Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Politik Tentram Semasa Pak Harto

Tentram Semasa Pak Harto

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Seakan meniti arus, buku setebal 364 halaman, Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto, diluncurkan secara meriah. Pada acara itu, yang lebih menarik adalah nostalgia Wiranto ketika bersama Pak Harto. Buku setebal 364 halaman, Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto, diluncurkan secara meriah.Ratusan anak sekolah dasar yang bahkan tidak tahu nama mantan Presiden Soeharto, hadir pada acara peluncuran buku yang cukup menggelitik di tengah suasana himpitan ekonomi dan bencana yang datang silih berganti. Buku itu: Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto, ditulis oleh Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage, diluncurkan Kamis sore (31/8) di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Anak-anak itu murid SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi, Jakarta Timur. Saat itu juga hadir sosok publik, seperti Fuad Bawazier, Mieke Wijaya, Sys NS, Farhat Abbas, Ismail Saleh dan Syamsul Djalal.

Selama delapan bulan Dewi berkeliling ke berbagai pelosok Indonesia melakukan wawancara dengan masyarakat lapisan bawah. Hasil wawancara itulah yang dirangkum di dalam buku yang di bab-bab awal mengulas kembali berbagai program pembangunan yang dilaksanakan semasa pemerintahan Pak Harto dari tahun 1966 sampai 1998. Dewi mewawancarai, misalnya; nelayan, tukang urut, tukang becak, kuli bangunan, petani, pedagang, sopir taksi, tukang parkir, seniman yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, NTB, Bali, Lampung dan Medan.

“Jasa Pak Harto terlalu besar buat masyarakat NTB,” kata Hari Sanjaya, warga Kampung Melayu Bangsal, Ampenan Tengah, NTB. Pak Harto mengikis kemiskinan kronis di Lombok Selatan dengan membangun jaringan irigasi. Pak Harto membangun sekolah, masjid, Posyandu dan jalan-jalan aspal licin sampai ke pelosok desa di NTB.

Kardi, pedagang sayur di Cikupa, Tangerang, Banten, mengatakan selama 32 tahun di masa Pak Harto memimpin pemerintahan, tidak ada kantor-kantor yang dibom. Ke mana-mana orang merasa aman, dan rakyat kecil merasakan kehidupan yang cukup sejahtera. Hal yang sama dirasakan oleh Siti Aminah, buruh pabrik di Tangerang. Menurut Aminah selama Pak Harto jadi Presiden, tidak pernah terjadi kerusuhan yang marak seperti sekarang. Kata Aminah, di mana-mana ada demonstrasi yang rusuh oleh masyarakat, mahasiswa dan buruh. “Sedikit saja tidak suka, segera demo, mengeluh dan berteriak-teriak, bahkan sampai terjadi kerusuhan,” kata Aminah sebagaimana dikutip di dalam buku tersebut.

Para petani juga merasa aman dan sejahtera semasa pemerintahan Pak Harto. Mereka menilai, Pak Harto pemimpin arif yang mengayomi rakyat dan peduli dengan kesusahan rakyat kecil. “Saya melihat bahwa Pak Harto memiliki banyak kelebihan, beliau mampu merencanakan pembangunan di segala bidang, utamanya di bidang pertanian,” kata Masan asal Sukamanah, Tangerang. Sebagai petani, dia merasa banyak sekali terbantu ketika Pak Harto jadi Presiden. Harga pupuk terjangkau, pengairan lancar sehingga di musim kemarau bisa bercocok tanam.

Pembicara utama pada peluncuran buku tersebut adalah Jenderal (Pur) Wiranto, ajudan, Panglima TNI dan Menko Polkam semasa pemerintahan Pak Harto. Dia menceritakan kembali berbagai pengalaman lucu dan uniknya bersama Pak Harto yang kini sudah menginjak usia 85 tahun.

Ketika pertama kali bertemu Pak Harto tak lama setelah dimutasi sebagai ajudan Presiden, Wiranto merasa kaget sekali. Pak Harto berkata kepadanya: “Ajudan itu seperti tempat sampah.” Padahal ketika itu (1979), dia baru saja meninggalkan jabatan sebagai komandan operasi di Timor Timur yang berpangkat kolonel. Dalam hatinya terjadi pergulatan, karena Wiranto merasa lebih hebat memimpin operasi tempur ketimbang jadi ajudan Presiden.

Wiranto menceritakan kembali pengalaman lucu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Istana Negara. Dia melihat bentangan karpet merah tebal, kemudian bertanya kepada seorang pengawal: “Pak ini boleh diinjak?” “Boleh, boleh Pak.” jawab sang pengawal. Sebab, Wiranto, di kantornya, harus melepas sepatu ketika mau menginjak karpet.

Saat pertama menghadap Pak Harto, dia banyak mendapat nasihat, tetapi ada dua nasihat yang paling diingatnya sampai saat ini. Pak Harto mengatakan kepadanya: “Kolonel Wiranto, sebagai Soeharto, saya tidak butuh ajudan, tetapi sebagai Kepala Negara saya diwajibkan mempunyai ajudan. Dan kamu ditunjuk untuk menjadi ajudan saya.” Wiranto merasa kaget sekali ketika Pak Harto berkata lebih lanjut: “Maka pesan saya, ajudan itu seperti tempat sampah.” Artinya, dia harus berpenampilan loreng, elegan di depan publik. Kalau Pak Harto marah-marah, tentunya bukan kepada rakyat atau publik, melainkan kepadanya.

