Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Olahraga Timnas Bangkitkan Nasionalisme
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Timnas Bangkitkan Nasionalisme

E-mail Print PDF

Meskipun gagal maju ke babak perempat final, timnas mengukir kebanggaan buat bangsa Indonesia.

Babak penyisihan Piala Asia telah berakhir Rabu (18/7). Delapan tim akhirnya dipastikan maju ke babak kedua putaran final. Dari grup A, Irak maju sebagai juara grup dan Australia runner up gru p dengan nilai 5 dan 4. Sebenarnya, Thailand juga memiliki nilai 4, sama dengan Australia. Namun, tuan rumah itu kalah dalam selisih gol, dimana Australia berhasil memasukkan 6 gol dan kemasukan 4 gol sedangkan Thailand hanya berhasil memasukkan 3 gol dan kemasukan 5 gol. Sementara Oman yang juga berlaga di grup A hanya berhasil mengumpulkan nilai 2 dari dua kali seri.

Para penonton, baik yang penggila bola maupun ‘musiman’, turut merasakan kebanggaan melihat perjuangan yang ditunjukkan TimnasDi grup B, Jepang dan tuan rumah Vietnam maju ke babak perempat final dengan nilai 7 dan 4. Sedangkan dua negara lainnya, Uni Emirat Arab dan Qatar hanya meraih nilai masing-masing 3 dan 2. Dari grup C, Iran dan Uzbekistan maju ke perempat final sebagai juara dan runner up grup dengan nilai 7 dan 6. Sementara China hanya meraih nilai 4, dan tuan rumah Malaysia tidak memiliki nilai sama sekali.

Di grup D yang berlaga di Indonesia, juara tiga kali Piala Asia, Arab Saudi masuk delapan besar sekaligus juara grup dengan nilai 7, dan Korea Selatan menjadi runner up dengan nilai 4. Sementara Bahrain dan Indonesia yang hanya meraih nilai 3 harus rela sampai di babak penyisihan saja. Dengan hasil itu, dari empat negara ASEAN yang menjadi tuan rumah bersama Piala Asia 2007 ini, hanya Vietnam yang berhasil maju ke babak berikutnya, babak perempat final.

Pada perempat final nanti, Irak akan berhadapan dengan Vietnam sedangkan Jepang berhadapan Australia. Di grup C dan D, Iran akan berhadapan dengan Korea Selatan, sedangkan Arab Saudi.

Timnas Indonesia
Bagi Tim Nasional Indonesia, ungkapan ‘Kegagalan adalah sukses yang tertunda’, barangkali pas diberikan untuk mereka. Meskipun gagal membuat sejarah baru, maju ke babak perempat final, namun timnas mengukir kebanggaan buat bangsa dalam pesta sepakbola terakbar se Asia kali ini.

Sejak awal, Indonesia memang pantas bangga karena dipercaya bersama Thailand, Vietnam, dan Malaysia jadi tuan rumah Piala Asia 2007. Di samping menggelar laga penyisihan Grup D, semakin membanggakan lagi ketika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah di ajang puncak, tanggal 29 Juli nanti.

Namun yang paling membanggakan dari semuanya itu adalah bangkitnya nasionalisme masyarakyat melihat perjuangan tim nasional yang berusaha menegakkan Merah Putih setinggi mungkin di mata dunia. Kecintaan masyarakat nyata setiap kali pasukan Merah Putih berlaga di lapangan hijau. Puluhan ribu pecinta tim Merah Putih rela antri berjam-jam membeli tiket agar bisa menyaksikan tim kesayangannya secara langsung di lapangan hijau. Petugas kepolisian pun harus bersusah payah menenangkan mereka yang tidak bisa masuk stadion karena tidak kebagian tiket.

Semangat dan kebanggaan itu tidak hanya terasa di sekitar lingkungan Gelora Bung Karno tapi di setiap pelosok negeri, dari kawasan elite di Jakarta sampai ke pedesaan. Di berbagai tempat, sengaja diadakan acara nonton bareng. Orang yang sedang dalam perjalanan, sengaja berhenti sebentar di stasiun atau terminal-terminal, berdiri bergerombol di depan toko elektronik hanya untuk menyaksikan timnas sedang berlaga melalui televisi. Di komplek-komplek perumahan, di gang-gang hunian padat, juga di pedesaan, warga sengaja mengeluarkan televisi ke halaman, juga hanya untuk ramai-ramai menyaksikan laga tim nasional. Di kantor-kantor, di warung kopi, timnas sepakbola juga menjadi pembicaraan.

Doa dan dorongan mengalir dari segenap warga Indonesia, mulai dari masyarakat kecil sampai pejabat tertinggi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga seakan berlomba memberi dorongan pada tim, baik saat sesi latihan maupun saat pertandingan.

Simpati dari masyarakat itu memang tak lepas dari langkah timnas pada laga pertama melawan Bahrain yang cukup membanggakan. Saat itu Indonesia bisa memetik angka penuh dengan skor 2-1. Kemudian pada laga kedua, walaupun harus mengalami kekalahan 1-2 dari Arab Saudi, namun tim nasional tidak begitu mengecewakan. Arab Saudi yang merupakan salah satu raksasa sepakbola Asia sempat dibuat kerepotan sampai menit-menit terakhir, sebelum dewi keberuntungan akhirnya memilih berpihak pada negara dari jazirah Arab itu pada menit injury time. Menurut pendapat beberapa pihak, wasit yang memimpin pertandingan saat itu beberapa kali melakukan kesalahan yang merugikan tim Indonesia. Kemudian pada laga penentuan, saat berhadapan dengan tim raksasa sepakbola Asia lainnya, Korea Selatan, permainan Ponaryo Astaman cs juga tidak terlalu buruk. Dalam permainan ‘hidup-mati’ kedua tim itu, timnas hanya kalah tipis 0-1.

