Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Media Al Hilal Hamdi Ketua Timnas Pengembangan Biofuel

Al Hilal Hamdi Ketua Timnas Pengembangan Biofuel

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Al Hilal HamdiMomok ketergantungan yang luar biasa terhadap bahan bakar minyak (BBM) segera berakhir. Pemerintah lewat R-APBN 2007 telah menetapkan sektor energi sebagai prioritas utama kebijakan. Al Hilal Hamdi seorang sarjana perminyakan lulusan ITB Bandung tahun 1980, dipercaya sebagai Ketua Tim Nasional Pengembangan Biofuel.

Solusi pemecahan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) adalah mendalami bahan bakar nabati (BBN) sebagai bahan bakar alternatif. BBN biasa pula disebut sebagai biofuel, produk derivatifnya bisa berupa biosolar, biodiesel, bioetanol dan lain-lain.

Sebelum menyampaikan pidato Rancangan APBN 2007, yang akan memberikan payung hukum yang kuat bagi BBN, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah terlebih dahulu pada rapat kabinet terbatas Senin (24/7) membentuk Tim Nasional Pengembangan Biofuel, dipimpin oleh Al Hilal Hamdi. Hilal kelahiran Cilacap 28 Maret 1954, adalah mantan menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) dan Megawati Soekarnoputri (2001-2004).

“Pak Al Hilal Hamdi adalah ketua tim perumus pada waktu pertemuan biofuel di Hotel Losari di Magelang,” kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, yang mengumumkan hasil rapat kabinet sambil memperkenalkan Al Hilal Hamdi kepada wartawan.

Sejak retret Magelang 1-2 Juli 2006, isu biofuel terus menggelinding. Para pengusaha yang jeli mencium arah kebijakan pembangunan segera putar haluan mendiversifikasi usaha dan terjun menggeluti biofuel, seperti PT Eterindo Wahanatata hingga Putera Sampoerna, perusahaan rokok Gudang Garam dan lain-lain.

Demikian pula para bankir lokal dan asing serta lembaga keuangan multilateral, menyatakan kesediaan mendanai pengembangan biofuel. PT (Persero) Pertamina dan PLN menyatakan sanggup menggunakan, menampung dan menyalurkan sebanyak apapun biofuel.

Bahkan Pertamina mewajibkan pengusaha baru pompa bensin menjual biosolar, dan meminta pengelola pompa bensin lama menjual BBN dengan kandungan minyak sawit lima persen. Pertamina pada 20 Mei 2006 sudah mulai menjual biosolar pada puluhan SPBU di Jakarta.

Converter kit sebuah alat sebesar handie-talkie yang cukup dipasangkan di kendaraan bermotor, supaya kendaraan bisa menggunakan biofuel, oleh pemilik hak patennya Pura Group asal Kudus sudah memperkenalkan dan menguji-cobanya langsung di lapangan. Hasilnya, penggunaan biofuel pada kendaraan sangat memuaskan dengan sejumlah kelebihan.

Sejumlah proposal pembangunan pabrik pengolahan BBN berbiaya ratusan juta dollar AS kini sudah menumpuk di meja Al Hilal Hamdi, yang juga menjabat Komisaris Utama PT PLN untuk segera dicermati.

Loyal Kepada Satu Tuan
Majalah Berita Indonesia merupakan media yang berada di garis terdepan menulis keharusan Indonesia mengatasi krisis BBM dengan solusi tunggal mencari bahan bakar alternatif (BBA) sebagai energi alternatif.

Kami menyebut kaharusan ini sebagai hikmah atas solusi krisis BBM. Sejak penerbitan awal edisi kedua pada Juli 2005 kami sudah menurunkan judul berita utama dalam bahasa yang elegan, “Habis BBM Terbit BBA”. Dan, terbuktilah, krisis BBM menemukan puncaknya yang paling perih di bulan Oktober 2005 dengan kenaikan harga rata-rata 200 persen. Peristiwa ini sangat membebani rakyat kecil.

Setahun kemudian, isu BBA menghangat kembali. Tanpa sengaja dan tidak kami ketahui sebelumnya, ternyata telah diadakan retret biofuel di Magelang. Padahal kami sudah memutuskan untuk menurunkan lagi berita utama biofuel sebagai “Energi Alternatif” di sampul depan.

