Kerusuhan yang dilakukan bonek berbuah sanksi berat. Persebaya dilarang menggelar laga di Jawa Timur selama setahun. Sedangkan bonek dilarang menonton selama tiga tahun. Persebaya terancam bubar?
Seperti namanya, Bonek alias bondo nekat, pendukung Persebaya ini memang benar-benar nekat. Tulisan besar-besar di spanduk yang terpampang di tribun Stadion 10 November Tambaksari, Surabaya tak digubris. Padahal tulisan itu jelas-jelas berbunyi : “Ojok Kisruh Rek ! Sanksi/Ukumane Abot Temen !”
Alhasil, di pertandingan delapan besar menuju perempat final antara kesebelasan tuan rumah Persebaya melawan Arema Malang yang digelar Senin (4/9) lalu berbuah kerusuhan. Lemparan batu ke tengah lapangan mulai terjadi saat pertandingan babak kedua masih berlangsung. Belum lagi pertandingan usai, sang bonek yang kecewa jagonya gagal mengalahkan lawan, mulai turun ke lapangan mencabuti spanduk dan melempari pemain dengan batu dan botol minuman. Wasit Jimmy Napitupulu pun menghentikan pertandingan. Para pemain dan penonton panik menyelamatkan diri. Aparat yang berjumlah 700 personil tak mampu mengamankan amukan massa di stadion yang berkapasitas lebih dari 23.000 penonton itu.
“Kami sudah berusaha mengantispasi. Namun terlalu banyak suporter yang berbuat anarkis. Kami memprioritaskan pengamanan pada pemain dan wasit dulu,” ujar AKP Juansih seperti ditulis Tabloid Bola (8/9).
Selain menyerbu ke lapangan, para bonek dengan bringas menghancurkan kaca-kaca di pintu masuk VIP stadion. Kerusuhan juga dimuntahkan di luar stadion. Tak ayal, sejumlah kendaraan dirusak dan dibakar, termasuk kendaraan ANTV yang saat itu menyelenggarakan siaran langsung. Akibat kerusuhan ini kerugian mencapai miliaran rupiah.
Kebrutalan yang dilakukan para suporter Persebaya di ajang kompetisi ini bukan yang pertama. Bulan Juni lalu Bonek terlibat bentrok saat bertemu PS Mojokerto Putra di awal babak 32 besar. Keributan di Stadion Gajah Mada, Mojokerto itu menyebabkan pertandingan ditunda. Bentrok kedua terjadi di Stadion Brawijaya, Kediri saat final Divisi I Persebaya berhadapan dengan Persis Semarang pada 16 Agustus lalu.
Ulah para bonek ini membuat kecewa banyak pihak. Termasuk Menpora Adyaksa Dault dan Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar. “Sangat memalukan,” ujar Agum kepada wartawan saat menerima petinju Chris Jhon.
Bagaimana PSSI menanggapi kasus ini?
Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kemudian menggelar rapat pada Kamis (7/9) lalu di Jakarta. Sidang yang dipimpin ketuanya, Togar Manahan Nero, dihadiri seluruh anggota komisi. Yakni Djoko Driyono (wakil ketua/anggota), John Halmahera (sekretaris/anggota), Ronny Pattinasarani, Iswadi Idris, Sophar Maru Hutagalung, dan Mahfudin Nigara.
Setelah berembuk hampir 3,5 jam, sanksi pun diputuskan. Sidang berkesimpulan tak ada lagi ampun bagi Persebaya dan pendukung fanatiknya yang sudah kesekian kalinya membuat kerusuhan.
Sanksi terberat dalam sejarah persepakbolaan nasional pun akhirnya dijatuhkan. Bajul Ijo ini dilarang menggelar pertandingan di kandang sendiri selama satu tahun dan tanpa penonton. Komdis juga menskors pendukung tim ini tidak boleh menonton pertandingan sepak bola dalam lingkup PSSI atau Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) selama tiga tahun. Ini merupakan sanksi tertinggi berdasarkan kode etik disiplin AFC (Konfederasi Sepakbola Asia).
Dengan hukuman tersebut, selama setahun ke depan, Persebaya harus menggelar laga tanpa penonton di luar wilayah Jawa Timur. Sedangkan para bonek selama tiga tahun dilarang menonton pertandingan sepak bola nasional. Artinya, tidak boleh ada kostum, atribut ataupun tanda-tanda suporter Persebaya yang dikenakan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola nasional.
Tentang hukuman berat yang dijatuhkan, Togar menyatakan Persebaya sudah terlalu sering membuat pelanggaran dan tidak mau belajar dari pengalaman yang sudah-sudah.
Sanksi yang dijatuhkan Komdis PSSI ini serta merta ditolak Persebaya. Karena dianggap tergesa-gesa dan tidak memberi hak untuk membela diri. “Ibaratnya Persebaya telah divonis bersalah tanpa pembelaan,” ujar Sekretaris Umum Persebaya Ahmad Munir (Koran Tempo 9/9).
Ketua Pengda Jatim Haruna Sumitro bahkan mengkhawatirkan Persebaya bisa bubar jika sanksi itu diterapkan. Alasannya, bisa jadi DPRD Surabaya tidak akan memberikan dana jika pertandingan dilakukan di daerah lain.
Manajer Persebaya Indah Kurnia seperti diberitakan Indo Pos (10/9) juga menyatakan akan mengajukan memori banding kepada Komisi Banding (Komding) PSSI. Menurutnya, larangan bermain selama setahun di wilayah Jatim dirasa sangat berat. “Bagaimana pun kami memang siap menerima sanksi. Namun sanksi terhadap klub, kami rasakan terlalu berat. Makanya pada sidang Komding nanti kami harapkan Persebaya bisa kembali bermain di Surabaya meski tanpa penonton,” ujarnya. SP (Berita Indonesia 22)
| < Prev | Next > |
|---|



