Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Terdepan Berlomba Merancang Koalisi
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Berlomba Merancang Koalisi

E-mail Print PDF

Koalisi permanen akan memperjelas garis batas antara partai yang berkuasa dan partai oposisiKoalisi permanen akan memperjelas garis batas antara partai yang berkuasa dan partai oposisi.

Menjelang Pemilu 2004, ada dua koalisi besar yang saling bersaing merebut kekuasaan. Keduanya adalah Koalisi Kebangsaan (Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Bintang Reformasi, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Damai Sejahtera) dan Koalisi Kerakyatan (Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PBB). Koalisi Kerakyatan menyokong Susilo Bambang Yudhoyono.

Belakangan dua koalisi itu pecah. Koalisi kebangsaan pecah setelah Akbar Tandjung lengser dari jabatannya sebagai ketua umum DPP Partai Golkar, Desember 2004. Wapres Jusuf Kalla yang terpilih menjadi ketua umum baru Golkar memilih menarik Golkar dari barisan Koalisi Kebangsaan yang sempat diwacanakan Akbar akan menjadi kekuatan oposisi dalam pemerintahan SBY. Namun berhubung Golkar sudah terbiasa dengan kekuasaan, wacana tersebut tidak populer.

Untuk mencegah agar kejadian tersebut tidak terulang, kini muncul tuntutan agar dibentuk koalisi permanen yang memperjelas garis batas antara partai yang berkuasa dan partai oposisi. Dengan begitu tidak ada lagi parpol abu-abu. Selama ini oposisi yang dibangun PDIP sukar produktif karena partai-partai lain yang sebenarnya bukan pendukung pemerintah justru tidak tergabung dalam koalisi oposisi. Partai Bulan Bintang (PBB), misalnya, sudah bukan pendukung pemerintah lagi, tetapi bukan pula barisan oposisi. PBB mengambil sikap ‘kritis terhadap pemerintah’, namun bukan oposisi.

Perlunya koalisi permanen ini terlontar setelah Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDIP Taufiq Kiemas mengklaim bahwa PDI Perjuangan telah membentuk koalisi baru yang diberi nama liga nasional yaitu koalisi PDIP dan Golkar yang dulu digagas bernama liga utama ditambah dua partai lainnya yakni PPP dan PAN. Hal itu disampaikan suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ini dalam open house Idul Fitri di rumahnya di Jakarta. Dasar pembentukan koalisi itu menurutnya adalah untuk memperkuat pencapaian kepentingan nasional. Termasuk, membangun pemerintahan yang efektif dengan komitmen menjaga NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan pluralisme. Rencananya, koalisi itu akan dideklarasikan April 2008. Koalisi permanen (apapun namanya) dinilai PDIP sangat penting karena selama tiga tahun menjadi oposisi, banyak kebijakan pemerintah yang ditentang oleh masyarakat justru disahkan di DPR karena fraksi-fraksi partai di DPR tidak memiliki sikap yang pasti, apakah pendukung atau oposisi pemerintah. Padahal kalau partai-partai yang ada dikelompokkan menjadi dua saja, DPR bisa bekerja lebih efektif dalam mengawasi pemerintah.

Ide ‘koalisi permanen’ ini malah dimentahkan Golkar, PPP dan PAN. Mungkin mereka masih malu-malu mengakui adanya koalisi dan mengaku sebagai partai pendukung pemerintah yang akan menyukseskan duet SBY-JK hingga 2009.

Terwujudnya liga nasional menjadi koalisi permanen masih diragukan. Kesamaan azas yang disebutkan menjadi latar belakang pendiriannya diragukan bisa mengikat PPP dan PAN yang latar belakang pendiriannya bernuansa keislaman. Keterlibatan Golkar juga menjadi persoalan tersendiri. Sebab di satu sisi, Golkar berkoalisi dengan PDIP, tapi di sisi lain Jusuf Kalla masih menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagian politisi bahkan menilai, sejak awal tujuan koalisi ini bersifat pragmatis yakni untuk memenangkan pemilihan presiden 2009, bukan koalisi permanen. Pendapat tersebut diantaranya disampaikan oleh mantan Ketua DPR 1999-2004 yang juga mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung. “Saya lihat kebutuhan mereka bergabung hanya untuk pemenangan capres,” katanya. Bahkan, Ketua MPR yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid memastikan koalisi itu tidak akan berhasil mengusung nama calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2009.

Secara khusus, Akbar juga mempertanyakan keterlibatan Partai Golkar dalam koalisi tersebut. Menurutnya, hal tersebut tidak etis karena dinilai terlalu dini. Sebagai partai pemerintah, tidak tepat jika Partai Golkar harus bersanding dengan PDIP yang merupakan partai oposisi. Dari kubu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri (Partai Demokrat), wacana ini hanya ditanggapi dingin.

Tapi, terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, apabila liga nasional berhasil dibentuk, koalisi ini akan menjadi koalisi terbesar yang pernah terbentuk di Indonesia. Pada Pemilu tahun 2004 yang lalu, keempat parpol ini berhasil memperoleh 54,70 % suara (347 kursi di DPR). Dengan begitu, jika presiden dan wakil presiden yang diusung koalisi ini terpilih, berarti presiden-wapres tersebut mempunyai dukungan yang kuat di parlemen. MLP (BI 49)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com