Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Olahraga Belajar dari Kasus Ellyas Pical
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Belajar dari Kasus Ellyas Pical

E-mail Print PDF

Ellyas Pical Nasib mantan atlet belum sepenuhnya diperhatikan pemerintah. Ketika menang  disanjung, kalah dimaki, pensiun  dilupakan. Senyum khas Ellyas Pical setiap kali  berhasil mengandaskan lawan-lawannya di atas ring pada medio 1980-an, kini tinggal kenangan.

Setelah tertangkap tangan menguasai tiga butir pil ekstasi, di Dikotek Mille’s, Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (13/7) pukul 00.30 WIB, mantan petinju juara dunia yang biasa dipanggil Elly Pical ini terlihat bergerak memasuki ruang pemeriksaan Polda Metro Jaya (14/7). Ia terus saja menutupi wajahnya dari kilatan kamera wartawan foto dan televisi. Ketika dicecar pun dengan pertanyaan singkat ia tak jua mau melayani.

Nama Elly Pical sangat melegenda di tanah air karena dialah petinju Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar juara dunia tinju. Prestasi itu dia ukir di Jakarta 8 Mei 1985, setelah menganvaskan petinju Korea Selatan, Judo Chun. Ia merebut gelar juara dunia tinju kelas bantam junior versi IBF.

Tragis
Begitu tertangkap tangan, wajah dan kisah nyong Ambon kelahiran Saparua 24 Maret 1957, ini  sekonyong-konyong mengisi seluruh media massa cetak maupun elektronik.

Banyak tulisan seolah memojokkan perilaku Elly yang mau saja terjun ke dunia malam. Atau, media menunjukkan keprihatinan yang mendalam atas keluguan pemilik telinga yang kurang sempurna berfungsi sebab sering terlalu dalam menyelam laut mencari mutiara, di kampung halamannya ketika masih anak-anak demi membantu nafkah keluarga. Romantisme menggenggam gelar juara dunia yang bergemilang uang dan sanjungan, juga ikut diangkat media.

Ada juga media yang mencoba melihat posisi hukum Elly. Media Indonesia, misalnya, mengutip pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Tjiptono, menuliskan, adalah Lisdianah, karyawati Mile’s, yang menawarkan tiga butir ekstasi ke petugas yang sedang menyamar sebagai pembeli, dengan harga Rp 100 ribu perbutir. Dan selanjutnya, Lisdianahlah yang mengaku pil itu sebagai milik Elly.

Petugas kemudian menggelandang Elly, bersama Lisdianah, ke markas Polda Metro Jaya dengan sangkaan melanggar pasal 62 UU Psikotropika.

Gugah Kesadaran
‘Naiknya’ kembali nama Elly Pical dimanfaatkan pula untuk secara serius menggugah kesadaran bersama akan nasib dan masa depan para atlet yang, ketika berjaya pernah memiliki nama harum di forum olahraga nasional dan internasional.

Bukan hanya atlet semacam Elly Pical, yang selain lugu juga hanya lulusan kelas V SD. Tulisan tentang nasib mantan pebulutangkis dunia, seperti Tati Sumirah, turut muncul ke permukaan.

Berita Kota (18/7), misalnya, menurunkan tulisan tentang Tati Sumirah. Tati adalah  pebulutangkis putri Indonesia yang, bersama Imelda Wiguna Kurniawan, Utami Dewi, Theresia Widiastuti, Regina Masli, dan Minarni (Alm) tahun 1975 berjaya memenangkan Indonesia untuk pertamakali merebut Piala Uber dari tangan Jepang. Indonesia sekaligus berhasil mengubur keperkasaan Jepang yang sebelumnya seolah melegenda berkuasa tanpa lawan berarti.

Tati di masa tua sehari-hari bekerja menjaga sebuah apotek, serta menjual jasa permainan playstation untuk anak-anak di rumahnya. Karena itu, begitu memperoleh hadiah sepeda motor dari panitia penyelenggara duel para legenda  bulutangkis dunia, di Jakarta pertengahan Juli, kesukaan Tati tak lagi berbilang haru.

Masa depan Elly sesungguhnya  akan terangkat. Seorang produser acara televisi, HB Neveen, berniat menggelar tayangan reality show bertajuk The Next Great Champ, yang menceritakan kisah keperkasaan Ellyas Pical sebagai pelatih tinju. Sasarannya, kisah “Sang Legenda Hidup Tinju Indonesia” ini bisa menularkan semangat juangnya kepada petinju muda Indonesia. Tapi episode itu agaknya harus tertunda akibat tiga butir pil. SB (Berita Indonesia 02)


Steffi Graf Kembali Tampil
Penggemar bintang tenis dunia Steffi Graf boleh lega menyaksikan bintang pujaannya kembali berlaga mengayun raket. Tapi kemunculannya tentu tak lagi seperti dulu.

Steffi GrafPeraih 107 gelar juara tenis tunggal putri itu, 22 di antaranya gelar juara tunggal putri grand slam, sejak Agustus 1999 sudah mundur dari dunia tenis saat peringkatnya masih tiga besar dunia.

