Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Politik Parade Saling Serang
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Parade Saling Serang

E-mail Print PDF

Saling serang antartim sukses dalam sebagian iklan dan isu kampanye termasuk masih wajar dan memang seharusnya dilakukan. Namun pernyataan Andi Mallarangeng awal Juli lalu sudah sangat berlebihanSaling serang antartim sukses dalam sebagian iklan dan isu kampanye termasuk masih wajar dan memang seharusnya dilakukan. Namun pernyataan Andi Mallarangeng awal Juli lalu sudah sangat berlebihan.

Paling serang antartim sukses mulai mengemuka saat SBY memilih Boediono menjadi pendampingnya untuk pemilu presiden Juni mendatang. Pilihan SBY ini membuat PAN dan PKS tidak puas karena keduanya telah memiliki cawapres untuk diajukan, yaitu Ketua MPR Hidayat Nurwahid dari PKS dan Mensesneg Hatta Rajasa dari PAN.

Kedua partai itu menilai Boediono sebagai penganut paham ekonomi neoliberal yang hanya pro kepentingan pasar bebas dan bukan rakyat. Bahkan, penolakan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PAN Amin Rais memperlihatkan sikap dengan tiidak menghadiri deklarasi pencalonan cawapres meski tetap sepakat mendukung SBY sebagai presiden mendatang. Sedangkan PKS akhirnya menyetujui pencalonan Boediono sebagai cawapres.

Saling serang kian memanas saat anggota tim sukses Rizal Mallarangeng mengadakan konferensi pers di Bravo Media Center, 25 Mei lalu. Pernyataan kedua pasangan capres-cawapres lain yang dialamatkan pada Boediono membuat gerah pakar pencitra SBY ini. Ia berpendapat penyebutan ekonomi neoliberal atau kerakyatan hanya permainan istilah.

Rizal mempertanyakan klaim pro rakyat Prabowo selama ini. Padahal, semua tahu jajak karier pensiunan jenderal bintang tiga ini, yakni dipecat oleh TNI. Ia mengkritik Prabowo yang memiliki 98 ekor kuda bernilai miliaran rupiah. Karena itu ia meminta Prabowo untuk instropeksi diri dan tidak menyerang orang dengan seenaknya. “Sejarah hidup dia itu apa? Prabowo itu seorang prajurit yang dipecat dan tidak pernah membela ekonomi rakyat,” ungkap Rizat, saat itu.

Selain itu, ia juga membantah tudingan mantan menko perekonomian di era Megawati, Kwik Kian Gie yang kini mendukung JK-Win. Saat diskusi di Negarawan Center, Kwik menyebutkan Boediono itu memang penganut neoliberal dan titipan Barat. Bahkan Kwik berani menerima tantangan berdebat dengan Boediono untuk membuktikannya.

Sehari setelah pernyataan Rizal, Selasa (26/5), kubu Mega mengadakan konferensi pers di Mega-Pro, Jakarta. Sekretaris Umum Tim Kampanye Nasional Fadli Zon mengatakan pernyataan Rizal itu tidak berdasar, tidak rasional dan kalap. Hal itu membuktikan kondisi tim sukses SBY-Boediono merasa terancam oleh pesaingnya. Fadli meluruskan bahwa Prabowo bukan dipecat dari TNI, tapi diberhentikan dengan hormat. “Itu sebuah keputusan politik karena seorang militer di jalur komando harus berani mengambil risiko. Berbeda dengan jalur staf, yang tangannya selalu bersih,” katanya menyindir capres lain. Fadli mengimbau Rizal dan tim sukses SBY agar berpolitik secara santun dan seharusnya mengkritik gagasan yang ditawarkan, bukan menyerang pribadi pasangan calon.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini juga menyebutkan bahwa ekonomi kerakyatan justru berupaya agar rakyat menjadi kaya. “Tidak seperti mereka yang penganut neoliberalisme,” katanya menuding balik lawan politiknya.

