Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Olahraga Merayakan Kemanusiaan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Merayakan Kemanusiaan

E-mail Print PDF

Nelson Mandela, tokoh anti apartheid Afrika SelatanSepakbola mempersatukan semua orang tanpa memandang bahasa, warna kulit, politik atau agama.

Bola yang dipakai dalam permainan sepakbola adalah gambaran sebuah bentuk yang sempurna. Dilihat dari sudut manapun bentuk bola itu tetap sama. Wujud demikian seakan menggambarkan permainan sepakbola itu sendiri yang tidak membedakan ras, warna kulit, agama, bahasa, bahkan status sosial.

Demikianlah Piala Dunia 2010 yang sangat bermakna sebagai kemenangan cinta, kemenangan kesetaraan, dan yang jelas kemenangan kemanusiaan. Jadi, pesta sepakbola ini merupakan penghancur tembok pemisah di antara bangsa, sekaligus pemersatu seluruh umat manusia. Seperti kata tokoh anti apartheid Nelson Mandela, Piala Dunia 2010 Afrika Selatan ini merupakan simbol kekuatan sepakbola yang dapat mempersatukan orang dari berbagai negara dunia, warna kulit, bahasa, politik maupun agama.

Makna kemenangan kemanusiaan dari pesta sepakbola terakbar sejagad ini semakin terasa karena diselenggarakan di Afrika Selatan, negara yang memiliki sejarah hitam soal politik perbedaan warna kulit atau apartheid. Terkait dengan hal itu, jauh ketika masih berupa usulan jadi tuan rumah, kekhawatiran dan kecemasan memang sempat dialamatkan pada Afrika Selatan akibat politik apartheid di negara ini yang terjadi sejak tahun 1948, kemudian berakhir pada tahun 1994 seiring dengan terpilihnya Nelson Mandela sebagai presiden kulit hitam pertama di negara itu.

Namun, setelah penyelengaraan Piala Dunia 2010 dimulai sejak 11 Juni 2010 lalu, kekhawatiran itu akhirnya tidak terbukti. Seluruh acara berlangsung dengan baik dan aman. Lihatlah begitu indahnya tarian khas Afrika Selatan yang dibawakan para penari yang terdiri dari kulit hitam dan putih yang penuh kegembiraan pada acara pembukaannya. Kemeriahan itu mempertontonkan kepada dunia bahwa Afrika Selatan yang dulunya kaku akibat sekat yang diciptakan politik rasisme, kini tampak lebih dinamis dan membuat segalanya terlihat berbeda.

Dalam skala antarnegara, lihatlah juga misalnya indahnya dua negara bersaudara Korea Selatan dan Korea Utara yang di negaranya selalu siap siaga setiap waktu berperang, namun di Afrika Selatan duduk bersama tanpa ada rasa permusuhan sedikitpun.

Vuvuzela: Terompet khas Afrika SelatanSelain Mandela, semua sepakat Piala Dunia bukan hanya sekadar tontonan keahlian mengolah si kulit bundar dan  mencari juara dunia. Lebih dari itu, Piala Dunia dianggap sebagai alat yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Seperti obat mujarab, pesta sepakbola Piala Dunia menjelma menjadi pil penawar terhadap berbagai problema masyarakat di berbagai lapisan tanpa membedakan latar belakangnya. Sepakbola memang universal, milik semua orang.

Hari-hari menjelang perhelatan dimulai, harapan sudah banyak digantungkan pada pesta empat tahun ini. Mantan Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, misalnya, mengharapkan sesuatu yang baru dilahirkan di Piala Dunia kali ini. “Renaisance African bukan hanya untuk Afrika Selatan saja, tapi untuk benua Afrika keseluruhan,” ujarnya berharap.

Sementara inisiator Piala Dunia Afrika Selatan Nelson Mandela yang lama menderita selama rezim kekuasan politik apartheid mengharapkan, Piala Dunia yang baru pertama kali diadakan di Benua Afrika ini semakin menyadarkan seluruh manusia untuk bersama-sama memberantas rasisme di dunia yang masih merajalela.

