Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Politik Sinyal Datang dari Bambu Apus
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Sinyal Datang dari Bambu Apus

E-mail Print PDF

Sejumlah tokoh nasional menggelar pertemuan di kediaman Wiranto, Bambu Apus.Sejumlah tokoh nasional menggelar pertemuan dikediaman Wiranto. Berbagai masalah bangsa disorot secara kritis. SBY dinilai diskriminatif memberantas korupsi. Sejumlah tokoh nasional Rabu (22/6) lalu menggelar pertemuan di kediaman mantan Panglima ABRI Wiranto di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur. Mereka antara lain mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan aktivis Malari Hariman Siregar, mantan Kapolda Metro Jaya Noegroho Djajoesman, dan Ketua Fraksi PDI-P DPR Tjahyo Kumolo.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid urung datang karena pesawat yang akan ditumpanginya dari Malaysia  ke Jakarta penundaaan jadwal keberangkatannya. Taufik Kiemas tidak hadir karena kurang sehat. Mantan Ketua MPR Amien Rais berada di luar kota. Begitu juga mantan Presiden B.J.Habibie yang tengah berada di Jerman.

Pertemuan ini mendapat liputan luas dari media massa, cetak dan elektronik. Media Indonesia (23/6) mencatat, pertemuan itu adalah kali kedua digelar. Pertemuan pertama di kediaman Try Sutrisno, di Jl. Purwakarta No.6 Jakarta Pusat, awal Juni lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Hadir, antara lain, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Taufik Kiemas, Akbar Tandjung, Wiranto dan mantan Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirdja.

Tuan rumah, Wiranto, mengatakan pertemuan membicarakan berbagai masalah bangsa saat ini. “Sekarang tujuannya berkumpul untuk menyamakan visi, misi dan persepsi dalam menyikapi masalah bangsa. Misalnya soal bencana, kesehatan masyarakat, korupsi dan BBM,” ujar mantan calon Presiden pada Pilpres 2004 lalu.

Wiranto, seperti dikutip Suara Pembaruan (23/6), menyangkal bahwa pertemuan itu untuk membangun kekuatan opisisi. “Tidak ada maksud negatif apalagi sampai membangun suatu oposisi,” tegasnya. Pertemuan ini baru sebatas curah pendapat antartokoh yang hadir, sehingga hasilnya dapat disampaikan ke komunitas masing-masing tokoh.

Menanggapi penilaian bahwa forum itu sarana mengkritisi Pemerintahan SBY, mantan Panglima ABRI di Era Pak Harto mengingatkan, mengkritisi persoalan dalam koridor demokrasi bukan sebuah masalah.
“Kan mengkritisi dalam koridor demokrasi tidak apa-apa. Ini tidak mengkritisi, tapi lebih luas lagi yakni mengajak seluruh kekuatan bangsa melalui keberadaan tokoh-tokoh ini untuk bersatu kembali,” jelasnya.

SBY Diskriminatif
Hariman Siregar, seperti ditulis  Bisnis Indonesia (23/6), menjelaskan banyak hal yang dibicarakan dalam forum, termasuk soal pemberantasan korupsi. “Dalam soal korupsi kita minta jangan ada diskriminasi. Misalnya dalam kasus KPU, ada menteri yang dilindungi oleh presiden dan tidak ditangkap”, ujarnya.

Hariman menuding Presiden Yudhoyono melakukan tindakan like and dislike dalam melakukan pemberantasan korupsi dengan melindungi menteri dan Wapres dari jeratan pengadilan.
“Kami mendesak jangan ada“like and dislike. Masak Ketua KPU ditangkap, tapi menteri tidak ditangkap… Seharusnya ditangkap semua!” ujarnya.

Dia menunjuk kasus Bank Mandiri. “Masak Wapres dan menteri belum diperiksa, tapi sudah dinyatakan tidak bersalah. Ini menunjukkan adanya diskriminasi.”

Pengamat politik, Sukardi Rinakit menilai serial pertemuan antartokoh ini mempunyai dua agenda utama: memperluas spektrum agenda rekonsiliasi nasional yang sampai kini belum tuntas dan masih terbengkalai, sembari mengkritisi pemerintahan SBY.

“Nah kelompok yang terdiri dari berbagai latar belakang politik ini agaknya ingin  mendorong proses rekonsiliasi tersebut”.

Di sisi lain, cetus Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi  Syndicated itu,  para tokoh juga mengkritisi pemerintahan SBY, khususnya sejak parlemen secara ”de facto” ‘dikuasai’ pemerintah.

Dalam hemat Sukardi, kelompok ini mengkritik manuver Wapres Jusuf Kalla, misalnya, dalam perundingan informal RI dengan GAM atau tendensinya pada nasionalisme ekonomi, sebagai sesuatu yang memprihatinkan. “Jadi sasarannya sesungguhnya bukan SBY. Hanya, mereka ingin SBY lebih firm in action dan ‘mengunci’ Jusuf Kalla”, paparnya.

Rencananya, pertemuan lanjutan akan dilangsungkan bulan Agustus mendatang di kediaman Abdurrahman Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan dengan komposisi peserta masih terbatas seperti saat ini. SP,AF (Berita Indonesia 01)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com