Manuver politik terkait calon presiden terus bergulir. Berbagai nama muncul ke permukaan. Ada kemungkinan pasangan SBY-JK akan berpisah. Kendati mengaku tetap tenang, SBY sempat mengumpulkan Tim Sukses 2004 yang disebut sebagai ‘teman seperjuangan’.
Bak gayung bersambut, manuver politik terkait calon presiden 2009 kian bergulir. Pasca pernyataan Megawati Soekarno putri yang siap dicalonkan, datang penegasan Gus Dur dan kemudian disusul oleh Sutiyoso.
Kendati masih seminggu lagi menjabat Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso pada 1 Oktober sudah mendeklarasikan dirinya siap maju menjadi calon presiden. Pensiunan jenderal berbintang tiga ini punya catatan menarik. Dia menjadi Gubernur DKI Jakarta selama dua periode di bawah kepemimpinan lima presiden. Mulai dari Soeharto, B.J.Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Tak sekadar mendeklarasikan diri siap dicalonkan, Sutiyoso - yang belum punya kendaraan partai politik yang akan mengusungnya - juga mulai menyosialisasikan diri ke daerah. Suami Setyo Rini ini menyadari hal itu perlu dilakukan karena selama ini hanya dikenal warga Jakarta. Kunjungan pertama dilakukan kepada penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan di kediamannya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.
Melalui sosialisasi lebih dini, pendatang baru akan bisa dikenal masyarakat. Bahkan bisa ’ditelanjangi’ apa saja track record- nya. Sehingga masyarakat tidak seperti membeli kucing dalam karung. Rakyat akan memilih pemimpin yang diharapkan bisa memperjuangkan peningkatan kesejahteraannya.
Masyarakat juga akan terhindar dari ‘kecelakaan’ salah memilih. Apalagi negara ini adalah negara besar dengan problematikanya yang sangat kompleks. Karenanya, yang layak memimpin adalah benar-benar putra bangsa terbaik dan terpilih.
Langkah Sutiyoso maju ke pilpres disambut gembira oleh Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Chozin Chumaidy. Langkah mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai cukup gentle dan menunjukkan kelas dari Sutiyoso. Menurutnya, PPP bisa saja dijadikan kendaraan politik oleh Sutiyoso menuju RI-1.
“Ketegasan sikap Sutiyoso yang berani mengambil risiko yang membuatnya berbeda dengan tokoh lainnya, termasuk sikap kepemimpinan SBY yang dikenal sebagai tokoh peragu, lamban dan terlalu banyak berpikir,” kata Chumaidy seperti dikutip Indo Pos (4/10). Menurutnya, kepemimpinan Sutiyoso sangat fenomenal sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk maju sebagai capres alternatif.
Meski begitu, PPP belum menentukan sikap terkait munculnya beberapa nama capres. Partai ini lebih berkonsentrasi pada perolehan hasil maksimal pada Pemilu legislatif 2009.
Nama lain yang disebut-sebut bakal maju ke Pilpres 2009 diantaranya adalah Sultan Hamengku Buwono X dan Wiranto. Adalah Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir yang mendorong Sultan Hamengku Buwono X untuk tampil di tingkat perpolitikan nasional.
Sultan sendiri belum secara eksplisit mencalonkan diri pada pilpres 2009. Dia bahkan secara tegas mengatakan tidak akan pernah mencalonkan diri. Sebab menurutnya, yang berhak mencalonkan adalah masyarakat melalui partai politik.
Kendati begitu, dalam diskusi publik yang diadakan F-PAN DPR (5/10), Sultan sempat memaparkan visi untuk membangun Indonesia menjadi negara maritim yang kuat. Kebhinekaan suku, agama, etnis dan golongan sebagai ciri Indonesia akan dijadikan strategi utama untuk membangun Nusantara.
Wiranto yang dalam Pilpres 2004 lalu tampil sebagai capres dari Golkar mengaku belum berencana mendeklarasikan diri maju ke pilpres 2009. Deklarasi baru akan dilakukan setelah ada kejelasan proses verifikasi terhadap partainya, Partai Hanura. Dia mengakui, wacana pencalonan presiden kini semakin menguat. Namun saat ini partainya masih memfokuskan diri pada konsolidasi internal agar perhatian tidak terpecah-pecah.
JK – SBY Berpisah?
Wapres Jusuf Kalla (JK) yang Ketua Umum Partai Golkar (PG) juga tak lepas berkomentar soal Pilpres 2009. JK memberi isyarat dirinya kemungkinan bisa berpisah dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Jika perpisahan ini terjadi, hal itu akan disampaikan tiga bulan sebelum pilpres 2009.
Pernyataan JK tersebut sempat membuat kubu Partai Demokrat (PD) berancang-ancang memikirkan calon wapres selain JK. “Sudah terpikir juga oleh kami, memang tidak harus JK,” kata Ketua F-PD Syarif Hasan di gedung DPR/MPR Senayan (3/10).
Menurutnya, masih banyak kader PD yang memiliki kualifikasi untuk menggantikan JK. “Dulu juga yang mencalonkan JK sebagai wapres adalah PD, bukan PG. Ingat itu,” kata Syarif seraya menambahkan bahwa SBY dipasangkan dengan siapapun pasti jadi.
