Jelang seperempat abad, Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) meretas ke negeri jiran dengan keindahan Indonesia.
Musim bunga telah tiba. Kabar itulah yang tersirat lewat sejumlah lukisan dalam tajuk pameran “Exotic Indonesia in Colour” di Kuala Lumpur medio bulan silam. Sejumlah lukisan bercorak bunga, dari iris, dahlia, mawar, anggrek bulan, serta lili merona beraneka warna.
Ada juga beberapa lukisan pemandangan yang eksotis. Sudah barang tentu pasti ada Bali. Selain itu juga ada pemandangan bukit Baliem, sungai Musi, persawahan Ciawi, panorama pedesaan, sungai, danau, dan suasana pasar terapung. Begitulah nuansa keindahan Indonesia direkam dalam 100 lukisan dari 38 pelukis yang tergabung dalam IWPI di gedung Soka Gakkai Malaysia yang terselenggara atas kerjasama Kedutaan Indonesia untuk Malaysia dan lembaga nirlaba, Soka Gakkai Malaysia.
Profesional
Laiknya lini bidang seni lainnya, seni rupa juga menyimpan gejolak gender di antara para pelakunya. Dalam sejarah awal seni rupa modern Indonesia, nama perempuan pelukis Indonesia masih terbilang langka. Baru di era 30-an, nama pelukis Emiria Sunassa, yang menjadi satu dari segelintir seniman yang tergabung dalam PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Barulah di era 60-an, sejumlah nama pelukis perempuan mulai merebak di kancah seni rupa Indonesia, sekadar menyebut beberapa nama semacam Umi Dachlan, Kartika Affandi, Rulijati, dan Kustijah.
Hingga era 80-an dan yang paling mutakhir, keberadaan perempuan dalam seni rupa terkhusus seni lukis sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Terlebih lagi sudah begitu banyaknya organisasi sebagai wadah perkumpulan, juga sejumlah kantung budaya yang kerap menjadi penyaluran karya seni mereka.
Satu di antara yang meretas di era 80-an adalah paguyuban yang dibesut empat orang perempuan pelukis Dewa Retno, Sri Yunnah, Yuriah Tanzil, dan Sri Robustina. Mereka berembuk ide di pertengahan Agustus 1985 hingga terbentuklah Ikatan Pelukis Wanita Indonesia (IPWI) yang akhirnya kemudian menjadi Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI).
Jika tahun-tahun pertama pendiriannya dulu baru menampung segelintir ibu-ibu sasak, kini anggota sudah mencapai 200 orang lebih yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia, dari yang termuda berusia 18 tahun hingga yang sepuh di usia 80-an.
“Dengan berdirinya IWPI para perempuan pelukis berbagi informasi, dan terutama wadah untuk menampung kreativitas. Dulu kita perempuan yang melukis sering kebingungan, mau cari informasi ke mana, bagaimana kalau mau ikutan pameran…,” ungkap Kartini Sabekti, salah satu penggiat di IWPI.
Pada September 1985, IWPI langsung mengadakan pameran perdana di gedung Lingkar Mitra Budaya yang acaranya langsung diresmikan oleh Ida Sukaman (alm.) sebagai wakil dari Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Dan setelah itu meretaslah puluhan pameran bersama hingga menjelang usia seperempat abad ini.
Kartini mengungkapkan keberadaan IWPI bertujuan mengkalibrasi kemampuan perempuan menjadi pelukis profesional. Katanya, “Dalam wadah ini kami mengkondisikan diri sebagai pelukis profesional. Belajar melukis dengan benar, sesuai ilmunya. Ada guru khusus yang membimbing. Selain itu juga rutin mengadakan seminar, workshop, tour melukis ke sejumlah kota dan punya jadwal melukis yang tetap. Setidaknya perempuan pelukis itu tidak hanya menjadi sunday painters.”
Subyek dan Obyek
Yang dimaksud “sunday painters” adalah anggapan bahwa kaum perempuan yang melukis itu hanya di hari minggu. Konotasinya, melukis hanya untuk mengisi waktu luang. Pertemuan saban pekan untuk sekadar ngumpul-ngumpul, membunuh waktu senggang daripada sekadar arisan atau bergunjing. “Kami sangat profesional. Bukan hanya melukis untuk indah, tapi yang layak dipamerkan, dan layak jual,” tambah Kartini.
Sebagai contoh, dalam pameran di negeri jiran yang baru saja lewat, sejumlah lukisan terjual dan sebagian lainnya disumbangkan untuk malam amal (charity). Seperti ada keinginan yang kuat bagi IWPI untuk menepis anggapan miring tentang perempuan yang melukis.
Siapa yang pernah melupakan sindiran pelukis besar, Basoeki Abdullah yang mengatakan bahwa, “Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis.” Pernyataan tadi berangkat dari mitos dan sekaligus telah dijadikan mitos tentang perempuan yang melukis.
Dari sekitar 100 lukisan yang dipamerkan, “keindahan” perempuan benar-benar terungkap secara jelas. “Perempuan memang menyukai keindahan, jadi tidak bisa dipungkiri banyak lukisan bertema bunga. Karena jelas, pelukis itu akan melukis obyek apa yang dia senangi…,” ungkap Kartini yang pernah menjabat sebagai Konjen (Konsulat Jendral) Indonesia di Vancouver, Kanada itu.
Selain lukisan tentang bunga dan pemandangan, juga terdapat sejumlah manusia dan aktivitasnya. Misalnya potret seorang penenun songket, penari ronggeng Bali, sekumpulan ibu tani di sawah, pasar tradisonal, seorang perempuan yang sedang berdoa, ibu yang mengajari anaknya dan lain sebagainya. Gaya realis - naturalis sangat mendominasi. Sehingga sosok perempuan yang muncul begitu jelas kentara. Sulit untuk menolak anggapan bahwa perempuan memang terlalu indah untuk dilukiskan.
Bedanya sekarang mitos bahwa “Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis” harus sedikit diluruskan. Setidaknya 38 pelukis dengan 100 lukisan yang dipamerkan di dunia internasional itu sudah membuktikannya. CHUS (Berita Indonesia 66)
| < Prev | Next > |
|---|



