baturaja, Overland Flying Training Area Range (OFTA), dan Naval Gunfire Scoring System (NGSS) di Pulau Kayu Ara. Selain itu, pemerintah juga yakin perjanjian ini akan memberi keuntungan imaterial berupa meningkatnya kemampuan serta profesionalisme prajurit TNI, mengingat adanya sejumlah kesempatan tukar-menukar informasi, latihan, dan pemberian akses terhadap persenjataan Singapura ke TNI.

Apapun alasan pemerintah dan pendapat yang pro atau kontra dari banyak kalangan, masyarakat tingkat bawah hingga lembaga tingkat pemerintahan daerah dan legislatif makin bingung dan resah. Sebab, hingga saat ini, sedikit sekali informasi yang bisa diketahui masyarakat soal proses negosiasi hingga ditandatanganinya perjanjian ini. Pemerintah juga diharapkan dapat mengkaji kembali beberapa hal penting dalam perjanjian itu. MLP (Berita Indonesia 43)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com