Presiden SBY, menurut Jurubicara Presiden Andi Malarangeng, tampaknya masih tenang-tenang saja. “Kalau beliau (JK) mengatakan bahwa deklarasi capres akan ditentukan tiga bulan sebelum pilpres, bagi presiden itu tidak jadi soal,” kata Andi.
SBY sendiri menyatakan sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan maju kembali pada pilpres 2009. “Bisa saja saya berkompetisi kembali, (tapi) bisa saja tidak. Bisa saja tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Semua itu akan saya kalkulasikan. Kalau saya pikir baik untuk bangsa, negara, rakyat, ya saya Insya Allah akan maju,” katanya usai buka puasa bersama dengan pimpinan lembaga tinggi negara dan pimpinan redaksi media massa (4/10) di Istana Negara.
Makin banyaknya capres bermunculan, menurut SBY, merupakan hal yang positif. Rakyat memiliki banyak calon yang akan dipilihnya nanti.
Kendati mengaku tenang-tenang saja, Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ternyata kemudian mengumpulkan anggota Tim Sukses 2004 dalam acara buka puasa (6/10) di kediaman Puri Cikeas Indah. Anggota tim sukses yang hadir diantaranya Widodo AS, Syamsir Siregar, Rchmat Witoelar, Sudi Silalahi, Taufiq Effendi, Jero Wacik, Kurdi Mustofa, Djali Yusuf, Hadi Utomo, Syarif Hasan dan Max Sopacua.
Kepada anggota tim sukses yang disebutnya sebagai “kawan seperjuangan,” SBY meminta untuk tetap tenang, rasional dan tidak emosional. Pernyataan yang disampaikan harus terukur, tepat dan pas. Ibarat orang bermain voli, kalau ingin melakukan smes agar bola jatuh di tempat lawan, harus diukur kapan waktu naik, kapan menghindari blok, kapan memukul. “Memukul itu tidak boleh sangat emosional sekeras-kerasnya. Bisa out. Kita tidak ingin out, tapi ingin in,” kata SBY seperti ditulis Kompas (7/10).
Untuk bisa melakukan smes menuju Pilpres 2009, SBY minta PD selesai melakukan konsolidasi internal pada akhir 2007. Pada tahun 2008 dan 2009 partai ini diminta mendukung dan menyukseskan program ’prorakyat’ yang dicanangkan pemerintah dengan alokasi anggaran yang besar.
Partai yang didirikan SBY saat menjadi Menko Polkam di era Presiden Megawati ini ditargetkan memperoleh suara sebesar 15% pada pemilu 2009. Sehingga memungkinkan mencalonkan sendiri capres maupun cawapres tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.
Berbagai Reaksi
Munculnya calon-calon presiden belakangan ini mengundang berbagai reaksi. Ada yang menilai terlampau dini. Namun di sisi lain ada yang menilai hal itu sebagai pembelajaran bagi masyarakat.
Pernyataan SBY yang menyebutkan bisa maju dan juga bisa tidak dalam Pilpres 2009, dinilai Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari sebagai upaya meredam ‘serangan’ lawan politiknya.
“Pernyataan SBY itu sebenarnya untuk meredam agar dirinya tidak dijadikan sasaran tembak,” kata Qodari. Sebab sebagai incumbent, SBY nampaknya dijadikan ‘musuh bersama’ oleh lawan-lawan politiknya.
Menurut Qodari, SBY seharusnya menjadikan dua tahun terakhir masa pemerintahannya untuk kepentingan rakyat. “Lihat lagi janji kampanyenya dan realisasikan janji-janji itu,” tambahnya.
Soal munculnya Megawati, menurut Qodari, adalah untuk mencegah konflik internal di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Megawati itu simbol PDIP. Deklarasi Megawati itu untuk mengunci pintu capres lain bermanuver di PDIP.
Sedangkan tampilnya Sutiyoso nampaknya ada kekuatan dari sebagian purnawirawan yang mendukungnya untuk maju. Purnawirawan itu, menurut pendapat Qodari, bisa saja membawa agenda lain yang selama ini tidak diakomodasi oleh SBY.
Wakil Ketua MPR AM Fatwa berpendapat, untuk menghindari terjadinya cerai-berai di tengah jalan pemerintahan, capres dan cawapres sebaiknya berasal dari satu partai atau koalisi permanen.
Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berniat tetap mendukung SBY pada 2009, meski terasa ada ganjalan komunikasi. “Saya tidak akan terkejut bila pada 2009 partai kami kembali mencalonkan SBY,” kata Ketua F-PKS Zulkiflimansyah. Partai kami lebih mementingkan track record yang bersih ketimbang sekadar keberanian.
Sementara PDIP saat ini mulai memilah-milah calon wakil presiden yang akan mendampingi Megawati. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, merupakan salah seorang yang menarik simpati PDIP. “Pak Din, dia cukup mendapat simpati dari teman-teman di DPP. Tapi untuk menentukan cawapres, akan dibahas pada rakernas ketiga di Solo atau Makassar,” kata Sekjen DPP PDIP Pramono Anung. SP (BI 49)
| < Prev | Next > |
|---|



