Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Politik “Warning” dari Gedung Juang ‘45
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

“Warning” dari Gedung Juang ‘45

E-mail Print PDF

Berbagai elemen masyarakat dari kalangan budayawan, politisi, aktivis prodemokrasi, dan mahasiswa tumplek di gedung bersejarah Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini, dan kinerja pemerintahan SBY-JK dua tahun terakhir, sejumlah tokoh menggalang gerakan membangun kemandirian, martabat, dan masa depan bangsa.

Gedung Juang 45, Jakarta, Sabtu 20 Mei 2005. Berbagai elemen masyarakat seperti budayawan, politisi, aktivis prodemokrasi, dan mahasiswa tumplek di gedung bersejarah itu.

Tampak pula beberapa tokoh nasional, antara lain, mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie, wartawan senior Rosihan Anwar, dan budayawan Emha Ainun Nadjib.

Mereka semua berbaur mengikuti acara Sarasehan Kebangkitan Nasional 20 Mei 2006  itu bertajuk “Membangun Kemandirian Martabat dan Masa Depan Bangsa”.

Acara itu diprakarsai oleh Kelompok Sembilan, yakni sembilan tokoh yang sejak awal dikenal sangat keras menentang kebijakan pemerintah menunjuk ExxonMobil sebagai operator ladang minyak Blok Cepu.

Mereka adalah, Amien Rais, mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Menhankam/Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto, Ketua Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim, Marwan Batubara (Anggota DPD asal DKI Jakarta), Dradjad H. Wibowo (anggota DPR dari Fraksi PAN), Alvin Lie (anggota DPR dari Fraksi PAN), Ismet Hasan Putro (Ketua Masyarakat Profesional Madani), dan Chandra T. Wijaya (pengusaha).

Gerakan itu digagas setelah para tokoh nasional ini gagal bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dipandu oleh Amien Rais, dengan gaya bicara yang khas penuh nada-nada kritis terbungkus kelakar, acara berlangsung meriah dan hidup. Amien mengatakan, acara tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan pemerintah SBY-JK bahwa negara-negara lain mengedepankan nasib rakyatnya melalui kebijakan-kebijakan yang bermartabat.

Dalam konteks itu, mantan Ketua Umum DPP PAN ini mengeritik, antara lain, kebijakan pemerintah SBY-JK di bidang pertambangan. Dia menunjuk kasus Freeport, Papua, dan ladang minyak Blok Cepu, Blora, yang pengelolaannya dikuasai perusahaan asing.

Politikus PDI Perjuangan Kwik Kian Gie, menilai kepemimpinan SBY-JK terlalu lembek ketika menetapkan ExxonMobil sebagai pengelola Blok Cepu. “Presiden sangat mudah ditekan kepentingan asing terutama Amerika,” ujar mantan Kepala Bappenas di era Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarnoputri itu.

Rosihan Anwar, dan budayawan Emha Ainun Nadjib“Rakyat menangis,” ujar Cak Nun, panggilan akrab Emha Ainun Nadjib, menyampaikan pandangan kritisnya seputar kinerja pemerintah yang cenderung lebih berpihak kepada kepentingan asing ketimbang nasib anak bangsa.

Praktis, acara tersebut berisi kritik tajam kepada kebijakan pemerintahan SBY-JK, selama dua tahun terakhir, yang dianggap abai terhadap kepentingan bangsa dan nasib rakyat Indonesia.
Sebagai wujud kerisauannya yang dalam terhadap pemerintahan saat ini, Alvin Lie, misalnya, membacakan sepucuk puisi yang isinya merupakan penafsiran dan pemaknaan terhadap huruf demi huruf dari tiga kata yang menjadi nama SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.

Eggi Sujana, salah seorang peserta, sempat mempertanyakan kepada forum –khususnya Amien Rais selaku motor utama— akan dibawa ke mana hasil acara sarasehan tersebut. Menurutnya, jangan sampai kegiatan semacam itu hanya menghabiskan energi secara intelektual.

“Tindakan politik konkret apa yang akan dilakukan setelah acara ini?” tanya Eggi dengan nada penuh tekanan.

“Kita ikhlas dan kita dukung Mas Amien Rais untuk memimpin bangsa ini.”
“Wah, Mas Eggy agaknya sudah kebelet aksi,” ucap Amien sambil tersenyum menanggapi tantangan Eggy.

Aktivis politik lainnya, M. Jumhur Hidayat, bahkan menyerukan kepada seluruh kaum intelektual dan kaum marjinal Indonesia untuk saling bersatu padu.
“Terima kasih Mas Jumhur atas pandangannya, yang tampaknya sudah ingin buat revolusi,” celoteh Amien merespon ajakan Jumhur.

Seorang aktivis BEM dari Universitas Trisakti Jakarta pun meminta agar acara tersebut ada follow up-nya, seraya mengingatkan kepada para penggagas acara untuk mengajak elemen gerakan mahasiswa dalam berjuang. “Karena kondisi saat ini diwarnai begitu banyak faksi, maka harus dilakukan banyak pencerahan,” tukas si mahasiswa.

Marwan Batubara, yang juga Koordinator Gerakan Rakyat Penyelamat Blok Cepu, menggalang tanda tangan di atas surat bermeterai kepada semua hadirin untuk menggugat pemerintah soal nasib Blok Cepu.

Beberapa poin masukan yang disampaikan kelompok sembilan kepada Presiden SBY antara lain mempersoalkan ditunjuknya ExxonMobile sebagai operator Blok Cepu dan persoalan pertambangan lainnya yang melibatkan perusahaan asing seperti Freeport McMoran di Tembagapura, Papua.

Sebelum mengakhiri acara, Amien Rais menggarisbawahi bahwa gerakan “Membangun Kemandirian, Martabat, dan Masa Depan Bangsa” tidak akan berhenti. Gerakan itu akan terus kita gulirkan sampai ke daerah-daerah di penjuru tanah air, dengan lebih banyak lagi jaringan.

Di ujung kalimatnya, Amien sempat melontarkan nada sindiran kepada kalangan intelijen negara agar tidak salah dalam menyimpulkan kegiatan hari itu.

“Kepada teman-teman BIN dan sebagainya silahkan acara ini direkam tapi jangan disimpulkan. Tolong dibuat yang rapi, rasional, dan jujurlah. Mari kita saling mengisi dan meluruskan, jangan nanti disebut bahwa Amien Rais memprovokasi orang,” ucap Amien. Pernyataan Amien seketika langsung disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Dradjat Wibowo yang ditunjuk sebagai notulen memaparkan sembilan poin imbauan yang akan disampaikan kepada Presiden SBY, Wapres JK, termasuk kepada pimpinan lembaga-lembaga negara seperti MPR, DPR, DPD, MA, BPK,  dsb. SB,AF (Berita Indonesia 15)

Sembilan Imbauan kepada SBY-JK
1 Menggelorakan semangat nasionalisme.
2 Menjadikan kemajemukan sebagai modal bangsa.
3 Mengutamakan kepentingan nasional diatas kepentingan asing dan golongan.
4 Konsisten terhadap amanat UUD 1945.
5 Menjamin tidak lagi menyengsarakan rakyat.
6 Membebaskan rakyat dari jeratan utang.
7 Memaksimalkan kekayaan alam dan mengembalikan aset dari tangan asing, seperti pengambilalihan saham Indosat         dan bantuan likuiditas Bank Indonesia.
8 Tidak tebang pilih dalam memberantas korupsi.
9 Memaafkan mantan Presiden Soeharto dengan tetap menjalankan proses hukum terhadap tindak pidana yang sudah  dilakukannya.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com