Perempuan Indonesia tidak sekadar dituntut mampu mempertahankan kebudayaan, tetapi juga melestarikannya.
Terpilihnya dia sebagai Miss Indonesia 2006 tidak lepas dari tujuan melestarikan budaya ketimuran. Perempuan Indonesia tidak sekadar dituntut mampu mempertahankan kebudayaan, tetapi juga bagaimana melestarikannya. Menurut gadis asli Manado ini, adat dan istiadat ketimuran harus tetap dijunjung tinggi, karena itu menjadi citra perempuan Indonesia yang dikenal mancanegara.
Bulan September 2006, Kristin, demikian sapaan akrabnya, mewakili Indonesia dalam ajang pemilihan Miss World 2006 di Polandia. Selama sebulan, ia harus menjalani berbagai acara di negara itu. Sayangnya, dia gagal merebut predikat di perhelatan ratu kecantikan sedunia itu.
Namun, kegagalan itu tidak membuatnya sedih, sebab ada misi lain yang diembannya sebagai wakil Indonesia di sana. Dan bisa dibilang, misinya itu berjalan dengan baik. Di sana, dia berkesempatan mempromosikan Indonesia kepada para peserta kontes Miss World yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Kepada Berita Indonesia, Kristin mengungkapkan bahwa sejak ia terpilih sebagai Miss Indonesia pada Agustus 2006, salah satu programnya adalah mempromosikan Indonesia ke mancanegara. “Itu program internasional Miss Indonesia selama tahun 2006,” katanya di sela-sela acara HKSN 2006 yang juga dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Setelah terpilih sebagai Miss Indonesia 2006, dia wajib mengaplikasikan nilai-nilai budaya ketimuran, dalam perilakunya di tengah masyarakat.
Dara kelahiran Manado 7 Mei 1985 yang memiliki hobi berenang ini mengaku kegiatannya sehari-hari di luar acara seremonial adalah sama dengan kegiatan anak muda lainnya. Namun dia wajib memperhatikan norma dan etika karena menyandang status sebagai Miss Indonesia.
Sebagai Miss Indonesia, dia memang memiliki tugas dalam beberapa kegiatan, baik yang seremonial yang dihadiri oleh kepala negara maupun kegiatan kemasyarakatan. Termasuk kegiatan yang bernuansa keagamaan, seperti ketika berbuka puasa bersama dan Natal bersama.
Menurutnya, sangat penting merangkul semua agama dan latar belakang budaya tanpa membeda-bedakan. Miss Indonesia harus memahami budaya yang ada di Indonesia. Untuk itu, ia berusaha belajar banyak tentang akar dari nilai-nilai budaya ketimuran di Indonesia.
Pengalaman hidup
Mengomentari kekerasan terhadap perempuan yang sering terjadi, Kristin berpendapat, faktor pendidikan memegang peranan penting. Kekerasan bukan terjadi pada perempuan, juga terjadi pada anak-anak, yang dilakukan suami, orangtua ataupun orang lain. Maka diperlukan kesadaran agar hal itu tidak terjadi.
Menurutnya, bagaimana pun bentuknya, dilihat dari berbagai sudut pandang, kekerasan itu tidak dibenarkan. Untuk meminimalisasi tindak kekerasan, perlu diajarkan secara dini tentang akibat-akibat hukum, perlu ada perangkat hukum yang jelas dan tegas, namun perlu ditekankan pula efektivitas dan aplikasinya, sehingga membuat jera pelakunya.
Menyinggung suka duka sebagai Miss Indonesia yang mengemban misi dan tugas yang tidak sedikit, Kristin merasa hal itu tidak memberatkan sama sekali. Ia bahkan menikmatinya dan menganggap lebih banyak suka yang dia rasakan.
Dia mencontohkan pengalaman yang tak terlupakan saat mengikuti ajang Miss World 2006 di Polandia. Selama sebulan di sana, dia harus mengenakan kebaya, memperkenalkan pakaian tradisional Indonesia kepada para peserta lainnya yang datang dari berbagai negara.
Kristin menyadari betul posisinya sebagai public figure. Terlebih lagi, sebagai Miss Indonesia, dia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan beragam profesi. Itu memberi nilai positif bagi dirinya dan menambah pengalaman serta pengetahuannya. Hal itu bermanfaat bagi dirinya di saat ini dan di masa mendatang. RI (Berita Indonesia 30)
| < Prev | Next > |
|---|