Kompas (13/7) menulis, istri Andre Agassi petenis putra asal Amerika Serikat ini dalam wawancara pertelepon dengan wartawan kantor berita Associate Press Senin (11/7), mengatakan, ia telah kembali menggenggam raket dan memperkuat Houston Wrangler untuk Liga Tim Tenis Dunia (WTT).

Liga tenis WTT terdiri dari 12 tim, setelah bermain selama tiga pekan, yang berakhir 24 Juli, dua teratas dari dua pul akan kembali bertanding di final, yang berlangsung pada 16-17 September di Sacramento, AS.

Petenis putri asal Jerman ini mengaku adalah sulit untuk mengatakan telah kembali lagi ke lapangan. Apalagi telah banyak yang berubah pada diri  wanita berusia 36 tahun yang sudah memiliki dua orang anak ini. Ia mengatakan pula, terlalu awal menyebutkan akan tampil lagi terlebih dikaitkan dengan jadwalnya yang begitu ketat.

Graf melahirkan anak pertama, lelaki, dua tahun setelah berhenti main tenis. Dua tahun kemudian ia melahirkan anak kedua, kali ini perempuan.

Graf menyebutkan, waktu menjadi faktor yang paling menentukan dalam karir dan kehidupannya. Pada beberapa tahun pertama usai pensiun, misalnya,  adalah tidak mudah baginya merasakan jarang bermain tenis apalagi jika suaminya ikut tur. “Adalah satu tantangan untuk tetap berada dalam kondisi fit,” ujarnya.

Graf menyatakan tidak mudah memadukan tugasnya sebagai seorang ibu, tugas kemanusiaan, serta latihan tenis sekaligus. “Tahun ini saya baru beberapa kali mengangkat raket, ketimbang lima tahun yang lalu. Saya latihan baru dua pekan terakhir. Jadi, jangan heran kalau saya cukup gugup dan sekaligus begitu antusias,” kata Graf.

Graf tentu tak akan mampu tampil seperti dulu. Seperti diakuiya kepada AP,  “Bagaimana mungkin saya bisa seperti dulu.” HT (Berita Indonesia 02)
Stadion Jebol Penonton Tewas
Kapasitasnya hanya  50.000 penonton namun disesaki 80.000  orang. Akibatnya fatal, stadion jebol. Seorang Aremania tewas.

Karena Panitia Pelaksana pertandingan lanjutan Liga Djarum Indonesia 2005 kurang siap mengantisipasi lonjakan penonton, Fajar Lidia Nugraha (17) meninggal dunia terinjak-injak. Padahal ia hendak menonton pertandingan sepakbola Arema Malang melawan Persija Jakarta, di Stadion Kanjuruhaan, Malang, Rabu (13/7).

Pertandingan disaksikan 80.000 penonton, jauh melebihi kapasitas yang hanya 50.000 orang. Lintasan atletik yang seharusnya  tidak boleh dipergunakan untuk menonton, sore itu dipadati Aremania. The Jackmania, atau pendukung Persija hadir hanya berkekuatan 200 orang.

Setelah 10 menit pertandingan dimulai masih saja banyak penonton bertiket di luar stadion. Mereka tidak bisa masuk karena pintu sudah ditutup. Namun penjualan tiket di loket maupun oleh para calo masih saja terus berjalan. Seluruh pintu masuk stadion akhirnya dijebol penonton.

Kompas (14/7), mengutip pernyataan seorang saksi mata, Yanuar (29), menjelaskan peristiwa diawali jebolnya pagar pembatas stadion akibat desakan penonton. Di pintu terjadi penonton saling dorong memaksa masuk sehingga ada tekanan dari belakang. Akibatnya sejumlah penonton di tribun selatan terjun dari ketinggian dua meter.

Fajar meninggal akibat desakan penonton yang mendobrak pintu stadion di sisi selatan tribun VIP. Selain dia, terdapat 15 korban luka-luka lain dirawat di RSUD Kepanjen, dan satu korban gegar otak Imam Rohman dirawat di RSI Gondanglegi.

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyalahkan Panitia Pelaksana pertandingan. Panitia dinilai tidak dapat mengatasi lonjakan jumlah penonton.

 “Kejadian ini adalah hal yang serius. Harus diperhatikan bahwa faktor keamanan tidak boleh dikorbankan demi meraih pendapatan dalam jumlah besar,” kata Sekjen AFC Dato Peter Vellapan, sebagaimana ditulis Kompas (16/7) yang mengutip  dari kantor berita AP (15/7).

Melalui sepucuk surat yang disampaikan lewat faksimili, pengurus Arema Malang menjelaskan pihaknya menjual jumlah tiket pertandingan kurang dari kapasitas stadion. Hal ini dilakukan untuk menghindari melonjaknya jumlah penonton.

Namun upaya untuk menciptakan keamanan, diantaranya menghadirkan 800 personel keamanan, tidak mendapat dukungan dari sebagian penonton sehingga ada penonton yang jatuh ke parit dan luka-luka.
 “Kami menganggap kejadian itu semata-mata musibah,” bunyi pernyataan  yang ditandatangani oleh Taufan, Humas Arema Malang.

Arema ketika itu berhasil mengalahkan Persija 1-0, hasil gol tunggal penyerang asal Kamerun Emaleu Serge. HT (Berita Indonesia 02)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com