Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Olahraga Piala Asia 2007: Indonesia Harus Bekerja Lebih Keras
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Piala Asia 2007: Indonesia Harus Bekerja Lebih Keras

E-mail Print PDF

Sebagai tuan rumah, Indonesia sudah pantas berdebar-debar. Selain dihantui oleh cederanya pemain-pemain inti, persiapan mental dan skill juga menjadi momok yang harus diatasi oleh pelatih Timnas Merah Putih Ivan Kolev.

Piala Asia 2007, Indonesia terpilih sebagai tuan rumahPiala Asia 2007 akan digulirkan tanggal 7-29 Juli mendatang. Di kejuaraan sepak bola terbesar se-Asia ini, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah bersama Thailand, Vietnam dan Malaysia. Piala Asia tahun ini yang diikuti 16 negara dan terbagi dalam 4 grup akan dibuka pada 7 Juli di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand. Final kejuaraan ini nantinya sesuai rencana akan diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 29 Juli mendatang. Sedangkan untuk memperebutkan juara ketiga berlangsung di Stadion Jakabaring, Palembang, 28 Juli. Selain itu, Indonesia juga dipercaya sebagai tempat bergulirnya pertandingan Grup D, di mana Indonesia tergabung di dalam grup itu bersama Korea Selatan, Arab Saudi dan Bahrain.

Persiapan demi persiapan pun mulai dilakukan Indonesia sebagai peserta sekaligus tuan rumah untuk menghadapi kejuaraan yang digelar pertama kali pada tahun 1956 ini, mulai dari pembenahan stadion, pemusatan latihan, pemilihan pemain hingga uji coba tim Nasional dengan tim-tim sepak bola dalam dan luar negeri.

Tim Nasional Merah Putih yang diasuh pelatih asal Bulgaria, Ivan Kolev, telah melakukan pemusatan latihan tahap pertama di Samarinda, Kalimatan Timur. Untuk melihat hasil latihan selama sebulan itu, di bawah komando kapten kesebelasan Ponaryo Astaman, timnas pun sudah dan akan melakukan pertandingan uji coba melawan Hongkong (1/6), Singapura (3/6), Jamaika (21/6), Oman (24/6 ), dan Liberia (30/6). Saat melawan Hongkong, pelatih Timnas Merah Putih yang bernama lengkap Ivan Venkov Kolev menerapkan pola permainan 4-3-3, yang kelak ia gunakan pada pertandingan Piala Asia nanti kepada anak-anak asuhnya.

Hasilnya memang tidak mengecewakan, walaupun baru beradaptasi dengan pola teranyar ini, kesebelasan Indonesia berhasil mengalahkan Hongkong dengan skor 3-0. Saat uji coba kedua melawan Singapura, Kolev melakukan eksperimennya lagi, kali ini dengan pola yang sama namun ia memainkan seluruh pemain cadangannya, dengan alasan untuk memilih pemain yang akan dijadikan sebagai pemain inti skuad Timnas.

Alhasil, Timnas Indonesia yang hanya melawan tim U-23 Singapura harus bertekuk lutut, kalah 0-1. Sayangnya uji coba melawan Uzbekistan yang direncanakan 6 Juni gagal. Padahal, saat itulah Timnas seharusnya menguji kemampuan sesungguhnya setelah pelatih Kolev memilah-milah pemain inti dari dua pertandingan sebelumnya.

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan timnas, tampaknya Kolev harus bekerja lebih keras lagi untuk menemukan performa terbaik bagi timnas, karena bukan hanya kritik dari para petinggi sepak bola negeri ini saja yang harus ia terima. Yang lebih menyakitkan bagi Kolev, ia harus kehilangan penyerang andalannya, Boaz Solossa yang cedera saat melawan Hongkong dan kehilangan bek Firmansyah yang cedera ligamen lutut kiri dalam uji coba melawan PSIS Semarang (13/6). Kolev bertambah pusing karena striker asal PSMS Medan, Saktiawan Sinaga, menyatakan mundur dari tim nasional. Hal itu membuat kondisi tim Merah Putih semakin buruk mengingat satu striker lainnya, Rahmat Rivai, juga cedera saat bertanding melawan PSS Sleman. Praktis, tinggal tiga striker yang siap tampil di Piala Asia 2007, yakni Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, dan Zaenal Arif.

Oleh karena itu, pada pemusatan latihan tahap kedua yang dilakukan di Stadion R. Maladi, Sriwedari, Solo, Kolev melakukan penyeleksian ketat untuk mencari pemain yang dianggapnya bisa mendukung pola favoritnya 4-3-3. RIF, MLP (Berita Indonesia 41)

Larangan FIFA Dimentahkan Morales
Bulan Mei yang lalu, FIFA merilis larangan pertandingan sepak bola internasional dan kualifikasi Piala Dunia di atas ketinggian 2.500 meter. Presiden FIFA Joseph “Sepp” Blatter menyatakan bahwa peraturan itu dikeluarkan dengan alasan kesehatan pemain. Kepala Altitude Recearch Center Universitas Colorado Dr Robert Roach menegaskan, wilayah ketinggian tidak sehat dan berbahaya bagi pemain. Dengan adanya aturan FIFA itu, berarti pertandingan sepak bola internasional terlarang di beberapa kota Bolivia, antara lain Cochabamba (2.570 meter), Sucre (2.860 meter), La Paz (3.665 meter), Oruro (3.966 meter), dan Potosi (4.040 meter). Kota-kota ini terletak di kawasan seputar Pegunungan Andes yang membentang dari utara hingga selatan Amerika Latin. Namun tanggal 6 Juni lalu, Presiden Bolivia, Morales mengorganisasi pertemuan untuk memprotes larangan FIFA tersebut, yang dihadiri 20 delegasi beberapa kota besar di Amerika Latin.

Larangan tersebut ditentang di Amerika Latin, terutama oleh Bolivia karena sebagian besar wilayahnya berada di ketinggian. Ibu kota La Paz, misalnya, terletak di ketinggian 3.600 meter. Kemudian tanggal 12 Juni, sebagai bukti sikap protesnya, Morales bahkan bermain sepak bola di ketinggian 6.000 meter. Tim Morales berhasil mencetak satu-satunya gol ke gawang tim pendaki gunung lokal dalam pertandingan yang diadakan di Sajama, puncak tertinggi di negara Amerika Selatan itu. Mereka bermain selama 15 menit. Para pemain yang tampil sudah berpengalaman tanding di Pegunungan Andes. Sejauh ini pihak FIFA belum menanggapi protes itu. MLP (Berita Indonesia 41)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com