Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Nasional Mutilasi dan Media Massa
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mutilasi dan Media Massa

E-mail Print PDF

Media disebut salah satu pendorong dominan dalam perilaku kejahatan, termasuk mutilasiMedia disebut salah satu pendorong dominan dalam perilaku kejahatan, termasuk mutilasi. Miris, sadis dan ngeri menyikapi fenomena kasus mutilasi yang marak terjadi sepanjang tahun 2008 ini. Di Jakarta, pada empat bulan pertama tahun ini telah terjadi empat kasus mutilasi. Kemudian pada skala lebih besar antara Januari hingga November tak kurang ada 13 kasus mutilasi terjadi di Indonesia. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibanding tahun 2007 yang hanya ada sekitar tujuh kasus mutilasi. Ironisnya, para pelaku mutilasi bukanlah orang lain, melainkan orang terdekat atau yang mengenal korban.

Mungkin anda masih ingat kasus mutilasi yang terjadi pertamakali sekitar tahun 1970-an yang menimpa Lily Kartika Dewi (27) dan anaknya Iwan Kartika (5), warga Indonesia yang tinggal di Hongkong. Mereka berdua dimutilasi Bob Liem yang juga warga WNI yang tak lain adalah suami Kartika sendiri.

Kini, kasus yang mirip kembali terjadi. Pelakunya adalah Sri Rumiyati (Yati) yang memutilasi suaminya sendiri, Hendra. Kasus ini sempat menjadi berita cukup menghebohkan dan cukup merepotkan para petugas untuk menemukan identitas korban.

Awalnya, polisi sempat menduga pelakunya adalah seorang preman, karena pada tubuh Hendra yang berprofesi sebagai supir itu terdapat tato berbentuk macan. Selain itu ahli forensik juga menduga pelakunya orang yang profesional karena melihat kerapian dari potongan-potongan mayat itu.

Dua hari menjelang Idul Fitri (30/10), Yati akhirnya berhasil dibekuk aparat di Brebes, Jawa Tengah. Pada pihak polisi, Yati mengakui perbuatannya tersebut. Ia mengaku dendam pada suaminya, karena kerap menyiksa dirinya. Selain itu, Yati menuturkan pula motivasi inspirasi pemutilasian itu. Secara jujur ia mengakui adegan mutilasi itu meniru pemutilasian yang dilakukan Ryan, pria penjagal dari Jombang yang menghilangkan 11 nyawa. Sebagaimana diketahui, Ryan memutilasi Heri Santoso menjadi 7 bagian.

Kepala Unit Kejahatan dengan Kekerasan Polda, Metro Jaya Komisaris Jarius Saragih membenarkan pernyataan Yati ini. “Setelah Hendra saya bunuh, saya langsung terbayang-bayang dan terangsang untuk mengikuti adegan yang pernah saya lihat itu,” kata Saragih menirukan pengakuan Yati. Saragih juga menyampaikan pengakuan Yati mengenai seringnya Yati melihat perkembangan berita Ryan melalui televisi maupun media cetak. Selama ini, Saragih mengaku sering menemukan para pelaku tindak kejahatan yang berhasil disidik polisi mengakui perbuatannya karena meniru sajian media massa, terutama tayangan televisi.

Terlepas dari latar belakang pelaku tindak kejahatan (pemutilasi) karena sakit hati, dendam atau mengalami gangguan jiwa, pengaruh media massa baik cetak maupun elektronik terhadap perilaku sosial di masyarakat memang sudah menjadi kajian cukup lama. Pada tahun 1977 sebuah riset yang dilakukan Albert Bandura menemukan, media televisi disebut sebagai salah satu pendorong peniruan lebih dominan dalam perilaku kejahatan, termasuk mutilasi. Begitupun hasil penelitian yang dilakukan Doris Graber tahun 1980 di Amerika Serikat, dimana 94 persen responden dari penelitian itu menyatakan media massa menjadi sumber informasi utama mengenai berita kejahatan dan peradilan.

Sementara penelitian program tayangan kekerasan di televisi Amerika Serikat pada akhir tahun 1990-an yang dilakukan Leonard Eron dan Rowell Huesman menyebutkan tontonan kekerasan yang dinikmati anak usia 8 tahun akan berpotensi mendorong aksi kriminalitas pada saat usia 30 tahun.