Mengenai harta Prabowo yang berupa kuda-kuda yang super mahal, Fadli menjelaskan, kuda-kuda yang kualitasnya bagus dan mahal itu tidak semata-mata dinikmati Prabowo saja. Menurut Fadli, kuda-kuda itu diikutkan dalam Sea Games tahun 2007. Prabowo membawa tim polo Indonesia ke Thailand. Atlet-atlet polo yang dibina Prabowo bukan dari kalangan bangsawan atau aristokrat melainkan dari kalangan anak petani.

Selain itu, saat ramah tamah di rumah Megawati, 28/4 lalu, Megawati melancarkan serangan balik. Ia meminta pemerintah tidak mengklaim pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sebagai kinerja mereka sendiri. Karena awal pemancangan jembatan itu dilakukan saat ia masih manjabat sebagai presiden, yaitu 20 Agustus 2003. Mega juga mengkritik banyak menteri di kabinet dalam tim sukses SBY-Boediono dan JK-Win. Menurutnya, saat pemilu tim sukses seharusnya tidak berasal dari anggota kabinet karena akan mengurangi konsentrasi dan waktu mereka di pemerintahan. Hal ini bisa menyebabkan roda pemerintahan tidak berjalan efektif dan merugikan masyarakat.

Capres dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak mau ketinggalan. Ia menyindir bahwa pejabat jangan merangkap sebagai pengusaha lantaran dikhawatirkan terjadi konflik kepentingan. Capres dari Partai Golkar Jusuf Kalla menyentil balik. Sindiran SBY itu memang tampaknya ditujukan kepada JK yang memiliki latar belakang sebagai mantan saudagar. “Kalau ada yang melarang keluarga pejabat tidak boleh berdagang, itu justru diskriminasi yang luar biasa dan melanggar HAM,” kata JK usai bersilaturahim di kediaman Habib Segaf Al-Jufri di Palu, Sulteng.

Di tempat dan waktu yang berbeda, JK kembali menyindir. Dalam konteks kemandirian bangsa, JK mengatakan, pemimpin jangan peragu. Pemimpin yang ragu tak bisa membawa kemajuan bagi bangsa. “Kita ini bisa. Jangan ragu-ragu. Hanya peragu yang tidak bisa membawa maju,” sindirnya ketika membuka Rakernas I KNPI di Palu, Sulawesi Tengah (5/6). JK menjelaskan sikap dirinya yang tanpa ragu mengambil keputusan untuk kepentingan bangsa meskipun keputusan itu mengandung risiko besar. Ia mencontohkan keputusannya yang tak mau mengekspor gas ke Jepang dan negara lain dengan maksud untuk menggunakan gas itu bagi kebutuhan industri dalam negeri.

Tak hanya itu, JK juga menyindir capres lain yang kerap berbicara soal perdamaian. Jika hanya pidato, katanya, memang banyak orang yang pandai bicara. “Tapi, begitu ada konflik, semua lari, hanya tinggal di Jakarta,” kecamnya. “Cuma bisa buat darurat sipil.” Beda dengan dirinya yang terbukti telah mendamaikan tiga konflik di daerah berbeda. JK memaparkan, konflik Maluku berhasil didamaikannya selama 17 hari dan Poso memakan waktu dua pekan. Sedangkan konflik di Aceh membutuhkan waktu enam bulan utuk mendamaikannya. “Karena itu, saya memaknai perdamaian dari hati, tidak hanya di mulut.”

Dalam kampanye di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 13/6, JK kembali menyatakan kalau dia paling berperan dalam perdamaian di Aceh. Peran tersebut salah satunya terlihat dari kesediaannya menandatangani nota perdamaian. Klaim JK sontak mendapat respon dari kubu SBY. JK disebut tidak beretika. Tim sukses SBY-Boediono malah menegaskan bahwa keberhasilan perdamaian di Aceh terwujud di bawah komando SBY. Perdamaian di Aceh terjadi karena adanya keputusan presiden (keppres), bukan keputusan wakil presiden. Kubu JK kembali membalas dengan mengatakan, SBY dan tim suksesnya memang pintar mengklaim apa yang tidak dilakukannya menjadi pekerjaan mereka.