Peta perjuangan pengangkatan citra biofuel sebagai bahan bakar alternatif pada akhirnya mengerucut pada satu nama, yakni Al Hilal Hamdi. Namanya menjadi berita saat ini seiring demam bisnis biofuel.

Rubrik ekonomi berbagai suratkabar harian dan majalah, khususnya harian dan majalah ekonomi, akhir-akhir ini banyak menulis pergerakan bisnis perusahaan-perusahaan yang mendalami agribisnis. Semua mengacu kepada kebijakan yang hendak Hilal lakukan.

Di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) Al Hilal Hamdi pernah dua kali menempati pos menteri, yakni pertama sebagai Menteri Negara Transmigrasi dan Kependudukan, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi hasil reshuffle kabinet 23 Agustus 2000. Ia merupakan menteri portofolio dari Partai Amanat Nasional (PAN) pimpinan Amien Rais, yang sedang menjabat sebagai Wakil Sekjen PAN ketika itu.

Insinyur Al Hilal Hamdi lahir di Cilacap pada 28 Maret 1954. Ia memulai aktivitas organisasi politik sejak menjadi caretaker Presidium Ketua Dewan Mahasiswa ITB tahun 1977. Suami dari Usdiati Endah Purwati ini adalah lulusan perminyakan ITB, Bandung, tahun 1980. Al Hilal pernah menjabat direktur utama dari Kelompok Usaha Trinusa, bergerak di berbagai bidang yang berkaitan dengan perminyakan.

Ayah tiga anak ini juga menjadi Ketua Dewan Direktur Esdal, yaitu forum kajian  energi, sumber daya alam dan lingkungan. Ketika bos Hilal di partai, Amien Rais, berseteru dengan Gus Dur, bersama Mendiknas Yahya Muhaimin, sejak Kamis 15 Maret 2001 namanya dipecat dari partai PAN karena menolak seruan untuk mundur dari Kabinet Persatuan Nasional.

Hilal tergolong anak buah yang loyal dan tak ingin menghamba kepada dua tuan, rupanya. Kendati sudah diultimatum oleh tokoh reformasi sekelas Amien Rais untuk mundur, ia tetap memilih bertahan di kabinet, walaupun dukungan politik pada Gus Dur sudah tidak ada lagi. Ia memilih hanya satu dari dua sebagai tuan.

Hilal tetap bertahan sebagai menteri demi kepentingan yang lebih luas. Kalaupun pemerintahan Gus Dur akan tenggelam, dan terbukti memang tenggelam, Hilal memilih untuk ikut tenggelam bersama-sama dengan bosnya Gus Dur.

Sikap gentlemen demikian berbuah manis. Presiden baru Megawati kembali menaruh kepercayaan besar kepadanya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Al Hilal Hamdi tergolong memiliki catatan bagus saat menjabat Menteri era Gus Dur maupun Mega. Ketika diajak bincang-bincang televisi dalam Perspektif Baru, Wimar Witoelar pemandu acara menyebut hasil penilaian para pimpinan buruh yang mengatakan Hilal merupakan Menteri yang pertama yang berusaha mendengarkan dan memperjuangkan kepentingan buruh, dan tenaga kerja dalam konteks kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Kepercayaan terus saja berlanjut di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kapasitas dan pos yang berbeda, awalnya sebagai Staf Khusus Menneg BUMN, sejak 20 April 2006 ia diangkat menjadi Komisaris Utama PT (Persero) PLN menggantikan Andung Nitimihardja. Tim Penilai Akhir (TPA) yang dipimpin Presiden menganggap Hilal memiliki kemampuan di bidang kelistrikan.

Meraih Sejumlah Target
Setelah pidato pengantar nota keuangan dan R-APBN 2007, sejumlah kebijakan akan segera ditelurkan pemerintah untuk mendukung langkah-langkah Hilal mengembangkan biofuel.

Misalnya, secara nasional ia akan didukung oleh dua tim pengarah yang dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian Boediono dan Menko Kesra Aburizal Bakrie.
Hilal akan memimpin sebuah Kelompok Kerja (Pokja) yang merumuskan kebijakan pada lima faktor penting penentu keberhasilan biofuel. Yaitu, kebijakan di bidang penyediaan lahan, infrastruktur, fabrikasi atau manufaktur, pasar dan dan distribusi, serta kebijakan pendanaan. Kebijakan ini akan menjadi sebuah cetak biru atau blueprint pengembangan bahan bakar nabati yang berlaku secara nasional.