Kasus peniruan tindak pemutilasian yang terinspirasi dari media pernah terjadi di tahun 1989. Saat itu Agus Naser memutilasi istrinya sendiri, nyonya Diah. Agus mengakui tindakan pemutilasian yang ia lakukan itu karena terinspirasi peristiwa penemuan mayat di jalan Thamrin, Jakarta yang terpotong menjadi 13 bagian (tidak terungkap pelakunya) yang dibaca pelaku melalui berita di koran. “Saya tiba-tiba teringat dengan berita yang saya baca itu, saya yakin kalau mayat ini dipotong-potong pasti polisi akan sulit melacaknya,” ungkap Agus dalam sebuah persidangan tanggal 2 Desember tahun 1989.

Mengenai mekanisme efek peniruan (imitation effect) melalui media baik yang dilakukan Yati maupun Agus, Pengajar Mata Kuliah Media Massa dan Kejahatan dari Universitas Indonesia (UI) Ade Erlangga Masdiana membaginya menjadi dua, direct effect (imitasi langsung) yang biasa dilakukan anak-anak. Sementara delayed effect (imitasi tidak langsung) atau tunda kerap dilakukan orang dewasa.

Dalam hal ini Masdiana menilai, tayangan atau informasi adegan tindakan kejahatan yang dipublikasikan media kadang susah dikontrol sehingga mempengaruhi pola pikir dan memotivasi serta menginspirasi pada benak pelaku kejahatan untuk menirunya. Kriminolog UI ini mengilustrasikan sebuah pemberitaan media yang amat detail, di antaranya reka ulang yang dilakukan pelaku mutilasi yang tertangkap dan sekaligus tata cara penghilangan jejak. Bagi seseorang yang secara terus-menerus menyaksikan adegan tersebut dan dalam posisi tertentu menurut Masdiana akan terinspirasi atau meniru untuk melakukannya. Masdiana menilai media massa secara tidak langsung turut mengajarkan pelaku baru untuk melakukan tindakan serupa.

Pendapat ini diamini pakar psikologi forensik Reza Indra Giri Amriel. Menurut Reza, salah satu penyebab kasus mutilasi ini akibat copy criminal cat, yakni sebuah tindak pelaku kejahatan dengan meniru yang sudah dilakukan pelaku sebelumnya akibat terinspirasi pada berita media yang menguraikan suatu tindakan kriminal yang berulang-ulang hingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Menanggapi pengaruh media yang bisa mempengaruhi para pelaku kejahatan, sejumlah media sudah melakukan tindakan-tindakan preventif. Gafar Yutadi Manajer Departemen Pemberitaan Televisi Indosiar memberi contoh tindakan preventif yang diambil dalam tayangan Patroli yang selama ini menjadi andalan utama penayangan peristiwa tindakan kriminal. Gafar menyampaikan pihaknya terus berupaya belajar dan mengoreksi diri. Gambar-gambar yang bersifat vulgar disensor atau korban yang melibatkan anak kecil tidak ditayangkan dan wajah pelaku kejahatan sengaja ditutupi atau malah dikaburkan.

Pengakuan serupa juga disampaikan Arif Suditomo Pemimpin Redaksi (Pemred) Rajawali Citra Televisi (RCTI). Menurut Arief, pelaku tindak kejahatan bukan hanya ditentukan dari konsumsi informasi media saja. Meski demikian pihaknya selalu berusaha menghindari pemberitaan kriminal yang sifatnya terlalu sensasional atau bombastis. Selama ini bagian editorial RCTI menurut Arief melakukan kebijakan bagaimana mengadvokasi dan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Arief mencontohkan, sosok Bang Napi yang ditampilkan pada akhir penayangan berita kriminal Sergap dilakukan sebagai upaya membangun kewaspadaan.

Sementara Komisioner Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho menyebutkan perubahan struktur industri media massa, terutama pertelevisian yang harus lebih memperbanyak penayangan televisi bersifat lokal. Penayangan televisi lokal dinilai Bimo sebagai cara mudah dan efektif untuk melakukan monitoring dan antisipasi. Selain itu, khusus anak-anak, orang tua seharusnya selalu mendampingi di saat mereka menyaksikan televisi yang menayangkan sebuah tindak kejahatan.

Imbuan serupa disampaikan pula Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla. Wapres meminta pers untuk tidak menayangkan atau memberitakan suatu pemberitaan yang memicu pada tindak kriminal atau kebencian. Pers menurut Wapres harusnya bisa menjaga moral dan stabilitas bangsa dan negara.