Sedangkan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma yang merasa bangga atas penyelenggaran Piala Dunia di negaranya ini mengaku optimis Piala Dunia sepakbola akan mempersatukan negaranya dan meninggalkan warisan untuk beberapa dasawarsa mendatang. Rasa kagum Zuma memang terlihat sangat besar bahkan ketika masih mempersiapkan turnamen. “Kami melihat sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” katanya melihat ribuan orang yang memakai kaos tim kesayangannya dan mengibarkan bendera. Hal itu menurutnya cukup mengesankannya.

Presiden FIFA Sepp Blatter juga mengatakan, Piala Dunia akan meninggalkan warisan kepada benua Afrika secara keseluruhan yang masih diabaikan negara-negara kaya, melalui pengembangan sepakbola dan proyek-proyek pendidikan.

Presiden FIFA Sepp Blatter bersama Presiden Afrika Selatan Jacob ZumaSebagai penyelenggara Piala Dunia, misi yang diusung Afrika Selatan memang sangat besar, yakni membawa nama Benua Afrika secara keseluruhan untuk dapat meningkatkan kesan positif kepada dunia, mengingat identitas yang melekat bagi Afrika selama ini adalah kemiskinan.

Eto’o, kapten kesebelasan Kamerun mengatakan, Piala Dunia kali ini harus bisa menunjukkan sesuatu yang lain dari Afrika. Ia mengatakan, kebanyakan orang memandang Afrika dari segi kemiskinan, kelaparan dan bencana. Sehingga Piala Dunia kali ini menurutnya memberikan kesempatan kepada Afrika untuk menunjukkan Afrika yang lain. “Saya kira seluruh dunia akan dikejutkan oleh Afrika. Ini dapat menjadi Piala Dunia yang terbaik dalam sejarah,” kata Eto’o optimis.

Sementara mantan Sekjen PBB, Kofi A. Annan yang berasal dari Ghana mengaku optimis Piala Dunia Afrika Selatan terlaksana dengan sukses. “Saya tahu betapa sulitnya Afrika Selatan bekerja keras mempersiapkan diri. Saya kira Piala Dunia akan mengejutkan bagi mereka yang sudah berprasangka soal Afrika,” katanya. Sebagaimana pada Piala Dunia 2006 mengubah persepsi soal Jerman dari sudut pandang positif, ia melihat Piala Dunia 2010 di Afrika juga terjadi hal yang sama. Benua Afrika akan beralih menjadi lebih baik. Turnamen ini akan sekaligus mempertontonkan keragaman bakat dan potensi yang dimiliki Afrika tanpa menyembunyikan tantangan yang sebenarnya.

Kita juga berharap pencapaian besar akan terjadi di Afrika Selatan bahkan untuk dunia. Sebagaimana semboyan Kenako it’s Afrika turn. Kenako it’s time to celebrate humanity. Kinilah giliran Afrika. Inilah saatnya merayakan kemanusiaan. Seperti kata Zuma, Afrika Selatan telah mempersatukan dunia. Semoga persatuan itu tetap setelah Piala Dunia usai. HB,JK (Berita Indonesia 77)


Jabulani terbuat dari bahan yang disebut ethylene-vinyl acetate (EVA) dan thermoplastic polyuretthanes (TPU) disesuaikan dengan kondisi cuaca Afrika Selatan yang panasJabulani Bikin Gemas
Jabulani dijadikan biang masalah atas kegagalan sebagian tim peserta Piala Dunia.

