Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Politik Golkar Tak Seperti Dulu
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Golkar Tak Seperti Dulu

E-mail Print PDF

Moerdiono, Rahmat Witoelar, Jusuf Kalla, Soekardi dan Oetoyo Oesman dalam pertemuan antargenerasi Partai Golkar.Partai Golkar menggelar sarasehan antargenerasi. Kritikan pun muncul dari para sesepuh partai berlambang pohon beringin ini. Aula Kantor DPP Partai Golkar Sabtu (3/2) lalu dipenuhi tokoh-tokoh senior dan sesepuh partai berlambang pohon beringin itu. Suasana terasa meriah. Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden itu terlihat ceria. Dia menyalami para mantan petinggi Golkar yang datang menghadiri acara sarasehan antargenerasi yang digelar pada siang hari itu.

Di antara tokoh-tokoh senior Golkar yang hadir tampak H.Harmoko, Soelasikin Moerpratomo, Oetoyo Oesman, Moerdiono, Rachmat Witoelar dan R. Soekardi.

Kendati dalam suasana santai, namun topik pembicaraan yang mengemuka di forum itu sangat serius. Yakni bagaimana Partai Golkar bisa unggul dalam memimpin perjalanan bangsa ke depan.

Seperti dikemukakan Jusuf Kalla, tantangan sekarang dan ke depan bagi Golkar cukup berat. “Sekarang tidak bisa Golkar langsung mengklaim keberhasilan pemerintah. Tidak seperti dulu,” paparnya. Karena dalam sistem multipartai, hampir tidak mungkin partai menjadi peraih suara absolut dan menguasai pemerintahan serta parlemen.

Sejumlah kritik juga dilontarkan para mantan petinggi Golkar. Harmoko misalnya, mengkritisi konsolidasi partai yang hingga saat ini dinilainya belum maksimal. Menurut mantan Ketua Umum DPP Golkar ini, partai ini perlu bekerja keras dalam sisa waktu sebelum tahun 2009. “Kalau tidak bekerja keras, saya khawatir perolehan suara Golkar akan turun lagi,” tegasnya.

Sedangkan mantan Ketua DPP Golkar Soelasikin Moerpratomo menyoroti lemahnya sistem pengkaderan. Menurutnya, banyak kader terbaik Golkar yang ‘hijrah’ dan berjuang untuk partai politik lain. “Tjahjo Kumolo itu dulu kader saya, sekarang dia kerja untuk partai lain dan masih banyak lagi lainnya,” ujar mantan Menteri Negara Peranan Wanita dan mantan anggota DPA di era Orde Baru itu.
Perempuan ini juga mengkritisi belum dicapainya komitmen menempatkan 30 persen kuota perempuan di parlemen. Menurutnya, pada masanya dulu sempat mencapai 16,4 persen, tapi sekarang turun jadi sekitar 14 persen.

Kritikan ini spontan disanggah Jusuf Kalla. “Bu Moer, partai kita paling banyak perempuannya di parlemen. Kita punya 21 orang di DPR,” jelasnya, seperti diberitakan Indo Pos  (4/2). Dengan sistem pemilihan saat ini, menurut Jusuf Kalla, Partai Golkar masih belum menemukan formula yang tepat untuk memenuhi kuota 30 persen tersebut.

Sementara Moerdiono mengemukakan perlunya keberhasilan sekaligus kegagalan Golkar di masa lalu menjadi masukan penting untuk menyiapkan strategi di masa depan. “Kita belajar dari keberhasilan sekaligus kegagalan masa lalu. Tidak semua Orde Baru itu jelek,” ujarnya mengingatkan.AM,SP (Berita Indonesia 32)


Bursah-Zaenal Damai?
Dua tokoh Partai Bintang Reformasi(PBR) yang berseteru, Bursah Zarnubi dan Zaenal Ma’arif, terlihat akrab usai acara pelantikan pergantian antar waktu (PAW) 10 anggota DPR periode 2004-2009 di gedung DPR, Senayan, Jakarta Senin (5/2) lalu. Mereka asyik berbincang-bincang usai acara pelantikan yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono tersebut.

Kepada wartawan, Bursah yang Ketua Umum DPP PBR sekaligus Ketua Fraksi PBR di DPR menyatakan bahwa dirinya tidak menutup diri untuk melakukan islah dengan Zaenal. “Islah bisa saja terjadi, perang saja bisa damai. Apalagi sesama muslim itu wajib islah,” ujarnya.

Sedangkan Zaenal Ma’arif yang menduduki jabatan Wakil ketua DPR dari PBR menyatakan, sejak dulu sebenarnya tidak ada masalah antara dirinya dengan Bursah. “Secara pribadi kami selalu bekerja sama untuk membangun PBR,” paparnya.

Sejak dua bulan lalu, Zaenal dan Bursah terlibat perseteruan sengit yang berujung pengajuan recall terhadap Zaenal sebagai anggota DPR. Alasannya Zaenal melakukan poligami dan tidak maksimal dalam menjalankan tugas di DPR dan membangkang atas putusan DPP PBR yang menariknya dari jabatan Wakil Ketua DPR menjadi anggota DPR.

Tindakan Bursah ini spontan dibalas Zaenal. Dia pun dengan mendirikan PBR tandingan. Zaenal juga membalas dengan dugaan Bursah melakukan perjudian di sebuah kasino saat kunjungan DPR ke London, Inggris.

Akankah perseteruan politik mereka bisa berakhir dan dicapai happy ending? AM,SP (Berita Indonesia 32)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com