Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Nasional Antara Indon dan Malingsia
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Antara Indon dan Malingsia

E-mail Print PDF

Citra Indonesia yang kadung negatif di mata sebagian warga Malaysia harus diperbaikiGenerasi baru Malaysia menganggap rendah Indonesia. Mereka kerap mengidentikkan warga Indonesia dengan 3D, yakni dirty, danger, dan difficult. Anggapan 3D (jorok, berbahaya dan sulit diatur) itu muncul karena setiap hari mereka melihat warga Indonesia bekerja sebagai pembantu atau pekerja kasar di Malaysia. Mereka memandang rendah orang Indonesia karena negara Indonesia miskin dan korup, yang memaksa sebagian tenaga kerjanya mengais-ngais ringgit di tanah melayu, Sarawak dan Sabah. Akibatnya citra negatif seperti memiliki sikap mental tidak kompeten dalam bekerja, bodoh, tidak berpendidikan, tidak memiliki dokumen, dan menambah persoalan sosial di Malaysia, digeneralisasi terhadap semua orang Indonesia.

Selain itu, pemberitaan media massa Malaysia juga dinilai tendensius terhadap Indonesia. Bila terjadi kejahatan kriminal seperti perampokan atau pembunuhan, pelakunya sering disebut orang Indonesia, padahal belum tentu warga Indonesia yang melakukannya. Sebagian media di Malaysia juga mempunyai peranan yang besar mempopulerkan kata ‘Indon’ di sana. Media-media tersebut menyiarkan berita mengenai perbuatan kriminal yang dilakukan orang Indonesia dengan judul-judul seperti, “Mafia Indon Mengganas” atau “PRT Indon Menculik Anak”. Berita yang dimuat sering dilebih-lebihkan dan jauh dari fakta sebenarnya. Lambat laun, persepsi orang terhadap “Indon” menjadi buruk. Tidak sedikit orang tua memarahi anaknya yang nakal dengan berkata, “Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?”

Kata ‘indon’ rupanya tidak lekat pada perkara kriminalitas saja sebab kata ini juga digunakan dalam berbagai pemberitaan yang terkait dengan Indonesia. Misalnya saja, “Indon pop diva launches autobiography”, “SBY’s hit list: Indon president gives cops 100 days to nab top M’sian terrorists”, “Indon politicians in bitter dispute” dan masih banyak lagi.

Belakangan ini citra negatif yang ditimpakan pada warga Indonesia itu berbuah perlakuan buruk yang makin menjadi-jadi. Tidak hanya TKI yang menjadi sasaran, tetapi juga warga negara Indonesia (WNI) lainnya. Belum reda kemarahan rakyat Indonesia atas tindakan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian Malaysia pertengahan Agustus lalu terhadap wasit karate Indonesia yang diundang secara resmi, warga Indonesia kembali mengalami kekerasan yang dilakukan satuan keamanan swakarsa Malaysia, Rela (Ikatan Relawan Rakyat). Istri seorang diplomat Indonesia ditangkap dengan semena-mena. Walaupun telah menunjukkan kartu identitas diplomatiknya, dia tetap dianggap sebagai warga ilegal.

Selain itu, petugas Rela melakukan tindakan brutal saat penggerebekan di kediaman mahasiswa S-2 asal Indonesia dengan alasan mencari warga ilegal. Aksi Rela itu dinilai sewenang-wenang dan keterlaluan. Namun, jelas pula, kesewenang-wenangan itu lebih menggambarkan persepsi kalangan masyarakat luas Malaysia, yang mengidentikkan warga Indonesia dengan TKI, pekerja kasar, dan pembantu rumah tangga. Kekerasan demi kekerasan yang dilakukan pasukan Rela terhadap WNI di Malaysia membuat rasa aman WNI yang tinggal di Malaysia makin sulit diperoleh.

Meski Pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia telah berkali-kali melakukan protes terhadap pemerintah Malaysia, negeri kerajaan itu sangat berat untuk meminta maaf atas tindakan yang dilakukan baik oleh aparat kepolisiannya maupun pasukan Rela. Proses hukum yang dilakukan terhadap para pelakunya terkesan lamban dan tenggelam begitu saja.

Menanggapi kasus kekerasan dan pelecehan terhadap WNI ini, beberapa anggota DPR mengusulkan agar Indonesia menghentikan pengiriman tenaga kerja dan mahasiswa, atau memberlakukan travel warning agar tidak mengunjungi Malaysia. Namun, usulan yang disertai kecaman keras itu hilang begitu saja membuat krisis kepercayaan di antara kedua negara makin dalam. Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda bahkan menyatakan tidak percaya terhadap ungkapan bangsa serumpun.

Krisis kepercayaan ini adalah buah dari persepsi negatif yang terus merembes di antara warga Malaysia dan Indonesia. Orang Indonesia (sebagian) pun membangun persepsi negatifnya sendiri. Mereka menganggap orang Malaysia (memelesetkan namanya menjadi Malingsia) arogan karena menghina dan bersikap kasar terhadap TKI.

Sejumlah orang memilih menggunakan kata plesetan ‘Malingsia’ karena kekecewaan mereka atas ulah Malaysia yang menurut mereka sudah kelewatan. Mulai dari ‘dicaploknya’ Sipadan-Ligitan; merampas kehormatan wanita asal Indonesia; ‘dicaploknya’ lagu rakyat Rasa Sayange asal Maluku untuk mempromosikan pariwisata negeri itu; mengklaim bahwa wayang dan batik juga milik mereka, salah satunya dengan mematenkan motif batik parang asli Yogyakarta, dan terakhir adalah hadirnya Astro, sebuah televisi berbayar yang berbasis di Malaysia, yang dianggap melakukan monopoli terhadap tayangan langsung Liga Primer Inggris. Astro dianggap merampas hak orang Indonesia untuk menonton tayangan langsung liga Inggris.

Suara-suara kebencian di antara kedua kubu ini rupanya juga menyebar di dunia maya khususnya forum diskusi online seperti topix.com (topix.com/forum/world/malaysia). Di sana bertebaran pendapat-pendapat yang tidak enak untuk dibaca sebab mengumbar kata-kata penghinaan dan hujatan. Begitu pula bila kita mencari informasi dengan kata pencarian ‘malingsia indon’ di Google, kita akan dibawa ke halaman-halaman situs yang bernada sama.

Gelombang kebencian di antara bangsa serumpun ini bila tidak ditangani dengan segera bisa menimbulkan penyakit di segala aspek kehidupan. Citra Indonesia yang kadung negatif di mata sebagian warga Malaysia harus diperbaiki. Lalu bagaimana caranya supaya citra bagus? Mengutip kalimat diplomat terkenal mantan duta besar RI di Australia Wiryono Sastrohandoyo, “If you want to change the perception, you should change the reality first.” Pemerintah Indonesia jelas pihak pertama yang paling bertanggung jawab mengubah citra negatif itu. Malaysia tidak sepatutnya selalu dipersalahkan. Indonesialah yang harus berkaca dan berusaha mengubah ‘realita’. MLP (BI 49)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com