Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Nasional Insiden Berdarah di Pasuruan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Insiden Berdarah di Pasuruan

E-mail Print PDF

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto saat akan memberikan keterangan kepada wartawan di Mabes TNI CilangkapSengketa tanah antara warga dan pihak TNI AL di Grati, Pasuruan memicu bentrok berdarah. Empat warga tewas dan tujuh lainnya terluka kena tembakan. Panglima TNI menyesalkan kejadian itu dan memerintahkan KSAL segera mengusut tuntas. Siang itu cuaca terik. Matahari tepat berada di atas kepala saat sejumlah anggota Marinir TNI AL dipimpin Letda (Mar) Budi Santoso tengah melakukan patroli rutin setelah sebelumnya mereka melakukan apel di markasnya di Ksatrian, Grati, Desa Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur.

Entah mengapa prajurit Marinir yang bertugas di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Grati, Pasuruan itu kemudian terlibat bentrok dengan warga yang saat itu berada di lahan sengketa. Yang jelas sebanyak 4 warga penduduk setempat akhirnya tewas dan tujuh lainnya terluka kena peluru yang ditembakkan.

Versi penduduk setempat, Sholihin, seperti ditulis Media Indonesia (31/5) menyebutkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00. Kala itu 40 personil TNI AL dan 150 warga berada di lokasi sengketa. “Kami berusaha mendekati aparat, tapi langsung dihujani tembakan ke semua arah sehingga mengenai warga yang berada di rumah,” ujar Sholihin.

Sementara Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Stafzen Noerdin menyatakan, tindakan melepaskan tembakan itu terpaksa dilakukan anak buahnya karena terdesak diserang warga yang membawa senjata tajam berupa clurit, kayu dan batu. Dengan kondisi terjepit seperti itu mereka berusaha meredam warga agar tidak mendekat dengan menembakkan senjata ke atas dan ke bawah. Namun, tembakan itu memantul hingga mengenai warga.

Buntut kasus ini, ratusan warga kemudian melakukan protes dan demo. Mereka menutup jalan sehingga memacetkan arus lalu lintas Pasuruan - Probolinggo hingga puluhan kilometer.

Bentrok antara warga dengan prajurit Marinir ini dipicu adanya sengketa tanah seluas 539 hektar yang sebagian kini diduduki warga Pasuruan. Pengadilan Negeri setempat memenangkan TNI AL dalam kasus sengketa ini. Sementara warga tetap bertahan menguasai tanah tersebut.

Bocah korban penembakan pasukan MarinirInsiden berdarah yang meminta korban jiwa ini sangat disesalkan banyak pihak. Kejadian ini setidaknya juga mencoreng citra TNI yang terbina baik selama ini. Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto selain meminta maaf kepada keluarga korban yang meninggal dan terluka juga telah memerintahkan KSAL Laksamana TNI Slamet Subijanto mengusut tuntas kasus ini sebaik-baiknya.

Sebelumnya, hal senada juga disampaikan Mayjen Syafzen Noerdin. “Kami menyesalkan kejadian ini. Untuk itu kami mohon maaf,” ujarnya. Terkait kasus ini Syafzen juga telah mencopot Komandan Puslatpur Grati, Pasuruan, Mayor (Mar) Husni Sukarwo untuk meredam emosi warga dan sebagai bentuk tanggung jawab komandan.

Sementara terhadap 13 prajurit Marinir yang terlibat dalam kasus ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan dalam pemeriksaan pihak POM TNI di Surabaya.

Kepada wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Marsekal Djoko berharap pemberitaan tentang TNI hendaknya dilakukan secara berimbang.

Dia memberi contoh, kalau ada bentrok dengan masyarakat, seolah-olah TNI yang mendahului. Padahal laporan yang dia terima biasanya mereka (para prajurit) yang didahului.

Ditegaskannya, bila memang ada prajurit TNI yang melakukan hal seperti itu, maka dirinya selaku Panglima dan juga para Kepala Staf pasti akan menindak tegas mereka yang melakukan pelanggaran.

Dalam kasus Pasuruan ini Panglima yakin tidak mungkin ada kesengajaan yang direncanakan prajurit untuk menembak langsung ke masyarakat. “Secara logika (tuduhan menembak langsung) itu tidak kita terima,” jelasnya.

Namun Panglima tidak ingin berpolemik tentang hal ini dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada Puslabfor Polri dan POM TNI serta POMAL yang sudah bekerja di sana.

Soal sengketa tanah di kawasan Puslatpur Grati, Pasuruan, Panglima menyatakan segera diselesaikan karena sudah ada komitmen dengan masyarakat melalui aparat pemerintah setempat seperti bupati, camat dan kepala desa. Masalah yang sudah lama terbengkalai itu memang perlu diselesaikan dengan baik.
RON, SP (Berita Indonesia 40)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com