JK juga menyentil pasangan SBY, cawapres Boediono. Dalam acara penutupan Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Balikpapan, Kaltim, JK mengaku pernah sangat marah kepada menko perekonomian yang saat itu dijabat Boediono. Penyebabnya, Boediono tidak menyetujui pemberian jaminan terhadap pembangunan listrik 10.000 MW. JK mengaku marah karena negara tidak mau mengupayakan listrik untuk rakyat, sementara kepada perbankan, Boediono merengek-rengek meminta diberi jaminan 100 persen untuk mengatasi krisis.

“Itulah pandangan liberal. Tidak usah berteori soal neoliberal. Tapi lihat praktiknya, menjamin perbankan, rakyat yang menanggung. Saya hampir lempar, saya pukul meja. Walau dia bilang sudah disetujui pimpinan, saya tidak peduli,” kata JK. Sentilan JK ini praktis membuat panas kuping SBY dan tim suksesnya.

Andi Mallarangeng, anggota tim sukses  SBY keceplosan saat ‘menyerang’ balik kubu JK. Dalam kampanye cawapres Boediono di GOR Mattoangin, Makassar, Rabu (1/7), Andi menyebutkan orang Sulawesi Selatan (Sulsel) belum saatnya menjadi Presiden RI periode 2009-2014. “Bagaimana dengan anak Sulawesi Selatan? Ada waktunya masing-masing, perjalanan masih panjang. Banyak anak Sulsel yang bisa memimpin negeri ini suatu ketika,” kata Andi.

Pernyataan Andi Mallarangeng ini langsung mendapat kecaman karena dinilai rasis. Forum Rektor Indonesia Simpul Sulsel, Koalisi Rakyat Sulsel Anti Rasis, mahasiswa, sejumlah tokoh dan aliansi di luar Sulsel, menuntut Andi agar meminta maaf atas pernyataannya itu. Hingga tulisan ini diturunkan, Andi tetap bersikukuh tidak akan meminta maaf.

Tidak Bermutu
Pakar komunikasi Effendi Ghozali menilai, pencitraan melalui semua iklan dan kampanye tim sukses capres-cawapres sebetulnya tidak memiliki banyak pesan bermanfaat. Isi sebagian iklan itu sebagian didominasi oleh pujian atas masing-masing capres-cawapres untuk menggaet dukungan masyarakat. “Komunikasi politik saat ini relatif kosong. Isinya hanya 20 persen. Itu kayak iklan lotion yang bisa memutihkan kulit dalam tujuh hari, padahal tidak mungkin,” katanya.

Mengenai saling serang antartim sukses dalam sebagian iklan dan isu kampanye, menurut Effendi, masih wajar dan memang seharusnya dilakukan. Dalam ilmu komunikasi politik, saling serang akan mendorong terjadinya pembandingan (contrasting). Masing-masing tim akan menampilkan kelebihan capres-cawapres pilihannya dan mengungkap kelemahan pesaing. Masyarakat akhirnya bisa lebih mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan semua capres-cawapres.

Selain itu, saling serang dinilai mampu meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat pemilih dalam pemilu. Hal itu karena masyarakat mendapat informasi cukup dan tidak menjadi apatis terhadap pemilihan capres-cawapres. Namun, saling serang seharusnya dilakukan secara positif dan tidak negatif. Saling serang menjadi negatif jika data yang digunakan keliru, diarahkan pada isu yang tidak ada kaitannya dengan kemampuan capres-cawapres dalam memimpin, dan terlalu berlebihan.

Effendi menjelaskan, saling serang itu penting jika menggunakan data yang benar sehingga mendukung proses demokratisasi dalam pemilu. Saling serang seharusnya lebih fokus pada kinerja dan gagasan. Bila saling serang dilakukan secara positif, menjadi kontribusi dalam pendidikan demokrasi bagi masyarakat. Masyarakat menjadi terdorong untuk mengkritik berbagai data yang terungkap dalam kegiatan saling serang antartim sukses. ROY (Berita Indonesia 68)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com