Nama “Jabulani”, yang dalam bahasa lokal di Afrika Selatan berarti “bergembira ria” disematkan buat bola resmi Piala Dunia 2010 yang perhelatannya dilakukan 11 Juni-12 Juli 2010 di Afrika Selatan. Dari segi teknologi, Adidas sebagai pencipta bola ini mengklaim Jabulani lebih canggih ketimbang Teamgeist, bola resmi pada Piala Dunia 2006. Jika Teamgeist dibuat dari 12 lembaran bahan khusus dan direkatkan satu sama lain dengan menggunakan suatu sistem pemanasan, Jabulani lebih disempurnakan lagi dengan hanya terbuat dari delapan lembar bahan khusus saja. Harapannya, dengan lembaran yang lebih sedikit, ketepatan dan kestabilan bola ketika melayang lebih sempurna.

Jabulani terbuat dari bahan yang disebut ethylene-vinyl acetate (EVA) dan thermoplastic polyuretthanes (TPU) yang memang disesuaikan dengan kondisi cuaca Afrika Selatan yang panas. Sementara desainnya dibuat dengan pola 4 segitiga warna-warni.
Namun, entah ada kaitannya dengan teknologi dan desain bola Jabulani itu, bagi sebagian pemain, khususnya kiper, Jabulani disebut tragedi. Karena, arah Jabulani disebut sulit diterka kala sedang melayang di udara.

Keraguan atas akurasi Jabulani ini katanya telah dikemukakan oleh beberapa pihak sebelum perhelatan dimulai. Kiper Brasil Julio Cesar misalnya, menyebut Jabulani sebagai bola yang mengerikan. Rekan setimnya, Luis Fabiano bahkan menyebut Jabulani seperti memiliki kekuatan supranatural karena putaran yang dibuatnya di udara.

Keraguan itu pun seakan mendapat pembenaran saat pertandingan kesebelasan Inggris Vs Amerika Serikat di awal babak penyisihan. Ketika itu, tim Inggris harus iklas menerima hasil seri 1-1 setelah pemain AS, Clint Dempsey melesatkan tembakan ke gawang Inggris yang dijaga Robert Green. Bola sebenarnya sudah dikusai, namun kembali lepas dan bergulir masuk ke gawang. Robert kembali berusaha menguasai, namun jabulani sepertinya enggan untuk dikejar. Kesalahan pun banyak ditujukan kepada sang kiper.

Tak ingin temannya disalahkan, Kapten Inggris Steven Gerrard membela Robert Green. “Itu adalah salah satu hal aneh. Aku tak berpikir, Anda bisa mengkritik kiper karena orang sudah mengkritik bola itu dan bola itu sangat sulit. Jadi, kami harus berada di belakang Robert dan mendukungnya. Aku yakin ia akan membuat penyelamatan penting bagi kami,” ucap Gerrard. Pelatih Inggris, Fabio Capello juga menilai Jabulanilah yang menyebabkan gawang Robert Green kebobolan.

Gelandang tim Inggris, Michael Carrick juga heran melihat reaksi Jabulani. Ia menyebutnya seperti bola pantai, tidak punya akurasi bagus.

Bahkan Tim Howard, kiper AS saat tragedi itu juga memuji Robert Green sebagai pemain hebat. Howard menilai blunder yang dilakukan Robert Green karena Jabulani.
Beberapa pelatih juga pesimis akan keakuratan Jabulani. Pelatih Belanda, Bert van Marwijk misalnya mengatakan pengamatannya, setiap ada tendangan bebas, selalu melayang tinggi di atas mistar, terlihat sulit untuk melakukan kontrol. Pelatih Aljazair, Rabah Saadane pun menuduh kualitas bola yang buruklah penyebab kekalahan timnya saat ditekuk Slovenia 0-1 pada 13 Juni 2010.

Menanggapi kritikan itu, perancang Jabulani menepis. “Saya kira para kiper itu hanya mencari apologi atau beralasan. Kami sudah melakukan pengujian dengan teliti. Bola ini sangat stabil dan punya aerodinamis yang natural. Selain itu, permukaannya kami buat ada geretan-geretan sehingga tak licin. Kalau ditendang pun bisa sesuai dengan keinginan pemain,” kata Hans-Peter Nuerberg. Beberapa kiper juga disebutnya sudah mencobanya dan mengaku puas. BS,BI (Berita Indonesia 77)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com