Pendapat serupa disampaikan Ketua Dewan Pers Indonesia, Ichlasul Amal. Ichlasul Amal meminta pers untuk mampu membuat kontrol di redaksinya masing-masing. Amal juga berharap, kebebasan pers yang ada saat ini harus bisa dimanfaatkan secara maksimal dan pers bisa menerapkan fungsinya masing-masing seperti yang sudah tercantum pada UU Pers. ZAH (Berita Indonesia 62)

Beberapa kasus mutilasi yang pernah terjadi di Indonesia:

Juli 2005
Tubuh seorang pria berusia 29 tahun ditemukan terpotong menjadi tiga bagian di depan warung nasi Kampung Jembatan, Kebon Nanas, Jakarta Timur. Potongan mayat dalam sebuah karung plastik itu teridentifikasi bernama Yulius Alexander Matital, beralamat Jalan Warakas, Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

19 Januari 2006
Dua potong tubuh korban pemutilasian yang sudah membusuk ditemukan terapung hanyut di Kali Baru, Kompleks Perumahan Harapan Baru II, Kota Baru, Bekasi Barat.

10 Agustus 2006
Korban mutilasi tanpa kepala teridentifikasi bernama Samini ditemukan warga di pinggiran Kali Sasak, Kelurahan Teluk Pucung. Saat ditemukan sosok jazadnya dibungkus selimut dan karpet. Jenazah perempuan yang diduga sedang hamil itu dimutilasi pacarnya sendiri, Ibnu.

19 Mei 2007
Seorang laki-laki korban mutilasi. Korban adalah seorang waria bernama Ismail.

5 Juni 2007
Enam potongan tubuh Sofa Rianti (28), warga Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang ditemukan di tempat pembuangan akhir sampah Jatibarang, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Semarang.

14 Januari 2008
Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun ditemukan tewas dengan kondisi terpotong-potong menjadi beberapa bagian di tepi Jalan HM Joyomartono, tidak jauh dari pusat perbelanjaan Bekasi Trade Center.

18 Januari 2008
Seorang janda beranak satu bernama Atika Septiani warga Jakarta Utara ditemukan tewas tanpa kepala di sebuah Hotel Bulan Mas, Rawa Badak, Jakarta Utara. Empat hari kemudian kepala korban ditemukan petugas dinas kebersihan yang lokasinya tidak jauh dari losmen itu. Pelaku tak lain adalah kekasihnya sendiri Zaki Afrizal.

17 April 2008
Di pinggir Jalan Letnan Aswan, Margahayu, Bekasi Timur ditemukan 10 potongan tubuh wanita tanpa kepala yang teridentifikasi bernama Eka Putri, warga Losari Brebes, Jawa Tengah.

Awal Mei 2008
Korban mutilasi terjadi di Cigegol Purwakarta, Jawa Barat. Korbannya adalah seorang Ustad bernama Eman. Jazad Eman ditemukan tanpa kepala di sebuah Mushollah. Kepala korban ditemukan dalam sumur yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Eman dibunuh Dani, tetangganya. Dari hasil pemeriksaan, polisi menduga pelaku mengalami gangguan jiwa.

15 Mei 2008
Ditemukan mayat bocah laki-laki tanpa kepala di Terminal Pulo Gadung. Korban mutilasi tidak diketahui identitasnya.

30 Agustus 2008
Sri Magdalena (45) ditemukan dalam kondisi terpotong menjadi empat bagian di rumahnya Jalan Kompleks Citra Graha Blok C No.6. Kelurahan Cicendo, Sukajaya, Bandung, Jawa Barat. Pelaku mutilasi adalah Firman Huda, pembantu korban.

12 Juli 2008
Potongan tubuh pria bernama Heri Santoso ditemukan di kawasan Ragunan. Pemutilasi adalah Very Idam Henyansyah alias Ryan. Ryan mengaku memutilasi pria berusia 40 tahun itu karena cemburu. Kekasihnya, Novel Andreas (cinta sesama jenis) ditaksir korban. Ryan menghabisi Heri di Apartemen Margonda Residence, Depok.

29 September 2008
Ditemukan potongan tubuh tanpa kepala dalam 2 tas kresek warna merah di bus Mayasari Bakti jurusan Kalideres-Pulo Gadung. Korban adalah Hendra yang dibunuh istrinya sendiri, Sri Rumiyati. Kepada polisi Yati mengaku kesal karena korban kerap menganiayanya.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com