Nasihat kedua, untuk menjadi seorang ajudan tidak butuh waktu yang lama. Kata Pak Harto kepada Wiranto: “Selama jadi ajudan, kamu boleh belajar apa saja. Sebab kamu bisa membaca surat Presiden, bisa mendengarkan pembicaraan Presiden, bisa mengerti dan memahami pemikiran Presiden. Tetapi satu hal yang harus dicamkan, jangan kamu bicarakan keluar, karena itu rahasia negara.”

Suatu kali Wiranto bertanya kepada Pak Harto dengan nada yang sangat ramah: “Pak, mengapa bapak ke kantor kesiangan?” Pak Harto dari kediaman di Jalan Cendana ke Istana berangkat setiap pukul 9.00 WIB. “Orang-orang lain berangkat dari rumah pukul 7.00 WIB, apa ini tidak menjadi teladan yang buruk?” kata Wiranto.
Lalu Pak Harto menjawab dengan bijak. “Kamu belum tahu Jakarta macetnya luar biasa. Kalau saya berangkat pukul 7.00 WIB, pas macet-macetnya. Saya tambah lagi macetnya, karena mereka harus distop. Maka mereka akan terlambat ke kantor. Kendaraan semakin padat, lebih baik saya mengalah agak kesiangan sedikit."

Kali lain, Wiranto pernah mengawal Pak Harto memasuki jalan tol di kawasan Semanggi. Presiden memegang pundaknya, mengatakan kepadanya supaya memerintahkan pengawal tidak menghentikan kendaraan yang lewat bersamaaan dengan Presiden, tetapi melewati jalan tol pelan-pelan. Alasan Presiden, mereka membayar karcis masuk jalan tol. “Siap Pak,” kata Wiranto sambil menelepon Kapolda Metro Jaya agar memerintahkan anak buahnya tidak memberhentikan kendaraan. Kata Wiranto: “Tolong kalau Presiden masuk tol jangan distop, saya dimarahi beliau. Kalau Anda stop nanti dimarahi Presiden, saya tidak tanggungjawab.”

Wiranto juga pernah mengawal Pak Harto ke Tapos untuk bermain golf. Saat itu, Presiden dikawal oleh hanya satu mobil jip. Wiranto pernah meminta Presiden memasang sirene agar cepat tiba di lapangan golf. Namun Presiden lebih memilih menghargai kendaraan-kendaraan lain yang lewat searah dengannya tanpa sirene. Pengawalan yang minim dari Paspamres tentu akan membawa konsekuensi yang cukup tinggi. Suatu saat lagi ketika mengawal Pak Harto, Wiranto merasakan adanya lemparan ke kap mobilnya. Kemudian mereka berhenti. Orang-orang di pinggir jalan mengatakan sandal mobil Presiden terlepas. “Wah, kalau granat gimana,” kata Wiranto.

Wiranto merasakan banyak memetik pelajaran berharga dari Pak Harto. Suatu hari mereka pergi lagi ke Tapos. Kali ini, Pak Harto duduk di samping sopir, dia duduk di jok belakang. “Gantian, Pak Harto jadi ajudan, saya jadi Presiden,” kelakar Wiranto. Pak Harto waktu itu asyik mendengarkan sesuatu dari tape mobil, saat itu belum ada CD. Wiranto berusaha menguping, tetapi tidak bisa. Pak Harto, di tengah perjalanan meminta Wiranto mendengarkan. Ternyata bukan musik, tapi dalang yang sedang menceritakan kisah pewayangan, wahyu kumantarama. Kisah tentang Rama yang menyerahkan kepemimpinan kepada adiknya ketika dia hasta brata masuk hutan.

Pemimpin itu ibarat bintang, muncul pada saat dan tempat yang tidak pernah berubah. Bintang Timur muncul dari timur menjelang fajar, menjadi petunjuk bagi musafir, nelayan dan orang-orang yang kehilangan arah. Menurut Wiranto pemimpin harus memiliki tiga kriteria—transparan, konsisten dan membangun kepastian.
Wiranto hanya memberi komentar tentang poin ketiga; membangun kepastian. Artinya, pemimpin harus berani memutuskan sesuatu dengan risiko apa pun. Dia menilai sosok Pak Harto, orang yang berani memutuskan sesuatu walaupun risikonya sangat pahit. Risikonya, bisa dibenci orang, bisa menyusahkan orang.

“Tapi keputusan itu bermanfaat dalam konteks bangsa,” kata Wiranto.
Saat ini, kata Wiranto, jutaan orang masih mencintai Pak Harto, tetapi banyak orang belum bisa menerima apa yang dilakukan Pak Harto pada masa lalu. AM-SH (Berita Indonesia 22)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_2_75.jpg
Ini berita hebat. Markus dan mafia hukum itu sungguh-sungguh nyata (terbukti), rakus dan jahat. Seorang jenderal polisi (bintang tiga)
utama_1_52.jpg
Peta Jalan Bali atau Bali Road Map disetujui setelah melewati lobi-lobi intensif dan menguras banyak energi. Amerika akhirnya turut ikut

Visi Berita

visi_47.jpg
Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang ingin hidup dalam kemiskinan. Namun, karena berbagai hal, di
visi_23.jpg
Bangsa ini baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-61. Ironisnya, dalam usia senjanya, kantong-kantong

Lentera

lentera_1_39.jpg
Wawancara Syaykh Al-Zaytun dengan Tim Jurnalis EWC-ASSyaykh Al-Zaytun Drs Abdussalam Panji Gumilang, mengatakan
lentera_6_23.jpg
Dalam dunia kontemporer (kini) sudah sangat sering terjadi dunia kekerasan yang luar biasa. Karena itu, perlu dirancang
Share/Save/Bookmark