Memasuki bulan keempat, lumpur panas di Sidoarjo terus menyembur. Pakar geologi menyebutnya sebagai mud volcano. Benarkah demikian?
Rencana semburan lumpur panas makin mengganas. Genangannya pun semakin meluas. Kendati penguatan tanggul terus dilakukan, upaya ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Selasa (29/8) lalu, tanggul kembali jebol sepanjang 200 meter. Tak pelak, luapan lumpur menggenangi jalan tol Porong – Gempol di kilometer 39+200 hingga kilometer 39+400 setinggi setengah meter atau selutut orang dewasa. Banjir lumpur ini mengakibatkan jalan tol dari kedua arah kembali ditutup total. Kemacetan lalu lintas pun tidak terhindarkan.
Aktivitas semburan lumpur panas yang memasuki bulan keempat, sejak semburan pertama pada 29 Mei 2006 lalu — memang masih terus berlangsung. Volumenya pun terus bertambah dan meningkat. Tidak hanya itu. Sabtu malam (26/8) lalu semburan lumpur panas yang biasanya hanya setinggi 5 – 8 meter mendadak mencapai 50 meter, disertai suara ledakan dan keluarnya asap hitam berbau menyengat. Peristiwa ini mengakibatkan Prajurit Dua Erfan Filani (24) dari Yon Zipur-5 Brawijaya yang sedang bekerja memperkuat tanggul dan seorang operator buldoser, Yuli Eko Hartanto (23) cedera.
Jebolnya tanggul dan semburan lumpur yang meminta korban tersebut menjadi topik berita sejumlah surat kabar ibukota. Rencana pihak PT Lapindo Brantas membuang lumpur ke laut juga menuai protes. Ratusan nelayan dari Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, Jatim (26/8) berdemo menentang rencana itu. Unjuk rasa ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya dilakukan nelayan Dusun Kalirejo, Desa Kisik, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jatim pada 22 Agustus lalu.
Para nelayan menilai tindakan membuang lumpur ke laut sebagai tindakan yang tidak bijak dan merugikan masyarakat pesisir. “Kawasan pesisir sepanjang Selat Madura adalah sandaran hidup masyarakat nelayan, baik di Sidoarjo maupun di Madura. Jika keputusan itu tetap dilaksanakan, kawasan pertambakan dan pantai sebagai tempat nelayan dan warga pesisir mencari penghidupan akan terganggu," kata Fathorrahman, warga Kwanyar seperti ditulis Kompas (28/8).
Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan berpendapat, jika tidak ditangani dengan baik, pembuangan lumpur ke laut bisa merusak ekologi dan menghancurkan sentra perikanan setempat. “Pertimbangan profesional saya, lumpur yang dibuang ke laut itu harus merupakan alternatif terakhir kalau tidak ada jalan lain”. Alasannya, karena kawasan itu merupakan sentra produksi tambak udang dan bandeng di Jatim yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. “Mungkin itu sentra tambak terbesar kedua yang ada di Indonesia setelah Lampung. Ada sekitar 7.000 hektar tambak di sana,” paparnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, seperti diberitakan Suara Pembaruan (28/8), minta lumpur itu diproses dulu agar tidak mencemari perairan dan tambak-tambak. “Kita sudah diperingatkan oleh Uni Eropa agar meningkatkan kualitas udang yang diekspor dan memenuhi standar mereka. Jika tambak-tambak di Sidoarjo tercemar, kita bisa gagal ekspor. Jadi penanganan dan pembuangan lumpurnya harus hati-hati," ujarnya di Jakarta.
Beberapa elemen masyarakat mendesak pemerintah segera menuntaskan masalah ini. Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hasil Muktamar II Surabaya, AS Hikam, bahkan mengancam akan mengajukan class action jika masalah ini tidak segera diselesaikan. Menurutnya, luapan lumpur tidak hanya menyengsarakan rakyat yang berada di Sidoarjo, tapi juga rakyat di kota lain di Jawa Timur, tempat pendukung PKB berada. (Koran Tempo, 28/8).
Bagaimana sikap pemerintah?
Menteri ESDM PurnomoYusgiantoro di Jakarta menyatakan, pemerintah menyiapkan empat contingency plan atau skenario darurat untuk menangani lumpur Lapindo. Yakni pembuangan lumpur ke Kali Porong, pembuangan ke Kali Mati, penyuntikan kembali ke dalam tanah dan pengaliran ke laut. Izin pelaksanaan untuk empat rencana darurat itu, termasuk mana yang terbaik, akan diminta dari Meneg LH. “Kita cari mana yang paling sedikit dampaknya," ujar Purnomo.
Kalangan ahli geologi memprediksi semburan lumpur di Sidoarjo sulit dihentikan. Mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Adang Bachtiar menyebut fenomena ini sebagai mud volcano. Yakni peristiwa keluarnya lumpur dari perut bumi karena mekanisme alami ke permukaan sehingga lumpur itu membentuk semacam gunung.
Semburan lumpur sekarang ini tidak lagi berhubungan dengan Sumur Banjar Panji-1, tapi dengan lapisan yang biasa disebut formasi Kalibeng, yang telah bermekanisme sendiri di kedalaman 1.700 kaki sampai 6.000 kaki dan bertekanan tinggi (over-pressure zone). Menurut Adang, mud volcano yang terjadi saat ini dipicu kesalahan teknis di Sumur Banjar Panji-1.
Namun Ketua Tim Supervisi dari Departemen ESDM Rudi Rubiandini menyatakan sejauh ini pihaknya masih mengasumsikan semburan itu terkait dengan Sumur Banjar Panji - 1. Kepastian terkait tidaknya akan didapatkan pada akhir Oktober nanti. Yakni ketika mata pahat relief well sampai di Sumur Banjar Panji-1. SP (Berita Indonesia 21)
| < Prev | Next > |
|---|