Target tim yang dipimpin oleh Hilal sangat jelas. Antara lain, pada tahun 2009 biofuel sudah 10 persen menggantikan premium, minyak tanah dan solar. Biofuel sudah dapat dijadikan bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik.

Program biofuel harus mampu menyediakan tiga juta lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengurangi kemiskinan. Dengan substitusi BBM hingga 10 persen pada tahun 2010 dapat dihemat devisa 10 miliar dollar AS.

Imbas lain, Indonesia dapat mengekspor bahan bakar nabati sekurang-kurangnya 10-12 kilo liter per tahun, lima juta hektar lahan kritis dan terlantar akan termanfaatkan, dan ada pemerataan pengembangan desa dan produk pangan.

Soal ekspor BBN, PT Eterindo Wahanatata Tbk pimpinan Emmanuel Sutarto mempunyai pengalaman manis. Eterindo selama puluhan tahun fokus produksi bahan kimia (resin sintetis dan plastik). Namun sejak September 2005 melakukan diversifikasi, mendirikan pabrik biodiesel berbahan baku turunan CPO berkapasitas awal 4.000 ton per bulan.

Eterindo sudah meningkatkan kapasitas produksi menjadi 8.000 ton per bulan, dengan mengoperasikan pabrik di Gresik dan Tangerang. Tahun 2007 kapasitas akan ditingkatkan menjadi 10.000 ton perbulan, dimana 30% produk untuk konsumsi domestik yang harga jualnya saat ini Rp 5.800 per liter, sisanya 70% untuk ekspor. Harga biodiesel di pasar internasional sedang elok, 710 dollar AS per ton.

Pertamina yang bergerak di sektor hilir secara khusus membidik sektor transportasi, yang tingkat konsumsinya 12 juta kiloliter pertahun, dan dalam tiga empat tahun ke depan akan meningkat menjadi 15 juta kiloliter pertahun. Di sektor ini Pertamina mematok 50 persen total konsumsi solar akan merupakan biosolar. Untuk saat ini, volume penjualan biosolar di sejumlah SPBU Pertamina telah melebihi 115.000 kiloliter per hari.

Fakta dan data ini cukup memberi jaminan tidak salah memilih biofuel sebagai fokus bisnis baru. Dan, tangan dingin Al Hilal Hamdi sangat menentukan keberhasilan di sini. HT (Berita Indonesia 22)

Biodata:
Nama : Ir. Al Hilal Hamdi
Lahir : Cilacap 28 Maret 1954
Istri : Usdiati Endah Purwati
Anak : Tiga orang

Pendidikan:

  • Sarjana Perminyakan ITB Bandung, lulus tahun 1980

Jabatan saat ini:

  • Ketua Tim Nasional Pengembangan Biofuel
  • Komisaris Utama PT (Persero) PLN

Pengalaman Pemerintahan:

  • Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) dan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004)

Pengalaman Organisasi Politik:

  • Menjadi caretaker Presidium Ketua Dewan Mahasiswa ITB tahun 1977

Pengalaman Bisnis:

  • Direktur Utama Kelompok Usaha Trinusa, bergerak di berbagai bidang yang berkaitan dengan perminyakan

Lain-lain:

  • Ketua Dewan Direktur Esdal, yaitu forum kajian energi, sumber daya alam dan lingkungan
  • Tanggal 15 Maret 2001 dipecat dari keanggotaan Partai Amanat Nasional (PAN) karena menolak seruan untuk mundur dari Kabinet Persatuan Nasional

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.
utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin

Visi Berita

visi_42.jpg
Terorisme bukan jihad! Teroris bukan pahlawan! Dua kalimat pendek ini perlu dikedepankan untuk meluruskan makna jihad
visi_76.jpg
Capaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah

Lentera

lentera_2_66.jpg
Al-Zaytun Sumber Inspirasi (4)Syaykh al-Zaytun: Indonesia harus masuk dalam zone of peace and democracy kalau ingin
lentera_1_53.jpg
Kampus Al-Zaytun selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas global. Hal ini juga terlihat dari semangat
Share/Save/Bookmark