Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Politik Pancasila, Tali Pengikat yang Nyaris Putus
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Pancasila, Tali Pengikat yang Nyaris Putus

E-mail Print PDF

Krisis nasional yang terjadi di tanah air, secara keimanan bersumber dari krisis moral dan akhlak para pemimpin bangsaKolektivitas Indonesia yang terangkum dalam lima sila dari Pancasila tidak muncul begitu saja tapi lahir secara organik sebagai cita-cita bersama. Dewasa ini, dalam pusaran globalisasi semangat individualistis, etnisitas dan kedaerahan justru mengkristal. Masih adakah Pancasila?

Pancasila rumah kita
rumah untuk kita semua

Nilai dasar Indonesia
Rumah kita selamanya….

Untuk semua puji nama-Nya
Untuk semua cinta sesama
Untuk semua keluarga menyatu
Untuk semua bersambung rasa
Untuk semua saling membagi

Pada setiap
Sama dapat sama rasa
Ooohh... Indonesia

Tiga bait syair dan lirik lagu di atas merupakan karya Franky Sahilatua dan A Dulmanan.Lewat tembang berjudul Pancasila Rumah Kita itu, penyanyi balada tersebut hendak mengingatkan satu keniscayaan bahwa Pancasila adalah pegangan hidup seluruh warga negara di tengah keberagaman yang mewarnai Indonesia.

Acara Curhat budaya sendiri diprakarsai oleh Aliansi Bhinneka Tunggal Ika (ABTI), dan berlangsung selama dua hari (1-2/6) di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Menurut ABTI, Curhat Budaya dimaksudkan sebagai usaha menggali nilai-nilai baru dari Pancasila, yang relevan dengan konteks kita hari ini, demi menjaga kebhinekaan yang bermartabat, yang berdiri tegak di atas moral dan etika bangsa Indonesia sendiri.

Pancasila yang digali dan dirumuskan para pendiri bangsa ini adalah sebuah rasionalitas yang telah teruji selama 60 tahun berhasil melindungi keragaman yang membuat Indonesia mampu bertahan tidak terpisahkan dari Aceh sampai Papua.

Pancasila adalah rasionalitas bangsa yang majemuk, yang multiagama, multibahasa, multibudaya, dan multiras, bernama Indonesia, ini seperti tergambar dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu.

Kebhinekaan Indonesia harus dijaga sebaik mungkin. Namun kebhinekaan yang kita inginkan adalah kebhinekaan yang bermartabat, yang berdiri tegak di atas moral dan etika bangsa kita sesuai dengan keragaman budaya kita sendiri.

Untuk menjaga kebhinekaan yang bermatabat itulah, maka berbagai hal yang mengancam kebhinekaan mesti ditolak, pada saat yang sama segala sesuatu yang mengancam moral kebhinekaan mesti diberantas. Karena kebhinekaan yang bermartabat di atas moral bangsa yang kuat pastilah menjunjung tinggi eksistensi dan martabat manusia Indonesia.

Setelah puluhan tahun dimanipulasi menjadi alat pembenaran bagi kekuasaan, Pancasila tidak lagi membekas di hati nurani bangsa Indonesia. Sudah saatnya ada upaya bersama untuk membangunkan kembali memori kolektif bangsa Indonesia tentang lima sila yang tercantum dalam Pancasila serta untuk menegaskan ulang keniscayaannya sebagai bagian integral dari kontrak sosial untuk menjadi satu bangsa.

Peringatan hari lahir Pancasila juga diselenggarakan oleh sejumlah tokoh nasional dan tokoh lintas agama, yang mengadakan pertemuan tertutup di kediaman mantan Wapres Try Sutrisno, di Jln. Purwakarta 6, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (1/6/2006).

Selain Try Sutrisno selaku tuan rumah, hadir dalam pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut, antara lain, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Menhankam/Pangab Jenderal (purn) Wiranto, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan suaminya Taufik Kiemas, mantan Menkeu Fuad Bawazier, tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha.

Peserta pertemuan itu menyepakati empat butir hasil pertemuan yang disebut “Pernyataan 1 Juni 2006 Purwakarta 6”. Usai acara itu, Try Sutrisno menjelaskan empat butir kesepakatan tersebut. Pertama, Pancasila adalah satu-satunya ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, berbagai persoalan bangsa yang muncul saat ini dinilai akibat pengamalan Pancasila dan UUD 1945 yang tidak benar.

Ketiga, arah pengamalan Pancasila dan UUD 1945 harus diluruskan kembali.
Keempat, bangsa ini harus memetik hikmah dari berbagai bencana yang terjadi di Indonesia.
“Kita harus segera memulihkan kepercayaan sosial di dalam masyarakat, sehingga berbagai gejala konflik vertikal atau horisontal yang banyak merebak dapat segera dipadamkan dengan cara membangun kembali hubungan sosial sebagai bangsa yang bersatu, berdaulat, dan bermartabat,” papar Try Sutrisno.

Mengutip pernyataan tokoh Islam, KH Ali Yafie, Try menambahkan, krisis nasional yang terjadi di tanah air, secara keimanan bersumber dari krisis moral dan akhlak para pemimpin bangsa ini. AF (Berita Indonesia 16)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com