Dengan talenta berlimpah, Argentina dijagokan bisa merebut gelar juara dunia untuk kali ketiga. Namun, kegagalan kerap menyergap tim Tango justru ketika dijagokan. Korea-Jepang 2002 menjadi trauma terdekat Albiceleste, julukan Timnas Argentina.
Tim Argentina di kancah sepakbola dunia sudah melegenda. Tim itu pernah meraih gelar juara dunia pada tahun 1978 di Argentina dan tahun 1986 di Meksiko. Dalam meraih dua gelar terdahulu Argentina melahirkan dua bintangnya masing-masing Mario Kempes pada tahun 1978, dan Diego Maradona pada tahun 1986 di Meksiko. Keduanya bersinar di dua era yang berbeda.
Namun, bagaimana dengan Argentina kini? “Saya tidak merasa bisa yakin atau pesimistis pada Argentina setelah apa yang terjadi pada 2002,” ucap legenda hidup Argentina, Diego Maradona. Dia malah menjagokan Brasil sebagai kandidat utama juara di Jerman 2006 mendatang.
Dalam catatan sejarah Piala Dunia, secara kualitas Tango mampu merajai Amerika Selatan dengan menjadi juara 14 kali Copa Amerika. Itu tidak usah diragukan lagi. Bahkan mereka langsung merasakan final pada Piala Dunia perdana, 1930.
Tango memang sempat mengalami prestasi yang pasang surut. Mereka sempat tenggelam setelah torehan runner-up pada 1930. Argentina menunggu cukup lama untuk menjadi juara dunia yaitu pada tahun 1978 di depan publiknya sendiri. Mario Kempes ketika itu menjadi bintangnya.
Pada Piala Dunia Spanyol 1982, tim Tango kandas di babak ke-II. Barulah empat tahun kemudian mereka tampil sebagai juara di Meksiko 1986. Ketika itu dipimpin gelandang menyerang ajaib plus kontroversial, Maradona. Tango pun menjadi juara dunia untuk kedua kalinya. Argentina kemudian selalu dipandang sebagai calon juara. Namun, empat tahun lalu, juara dunia dua kali ini tersingkir di penyisihan grup.
Cari Format Ideal
Meski pada kualifikasi Piala Dunia 2006 Zona Conmebol, Argentina sempat naik turun, namun tim Putih-Biru Laut itu akhirnya tetap mapan di Amerika Selatan. Mereka hanya kalah dari Brasil pada klasemen akhir. Di Jerman 2006, tim Tango lagi-lagi diangkat menjadi calon juara.
Kesempatan terbuka lebar untuk Argentina. Nyaris di semua lini tim Tango punya kemampuan merata. Posisi yang dinilai lemah praktis hanya ada di bawah mistar. Mereka punya nama-nama dengan kemampuan mumpuni yang berpengalaman segudang di kancah Eropa.
Hanya saja, Jose Pekerman tampak belum mendapatkan perpaduan yang ideal untuk meracik pasukannya. Pelatih yang mampu mengangkat timnas junior ini juga belum mampu menerapkan sistem yang diinginkannya.
“Saya ingin menularkan apa yang saya pelajari di masa lalu ke dalam tim. Kami ingin menjadi salah satu tim yang berjuang untuk memenangi trofi,” ucap Pakerman.
Namun, kekalahan telak 1-4 dari rival berat Brasil di final Piala Konfederasi 2005 kembali memunculkan keheranan. “Kami seharusnya tidak lupa tengah bermain di turnamen besar,” ucap Pekerman.
Ya, bila Argentina tetap terbebani status unggulan dan lupa berada di perhelatan terakbar, terhentinya tarian Tango di babak-babak awal seperti di Korea-Jepang 2002 bisa kembali terjadi.
Jika di babak sebelumnya nama Mario Kempes dan Maradona bersinar, maka Piala dunia 2006 ini ada nama Lionel Messi yang bakal tampil sebagai mutiara baru. Membandingkan Messi dengan Diego Maradona mungkin sesuatu yang berlebihan. Namun, Leo punya peluang dan kemampuan untuk mengikuti jejak Diego. Beberapa kesamaan terlihat pada diri keduanya, seperti mencuat di usia muda dan dribel kaki kiri luar biasa.
Puja-puji cepat diterima pemuda kelahiran 24 Januari 1987 ini dengan kesuksesan di klub Barcelona. Pada 1 Mei 2005, Messi menjadi pencetak gol termuda Barca pada usia 17 tahun, 10 bulan, dan 7 hari. Anugerah pemain muda terbaik yang diberikan koran Italia, Tuttosport, menambah sorotan.(Diolah dari berbagai sumber).SB (Berita Indonesia 15)
Skuad Argentina
Pelatih : Jose Pakerman
Kiper :Roberto Abbondanzieri (Boca Juniors), Leonardo Franco (Atletico-Spa)
Bek: Roberto Ayala ( Valencia -Spa), Fabricio Coloccini (La Coruna-Spa), Gabriel Heinze (Man. United -Ing), Gabriel Milito (Zaragoza -Spa), Walter Samuel (Inter-Ita), Javier Zanetti (Inter-Ita), Gonzalo Rodriguez (Villarreal-Spa), Juan Sorin (Villarreal-Spa)
Gelandang: Roman Riquelme (Villarreal-Spa), Esteban Cambiasso (Inter-Ita), Pablo Aimar (Valencia -Spa), Maxi Rodriguez (Atletico-Spa), Martin Demichelis (Muenchen-Jer), Javier Mascherano (Corinthians-Bra)
Penyerang: Hernan Crespo (Chelsea-Ing), Carlos Tevez (Corinthians-Bra), Lionel Messi (Barcelona-Spa), Luciano Galletti (Atletico-Spa), Javier Saviola (Sevilla-Spa)
Formasi Ideal (4-4-2)
Kiper : Abbondanzieri
Bek kanan : Coloccini
Bek tengah : Ayala & Samuel
Bek kiri : Sorin
Gelandang kanan : Zanetti
Gelandang tengah : Demichelis & Aimar
Gelandang kiri : Riquelme
Penyerang : Messi & Crespo
| < Prev | Next > |
|---|