Begitu gigihnya perjuangan yang ditunjukkan para pemain, sehingga tidak ada yang menghujat timnas, sekalipun harus berhenti sampai di babak penyisihan. Bahkan beberapa kalangan menyebutkan, timnas kali ini adalah tim yang terbaik dalam kurun waktu 10 tahun belakangan. Petinggi PSSI sendiri juga mengatakan, tidak akan mengganti tim dan pelatih Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria itu, paling tidak sampai pra piala dunia nanti. “Apa yang mereka perlihatkan sudah luar biasa. Tim dan pelatih akan dipertahankan hingga Pra Piala Dunia nanti,” kata Ketua PSSI Nurdin Halid. Barangkali kita juga setuju dengan rencana tersebut. Apa yang diperlihatkan tim dan pelatih pada penyisihan Piala Asia ini hendaknya menjadi awal yang baik bagi persepakbolaan nasional. Ke depan, Indonesia diharapkan bisa menunjukkan diri sebagai salah satu negara besar melalui olahraga terpopuler di dunia itu. Dorongan dari masyarakat Indonesia tidak kurang besar untuk mendukung itu. Hal tersebut sudah dibuktikan pada perhelatan Piala Asia 2007 ini. MS (Berita Indonesia 43)

Sampras dan Sanchez-Vicario Masuk “Hall of Fame”
Pete Sampras, petenis yang mencatatkan namanya sebagai pemegang rekor pengoleksi gelar grand slam terbanyak (14 gelar) dan pemegang empat gelar grand slam Arantxa Sanchez-Vicario masuk ke International Tennis Hall of Fame di Newport, Rhode Island, Sabtu (14/7). Sampras juga memegang rekor Petenis: Pete Samprassebagai petenis yang menempati posisi satu dunia terlama (286 pekan), termasuk 102 pekan secara berturut-turut antara 15 April 1996 sampai 30 Maret 1998 dan mengakhiri musim sebagai petenis nomor satu dunia selama enam tahun beruntun (1993-1998). Selama 15 tahun berkarir, ia merebut 64 gelar tunggal dan melaju ke final dalam 24 turnamen tambahan.

Gelar grand slam yang dikoleksinya terdiri atas tujuh gelar Wimbledon, dua gelar Australia Terbuka dan lima gelar AS Terbuka. Sementara itu, Sanchez-Vicario merebut tiga gelar Roland Garros (1989, 1994, 1998) dan pada 1994 menjadi petenis Spanyol pertama yang memenangi AS Terbuka. Ia juga merebut enam gelar ganda dan empat gelar ganda campuran di grand slam. Petenis lain yang juga masuk ke Hall of Fame ialah petenis Swedia pertama yang merebut gelar grand slam, Sven Davidson dan fotografer tenis Russ Adams. International Tennis Hall of Fame, diakui pada 1986 sebagai Hall of Fame resmi di bidang olahraga oleh Federasi Tenis Internasional, telah memasukkan 204 nama yang mewakili 18 negara. MLP (Berita Indonesia 43)

Brasil Bersinar
Walau tanpa pasukan terbaik, bahkan sempat didera kekalahan pada pertandingan perdana, Brasil akhirnya menunjukkan jati dirinya sebagai tim terbaik di Amerika Selatan dengan menjuarai Copa America 2007. Argentina yang berambisi besar menebus kegagalannya tiga tahun lalu di Peru, saat mereka dikalahkan Brasil lewat adu penalti, akhirnya harus bertekuk lutut juga untuk kedua kalinya terhadap tim Samba Brasil. Kemenangan Brasil 3-0 atas Argentina pada final Copa America 2007, ini mengantarkan Brasil menambah koleksi gelarnya yang ke delapan di turnamen antarnegara Amerika Selatan, yang sebelumnya pernah diraih pada tahun 1919, 1922, 1949, 1989, 1997, 1999 dan 2004.

Brasil yang berlaga di Venezuela tanpa diperkuat semua pemain-pemain bintangnya Ronaldinho, Kaka, Lucio, Ronaldo, Ze Roberto dan Adriano, serta dengan susah payah mencapai final, akhirnya bisa membuktikan kalau mereka tetap tim terbaik di kawasan Amerika Selatan. Sementara Argentina yang sudah 14 kali menjuarai Copa America ini, dan bermain begitu impresif sejak babak penyisihan grup, belum bisa mengakhiri kebuntuan mereka meraih gelar sejak 1993. Pasca pertemuan Brasil dan Argentina di final Copa America, berita gembira datang dari organisasi sepakbola dunia (FIFA). Berdasarkan pemeringkatan FIFA, Brasil yang sebelumnya berada di peringkat 3 dunia berhasil menggeser posisi juara Piala Dunia 2006 Italia di peringkat 1.

Sedangkan Argentina melompat dari posisi 4 ke 2, bertukar posisi dengan Prancis. Amerika Serikat yang memenangi Piala Emas (Gold Cup) naik dua peringkat menjadi posisi 14. The Sam’s Army bisa saja naik lebih tinggi lagi, sayangnya mereka kalah tiga kali di Copa America. Sedangkan Jerman, Belanda, Kroasia, Portugal, Spanyol, serta Meksiko melengkapi peringkat dalam deretan Top 10. Meksiko naik dari posisi 26 ke 10, menyusul hasil bagus sebagai runner up Piala Emas serta peringkat 3 Copa America. Inggris turun dari posisi 8 ke 12. RIF (Berita Indonesia 43)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com